로그인Perpustakaan itu hening. Sunyi yang mengancam, dipenuhi bayangan dari rak-rak buku tua. Sabe berdiri tegak selama beberapa saat, paru-parunya menolak untuk menghirup udara yang ditinggalkan Reza. Udara yang terasa berbau kekuasaan, dendam, dan safir biru. Liontin itu tergeletak di atas meja, berkilauan. Sebuah mercusuar kebenaran yang kejam. Liontin itu adalah kunci, dan Sabe baru saja kehilangan kesempatan untuk membukanya.
Air mata mendesak, panas dan menyakitkan, tetapi Sabe menolaknya. Ia tidak akan menangis untuk Reza. Air mata hanya akan menjadi pupuk bagi kekuasaan pria itu. Kata-kata terakhir Reza, ancaman terhadap Ayahnya bergema di benaknya, lebih keras daripada suara bantingan pintu tadi. Ini adalah harga yang harus dia bayar, Sabe Aku akan pastikan ayahmu menjalani sisa hidupnya dalam kegelapan total. Ancaman itu nyata, dingin, dan tidak bisa diabaikan. Ini bukan lagi tentang hutang, tentang sandera pernikahan. Ini adalah perang pribadi yang dipicu oleh pengkhianatan di masa lalu, sebuah dendam yang berakar jauh, dan Sabe baru saja menjadi budak yang dipaksa bergerak di papan catur yang mematikan. Ia berjalan ke meja kerja, jari-jarinya yang gemetar menyentuh marmer dingin. Ia tidak berani menyentuh liontin itu lagi. Sentuhan Reza masih terasa pada pergelangan tangannya. Cengkeraman yang menyakitkan, mengklaim, dan Sabe tahu, ia tidak boleh membuat kesalahan yang sama lagi. Mata Sabe tertuju pada tumpukan dokumen yang awalnya ia abaikan. Silsilah keluarga Yunanda R. Yunanda. Sebelumnya ia hanya mencari benang merah, sekarang ia mencari celah, kelemahan. Jika Ayahnya adalah penipu, dan kalung itu adalah milik keluarga Yunanda, Sabe perlu tahu siapa pemilik aslinya. Ibu Reza? Bibi? Seseorang yang namanya mungkin terukir di belakang liontin itu. Ia menarik napas panjang, bau debu buku-buku lama yang sempat menyesakkan kini menjadi penenang. Ia menarik kursi kulit besar itu, menyibakkan rambutnya, dan memaksa matanya untuk fokus. Waktu adalah musuh. Sebagai pengingat, Reza melarang untuk mengenakan hijab. Silsilah keluarga Yunanda sangat panjang dan rumit, sebuah pohon keluarga yang menjulang tinggi penuh dengan nama-nama bangsawan dan pengusaha sukses. Sabe melacak garis keturunan ke atas, mencari nama-nama perempuan yang mungkin memiliki liontin safir. Ia harus membaca dengan cepat, mencerna data tanpa emosi, seperti yang akan dilakukan oleh Nyonya Yunanda yang sempurna. Yunanda R. Yunanda dan Laksmi Prawiro. Anak, Reza. Sabe melewati nama-nama yang tidak penting, hingga ia sampai pada generasi sebelum itu. Raditya Yunanda dan Widya Atmaja. Anak, Yunanda R. Yunanda. Candra, dan... Maya. Maya. Nama itu terasa familier di lidahnya, seperti lagu lama yang terlupakan. Sabe menahan napas, mencari catatan tentang Maya. Tanggal lahir, tanggal kematian. Ia melihat kolom kecil di samping nama Maya. Menikah dengan… Kolom itu kosong, atau mungkin sengaja dihapus. Tanggal kematian, tidak Diketahui. Sabe mengerutkan kening. Mengapa status perkawinan kosong dan tanggal kematian tidak diketahui untuk salah satu anak dari garis keturunan utama? Apakah Maya ini yang dicuri Ayahnya? Apakah liontin itu milik Maya? Bu Suri masuk ke pikirannya. Wanita itu menyarankan untuk membaca sejarah seni, mengabaikan silsilah. Sabe mengerti. Bu Suri tahu betapa berbahayanya silsilah itu bagi rencana Reza. Reza ingin Sabe melupakan masa lalu, tetapi masa lalu itu terkunci dalam nama-nama ini. Sabe beralih ke tumpukan buku yang direkomendasikan Bu Suri. Sejarah Seni Era Renaisans, Arsitektur Neoklasik, dan satu buku kecil yang terlihat lebih tua dan usang. Jejak Seniman Lokal Abad ke 19. Ia membuka buku itu secara acak. Di halaman tengah, di bawah sketsa pena seorang wanita muda dengan ekspresi mata yang sedih, ada nama Saraswati. Seniman Jalanan yang Hilang. Tiba-tiba, jantung Sabe berdebar kencang. Nama itu. Nama Ibunya. Saraswati. Ia membaca dengan cepat, matanya melahap setiap kata. Saraswati, seorang seniman jalanan yang berbakat, dikenal karena lukisan potretnya yang sangat emosional. Ia menghilang tanpa jejak pada suatu malam di akhir tahun sembilan puluhan. Buku itu berspekulasi bahwa ia telah jatuh ke pelukan seorang kolektor kaya, atau mungkin seorang penipu. Sabe memegang buku itu erat-erat. Ayahnya adalah penipu. Ibunya adalah Saraswati yang hilang. Ia membalik halaman-halaman itu lagi, mencari petunjuk. Dan di halaman terakhir, di bagian lampiran daftar karya terkenal Saraswati, Potret diri dengan liontin safir. Sabe menoleh, menatap liontin di meja. Liontin itu adalah peninggalan Ibunya, bukan hadiah dari Reza. Ayahnya tidak mencuri. Ayahnya mengambil kembali. Tapi jika itu milik Ibunya, bagaimana bisa menjadi milik keluarga Yunanda? Sebuah pemikiran dingin muncul di benaknya, sangat menakutkan sehingga hampir membuatnya muntah. Jika Ayahnya mencuri masa depan Reza, dan Ibunya menghilang saat Reza masih muda, dan Ayahnya adalah seorang penipu... Mungkinkah... Mungkinkah Ibunya, Saraswati, memiliki hubungan dengan keluarga Yunanda? Mungkin dengan Maya, anak yang tanggal kematiannya tidak diketahui? Atau bahkan dengan ayah Reza? Pikiran itu terlalu besar, terlalu mengerikan untuk diatasi. Jika Ayahnya bukan hanya pencuri, tapi juga mengambil wanita yang seharusnya menjadi milik Reza. Entah itu ibu Sabe atau wanita lain. Maka dendam ini bukan hanya tentang uang. Ini adalah tentang cinta yang dicuri, tentang warisan yang dinodai. Sabe menutup buku itu, tangannya berkeringat. Ia tidak bisa bertahan di sini, membaca tentang seni dan kebohongan, sementara kebenaran yang membakar terkubur di bawah marmer dingin. Ia harus bergerak. Ia harus mulai bertindak sebagai Nyonya Yunanda yang sempurna. Bukan untuk Reza, tetapi untuk Ayahnya. Reza ingin ia menjadi boneka, maka ia akan menjadi boneka yang mematikan. Boneka yang akan membaca setiap buku di perpustakaan, menguasai setiap nama keluarga Yunanda, dan mencari celah kecil dalam benteng sempurna Reza. Sabe melangkah ke rak buku dan dengan sengaja mengambil tumpukan buku yang disarankan Bu Suri, menumpuknya di lengan. Sejarah seni, arsitektur, dan buku tentang seniman yang hilang itu. Ia tidak akan memenangkan perang ini dengan emosi. Ia akan memenangkannya dengan pengetahuan. Ia akan belajar menjadi Nyonya Yunanda yang sempurna, dan kemudian, ia akan menggunakan kesempurnaannya itu untuk menghancurkan monster yang berdiri di ambang pintu tadi. Sabe berjalan menuju pintu, memaksakan langkahnya untuk tenang dan anggun. Ia menoleh sekali ke belakang, ke meja kerja. Liontin safir itu, benda kecil yang dingin dan biru, memancarkan cahaya di antara tumpukan dokumen yang berharga. "Ini belum berakhir, Reza," bisik Sabe ke dalam keheningan yang mencekam. "Aku akan mengetahui seluruh kebenaran. Dan saat aku melakukannya, aku akan membebaskan Ayahku dan diriku sendiri." Ia keluar, menutup pintu perpustakaan di belakangnya. Di luar, koridor yang megah dan dingin terasa seperti jalur menuju medan perang. Permainan telah dimulai, dan Sabe baru saja mendapatkan senjata pertamanya, pengetahuan.Fajar yang baru menyingsing di atas Danau Como tidak hanya mewarnai langit dengan palet emas, merah muda, dan ungu, tetapi juga menumpahkan cahaya keperakan ke dalam kamar tidur kecil Reza dan Sabe. Cahaya itu membelai seprai putih yang kini berantakan, sebuah kanvas dari malam yang penuh makna, malam di mana janji ditepati dan bayangan masa lalu dilepaskan.Sabe terbangun perlahan, kelopak matanya terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena kedamaian yang mendalam. Ia meringkuk di dalam pelukan Reza, menghirup aroma maskulin suaminya yang merupakan campuran unik dari kopi pahit, tembakau mahal yang samar-samar, dan kini, aroma ketenangan yang baru. Aroma itu adalah aroma rumah, aroma dermaga yang telah lama ia cari.Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Reza yang terlelap. Bekas-bekas ketegasan dan kekejaman yang pernah menggaris di wajahnya kini melunak, digantikan oleh ekspresi kedamaian yang hampir seperti seorang anak. Semua kelelahan yang diakumulasi dari tiga tah
Malam itu, Danau Como diselimuti oleh keheningan yang agung, sebuah karpet beludru biru gelap yang ditaburi intan dari bintang-bintang. Di dalam rumah kecil mereka yang hangat, Udara yang bersujud terasa nyata, kesunyian yang dipenuhi rasa syukur, bukan kesedihan. Ini adalah malam di mana dua jiwa yang telah melalui badai akhirnya menemukan dermaga untuk berlabuh.Sabe berdiri di depan jendela, tangannya menyentuh kaca yang terasa dingin. Ia mengenakan gaun tidur sutra putih polos, hadiah dari Reza yang tahu bahwa kini ia mendambakan kesederhanaan. Gaun itu memeluknya dengan lembut, sangat berbeda dari gaun-gaun mahal yang dulu ia pakai sebagai ratu mafia yang terpaksa.Ia menoleh ketika Reza memasuki kamar. Reza telah berganti pakaian menjadi piyama linen berwarna gelap, sosoknya yang dulu dipenuhi ketegangan kini terasa santai, namun matanya memancarkan rasa hormat dan gugup yang tak tersembunyi. Usia mereka yang terpaut cukup jauh, dan sejarah gelap yang mengiringi hubungan mereka,
Lorong di balik pintu baja rahasia itu memang menurun curam, membawa Sabe dan Maya ke kedalaman tanah yang lebih panas dan berbau belerang. Namun, ketegangan yang mencekik di permukaan telah tergantikan oleh kelegaan yang dingin, bercampur dengan adrenalin murni dari kemenangan kecil mereka."Kau berhasil, May," bisik Sabe, suaranya parau karena debu dan ketakutan yang tertinggal.Maya menyeka air mata yang bukan karena kesedihan, melainkan keringat yang bercampur debu. "Itu bukan aku. Itu Ayah. Dia selalu tahu bagaimana meluluhkan hati para pahlawan yang keras kepala, bahkan jantung baja sekalipun."Lorong itu berakhir di sebuah ruangan batu yang kecil dan remang-remang, yang tidak terlihat seperti bagian dari pabrik peleburan. Di tengahnya, sebuah peti kayu tua tampak diletakkan di atas altar batu."Pilar Ketiga," gumam Maya, mendekat dengan hati-hati. “Ini adalah tempat persembunyian terakhir. Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu… dan di sini, di mana semuanya berakhir,
Sabe dan Maya berlari tanpa henti, membiarkan kegelapan hutan yang lebat menelan mereka. Tanah basah dan berlumpur di lereng bukit Cikandel menjadi sekutu mereka. Mereka menembus semak belukar yang berduri, suara napas mereka yang terengah-engah dan gemerisik dedaunan menjadi satu-satunya petunjuk. Di kejauhan, mereka masih bisa mendengar teriakan Reza, sebuah janji yang kejam. Ia tidak akan pernah berhenti."Pabrik Pemurnian Emas..." Sabe berusaha mengatur napas, menyeimbangkan diri saat Maya menarik tangannya melompati akar pohon yang melintang."Tempat pembersihan aset kotor. Bagaimana... Bagaimana itu bisa menjadi tempat di mana Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu?"Maya memperlambat langkahnya sedikit, bersembunyi di balik sebatang pohon beringin tua yang akarnya menjulang seperti jaring laba-laba raksasa."Ayah tidak pernah menggunakan metafora biasa. Dia bermain dengan kata-kata kuno, dengan alkimia. Cahaya Merangkak. Itu adalah cahaya tersembunyi, yang tidak diakui
Sabe mengikuti Maya, langkahnya kini lebih mantap meskipun air kotor di selokan itu dingin dan kental. Bau lumpur, karat, dan air pembuangan yang menyengat terasa seperti minyak wangi kebebasan setelah aroma pengap di ruang arsip. Mereka berjalan dalam keheningan yang tegang, hanya diselingi oleh gemericik air dan napas terengah-engah. Di atas, suara sirene mobil polisi dan mobil dinas yang tergesa-gesa terdengar seperti lolongan hantu yang jauh, memburu mereka.Mereka harus bergerak cepat. Reza tidak bodoh. Kemarahannya yang besar akan segera memudar, digantikan oleh perhitungan yang dingin. Catatan Plato itu adalah gangguan, bensin yang membakar amarahnya, tetapi hanya sementara."Kau bilang ada tiga pilar, tiga petunjuk," kata Sabe, suaranya bergema samar di terowongan beton. Ia harus memecah keheningan yang mencekam itu. "Petunjuk pertama, Pilar Pertama, dimana Waktu Berhenti. Di sana, lonceng Mati tidak akan berdentang lagi. Apa yang kau ketahui tentang ini?"Maya tidak langsung
Sabe terpeleset di ambang pintu, menabrak punggung Maya yang sudah melangkah cepat ke dalam lorong yang sempit dan gelap. Aroma di sini jauh berbeda. Bukan lagi kertas tua dan kapur barus, melainkan tanah lembab, lumut, dan bau karat yang menusuk hidung."Hati-hati. Lantai kayu ini sudah lapuk," desis Maya tanpa menoleh.Suara decit rem yang tajam di jalan depan kini diikuti oleh debuman pintu mobil yang keras dan suara sepatu pantofel yang tergesa-gesa menghantam aspal. Mereka hanya punya beberapa detik."Nyaris," bisik Sabe, menelan ludah. Adrenalinnya melonjak, membakar rasa takut menjadi fokus tajam. Ia mengikuti Maya, tangannya meraba dinding di sampingnya yang terasa seperti batu bata tua yang dingin. Lorong itu menukik tajam ke bawah, membentuk tangga curam yang dibuat dari kayu yang tidak rata."Apa yang kau ketik di ponselku?" tanya Sabe, suaranya tercekat."Alamat Yayasan," jawab Maya, langkahnya tanpa cela di kegelapan. "Candra akan memimpin pasukan serigalanya ke sana, me