Share

Pantai

Penulis: Miss Eka
last update Tanggal publikasi: 2026-08-29 15:48:54

Begitu tiba di parkiran, Elase menghembuskan napas lega.

“Kuharap perjodohan ini akan berakhir,” gumam Elase pada dirinya sendiri penuh harapan.

Mark mengamati dari samping paras yang menurutnya sungguh sempurna dan luar biasa cantiknya.

“Jadi dia yang akan menikahimu?” Elase menoleh, kemudian mengangguk dengan lesu.

Ia menghabiskan sisa permen kapasnya dengan bibir cemberut ke depan.

“Aku tak ingin nikah muda, aku ingin kuliah dulu lalu menjadi desainer terkenal, keliling dunia dan mencoba banyak hal baru,” cerita Elase penuh semangat saat membicarakan tentang mimpinya.

Mark tersenyum, mengusap puncak kepala Elase dengan lembut.

Kian rencananya untuk membawa Elase ke Palermo sebagai bentuk penolakan perjodohannya dengan Clera sepertinya harus ia batalkan setelah mendengar bagaimana impian Elase tentang cita-citanya sebagai desainer.

“Sudah, mau pulang sekarang?” Tanya Mark membuat Elase langsung menoleh cepat.

“Ya, besok pagi akan kuajak ke Desa Pesisir Liguria, aku jamin paman pasti akan menyukainya,” ujar Elase penuh semangat membuat Mark hanya tersenyum dan mengangguk dengan pasrah.

Mark lalu membukakan pintu untuk Elase, berputar menuju kursi kemudi dan meninggalkan festival malam untuk rencana yang lebih indah di esok hari.

•••

Di Boccadase 

“Paman ayo kemari!” teriak Elase yang kini berlari ke sana kemari di tepi pantai dengan begitu riang sekali.

Mark hanya tersenyum, mengagumi keindahan, kecantikan serta kemolekan Elase hari ini.

Memang tampak sederhana, hanya mengenakan Cherry print dress berwarna kuning, rambut dicepol sedikit ke atas dengan dua helai jatuh di sisi pipi chubbynya, namun penampilan Elase saat ini sukses membuat siapa pun pria di sana terfokus padanya dengan berbagai tatapan.

Mark mendesis geram, memainkan lidahnya di belakang gigi saat beberapa anak laki-laki memotret Elase secara diam-diam.

Melihat Elase sedang asyik sendiri menikmati air pantai, Mark mendatangi segerombolan laki-laki muda itu.

“Kalian hapus foto itu, atau kupatahkan tangan kalian satu-satu?” tanya Mark memberikan pilihan pada mereka.

Para laki-laki muda itu saling melempar pandangan dan cekikikan mengabaikan ucapan Mark, seolah itu hanya gurauan.

Mark langsung maju dan menarik kerah baju salah satu dari mereka hingga tubuh laki-laki muda itu terangkat karena saking kuatnya tenaga Mark.

“Jangan membuatku marah dan mengubur tubuh kalian di sini satu persatu. Hapus foto istriku sekarang sebelum kalian melihat genangan darah di sini,” ancam Mark menekankan kata istri pada mereka tanpa sepengetahuan Elase.

Buru-buru mereka menghapus lalu menunjukkan pada Mark jika sudah tidak ada foto Elase di ponsel mereka.

Mark melepaskan cengkramannya membuat gerombolan laki-laki muda itu berlari terbirit-birit.

“Ada apa paman?” tanya Elase mendatangi Mark.

Mark berbalik, dress selutut itu sudah basah hingga paha atas membuat Mark melengos dengan gigi yang bertaut rapat menahan geraman.

“Tidak ada, hanya bertanya tentang destinasi di sini,” kilah Mark sembari melepas kemeja biru mudanya untuk ia lingkarkan pada pinggul Elase agar menutupi pahanya yang basah.

Elase hanya mengangguk percaya, sekilas ia salah fokus dengan dada bidang Mark yang tercetak jelas karena kaos putih yang ia kenakan.

Elase melengos ke arah lain saat pikirannya langsung membayangkan tubuh kekar disertai roti sobek yang seksi seperti aktris idolanya.

“Ayo kita makan dulu,” ajak Mark sembari mengambil alih topi pantai dari tangan Elase.

Elase hanya mengangguk dan membawa Mark ke warung-warung kecil yang ada di pesisir sana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Paman! Puaskan Aku   Basah

    Mark menindih Elase dengan lembut namun tegas, bibirnya menyentuh bibir Elase dengan napas hangat yang berbaur. “Kau boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di antara ciuman, suara rendah dan berat. Elase mengangguk kecil, jari-jarinya meremas bahu Mark seolah menariknya lebih dekat, bukan mendorong pergi. Mark mengulum bibir bawah Elase pelan, lidahnya menyusup saat Elase membuka mulut dengan desah kecil. Tangan Mark naik di balik kaos putih, menyentuh kulit hangat sebelum meraih bra pink yang sudah agak longgar. Ia membuka kaitnya dengan satu tangan, lalu meremas payudara Elase dengan telapak yang hangat dan berat. Elase membusung, punggung melengkung, napasnya tersentak. Mark menunduk, mulutnya menutup puting yang sudah mengeras, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. Elase menggigit bibir bawah, suara lirih keluar dari tenggorokannya. “Mark… ahh…” Panggilan nama itu membuat Mark tersenyum di kulit Elase. Tangan Mark turun, menyusuri perut rata hingga menyelinap ke dalam c

  • Paman! Puaskan Aku   Menginginkanmu

    Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru

  • Paman! Puaskan Aku   Mandi Pagi

    Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian

  • Paman! Puaskan Aku   Menjadi Kekasih Paman

    Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng

  • Paman! Puaskan Aku   Tawaran

    Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.Api itu menyala di antara mereka.Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.Malam itu terasa begitu santai.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang

  • Paman! Puaskan Aku   Pantai

    Begitu tiba di parkiran, Elase menghembuskan napas lega.“Kuharap perjodohan ini akan berakhir,” gumam Elase pada dirinya sendiri penuh harapan.Mark mengamati dari samping paras yang menurutnya sungguh sempurna dan luar biasa cantiknya.“Jadi dia yang akan menikahimu?” Elase menoleh, kemudian mengangguk dengan lesu.Ia menghabiskan sisa permen kapasnya dengan bibir cemberut ke depan.“Aku tak ingin nikah muda, aku ingin kuliah dulu lalu menjadi desainer terkenal, keliling dunia dan mencoba banyak hal baru,” cerita Elase penuh semangat saat membicarakan tentang mimpinya.Mark tersenyum, mengusap puncak kepala Elase dengan lembut.Kian rencananya untuk membawa Elase ke Palermo sebagai bentuk penolakan perjodohannya dengan Clera sepertinya harus ia batalkan setelah mendengar bagaimana impian Elase tentang cita-citanya sebagai desainer.“Sudah, mau pulang sekarang?” Tanya Mark membuat Elase langsung menoleh cepat.“Ya, besok pagi akan kuajak ke Desa Pesisir Liguria, aku jamin paman pasti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status