Beranda / Romansa Pria / Parfum Pemikat Wanita / Bab 4 kehidupan kedua

Share

Bab 4 kehidupan kedua

Penulis: Arandiah
last update Tanggal publikasi: 2026-05-30 00:55:58

Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu.

"Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.

Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan separuh bulatan putih besar yang menyembul padat.

"Eh! Badru! Ketuk pintu dulu kenapa sih?!" bentak Laras dengan muka merah padam.

Sret sret.

Tangan kirinya sibuk membenarkan kerah daster, tapi tangan kanannya masih memegang dadanya yang bengkak. Pemandangan itu malah makin kelihatan jelas.

Badru mematung di ambang pintu. Kakinya kaku. Bau ranum Laras bercampur parfum loakan di lehernya membuat otak Badru mendadak nge-blank.

Glek.

Badrul menelan ludah kasar, karena kerongkongannya terasa sangat kering.

"Ma-maaf, Teh. Pintunya mangap," jawab Badru. Dia merunduk, tapi matanya sempat melirik ke bawah sebelum membuang muka.

'Aku bakal dimarahin lagi nih,' batin Badru merasa takut.

Laras mendengus kasar karena menahan nyeri. "Huh alesan! Sini cepetan! Ini rasanya mau meledak!"

Badru maju mendekat, lalu berlutut di lantai dekat tikar. Dia menyodorkan plastik hitam. Pas posisi badannya menekuk, celananya yang ketat makin menjepit.

Badru buru-buru memiringkan pantatnya ke samping agar tonjolan Jono di selangkangannya tidak menunjuk langsung ke muka Laras.

"Ini, Teh. Kata Narti kasir, corongnya ditempel terus dipompa," kata Badru. Tangannya gemetaran waktu meletakkan kotak karton itu di atas tikar.

Setelah barang berpindah tangan, Badru langsung berdiri tegak sambil membungkuk dalam-dalam untuk menyembunyikan selangkangannya.

"Ukhh ..." Ringis Badru saat si Jono terjepit.

"Maaf, Teh! Saya harus ke kandang sekarang, sapi-sapi belum pada masuk!" teriak Badru panik.

Tanpa menunggu jawaban, Badru berbalik dan berlari kencang keluar dari rumah, mengabaikan panggilan Laras.

"Badru! Uang kembaliannya mana?!" teriak Laras yang tak rela uang kembaliannya dibawa Badru.

Sedangkan Badru terus berlari melintasi halaman sambil memegangi bagian depan celananya yang masih tegang maksimal.

Sesampainya di kandang besar milik Haji Sodiq, pikiran Badru masih kacau.

"Hufh ... Hampir aja aku kelepasan tadi. Gusti... Gusti, untung aku langsung pergi."

Badru pun segera menghampiri sapi-sapi haji Sodiq yang masih berada di luar kandang.

Matanya melamun menatap gerombolan sapi, sementara tangannya bergerak asal-asalan menggiring hewan-hewan itu masuk ke sekat bambu.

"Hus ... Hus ... Hus ..."

"Ayo masuk, buruan..." gumam Badru linglung.

Karena fokusnya pecah, Badru tidak menyadari seekor sapi jantan berbadan besar di sudut kandang sedang gelisah.

"Haduh, si Justin kenapa lagi nih?" Gumam Badru, saat melihat  keanehan sapi yang namanya jauh lebih bagus darinya.

Namun, Badru melangkah teledor tepat di belakang pantat sapi itu dalam posisi membungkuk, menahan sesak di celananya hingga—

Bugh!

Sapi itu melayangkan tendangan ganda dengan dua kaki belakangnya, tepat menghantam dada bidang Badru.

Krek!

"Ukh ... Ohokk!" Pekik Badru sambil mengeluarkan darah hitam kental dari hidung dan mulutnya.

Napas Badru langsung tersumbat seketika. Badannya terpental ke tumpukan jerami, lalu berguling jatuh ke lantai tanah yang kotor.

'S-sakit. Napas... Aku gak bisa napas,' batin Badru diambang kesadaran.

Dadanya terasa remuk, dan paru-parunya tidak bisa menghirup udara lagi.

'Apa... Aku... Akan mati? Ditinggal Lilis, dihina para gadis, apa ini akhir dari seorang tukang angon sapi ...'

Pandangan Badru perlahan menggelap, lalu segalanya menjadi hitam total.

"Aaakh! Badruuu!"

Sebuah jeritan melengking memecah kegelapan, disusul suara grasak-grusuk di sekitarnya.

Saat Badru pingsan, keajaiban aneh langsung terjadi di dalam tubuhnya.

Whooshh...

Aroma parfum murah yang bercampur dengan wangi ranum tubuh Laras di bajunya mendadak memicu reaksi kimia gaib.

Grrrt... Grrrt...

Tubuh Badru bergetar pelan saat sesuatu masuk dalam tubuhnya.

Whooshh...

Asap tipis hitam menguar, mengeluarkan bau busuk dari dalam, dan digantikan dengan bau aneh yang memabukkan.

Deg!

Jantung Badru yang sempat mati total kembali berdetak. Tulang dadanya yang retak langsung tersambung kembali secara otomatis.

Krek...

Krek...

Krek...

Sel-sel tubuhnya yang sekarat mendadak segar bugar karena dipicu oleh satu hal, yaitu "si Jono" yang rupanya masih berdiri tegak di dalam celana!

"Ukhh ..."

Hah...

Hah...

Hah...

Badru tersentak dengan napas memburu. Dia membuka kelopak matanya yang terasa berat.

Sinar lampu temaram menerangi ruangan yang asing. Ini bukan lantai kandang sapi yang kotor, melainkan kasur kapuk di kamar seseorang yang tak Badru kenali.

"Badru! Akhirnya kamu sadar juga, Dru! Sapi gendeng itu bener-bener nyari perkara!" seru Mang Jaka yang wajahnya sudah nongol di atas muka Badru.

"Mang Jaka, saya di mana?" Tadi ..."

"Kamu di kamarnya Laras. Tadi dia teriak-teriak minta tolong waktu liat kamu menggelepar di tanah, jadi Mamang langsung lari nyamperin terus bawa kamu ke sini."

Pria jangkung itu sibuk memijat kaki Badru yang kaku, sementara jarinya yang bau tembakau sesekali mencolok dahi Badru untuk memastikan dia belum jadi mayat.

Badru melotot, lalu buru-buru meraba dadanya. Tidak ada tulang yang patah. Tidak ada rasa sakit. Bersih tanpa luka.

'Lah? Kok aku masih hidup? Jelas-jelas tadi si Justin nendang dadaku sampai bunyi krek!' batin Badru bingung setengah mati.

'Apa tadi itu cuma mimpi? Tapi kok bau taek sapi sama parfum loakan tadi masih kecium di bajuku ...'

"Dru, kok malah bengong. Ada yang sakit kah? Tadi hidung sama mulutmu berdarah banyak banget soalnya, badanmu sampek dingin banget. Mamang kira kamu bakal mati loh!" ucap Mang Jaka sambil menggoyang-goyangkan pundakku.

Badru langsung tersadar kembali.

"Hah? Oh itu ... Jadi saya belum mati ya ini?" tanyaku bingung.

"Ya belum lah!" pekik Mang Jaka dengan wajah yang tampak tak terima dengan pertanyaanku.

'Aku beneran gak mati? Gusti ... apa ini yang namanya kesempatan kedua? Aku hidup lagi, Gusti?!'

Badru sibuk dengan pikirannya, masih tidak menyangka dengan takdir gilanya.

"Ya udah, lain kali kamu hati-hati ya. Kamu jangan ke kandang lagi, istirahat aja dulu di rumah. Tadi sapinya udah mamang masukin ke kandang semua." Mang Jaka berkata sambil berdiri, lalu menepuk-nepuk bahu Badru.

"Sekali lagi makasih ya mang."

"Iya iya, kamu kayak sama siapa aja. Mamang balik dulu, ya nanti Laras ke sini. Kalau Laras nanyain, bilang aja mamang udah pulang."

Tanpa menunggu jawaban dari Badru, mang Jaka pergi meninggalkan kamar tersebut.

Sedangkan Badru, masih bengong karena belum mempercayai apa yang terjadi pada dirinya. Namun, tak lama setelah itu—

Brak!

Pintu kamar tamu digebrak terbuka.

"Mang Jaka! Gimana keadaannya si Bad—eh Badru, kamu udah sadar?!"

Laras muncul di ambang pintu dengan posisi yang membuat mata Badru langsung mengunci target.

Glek.

'Kenapa teh Laras pake baju haram ke sini?' Badru bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena melihat keanehan pada diri Laras.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sukarman Maman
lanjut Bro
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 131

    Srenggg...!Minyak panas mendesis saat irisan pisang dimasukkan ke dalam wajan. Gerakan tangan Binar yang membolak-balik pisang membuat tubuh bagian belakangnya bergerak lentur. Pinggulnya yang sintal dan padat berayun tipis di balik sarung yang melilit ketat di pinggangnya, memperlihatkan lekuk bokongnya yang montok berisi."Kopinya pahit kayak biasa kan, Mas?" tanya Binar menoleh sekilas, bulu mata lentiknya berkedip lembut."Iya, pahit aja. Gak usah pakai gula," sahut Badru."Siap, Mas Badru..." canda Binar pelan seraya meniriskan pisang goreng yang sudah kuning kecokelatan ke atas piring kaleng.Dengan cekatan, wanita itu menyeduh bubuk kopi hitam di cangkir seng dengan air mendidih dari cerek, lalu mengaduknya hingga uap panas mengepul harum.Srek...Binar melangkah membawa cangkir kopi dan sepiring pisang goreng panas, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan Badru."Nih, Mas Badru... Kopi pahit sama pisang goreng hangatnya," kata Binar.Bukannya duduk di kursi seberang, Bi

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 130

    Cklek!Suara palang kayu di pintu bilik belakang mengunci rapat.Badru membuang napas panjang. Udara gubuk masih sarat aroma sabun mandi dan semerbak manis tubuh Binar yang memabukkan. Jakun Badru naik turun kaku. Ia merebahkan badannya di dipan bambu depan, menyelipkan sabit berkarat di samping pinggang, lalu memejamkan mata sambil menajamkan telinga mengawasi pekarangan.Malam merayap lambat diiringi desau angin kebun pisang.Kukuruyuuuk...!Kokok ayam jantan pertama memecah keheningan fajar. Cahaya biru kelabu mulai menerobos celah anyaman bambu, menandakan pagi telah tiba.Badru membuka mata. Pria itu langsung bangkit duduk, merapikan sarung, lalu melangkah ke depan pintu bilik belakang.Tok! Tok!"Teh Binar. Udah pagi," panggil Badru rendah.Srek... Cklek!Palang kayu ditarik dari dalam. Daun pintu terbuka separuh.Sosok Binar menyembul dari balik pintu. Pemandangan di hadapan Badru seketika membuat matanya terpaku. Sarung yang semalam tersampir di pundak Binar kini melorot ke pi

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 129

    Glek!Jakun Badru naik turun kaku saat ujung hidung mancung Binar menyentuh kulit lehernya yang hangat. Napas wanita itu tersengal halus, mengembuskan uap panas yang langsung menggelitik bulu kuduk Badru.Srekk...Jemari lentik Binar tak sekadar bertaut di sela jemari kasar Badru, tapi perlahan merambat naik, meremas otot bisep di lengan pria tegap itu. Wangi pelet Kencana Wilis yang menguar makin pekat seakan membakar sisa-sisa kewarasan di kepala Binar."Mas Badru..." bisik Binar lirih, suaranya terdengar begitu rapuh bercampur gelora yang tertahan. "Jangan suruh saya menjauh... Saya gak kuat kalau harus nahan dingin sendirian di kamar belakang..."Badru memejamkan mata sesaat. Otot-otot rahangnya mengeras kaku, menahan darah mudanya yang mendidih deras ke seluruh tubuh."Teh Binar, sadar," tegur Badru dengan suara ditekan rendah, mencoba menarik tangannya perlahan. "Ini bukan rasa kedinginan biasa. Pikiran Teteh lagi kacau kena pengaruh hawa malam.""Bukan, Mas..." bantah Binar cep

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 128

    Srek...Pintu kamar belakang berderit pelan. Binar merangkak keluar dari bawah kolong ranjang kayu. Seluruh badannya masih gemetar hebat, wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona sedikit pun.Melihat Badru berdiri tegap di ambang pintu tengah, pertahanan Binar seketika runtuh. Langkah kakinya yang goyah bergegas mendekat, lalu tanpa aba-aba, kedua tangannya melingkar erat memeluk pinggang liat Badru dari depan.Gruk!Wajah Binar terbenam di dada bidang Badru yang hangat. Isak tangisnya pecah tertahan, membasahi kulit telanjang pria itu dengan air mata yang hangat."Mas Badru... hiks... saya takut banget..." bisik Binar tersengal-sengal, cengkeraman jemarinya meremas kain sarung di punggung Badru kian kencang. "Kalau dia bawa saya balik... hidup saya pasti abis disiksa lagi..."Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Kehangatan tubuh Binar yang hanya terbalut kaos tipis menempel lekat di badannya, membuat detak jantung Badru ikut terpacu. Namun, melihat kepanikan murni di mata wanita itu, Badr

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 127

    Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu kayu rumah panggung tua milik Badru berdentum keras membelah sunyi malam, merontokkan debu-debu halus dari kusen kayu. Hawa merah yang semula Badru kira jelmaan Bantara buyar seketika, berganti dengan suara bentakan kasar seorang laki-laki dari luar teras."Woi! Buka pintunya! Jangan pura-pura tidur lu di dalam!"Deg!Wajah Binar seketika pias seperti mayat. Begitu mendengar lengkingan suara berat dan serak itu, kedua matanya membelalak dipenuhi teror yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat sampai bibirnya bergetar kencang, jemarinya refleks membekap mulut sendiri agar tak menjerit."I-Itu suara Mas Joko... suami saya..." bisik Binar tercekat, air matanya luruh membasahi pipi. Jemarinya mencengkeram lengan Badru dengan kuku-kuku yang menancap panik. "Dia beneran nyari saya sampai ke kampung ini, Mas..."Badru menatap sorot mata Binar yang kalut setengah mati. Tanpa banyak bicara, Badru menepuk punggung tangan wanita itu seraya memberi isyarat ke arah

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 126

    Malam makin larut. Hawa dingin kebun pisang menyusup lewat celah dinding bambu.Di lantai beralas sarung, Badru tidur dengan kening berkerut dalam. Napasnya memberat saat dadanya mendadak terasa tertindih beban tak kasat mata.Whuushh...Udara di sekitarnya mendadak panas. Bau belerang dan anyir darah menyengat indra penciumannya.Di alam bawah sadarnya, kabut merah berputar pekat. Sosok Bantara muncul dengan mata menyala dan seringai bertaring."Badru..." dengus suara berat itu tepat di telinganya. Cengkeraman kuku hitamnya terasa membakar bahu Badru. "Wanita-wanita itu sudah basah oleh aromamu... Semakin liar mereka, semakin dekat purnama tiba. Siapkan ragamu untuk melayaniku!"'Pergi, iblis laknat!' tolak Badru menggeram kuat dalam tidurnya."Hahaha! Kau tak bisa lari, Badru!" tawa Bantara menggelegar buas.Bruk!"Hah... hah... hah!"Badru tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kening dan kaos kusamnya. Tangannya refleks meraba saku sarung, memastikan botol M

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 2 Godaan baru

    "Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging ke

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 5 Godaan dan gangguan

    Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Lara

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 3 Parfum aneh

    Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah m

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 1 Badru si 'banteng bau'

    "Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini." Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras mered

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status