Share

Bab 2

Penulis: Aurganda
Valerie pulang sendirian.

Setelah sampai, dia langsung mengambil kotak P3K di ruang tamu untuk membersihkan luka dan mengoleskan obat, lalu membalutnya sendiri. Lukanya terasa perih, seperti ribuan semut sedang menggerogoti.

Saat berbalik hendak naik ke lantai atas, Valerie tanpa sengaja melirik piano di sudut ruang tamu.

Piano itu dibeli Bendy setelah dia mendapatkan kembali ingatannya, katanya ingin mengajari Valerie bermain piano. Namun sudah begitu lama berlalu, debu di atas penutup piano telah menumpuk tebal.

Seperti hubungan mereka, yang sudah lama tertutup debu.

Mata Valerie memerah, dia mulai berjalan cepat ke kamar untuk membereskan barang.

Pakaian, dokumen, kartu bank ... dia merapikan semuanya satu per satu. Gerakannya lambat, seolah sedang berpamitan dengan dirinya di masa lalu.

Saat tengah merapikan barang, pintu kamar tiba-tiba didorong terbuka. Bendy berdiri di ambang pintu dengan jas yang disampirkan di lengan dan dasi yang dilonggarkan

Melihat koper yang terbuka, dia mengerutkan kening. "Kamu sedang apa?"

"Beres-beres," jawab Valerie dengan tenang, tanpa berhenti menunduk melipat pakaian.

Bendy mengerutkan kening dan mendekat. Aroma parfum samar tercium darinya, itu adalah parfum yang dipakai Celine hari ini.

Bendy langsung menggenggam pergelangan tangan Valerie, tenaganya begitu kuat sampai membuatnya mengerutkan kening karena sakit.

"Hanya karena aku makan dengan Celine hari ini, kamu mau kabur dari rumah? Kamu sudah melukai orang, Celine saja nggak permasalahkan hal itu sama kamu. Kamu malah bersikap seperti ini duluan?"

Valerie mengangkat kepala menatap Bendy, rasa kesal di mata pria itu terlihat jelas.

"Keluargaku dan keluarga Celine sudah lama saling kenal. Dia baru pulang dari luar negeri, orang tuanya memintaku untuk lebih menjaganya. Apa kamu nggak bisa sedikit lebih dewasa?"

Dewasa?

Kata itu seperti pisau yang menusuk jantung. Valerie menggenggam pakaian di tangannya hingga kain itu menjadi kusut. Dia bahkan sudah cukup dewasa sampai bersiap untuk mundur, lalu masih harus bagaimana lagi?

"Bicara!" Suara Bendy tiba-tiba meninggi.

Valerie terdiam. Dia berbalik dan lanjut membereskan barangnya. Keheningannya benar-benar membuat Bendy marah.

"Oke, aku mau lihat kamu bisa berulah sampai kapan."

Setelah berkata demikian, Bendy membanting pintu dan pergi. Pintu kamar tertutup dengan bunyi keras, membuat dadanya ikut bergetar.

Keesokan paginya saat Valerie turun ke bawah, dia melihat Celine duduk di ruang tamu dan sedang tersenyum berbincang dengan Bendy. Hari ini Celine mengenakan gaun putih. Riasannya rapi dan terlihat polos sekaligus elegan.

Melihat Valerie turun, dia langsung berdiri dan tersenyum manis, "Valerie, kamu sudah bangun? Orang tuaku bersikeras minta Bendy menemaniku ke acara lelang hari ini, kamu jangan salah paham ya."

Valerie melirik Bendy. Pria itu sedang menunduk merapikan mansetnya, bahkan tidak memberi Valerie satu tatapan pun.

"Aku nggak salah paham." Dia melanjutkan dengan suara pelan, "Urusan kalian nggak ada hubungannya denganku."

Gerakan tangan Bendy terhenti sejenak, alisnya semakin berkerut. Dia baru saja hendak bicara, tapi Celine sudah lebih dulu berkata, "Gimana kalau Valerie ikut juga? Kebetulan kamu juga nggak ada kegiatan."

Belum sempat Valerie menolak, Celine sudah menggandeng lengannya dengan akrab. Dia pun langsung ditarik naik ke dalam mobil.

Di lokasi lelang, cahaya tampak gemerlap. Di sanalah, para kalangan atas berkumpul.

Bendy duduk di barisan depan, jari-jarinya yang panjang dengan santai mengangkat papan penawaran. Satu per satu perhiasan dan jam tangan mahal dia menangkan, lalu dengan santai diserahkannya kepada Celine di sampingnya.

Celine tersenyum lembut, sesekali mendekat ke telinganya untuk berbisik. Sikapnya begitu akrab hingga tampak begitu menyakitkan.

"Bendy, gimana kalau belikan sesuatu juga untuk Valerie?" tanyanya berpura-pura peduli.

Bendy menjawab dengan datar, "Nggak perlu, dia nggak terbiasa pakai barang-barang seperti ini."

Mendengar ucapannya, sudut bibir Celine terangkat. Di sudut yang tidak bisa dilihat Bendy, dia melemparkan senyum kemenangan pada Valerie.

Valerie menundukkan pandangannya, ujung jarinya perlahan mengusap katalog lelang di tangannya, hatinya terasa dingin.

Tidak terbiasa, atau tidak pantas?

Di mata Bendy, Valerie mungkin selamanya hanya gadis dari kawasan kumuh yang berusaha naik derajat. Meski sekarang dia berdiri di sisi Bendy, pada dasarnya tetap tidak pantas untuk semua kemewahan ini.

Namun tidak apa-apa, bagaimanapun juga ... sebentar lagi tidak akan ada hubungan apa pun lagi di antara mereka.

Valerie duduk diam di sudut, melihat Bendy menghamburkan uang demi Celine. Melihat keintiman mereka tanpa memedulikan sekitar, seolah dia hanyalah penonton yang tidak penting.

Sampai barang lelang terakhir dibawa ke atas.

Sebuah gelang giok.

Napasnya langsung terhenti, jari-jarinya tanpa sadar mengepal erat. Itu adalah peninggalan neneknya.

Tiga tahun lalu, demi membelikan hadiah ulang tahun untuk Valerie, Bendy pergi bekerja mengangkut batu di proyek, lalu terjatuh dan hampir kehilangan nyawanya.

Untuk membayar biaya operasinya, Valerie terpaksa menjual satu-satunya gelang yang ditinggalkan neneknya. Kemudian, saat dia sudah mengumpulkan uang untuk menebusnya kembali, gelang itu sudah dibeli orang lain.

Valerie telah mencari ke seluruh toko barang antik di kota, tapi tidak pernah menemukannya lagi.

Sekarang, benda itu muncul begitu saja di hadapannya.

Hatinya melonjak senang, hampir secara refleks dia mengangkat papan penawaran.

"Dua miliar."

Celine menoleh padanya dengan terkejut, lalu tersenyum ringan dan ikut mengangkat papan, "Enam miliar."

"Delapan miliar!"

"Sepuluh miliar!"

....

Setelah beberapa kali saling menaikkan harga, Bendy mengerutkan kening. Pandangannya bergantian antara Valerie dan Celine. Akhirnya, dia sedikit mengangkat tangan, langsung mengunci harga tertinggi di ruangan itu.

Pelelang mengetukkan palu, "Selamat kepada Pak Bendy!"

Di tengah keramaian yang heboh, dia menoleh ke Celine, "Kalau kamu suka, aku berikan padamu."

Papan nomor di tangan Valerie terjatuh ke lantai dengan keras.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 23

    Keluarga Sunarta, salah satu keluarga kaya terkemuka di Kota Herbun, runtuh dalam semalam.Pimpinan Grup Sunarta ditangkap untuk penyelidikan karena terlibat dalam penculikan, penahanan ilegal, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Kasus ini juga menyeret kembali sebuah kasus pemerkosaan dari lima tahun lalu.Pada akhirnya, Bendy dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Sementara itu, satu pelaku lainnya dihukum tiga tahun penjara karena dibayar untuk melakukan kejahatan. Namun karena kejahatan itu belum sempat berhasil dilakukan, ditambah pelaku mengalami luka berat dan gangguan mental, hukumannya diubah menjadi masa percobaan, dengan konsekuensi harus menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa.Bendy mengakui semua kejahatannya tanpa bantahan. Hanya ada satu syarat, dia ingin bertemu Valerie sekali lagi. Setelah ragu cukup lama, akhirnya Valerie menyetujui pertemuan itu.Hanya saja, dia tidak datang sendirian.Di ruang kunjungan, kaca tebal kedap suara memisahkan mereka di dua sis

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 22

    "Bendy, kamu benar-benar nggak tahu?"Suara Valerie sama sekali tidak mengandung emosi. Setiap katanya seperti es yang menusuk tubuh Bendy, membuatnya langsung membeku di tempat.Teriakan Celine menembus pintu ruang bawah tanah dan terdengar jelas di telinga mereka, "Bendy, kamu mau balas dendam untuk dia? Justru kamu yang paling pantas mati!"Darah Bendy terasa mendingin sedikit demi sedikit. Bendy ingin berpura-pura tidak mendengar dan melarikan diri, tapi Valerie mengangkat tangan dan menyentuh sisi wajah Bendy, membuatnya tidak bisa bergerak.Cahaya masuk dari jendela, tetapi tidak mampu mengusir kegelapan di pintu masuk ruang bawah tanah. Valerie menarik tangannya kembali, lalu berdiri dan berjalan melewatinya menuju luar.Namun, suara Valerie tetap terdengar jelas, meski Bendy tidak ingin mendengarnya."Bendy, dia benar. Kalau mau balas dendam untukku, justru kamu yang paling pantas mati. Sejak awal, aku ini hanyalah seorang gadis yatim piatu. Mereka nggak akan membenciku tanpa a

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 21

    Valerie dibantu pelayan untuk keluar. Seketika, di ruang bawah tanah itu hanya tersisa Bendy, Celine, dan pria tadi. Celine benar-benar ketakutan. Dia menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, seolah sedang melihat iblis."Bendy, kamu sudah gila, ya?! Kamu benar-benar orang gila! Kamu nggak takut kena balasan?" Suaranya terdengar serak, sepertinya dia sudah lama tidak minum air. Selain itu, dia juga terdengar lemah.Mendengar ucapan Celine, Bendy hanya meliriknya sekilas, lalu bangkit dan berjalan ke depannya. Dia mencengkeram dagu Celine sambil menatap rasa takut di matanya, lalu tiba-tiba tertawa."Balasan? Apa yang harus aku takutkan? Kalian saja nggak pernah mikirin balasan waktu melakukan hal-hal itu, sekarang masih berani ngatain aku?"Mendengar kata-katanya, mata Celine sekilas menunjukkan kebingungan.Hal-hal itu? Hal apa?Menyadari mungkin ini sebuah kesalahpahaman, Celine seperti melihat secercah harapan. Dia memaksakan beberapa tetes air mata, lalu berpura-pura lemah

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 20

    Kabar bahwa para junior dari empat Keluarga Septian, Litardo, Tanidar, dan Wonodiri diputus tangan kanannya dengan cara yang sangat kejam segera menyebar. Pada hari yang sama, saat Valerie bersiap-siap untuk pergi ke kantor seperti biasa dan baru saja dia naik ke mobil, tiba-tiba kesadarannya menghilang.Saat terbangun kembali, dia mendapati ruangan tempatnya berada terasa sangat familier.Setelah berpikir lama, Valerie akhirnya teringat. Tempat ini adalah kamar tempat tinggalnya selama lima tahun lalu saat Bendy membawanya kembali ke rumah Keluarga Sunarta.Dengan begitu, siapa yang membius dan membawanya ke sini juga sudah jelas.Valerie bangkit dan berjalan ke arah pintu. Saat mencoba menarik pintu itu, dia baru sadar pintu itu sudah dikunci dari luar dan sama sekali tidak bisa dibuka."Nona Valerie sudah bangun? Mohon tunggu sebentar, kami akan segera memanggil Tuan."Belum sempat Valerie merespons, dari luar sudah terdengar langkah kaki yang menjauh dengan tergesa-gesa. Valerie me

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 19

    Valerie dan Marcus saling mengenal sejak lima tahun lalu.Saat itu, Valerie baru saja tiba di Inggris.Meski tidak sampai benar-benar kesulitan bergerak, tapi karena kendala bahasa dan ditambah lagi dia berada jauh dari kampung halaman sendirian, Valerie cukup kebingungan dalam waktu yang cukup lama.Marcus adalah orang pertama dari negara asal sama yang ditemui Valerie.Setelah mereka perlahan menjadi dekat, Marcus pernah mengeluh tentang dirinya. Katanya, selama bertahun-tahun di Inggris, ini adalah pertama kalinya dia bertemu seseorang yang tidak bisa bahasa, tidak punya rencana, bahkan tidak punya semangat, tapi tetap nekat pergi ke luar negeri sendirian. Setelah tinggal selama dua bulan penuh, Valerie bahkan tidak bisa komunikasi dasar.Namun, Valerie sangat beruntung karena bertemu Marcus saat dia berada di titik terendah.Kemudian mereka membuat sebuah kesepakatan. Dengan bayaran yang tidak sedikit, Valerie mempekerjakannya sebagai pemandu.Marcus mengajarinya bahasa Inggris dan

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 18

    Awalnya Valerie mengira dia tidak akan lagi bertemu Bendy untuk waktu yang lama setelah kejadian hari itu. Namun baru dua hari berlalu, dia sudah melihat Bendy berdiri tidak jauh dari depan rumahnya.Valerie memaksa menahan rasa kesal di dalam hati sambil menunduk dan mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia berjalan mendekat beberapa langkah ke arah Bendy, tetapi tetap menjaga jarak."Untuk apa kamu datang?"Seolah tidak melihat ketidaksabaran Valerie, ekspresi Bendy tampak begitu rendah hati seperti seseorang yang mengemis cinta dan terburu-buru ingin membuktikan ketulusannya pada orang yang dia cintai."Valerie ...."Suara pria itu sedikit serak, urat-urat merah di matanya bahkan terlihat menakutkan. Wajahnya tampak penuh kelelahan, tapi di matanya tidak terlihat sedikit pun rasa letih. Yang ada hanya kegembiraan seperti ingin menunjukkan sesuatu.Namun sayangnya, Valerie tidak berniat menghargainya."Pak Bendy sebaiknya panggil aku Bu Valerie saja. Hubungan kita belum sampai ke tahap b

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 7

    Valerie menggigit bibirnya dengan kuat, sampai terasa bau anyir di mulutnya. Jadi, hanya demi tidak membuat Celine malu, dia harus menerima semua penderitaan ini begitu saja?"Aku tetap akan lapor polisi."Bendy terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengeluarkan buku cek. "Kalau kamu tetap ingin mempermas

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 6

    Pada saat itu, tuan rumah pesta mengumumkan sebuah permainan kecil.Pasangan diminta naik ke panggung untuk memainkan piano bersama. Penampilan terbaik akan mendapatkan satu set perhiasan berharga sebagai hadiah."Perhiasannya cantik sekali!" Mata Celine berbinar, dia menarik lengan Bendy sambil man

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 3

    Valerie terpaku menatap staf yang menyerahkan gelang itu ke depan Celine dengan hormat. Dengan senyum di wajah, Celine mengulurkan tangan untuk menerimanya. Ujung jarinya baru saja menyentuh tepi kotak, tiba-tiba terdengar, "Ah!"Plak!Gelang giok itu terlepas dari kotak dan terjatuh ke lantai marme

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 1

    "Seratus miliar. Dalam satu minggu, kamu harus ke luar negeri dan menjauh dari anakku selamanya." Mauria duduk di seberang Valerie, wajahnya yang terawat menampilkan rasa meremehkan tanpa disembunyikan sedikit pun.Kalau dulu, Valerie pasti akan membalas dengan mata memerah, "Aku pacaran sama dia bu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status