Beranda / Mafia / Pawang Hati Mafia Kejam / Liontin Safir Dan Kebohongan Yang Terkuak

Share

Liontin Safir Dan Kebohongan Yang Terkuak

Penulis: Ryu Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-26 08:43:48

Kengerian yang dirasakan Sabe saat melihat liontin safir itu lebih dingin daripada marmer mana pun. Ia menarik napas, bau debu tua dari buku-buku di sekelilingnya tiba-tiba terasa menyesakkan. Ini bukan lagi tentang hutang dan sandera. Ini tentang warisan, kebohongan, dan pengkhianatan yang terasa pribadi.

"Baca, Nyonya!" Suara Bu Suri tajam, mengiris udara seperti pisau cukur.

"Waktu berjalan, dan Tuan tidak suka kekecewaan."

Sabe membenamkan wajahnya di atas halaman pertama, memaksakan matanya untuk fokus pada nama keluarga Yunanda R. Yunanda. Reza. Ia mencoba menelan pertanyaan yang mendesak di tenggorokannya. Jika itu kalung Ibunya, bagaimana bisa ada di sini? Apa hubungan Ayahnya dengan keluarga ini, selain hutang yang menghancurkan?

Ketidak mungkinan untuk berpikir jernih membuatnya meraih pena yang tergeletak di meja. Bukan untuk menulis, melainkan untuk menggenggamnya, menjadikan ujung tumpulnya sebagai jangkar untuk akal sehatnya yang hampir hilang. Ia membalik halaman silsilah dengan cepat, tidak peduli dengan detail nama dan tahun, ia mencari benang merah. Sesuatu yang menghubungkan Ayahnya, Ibunya, dan Reza.

Bu Suri, yang berdiri kaku seperti patung di ambang pintu, tampak semakin resah. Sesekali ia melirik jam tangan emasnya, dan sesekali pula ia melirik kalung safir yang masih terbuka di samping tumpukan dokumen.

"Nyonya," desis Bu Suri, maju selangkah.

"Saya sarankan Anda membaca sejarah seni, itu akan lebih banyak ditanyakan Tuan. Jangan buang waktu dengan silsilah."

Mendengar desakan itu, Sabe justru menguatkan tekadnya pada silsilah keluarga.

"Mengapa?" tanyanya tanpa mendongak, suaranya tenang, sebuah ketenangan yang menipu,

"Mengapa Tuan Reza sangat ingin menghapus semua jejak saya yang lama?"

Bu Suri terdiam, jeda yang terasa lama, menciptakan ketegangan yang lebih pekat daripada asap rokok.

"Tuan Reza membutuhkan Nyonya Yunanda. Bukan Sabe yang lama. Anda harus sepenuhnya menjadi jaminan yang bernilai,"

"Jaminan," ulang Sabe, pahit. Ia akhirnya mendongak, menatap Bu Suri dengan tatapan yang membara.

"Liontin safir itu. Katakan padaku, siapa pemilik aslinya sebelum Tuan Reza memberikannya padaku?"

Mata Bu Suri berkedip. Dalam sekejap itu, Sabe menangkap keraguan yang sangat kecil, seolah Bu Suri telah melanggar salah satu aturan Reza.

"Sudah saya katakan. Itu hadiah, Nyonya. Fokus pada tugas Anda."

"Saya tahu itu bukan hadiah," balas Sabe, mendorong setumpuk buku ke samping. Ia meraih kotak perhiasan itu, mengambil liontin safir dingin itu di tangannya. Begitu menyentuhnya, getaran aneh menyelimuti, kenangan samar dari dongeng Ayahnya tentang permata biru yang dicintai Ibunya.

"Ayahku bilang ini hilang. Katakan padaku, Bu Suri, apakah Ayahku mencuri ini dari keluarga Yunanda?"

Bu Suri menarik napas, ekspresinya akhirnya retak, menunjukkan kelelahan yang nyata di balik wajah kakunya.

"Anda tidak boleh tahu apa-apa selain yang diizinkan oleh Tuan Reza. Masalah ini terlalu besar. Anda akan menyakiti diri sendiri. Percayalah."

"Aku sudah disakiti," bisik Sabe, berdiri. Sutra dingin dari blusnya terasa seperti belenggu, namun kalung di tangannya terasa seperti kunci.

"Aku tidak bisa menjadi boneka yang sempurna jika aku tidak tahu drama apa yang sedang kumainkan."

Saat Sabe berbicara, suara langkah kaki berat terdengar dari lorong. Jantung Sabe mencelos. Reza.

Bu Suri panik. Ia segera berjalan cepat ke arah Sabe, mencoba merebut kalung itu.

"Nyonya, jangan! Tuan... Tuan tidak mengizinkan Anda menyentuh barang itu! Berikan pada saya!"

Sabe mundur selangkah. Ia bergerak berdasarkan insting, mencengkeram kalung itu dan memasukkannya ke dalam saku rok pensilnya.

"Tidak. Ini milikku."

Pintu perpustakaan terbuka dengan suara keras. Reza berdiri di ambang pintu. Tatapannya dingin dan mematikan, menyapu Bu Suri yang tampak tegang, lalu beralih pada Sabe yang berdiri di samping meja kerja.

"Apa yang terjadi di sini, Bu Suri?" Nada suaranya rendah, lebih berbahaya daripada teriakan.

Bu Suri segera menunduk, menyembunyikan keterkejutannya.

"Tidak ada, Tuan. Nyonya baru saja... Mencari pena yang jatuh."

Reza berjalan masuk, jasnya yang mahal tampak sempurna. Ia tidak tertipu. Matanya yang tajam tertuju pada saku rok Sabe yang tampak sedikit menggelembung.

"Sabe," katanya, suaranya seperti es yang retak.

"Apa yang ada di saku rokmu?"

Sabe bisa merasakan gemetar ketakutan di seluruh tubuhnya. Opsi untuk berbohong terasa mustahil. Reza akan tahu. Opsi untuk mematuhi terasa seperti pengkhianatan pada Ibunya.

Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ini adalah saatnya. Jika ia harus hancur, ia harus hancur dengan bermartabat.

"Kalung," jawab Sabe, suaranya parau, namun tetap terdengar. Ia mengeluarkan kalung safir itu, membiarkan liontin itu menjuntai di antara jari-jarinya. Cahaya pagi menyentuh permata itu, membuatnya bersinar dengan cahaya biru yang menyakitkan.

"Aku butuh tahu. Kenapa kalung ini ada di sini? Ayahku bilang ini peninggalan Ibuku."

Wajah Reza, yang selalu terkendali, menunjukkan gejolak emosi sesaat. Itu bukan kemarahan. Itu... Kejutan. Sebuah keretakan dalam benteng kesempurnaannya.

Ia menatap kalung itu, lalu beralih pada Sabe. Kemudian, ia tersenyum. Senyum itu tidak menjangkau matanya. Itu adalah senyum predator sebelum serangan.

"Bu Suri, tinggalkan kami," perintah Reza.

Bu Suri menatap Sabe dengan ekspresi memohon yang tak berdaya sebelum bergegas keluar, menutup pintu perpustakaan di belakangnya.

Sekarang, hanya ada mereka berdua. Boneka dan monster.

Reza melangkah maju, perlahan, seperti ular yang merayap. Ia berhenti tepat di depan Sabe, begitu dekat sehingga Sabe harus mendongak untuk menatapnya. Ia mengulurkan tangan. Bukan untuk menyentuh Sabe, melainkan untuk mengambil kalung itu.

Sabe tidak melepaskannya.

"Berikan padaku, Sabe," perintahnya.

"Jawab aku dulu," balas Sabe, keberaniannya datang dari keputusasaan.

"Siapa Ibuku? Apa hubungannya denganmu dan dengan kalung ini?"

Reza mendengus, tawa kering tanpa humor. Ia meraih pergelangan tangan Sabe, cengkeramannya kuat dan menyakitkan, memaksa Sabe melepaskan liontin itu. Kalung itu kini ada di tangan Reza.

Ia memandangi safir biru itu sejenak, tatapannya jauh dan gelap.

"Ayahmu bukan hanya seorang pencuri," bisik Reza, nadanya penuh kebencian yang mendalam. Ia menjepit dagu Sabe, memaksanya menatap matanya.

"Dia seorang penipu. Dan dia mencuri jauh lebih banyak dariku daripada sekadar uang. Dia mencuri... Masa depanku."

Reza mengangkat kalung itu, membiarkannya berkilauan di depan wajah Sabe.

"Ini, adalah harga yang harus dia bayar, Sabe. Ini adalah milik keluarga Yunanda. Dan sekarang, ini akan menjadi yang terakhir yang kamu lihat darinya, sampai kamu benar-benar mengerti konsekuensi dari setiap kesalahan ayahmu."

Dengan gerakan cepat dan kejam, Reza berbalik dan membanting kalung itu ke meja kerja. Liontin safir itu memantul sekali, lalu terhenti.

"Aturan baru," desisnya, menoleh ke Sabe.

"Jangan pernah lagi membicarakan Ayahmu. Jangan pernah mempertanyakan apa pun di rumah ini. Kamu akan menjadi Nyonya Yunanda yang sempurna. Dan jika kamu berhasil melakukannya, mungkin, mungkin, aku akan membiarkan ayahmu melihat cahaya matahari di balik jeruji besi."

Reza melangkah ke pintu, berhenti sebentar, menoleh sekali lagi ke Sabe yang kini gemetar di tengah perpustakaan yang megah itu.

"Jika tidak, Sabe, aku akan pastikan ayahmu menjalani sisa hidupnya dalam kegelapan total. Keputusan ada di tanganmu. Mulai membaca."

Ia keluar, meninggalkan Sabe sendirian. Liontin safir biru itu, dingin dan berkilauan, terasa seperti mata yang mengawasi Sabe. Kalung itu bukan hanya peninggalan. Itu adalah bukti. Bukti bahwa kisah Ayahnya adalah kebohongan. Dan sekarang, Sabe harus mencari tahu kebohongan apa yang menyelimuti dirinya, sebelum ia tenggelam dalam neraka yang dibuat oleh Reza. Ia harus bertahan. Ia harus belajar. Dan ia harus memenangkan permainan ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pawang Hati Mafia Kejam   Bayangan Dari Masa Lalu

    Fajar yang baru menyingsing di atas Danau Como tidak hanya mewarnai langit dengan palet emas, merah muda, dan ungu, tetapi juga menumpahkan cahaya keperakan ke dalam kamar tidur kecil Reza dan Sabe. Cahaya itu membelai seprai putih yang kini berantakan, sebuah kanvas dari malam yang penuh makna, malam di mana janji ditepati dan bayangan masa lalu dilepaskan.Sabe terbangun perlahan, kelopak matanya terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena kedamaian yang mendalam. Ia meringkuk di dalam pelukan Reza, menghirup aroma maskulin suaminya yang merupakan campuran unik dari kopi pahit, tembakau mahal yang samar-samar, dan kini, aroma ketenangan yang baru. Aroma itu adalah aroma rumah, aroma dermaga yang telah lama ia cari.Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Reza yang terlelap. Bekas-bekas ketegasan dan kekejaman yang pernah menggaris di wajahnya kini melunak, digantikan oleh ekspresi kedamaian yang hampir seperti seorang anak. Semua kelelahan yang diakumulasi dari tiga tah

  • Pawang Hati Mafia Kejam   Awal Yang Baru Dan Malam Pertama Reza Sabe

    Malam itu, Danau Como diselimuti oleh keheningan yang agung, sebuah karpet beludru biru gelap yang ditaburi intan dari bintang-bintang. Di dalam rumah kecil mereka yang hangat, Udara yang bersujud terasa nyata, kesunyian yang dipenuhi rasa syukur, bukan kesedihan. Ini adalah malam di mana dua jiwa yang telah melalui badai akhirnya menemukan dermaga untuk berlabuh.Sabe berdiri di depan jendela, tangannya menyentuh kaca yang terasa dingin. Ia mengenakan gaun tidur sutra putih polos, hadiah dari Reza yang tahu bahwa kini ia mendambakan kesederhanaan. Gaun itu memeluknya dengan lembut, sangat berbeda dari gaun-gaun mahal yang dulu ia pakai sebagai ratu mafia yang terpaksa.Ia menoleh ketika Reza memasuki kamar. Reza telah berganti pakaian menjadi piyama linen berwarna gelap, sosoknya yang dulu dipenuhi ketegangan kini terasa santai, namun matanya memancarkan rasa hormat dan gugup yang tak tersembunyi. Usia mereka yang terpaut cukup jauh, dan sejarah gelap yang mengiringi hubungan mereka,

  • Pawang Hati Mafia Kejam   Pilar Ketiga, Kemenangan Sabe dan Penyesalan Reza

    Lorong di balik pintu baja rahasia itu memang menurun curam, membawa Sabe dan Maya ke kedalaman tanah yang lebih panas dan berbau belerang. Namun, ketegangan yang mencekik di permukaan telah tergantikan oleh kelegaan yang dingin, bercampur dengan adrenalin murni dari kemenangan kecil mereka."Kau berhasil, May," bisik Sabe, suaranya parau karena debu dan ketakutan yang tertinggal.Maya menyeka air mata yang bukan karena kesedihan, melainkan keringat yang bercampur debu. "Itu bukan aku. Itu Ayah. Dia selalu tahu bagaimana meluluhkan hati para pahlawan yang keras kepala, bahkan jantung baja sekalipun."Lorong itu berakhir di sebuah ruangan batu yang kecil dan remang-remang, yang tidak terlihat seperti bagian dari pabrik peleburan. Di tengahnya, sebuah peti kayu tua tampak diletakkan di atas altar batu."Pilar Ketiga," gumam Maya, mendekat dengan hati-hati. “Ini adalah tempat persembunyian terakhir. Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu… dan di sini, di mana semuanya berakhir,

  • Pawang Hati Mafia Kejam   Pilar Kedua

    Sabe dan Maya berlari tanpa henti, membiarkan kegelapan hutan yang lebat menelan mereka. Tanah basah dan berlumpur di lereng bukit Cikandel menjadi sekutu mereka. Mereka menembus semak belukar yang berduri, suara napas mereka yang terengah-engah dan gemerisik dedaunan menjadi satu-satunya petunjuk. Di kejauhan, mereka masih bisa mendengar teriakan Reza, sebuah janji yang kejam. Ia tidak akan pernah berhenti."Pabrik Pemurnian Emas..." Sabe berusaha mengatur napas, menyeimbangkan diri saat Maya menarik tangannya melompati akar pohon yang melintang."Tempat pembersihan aset kotor. Bagaimana... Bagaimana itu bisa menjadi tempat di mana Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu?"Maya memperlambat langkahnya sedikit, bersembunyi di balik sebatang pohon beringin tua yang akarnya menjulang seperti jaring laba-laba raksasa."Ayah tidak pernah menggunakan metafora biasa. Dia bermain dengan kata-kata kuno, dengan alkimia. Cahaya Merangkak. Itu adalah cahaya tersembunyi, yang tidak diakui

  • Pawang Hati Mafia Kejam   Pilar Pertama

    Sabe mengikuti Maya, langkahnya kini lebih mantap meskipun air kotor di selokan itu dingin dan kental. Bau lumpur, karat, dan air pembuangan yang menyengat terasa seperti minyak wangi kebebasan setelah aroma pengap di ruang arsip. Mereka berjalan dalam keheningan yang tegang, hanya diselingi oleh gemericik air dan napas terengah-engah. Di atas, suara sirene mobil polisi dan mobil dinas yang tergesa-gesa terdengar seperti lolongan hantu yang jauh, memburu mereka.Mereka harus bergerak cepat. Reza tidak bodoh. Kemarahannya yang besar akan segera memudar, digantikan oleh perhitungan yang dingin. Catatan Plato itu adalah gangguan, bensin yang membakar amarahnya, tetapi hanya sementara."Kau bilang ada tiga pilar, tiga petunjuk," kata Sabe, suaranya bergema samar di terowongan beton. Ia harus memecah keheningan yang mencekam itu. "Petunjuk pertama, Pilar Pertama, dimana Waktu Berhenti. Di sana, lonceng Mati tidak akan berdentang lagi. Apa yang kau ketahui tentang ini?"Maya tidak langsung

  • Pawang Hati Mafia Kejam   Jalan Dibawah Tanah

    Sabe terpeleset di ambang pintu, menabrak punggung Maya yang sudah melangkah cepat ke dalam lorong yang sempit dan gelap. Aroma di sini jauh berbeda. Bukan lagi kertas tua dan kapur barus, melainkan tanah lembab, lumut, dan bau karat yang menusuk hidung."Hati-hati. Lantai kayu ini sudah lapuk," desis Maya tanpa menoleh.Suara decit rem yang tajam di jalan depan kini diikuti oleh debuman pintu mobil yang keras dan suara sepatu pantofel yang tergesa-gesa menghantam aspal. Mereka hanya punya beberapa detik."Nyaris," bisik Sabe, menelan ludah. Adrenalinnya melonjak, membakar rasa takut menjadi fokus tajam. Ia mengikuti Maya, tangannya meraba dinding di sampingnya yang terasa seperti batu bata tua yang dingin. Lorong itu menukik tajam ke bawah, membentuk tangga curam yang dibuat dari kayu yang tidak rata."Apa yang kau ketik di ponselku?" tanya Sabe, suaranya tercekat."Alamat Yayasan," jawab Maya, langkahnya tanpa cela di kegelapan. "Candra akan memimpin pasukan serigalanya ke sana, me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status