LOGINAdrian memarkirkan mobilnya, lalu mematikan mesin setelah posisinya pas di tempat parkir dalam yang terlindung dari guyuran hujan. Keduanya kemudian melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat kamar Sheila berada.Hawa dingin dari air hujan yang mengguyur di luar membuat suasana koridor yang lengang itu terasa makin sunyi, hingga derap langkah kaki mereka terpantul jelas di sepanjang lorong.“Ayo masuk aja dulu, Yan,” ucap Sheila sambil memutar kunci dan membuka pintu kamarnya, lalu mengibaskan beberapa tetes air hujan di lengan pakaiannya.Kamar kos Sheila terasa begitu nyaman dan bernuansa modern. Dilengkapi fasilitas penyejuk udara, kasur berukuran sedang, serta televisi layar datar, tempat itu lebih mirip kamar hotel daripada indekos mahasiswa biasa.Adrian meletakkan kunci mobil di atas meja kecil lalu duduk dengan santai di atas karpet.Saat Sheila melangkah ke arah lemari untuk mengambil handuk kecil, dan bergantian pakaian di kamar mandi. Adrian dengan cepat mengelu
Melihat gerakan nekat ibu tirinya, Adrian sontak panik bukan kepalang. Ia langsung melambaikan tangannya menolak. “Eh... jangan, Mah! Enggak usah repot-repot! Lagian kan... aku juga udah sering liat!” tolak Adrian secara reflek, hingga akhirnya ia sadar bahwa dirinya telah keceplosan mengucapkan kalimat yang sangat berbahaya.Maya langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap anak tirinya itu dengan senyuman, “Oh... jadi kamu udah sering liat? Wah, berarti udah hapal dong sama punya Mama, ya? Sampai bisa keceplosan ngomong gitu tadi?” goda Maya semakin menjadi-jadi, menikmati ekspresi pucat pasi di wajah Adrian.Adrian menelan ludahnya dengan susah payah, benar-benar merutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menjaga ucapan. “B-bukan gitu maksudnya, Mah! Maksud aku tuh... ya, ampun... gimana, ya?” elak Adrian panik, membuat Maya tertawa lepas.Maya tertawa renyah, menikmati kepanikan luar biasa di wajah anak tirinya. “Hahaha! Iya-iya, sayang! Mama cuma bercanda, kok! Santai a
Adrian langsung menggelengkan kepalanya dengan panik dan gerakan cepat. Ia berusaha keras menyembunyikan rasa gugup yang kini telah melanda sekujur tubuhnya akibat tebakan tajam sang ibu tiri.“A-aku cuma mau buang air kecil aja, kok, Mah! Sumpah, gak ada maksud apa-apa!” jawab Adrian dengan nada suara yang terdengar gugup dan terbata-bata, keringat dingin mulai merayap di pelipisnya.Maya menyipitkan matanya, menatap anak tirinya itu dengan senyuman penuh selidik. “Beneran cuma mau buang air kecil? Bukan karena kamu tadi sempat ngintip Mama terus jadi ngebayangin yang aneh-aneh, kan?” tanya Maya tidak percaya, sengaja mendesak Adrian untuk melihat reaksinya lebih dekat.“Iya beneran, Mah! Aku gak bohong sama sekali!” elak Adrian mati-matian, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tidak semakin salah tingkah di hadapan wanita itu.Namun, Maya yang sudah terlanjur penasaran melirik sekilas ke arah bagian bawah tubuh anak tirinya yang memang tampak mencetak jelas di balik celana kain y
Adrian terkejut bukan main saat mendengar kata hukuman terucap tegas dari bibir ibu tirinya. Membuat matanya langsung membelalak kaget sementara ketegangan di dadanya semakin membuncah.“Maaf, Maah! Aku emang salah, aku emang pantes Mama hukum,” ucap Adrian pasrah, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena sadar dirinya sudah berada di posisi yang serba salah dan tidak bisa mengelak lagi.“Iya, kamu emang pantes dihukum karena nakal!” balas Maya dengan nada suara tegas, menatap lurus anak tirinya tanpa melepaskan intensitas tekanannya.Adrian hanya bisa pasrah dan tidak bisa membantah sedikit pun. “Iya, Maahh!” sahutnya lirih, siap menerima konsekuensi apa pun yang akan dijatuhkan padanya.“Kira-kira hukuman apa ya yang cocok buat anak laki-laki nakal yang suka ngintipin orang tuanya sendiri?”Adrian menelan ludah dengan susah payah. “Please, Mahh! Jangan yang berat-berat hukumannya, aku janji gak akan ngulangin lagi. Beneran, ini yang terakhir!”Maya menatap Adrian lekat-lekat, tersen
Di atas tempat tidur besar itu, ibu tiri Adrian tampak sedang berbaring seorang diri tanpa busana yang layak sambil mendesah. Sibuk meraba dan memainkan tubuhnya sendiri untuk memuaskan hasratnya yang tengah membara di tengah kesunyian rumah.Adrian bergumam pelan sambil menggelengkan kepalanya di balik celah pintu yang terbuka. “Astaga... Adrian! Kan lo udah tau dari dulu kalau ada suara-suara kayak gitu, udah pasti Mama lagi main sendiri. Mau Papa udah pulang atau enggak, jangan ngintip!” rutuknya pada diri sendiri, merasa situasinya mulai terasa canggung.Pemuda itu tadinya berniat segera membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menghindari masalah besar. Namun, entah kenapa sepasang kakinya terasa begitu berat, seolah terpaku di lantai dan tidak mau bergeser sedikit pun dari posisinya berdiri.Di dalam kamar, suara desahan itu semakin terdengar jelas dan memancing adrenalin Adrian. “Aahhh... enak banget! Sedikit lagi... ya ampun... sedikit lagi... e
Adrian tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos sekaligus konyol dari sang kakak tiri di dalam mobil yang sedang melaju. Suara tawanya memenuhi kabin mobil, membuat Clara yang sedang duduk di sampingnya langsung memasang wajah cemberut.“Lo ada-ada aja deh, Kak! Mana mungkin bisa hamil gara-gara nelen kayak gitu? Kan yang nelen pj gue itu mulut atas lo, bukan mulut bawah lo!” cibir Adrian di sela-sela tawanya yang masih tersisa.Clara mendengus kesal, melotot tajam ke arah adiknya. “Ya namanya juga takut, Yan! Lo mah enak tinggal keluarin aja tanpa beban! Gue kan cewek, wajar kalo takut hamil atau terjadi apa-apa!” balas Clara mempertahankan diri.“Enggak bakal lah, Kak! Logikanya mana mungkin bisa jadi kalo cuma lewat mulut begitu. Lo kan udah dewasa, udah tingkat akhir mau lulus kuliah juga, masa hal dasar kayak gitu masih dipikirin sampai aneh-aneh?” sahut Adrian menggelengkan kepala.“Ya namanya orang panik, mana sempat mikir logis! Lagian, lo kenapa malah dikeluarin di d







