Share

Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan
Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan
Author: Aurganda

Bab 1

Author: Aurganda
"Seratus miliar. Dalam satu minggu, kamu harus ke luar negeri dan menjauh dari anakku selamanya." Mauria duduk di seberang Valerie, wajahnya yang terawat menampilkan rasa meremehkan tanpa disembunyikan sedikit pun.

Kalau dulu, Valerie pasti akan membalas dengan mata memerah, "Aku pacaran sama dia bukan karena uang."

Namun sekarang, dia hanya mengangguk dengan tenang, "Baik."

Mauria jelas tertegun sejenak, lalu mencibir dengan sinis, "Lumayan tahu diri."

Dia menekankan kata "tahu diri" itu dengan sangat berat, seolah sengaja menegaskan perbedaan status antara Valerie dan Bendy yang bagaikan langit dan bumi.

Valerie menundukkan pandangannya tanpa berkata apa-apa. Dia mengambil cek itu, lalu berbalik dan pergi.

....

Saat kembali ke vila, hari sudah gelap.

Tempat ini terlalu besar, sampai dia sering tersesat.

Satu-satunya yang terasa familier hanyalah foto bersama di atas meja. Di dalam foto itu, Bendy merangkul pinggangnya dan menunduk menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut.

Valerie mengusap foto itu dengan lembut, tiba-tiba teringat malam hujan tiga tahun lalu. Tahun itu, dia menemukan Bendy di ujung gang. Tubuhnya penuh darah dan tatapannya kosong.

"Kamu siapa?" tanya Valerie.

"Aku ... nggak ingat." Bendy menggeleng dengan bingung, air hujan bercampur darah menetes dari ujung rambutnya.

Begitulah, Valerie membawa pulang pria yang kehilangan ingatan itu. Rumah tua sempit berukuran 30 meter persegi, menampung mereka berdua. Cat dinding telah mengelupas dan pipa air bocor. Bahkan, mereka harus memakai tiga selimut agar tidak kedinginan saat musim dingin.

Namun, justru di tempat paling miskin itulah, tumbuh cinta yang paling murni. Mereka saling bergantung satu sama lain dan sejak saat itu menjadi satu-satunya pendukung bagi satu sama lain.

Bendy selalu berjongkok menunggu di bawah gedung selama tiga jam saat Valerie lembur, hanya untuk mengantarnya pulang.

Bendy akan tidak tidur semalaman saat Valerie kesakitan karena haid, lalu memijat perutnya sepanjang malam. Bendy bahkan diam-diam bekerja lima pekerjaan dalam sehari, hanya untuk membelikan kalung mahal yang sudah tiga kali dilihat Valerie tapi tidak pernah tega membeli.

Satu-satunya yang membuatnya kewalahan adalah, setiap malam Bendy selalu ingin bermesraan dengannya.

Saat Valerie memohon ampun dengan wajah memerah, Bendy hanya menggigit cuping telinganya sambil tertawa pelan, "Sayang, aku terlalu mencintaimu, makanya jadi begini."

Saat mereka paling saling mencintai, Bendy bahkan mengajaknya ke tempat tato dan menato nama Valerie di tulang selangkanya.

Seniman tato bertanya apakah dia takut sakit, tapi Bendy hanya menatapnya sambil tersenyum. "Justru harus sakit, supaya nggak melupakan orang yang paling aku cintai."

Valerie mengira, mereka akan terus bahagia seperti itu selamanya.

Sampai Bendy mendapatkan kembali ingatannya.

Barulah Valerie tahu, ternyata Bendy sama sekali bukan pria miskin yang telantar di jalanan, melainkan pewaris Keluarga Sunarta di ibu kota, orang yang menguasai setengah dunia keuangan. Waktu itu, Bendy hanya dijebak oleh musuh bebuyutannya hingga mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan, lalu telantar di jalan.

Setelah identitasnya kembali, Bendy membawa Valerie tinggal di vila seluas 2000 meter persegi. Bahkan kamar mandinya saja sepuluh kali lebih besar dari rumah lamanya.

Namun sejak itu, Bendy juga seperti berubah menjadi orang lain. Dia mengenakan setelan jas mahal yang mereknya bahkan tidak dikenal Valerie, memakai jam tangan bernilai fantastis, membicarakan kerja sama bernilai ratusan miliar, dan sering tidak pulang semalaman.

Valerie terus menipu dirinya sendiri, meyakini bahwa Bendy hanya terlalu sibuk.

Sampai hari itu, berita utama hiburan dipenuhi kabar skandal dirinya dengan putri Keluarga Salim, Celine.

Di foto itu, Bendy mengenakan setelan jas mahal dan membukakan pintu mobil untuknya. Cara mereka saling menatap dan tersenyum tampak begitu menusuk mata.

Kolom komentar dipenuhi kata-kata seperti "sepadan" dan "pasangan yang ditakdirkan".

Pada saat itu, Valerie duduk sendirian di dekat jendela. Dia menatap bulan sepanjang malam dan akhirnya memahami sebuah kenyataan.

Bendy yang akan menerobos angin dan salju untuk menjemputnya pulang kerja, Bendy yang mengangkut batu bata demi membelikan kalung untuknya, Bendy yang menato namanya di tulang selangka, semuanya sudah mati pada hari dia mendapatkan kembali ingatannya.

Sekarang, tuan muda Keluarga Sunarta itu berbeda bagaikan langit dan bumi dengan dirinya. Bendy berdiri di atas awan, sementara Valerie terjebak di lumpur.

Bagaikan pungguk merindukan bulan, orang seperti Bendy memang ditakdirkan bersama seseorang yang sama gemilangnya. Kalau begitu, untuk apa Valerie terus mempermalukan diri sendiri?

Lebih baik melepaskan.

Melepaskan Bendy dan juga melepaskan dirinya sendiri.

Malam itu, vila tetap kosong. Bendy masih belum pulang.

Valerie tidak lagi menunggunya sampai dini hari seperti biasanya, melainkan tidur lebih awal. Begitu fajar tiba, dia langsung pergi ke pusat pengurusan visa. Valerie mengambil jalur percepatan, sehingga visa dan paspornya bisa selesai dalam waktu satu minggu.

Saat keluar dari pusat visa, hari sudah siang. Valerie memilih sebuah restoran dengan asal-asalan.

Begitu mendorong pintu masuk, langkahnya sedikit terhenti. Di kursi dekat jendela, Bendy sedang menyeka sudut bibir Celine dengan tisu.

Tatapan itu tampak begitu lembut, persis sama seperti dulu saat Bendy tersenyum dan menciumnya di kamar sewaan. Valerie berdiri di tempat, merasa jantungnya seperti diremas kuat oleh tangan tak kasat mata. Dia berbalik ingin pergi, tapi tanpa sengaja menjatuhkan tanaman hias di dekat pintu.

Bendy mendengar suara itu dan mengangkat pandangan. Saat melihat Valerie, kehangatan di matanya langsung menghilang. Dia berjalan perlahan mendekati Valerie. Bibir tipisnya terbuka dan dia berkata dengan suara yang dingin, "Kamu mengikutiku?"

Belum sempat Valerie menjawab, dia sudah melanjutkan, "Bukannya aku sudah jelasin sama kamu soal foto-foto skandal di internet itu? Itu cuma pembicaraan kerja sama bisnis. Sampai kapan kamu mau bikin masalah?"

Valerie membuka mulut ingin menjelaskan, tapi tenggorokannya seperti tersumbat.

Kata-kata ibu Bendy kemarin masih terngiang di telinganya, "Pernikahan antara Bendy dan Celine sudah lama ditetapkan oleh kedua keluarga, dan dia sendiri juga sangat menyukai Celine ...."

'Kerja sama? Kerja sama seperti pernikahan bisnis itu?'

"Bendy, jangan galak begitu." Celine juga ikut berjalan mendekat, lalu tersenyum untuk meredakan suasana, "Kalau sudah ketemu, berarti memang takdir. Duduk sama-sama saja."

Belum sempat Valerie menolak, Celine sudah langsung menariknya ke meja mereka.

Valerie seperti boneka yang ditekan duduk di kursi. Dia menghadap tepat di wajah Bendy yang dingin seperti es.

"Bu Valerie mau makan apa?" Celine mendorong menu ke hadapannya, "Masakan Prancis di sini sangat autentik."

Valerie menatap tulisan Prancis di menu yang sama sekali tidak dia mengerti, rasa malu perlahan menyebar di dalam hatinya.

"Aku nggak lapar." Dia mendorong kembali menu itu.

"Kalau begitu minum sup saja." Celine menyendok semangkuk sup seafood dan meletakkannya di depan Valerie. "Segar sekali."

Valerie menatap udang yang mengapung di dalam sup itu, perutnya langsung terasa melilit. Dia alergi berat terhadap seafood. Baru saja ingin menolak dengan halus, ponsel Bendy berdering. Dia berdiri untuk menjawab telepon dengan postur tegap.

Setelan jas itu pernah dilihat Valerie di majalah, harganya cukup untuk membeli seluruh kompleks tempat tinggal lamanya.

"Cepat dicicipi." Celine tiba-tiba merendahkan suara, "Dengan statusmu, biasanya kamu nggak akan bisa menikmati makanan semahal ini."

Valerie langsung mengangkat kepala, menatap matanya yang tersenyum.

"Kamu nggak benar-benar berpikir, hanya karena pernah punya hubungan dengan Bendy, kamu bisa menikah ke keluarga kaya, 'kan?" Ujung jarinya mengetuk pelan bibir gelas dan melanjutkan, "Kalau bukan karena dia kehilangan ingatan, wanita kelas bawah sepertimu bahkan nggak pantas untuk mengelap sepatunya."

Valerie menggenggam serbet dengan erat hingga kainnya kusut.

Dirinya ini memang miskin, tapi bukan berarti orang lain boleh menginjak-injak harga dirinya seperti ini. "Bu Celine, kita nggak saling kenal, kamu ...."

"Ah!"

Baru saja Valerie hendak bicara, Celine tiba-tiba berteriak. Dia mengangkat tangan dan menjatuhkan mangkuk sup seafood itu. Cairan panas menyiram punggung tangannya dan juga memercik ke tangan Valerie.

Bendy yang mendengar suara itu langsung kembali, jari-jarinya yang panjang segera menggenggam tangan Celine. "Ada apa?"

"Nggak apa-apa ...." Mata Celine memerah dan berkata, "Ini salahku, ketahuan makan berdua denganmu. Wajar saja kalau Bu Valerie marah sebagai pacarmu ...."

Bendy langsung menatap Valerie dengan dingin. "Valerie, aku sudah menjelaskan berkali-kali, kamu tetap mau begini?"

"Nggak, dia sendiri yang ...."

"Cukup!" potong Bendy, "Aku melihatnya dengan mataku sendiri, apa mungkin salah? Sejak kapan kamu jadi sekeras kepala ini?"

Setelah berkata demikian, Bendy langsung menggendong Celine dan pergi tanpa menoleh lagi.

Celine bersandar di bahunya dan perlahan menoleh ke belakang, lalu memperlihatkan senyum kemenangan pada Valerie.

Valerie berdiri di tempat, dengan tangan gemetar mengangkat tangannya yang memerah karena tersiram. Lepuhan sudah muncul, rasa sakitnya seperti ditusuk ribuan jarum.

Namun di mata Bendy, hanya ada kulit tangan Celine yang sedikit memerah itu. Dia pergi dengan begitu cepat dan tegas, bahkan tidak memberi satu tatapan pun pada Valerie.

Padahal, Bendy miliknya dulu adalah orang yang paling mengkhawatirkannya.

Tiga tahun lalu saat dia terkena minyak panas saat memasak, Bendy begitu panik sampai matanya memerah. Dia berlari ke apotek untuk membeli obat di tengah malam, lalu saat kembali dia mengoleskan obat sambil berkata, "Val, sakit nggak?"

Saat itu, di mata Bendy hanya ada dirinya. Namun sekarang, Bendy sudah tidak bisa melihatnya lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 23

    Keluarga Sunarta, salah satu keluarga kaya terkemuka di Kota Herbun, runtuh dalam semalam.Pimpinan Grup Sunarta ditangkap untuk penyelidikan karena terlibat dalam penculikan, penahanan ilegal, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Kasus ini juga menyeret kembali sebuah kasus pemerkosaan dari lima tahun lalu.Pada akhirnya, Bendy dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Sementara itu, satu pelaku lainnya dihukum tiga tahun penjara karena dibayar untuk melakukan kejahatan. Namun karena kejahatan itu belum sempat berhasil dilakukan, ditambah pelaku mengalami luka berat dan gangguan mental, hukumannya diubah menjadi masa percobaan, dengan konsekuensi harus menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa.Bendy mengakui semua kejahatannya tanpa bantahan. Hanya ada satu syarat, dia ingin bertemu Valerie sekali lagi. Setelah ragu cukup lama, akhirnya Valerie menyetujui pertemuan itu.Hanya saja, dia tidak datang sendirian.Di ruang kunjungan, kaca tebal kedap suara memisahkan mereka di dua sis

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 22

    "Bendy, kamu benar-benar nggak tahu?"Suara Valerie sama sekali tidak mengandung emosi. Setiap katanya seperti es yang menusuk tubuh Bendy, membuatnya langsung membeku di tempat.Teriakan Celine menembus pintu ruang bawah tanah dan terdengar jelas di telinga mereka, "Bendy, kamu mau balas dendam untuk dia? Justru kamu yang paling pantas mati!"Darah Bendy terasa mendingin sedikit demi sedikit. Bendy ingin berpura-pura tidak mendengar dan melarikan diri, tapi Valerie mengangkat tangan dan menyentuh sisi wajah Bendy, membuatnya tidak bisa bergerak.Cahaya masuk dari jendela, tetapi tidak mampu mengusir kegelapan di pintu masuk ruang bawah tanah. Valerie menarik tangannya kembali, lalu berdiri dan berjalan melewatinya menuju luar.Namun, suara Valerie tetap terdengar jelas, meski Bendy tidak ingin mendengarnya."Bendy, dia benar. Kalau mau balas dendam untukku, justru kamu yang paling pantas mati. Sejak awal, aku ini hanyalah seorang gadis yatim piatu. Mereka nggak akan membenciku tanpa a

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 21

    Valerie dibantu pelayan untuk keluar. Seketika, di ruang bawah tanah itu hanya tersisa Bendy, Celine, dan pria tadi. Celine benar-benar ketakutan. Dia menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, seolah sedang melihat iblis."Bendy, kamu sudah gila, ya?! Kamu benar-benar orang gila! Kamu nggak takut kena balasan?" Suaranya terdengar serak, sepertinya dia sudah lama tidak minum air. Selain itu, dia juga terdengar lemah.Mendengar ucapan Celine, Bendy hanya meliriknya sekilas, lalu bangkit dan berjalan ke depannya. Dia mencengkeram dagu Celine sambil menatap rasa takut di matanya, lalu tiba-tiba tertawa."Balasan? Apa yang harus aku takutkan? Kalian saja nggak pernah mikirin balasan waktu melakukan hal-hal itu, sekarang masih berani ngatain aku?"Mendengar kata-katanya, mata Celine sekilas menunjukkan kebingungan.Hal-hal itu? Hal apa?Menyadari mungkin ini sebuah kesalahpahaman, Celine seperti melihat secercah harapan. Dia memaksakan beberapa tetes air mata, lalu berpura-pura lemah

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 20

    Kabar bahwa para junior dari empat Keluarga Septian, Litardo, Tanidar, dan Wonodiri diputus tangan kanannya dengan cara yang sangat kejam segera menyebar. Pada hari yang sama, saat Valerie bersiap-siap untuk pergi ke kantor seperti biasa dan baru saja dia naik ke mobil, tiba-tiba kesadarannya menghilang.Saat terbangun kembali, dia mendapati ruangan tempatnya berada terasa sangat familier.Setelah berpikir lama, Valerie akhirnya teringat. Tempat ini adalah kamar tempat tinggalnya selama lima tahun lalu saat Bendy membawanya kembali ke rumah Keluarga Sunarta.Dengan begitu, siapa yang membius dan membawanya ke sini juga sudah jelas.Valerie bangkit dan berjalan ke arah pintu. Saat mencoba menarik pintu itu, dia baru sadar pintu itu sudah dikunci dari luar dan sama sekali tidak bisa dibuka."Nona Valerie sudah bangun? Mohon tunggu sebentar, kami akan segera memanggil Tuan."Belum sempat Valerie merespons, dari luar sudah terdengar langkah kaki yang menjauh dengan tergesa-gesa. Valerie me

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 19

    Valerie dan Marcus saling mengenal sejak lima tahun lalu.Saat itu, Valerie baru saja tiba di Inggris.Meski tidak sampai benar-benar kesulitan bergerak, tapi karena kendala bahasa dan ditambah lagi dia berada jauh dari kampung halaman sendirian, Valerie cukup kebingungan dalam waktu yang cukup lama.Marcus adalah orang pertama dari negara asal sama yang ditemui Valerie.Setelah mereka perlahan menjadi dekat, Marcus pernah mengeluh tentang dirinya. Katanya, selama bertahun-tahun di Inggris, ini adalah pertama kalinya dia bertemu seseorang yang tidak bisa bahasa, tidak punya rencana, bahkan tidak punya semangat, tapi tetap nekat pergi ke luar negeri sendirian. Setelah tinggal selama dua bulan penuh, Valerie bahkan tidak bisa komunikasi dasar.Namun, Valerie sangat beruntung karena bertemu Marcus saat dia berada di titik terendah.Kemudian mereka membuat sebuah kesepakatan. Dengan bayaran yang tidak sedikit, Valerie mempekerjakannya sebagai pemandu.Marcus mengajarinya bahasa Inggris dan

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 18

    Awalnya Valerie mengira dia tidak akan lagi bertemu Bendy untuk waktu yang lama setelah kejadian hari itu. Namun baru dua hari berlalu, dia sudah melihat Bendy berdiri tidak jauh dari depan rumahnya.Valerie memaksa menahan rasa kesal di dalam hati sambil menunduk dan mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia berjalan mendekat beberapa langkah ke arah Bendy, tetapi tetap menjaga jarak."Untuk apa kamu datang?"Seolah tidak melihat ketidaksabaran Valerie, ekspresi Bendy tampak begitu rendah hati seperti seseorang yang mengemis cinta dan terburu-buru ingin membuktikan ketulusannya pada orang yang dia cintai."Valerie ...."Suara pria itu sedikit serak, urat-urat merah di matanya bahkan terlihat menakutkan. Wajahnya tampak penuh kelelahan, tapi di matanya tidak terlihat sedikit pun rasa letih. Yang ada hanya kegembiraan seperti ingin menunjukkan sesuatu.Namun sayangnya, Valerie tidak berniat menghargainya."Pak Bendy sebaiknya panggil aku Bu Valerie saja. Hubungan kita belum sampai ke tahap b

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 3

    Valerie terpaku menatap staf yang menyerahkan gelang itu ke depan Celine dengan hormat. Dengan senyum di wajah, Celine mengulurkan tangan untuk menerimanya. Ujung jarinya baru saja menyentuh tepi kotak, tiba-tiba terdengar, "Ah!"Plak!Gelang giok itu terlepas dari kotak dan terjatuh ke lantai marme

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 2

    Valerie pulang sendirian.Setelah sampai, dia langsung mengambil kotak P3K di ruang tamu untuk membersihkan luka dan mengoleskan obat, lalu membalutnya sendiri. Lukanya terasa perih, seperti ribuan semut sedang menggerogoti.Saat berbalik hendak naik ke lantai atas, Valerie tanpa sengaja melirik pia

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 7

    Valerie menggigit bibirnya dengan kuat, sampai terasa bau anyir di mulutnya. Jadi, hanya demi tidak membuat Celine malu, dia harus menerima semua penderitaan ini begitu saja?"Aku tetap akan lapor polisi."Bendy terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengeluarkan buku cek. "Kalau kamu tetap ingin mempermas

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 6

    Pada saat itu, tuan rumah pesta mengumumkan sebuah permainan kecil.Pasangan diminta naik ke panggung untuk memainkan piano bersama. Penampilan terbaik akan mendapatkan satu set perhiasan berharga sebagai hadiah."Perhiasannya cantik sekali!" Mata Celine berbinar, dia menarik lengan Bendy sambil man

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status