بيت / Mafia / Paman! Puaskan Aku / Pacar Pura-pura

مشاركة

Pacar Pura-pura

مؤلف: Miss Eka
last update تاريخ النشر: 2026-08-29 15:48:30

Malam harinya, setelah makan malam selesai, Wendo dan Lesan sedang menemui para supervisor dari kota untuk mengambil beberapa hasil kebun mereka.

Mark memilih untuk pergi ke kamarnya berniat istirahat. Namun begitu ia hendak menuju kamar, ia berpapasan dengan Elase.

“Paman mau ikut denganku keluar sebentar?” Tawarinya membuat Mark berpikir sejenak dan mengangguk mengiyakan.

Elase tersenyum riang dan menarik tangan Mark begitu cepat.

“Ayah ibu, aku akan membawa paman Mark keluar sebentar di pinggir kota, hari ini ada festival malam, aku akan membawa paman untuk jalan-jalan,” Wendo dan Lesan hanya mengangguk mengizinkan membuat Mark langsung mengikuti Elase.

Keduanya lalu pergi menuju ke pinggir kota untuk melihat festival malam yang banyak digemari warga sekitar karena di sana akan ada banyak jajanan, pertunjukkan, hiburan serta tempat-tempat indah untuk sekedar duduk saja.

Sepanjang perjalanan Mark begitu senang mendengarkan cerita Elase yang sangat antusias menceritakan tentang festival malam ini, rasanya ada sensasi baru dan hal yang menarik bagi Mark.

Dan setiap cerita yang Elase jabarkan selalu mengundang ketertarikan dan rasa penasaran yang tinggi bagi Mark.

Begitu tiba di sana, Mark baru tahu jika festival malam yang Elase sebut memang berbeda dari yang biasanya di kota, di sini sungguh ramai dan meriah sekali, jajajan tradisional, pertunjukan lucu, hingga hiburan yang menyegarkan mata semuanya ada.

Elase langsung menggandeng tangan Mark untuk mencoba semua stand yang ada. Dalam sesaat Mark sungguh ingin melupakan segalanya dan hanya ingin bersama Elase dalam waktu yang lama.

Tapi, kata Wendo, gadis muda ini akan segera menikah dengan pria di desanya. Haruskah Mark berhenti atau tetap melanjutkan rencana awalnya?

—

“Bagaimana paman, kamu puas?” Tanya Elase sembari menyuapkan permen kapas itu ke dalam mulutnya dengan riang.

Mark mengangguk dengan tatapan yang berbinar, antara ada kegembiraan di dalam hati yang tak pernah ia rasakan dan kekagumannya atas kecantikan Elase yang membuatnya sulit berpaling.

“Elase!” panggil seorang pria muda yang menghampiri Elase dengan senyum lebarnya.

Senyum Elase seketika langsung pudar, mengubah posisinya lebih dekat dalam berdiri di samping Mark.

“Bendo, kau juga di sini?” Tanya Elase terdengar datar penuh basa-basi.

Bendo mengangguk dengan riang, lalu melihat Mark dan kembali menatap Elase, “Dia siapa?” Tanya Bendo membuat Elase langsung menggandeng lengan Mark.

“Ahh dia kekasihku, sayang ini temanku Bendo. Bendo ini kekasihku, panggil saja dia Mark,” kata Elase memperkenalkan membuat Mark menoleh bingung pada Elase.

Namun begitu melihat tatapan penuh permohonan dari Elase yang hanya sekilas membuat Mark paham, gadis ini sedang bersandiwara.

“Ahh iya, perkenalkan, aku Mark, dari Palermo, kekasih dari Elase,” kata Mark yang mana ia mengambil inisiatif merengkuh pinggang ramping Elase untuk lebih merapat dan menyakinkan Bendo tentang hubungan mereka.

Bendo terlihat tersenyum canggung dan mengangguk paham.

“Jadi ucapanmu tentang memiliki kekasih itu nyata?” Tanya Bendo memastikan yang langsung diangguki mantap oleh Elase.

Mark masih diam mencerna apa yang terjadi di antara mereka, namun dalam hatinya terbesit kesenangan tersendiri begitu ia diakui sebagai kekasih Elase.

Dia tak segila itu kan?

“Maaf ya Bendo, mungkin pernikahan kita tak seharusnya dilangsungkan, tapi kita masih bisa berteman,” kata Elase membuat Mark menoleh melihat Elase dari samping, rupanya pria di depannya ini yang akan menikahi Elase.

Mark langsung melihat Bendo datar, menilai dari atas hingga bawah seolah sedang menertawakan jika tandingannya rupanya tak seberapa.

Mark mengusap pinggang ramping Elase dan berkata, “Kita pulang sekarang ya sayang, sudah malam. Besok pagi aku masih harus membawamu ke tempat lain lagi.” Mark sungguh pandai dalam mendalami perannya, bahkan pelukan di pinggang Elase saat ini terlihat begitu jelas dan menandakan jika ia sedang menunjukkan kepemilikannya.

Elase lalu pamit pada Bendo, keduanya langsung melenggang pergi untuk segera kembali ke parkiran.

Bendo mengepalkan tangannya kuat melihat kepergian mereka. “Bagaimana pun caranya aku akan berusaha untuk mendapatkanmu Ela.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Paman! Puaskan Aku   Basah

    Mark menindih Elase dengan lembut namun tegas, bibirnya menyentuh bibir Elase dengan napas hangat yang berbaur. “Kau boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di antara ciuman, suara rendah dan berat. Elase mengangguk kecil, jari-jarinya meremas bahu Mark seolah menariknya lebih dekat, bukan mendorong pergi. Mark mengulum bibir bawah Elase pelan, lidahnya menyusup saat Elase membuka mulut dengan desah kecil. Tangan Mark naik di balik kaos putih, menyentuh kulit hangat sebelum meraih bra pink yang sudah agak longgar. Ia membuka kaitnya dengan satu tangan, lalu meremas payudara Elase dengan telapak yang hangat dan berat. Elase membusung, punggung melengkung, napasnya tersentak. Mark menunduk, mulutnya menutup puting yang sudah mengeras, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. Elase menggigit bibir bawah, suara lirih keluar dari tenggorokannya. “Mark… ahh…” Panggilan nama itu membuat Mark tersenyum di kulit Elase. Tangan Mark turun, menyusuri perut rata hingga menyelinap ke dalam c

  • Paman! Puaskan Aku   Menginginkanmu

    Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru

  • Paman! Puaskan Aku   Mandi Pagi

    Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian

  • Paman! Puaskan Aku   Menjadi Kekasih Paman

    Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng

  • Paman! Puaskan Aku   Tawaran

    Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.Api itu menyala di antara mereka.Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.Malam itu terasa begitu santai.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang

  • Paman! Puaskan Aku   Pantai

    Begitu tiba di parkiran, Elase menghembuskan napas lega.“Kuharap perjodohan ini akan berakhir,” gumam Elase pada dirinya sendiri penuh harapan.Mark mengamati dari samping paras yang menurutnya sungguh sempurna dan luar biasa cantiknya.“Jadi dia yang akan menikahimu?” Elase menoleh, kemudian mengangguk dengan lesu.Ia menghabiskan sisa permen kapasnya dengan bibir cemberut ke depan.“Aku tak ingin nikah muda, aku ingin kuliah dulu lalu menjadi desainer terkenal, keliling dunia dan mencoba banyak hal baru,” cerita Elase penuh semangat saat membicarakan tentang mimpinya.Mark tersenyum, mengusap puncak kepala Elase dengan lembut.Kian rencananya untuk membawa Elase ke Palermo sebagai bentuk penolakan perjodohannya dengan Clera sepertinya harus ia batalkan setelah mendengar bagaimana impian Elase tentang cita-citanya sebagai desainer.“Sudah, mau pulang sekarang?” Tanya Mark membuat Elase langsung menoleh cepat.“Ya, besok pagi akan kuajak ke Desa Pesisir Liguria, aku jamin paman pasti

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status