เข้าสู่ระบบ“Lho, Zeds! Hidungmu mimisan?”
Zeds sendiri tidak sadar ada darah segar mengucur dari hidung melewati bibir atasnya. Zeds baru menyekanya dengan punggung tangan setelah Miya menunjuk mimisan itu, dan sudah ada banyak sekali darah di hidungnya.
Tidak tahu apa yang membuat hidungnya mimisan. Mungkinkah karena dia kelelahan kemarin, atau karena semalam dia tidak tidur dan beristirahat.
Yang pasti, saat ini Zeds baru merasakan kepalan
Itu Barra.Zeds kenal betul setiap inchi dari Barra meski hanya melihat sehelai rambutnya saja.Barra datang bersama tiga algojo dengan tampang seram. Barra berjalan angkuh di lorong klinik, kepalanya mendongak, kedua tangan masuk ke saku celana yang licin tanpa lipatan kusut sama sekali.Buru-buru Zeds menunduk. Dia turun dari kursinya. Jalan merayap menjauhi titik yang bisa membuat dirinya terlihat.Lorong klinik itu memang akan melewati ruang tunggu. Dan kalau Zeds tidak salah terka, Barra pastilah akan menuju kantor klinik itu, dimana letaknya berada tak jauh dari ruang tunggu tersebut.Zeds mengendap-endap sambil sembunyi di antara kursi demi kursi. Di antara tembok demi tembok. Dadanya berdebar hebat. Darahnya seperti naik ke ubun-ubun saking tegangnya.Zeds yang tadinya datang karena keluhan mimisan, sekarang dia hampir sesak napas karena tegang dengan
“Lho, Zeds! Hidungmu mimisan?”Zeds sendiri tidak sadar ada darah segar mengucur dari hidung melewati bibir atasnya. Zeds baru menyekanya dengan punggung tangan setelah Miya menunjuk mimisan itu, dan sudah ada banyak sekali darah di hidungnya.Tidak tahu apa yang membuat hidungnya mimisan. Mungkinkah karena dia kelelahan kemarin, atau karena semalam dia tidak tidur dan beristirahat.Yang pasti, saat ini Zeds baru merasakan kepalanya pusing, efek mengeluarkan darah terlalu banyak.“Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya sesuatu untuk menyembuhkan mimisanmu.” Miya berlari ke kamarnya. Panik dan terburu-buru.Radeya yang biasanya tenang juga ikutan panik. Bedanya, dia masih bisa berpikiran jernih. Dimintanya Zeds membersihkan hidung dan mulutnya dari darah. Tidak lupa dia beritahukan pula kalau Zeds tidak boleh mendongak atau darahnya justru akan naik ke kepala.
“Kabarnya Tuan Neil pergi dari rumah. Saya pernah mendengar kalau sebelum Tuan Neil pergi, dia sempat bertemu dengan Barra.”“Hah?”“Saya dengar itu dari pelayan lain, tapi kurang tahu hal apa yang mereka bicarakan.”Melihat sifat Barra, bukan mustahil dia mengatakan kalimat yang membuat Neil pergi dari keluarganya. Padahal dia digadang-gadang akan mewarisi jabatan tertinggi di kepolisian. Dia bisa mendapatkan itu dengan mudah, dimana orang-orang akan saling sikut demi mendapatkan yang diinginkan. Neil bisa dapat dengan mudah.Tapi lelaki itu memutuskan meninggalkan keistimewaan itu. Bisa jadi dia muak dengan keluarganya yang penuh dengan ketamakan. Sama seperti Zeds yang kadang kala juga ingin keluar dari keluarganya. Pijaraga yang baik kelihatan dari luar, tapi busuk dari dalam.“Oh ya, Aden. Hampir saya lupa.” Gauzan mengalihkan topik pembicaraan. Ucapan Zeds mengenai Paman Dh
Zeds berdiri sambil mendorong kursinya ke belakang dengan kasar sampai kursi terjengkang.Miya tahu apa yang hendak dilakukan Zeds. Kurang lebih hal yang sama yang dia lakukan pada debt collector yang tempo hari datang ke indekosnya. Hal itu pula yang membuat mereka perang dingin.Perlu beberapa hari untuk mereka bisa berbaikan. Jangan sampai kali ini Zeds melakukan hal yang sama.“Zeds, jangan berkelahi!” bisik Miya sembari menarik ujung kaus Zeds yang berkibar karena angin di tepi pantai.Zeds tidak mengindahkan. Sebelumnya Miya pernah marah karena khawatir debt collector itu datang kembali ke indekosnya dan membuat sesuatu yang lebih parah dari hari itu.Tapi kali ini, Miya tidak punya alasan untuk menghentikannya.“Kemarin aku bisa mengerti alasanmu jadi marah padaku. Kalau preman macam begini, nggak ada ampun!”Nampaknya Miya tidak b
“Hei, Zeds. Ayo keluar dan sapa penyewa pick-up kita!”Astaga! Haruskah dia menuruti Miya.Zeds tidak bergerak. Dia berpura-pura tidak mendengarkan Miya yang bicara cukup lantang padanya. Sampai Miya mengulangi lagi perkataannya sekali lagi. Takut Zeds tidak mendengarnya tadi.“Zeds—““Kamu duluan saja. Aku gerah sekali!” alasan Zeds. Dia lakukan itu untuk menghindari bertemu dengan Paman Dharma.Dia tidak mau menanggung resiko kalau pamannya mengenali Zeds. Akan runyam urusannya nanti jika hal itu terjadi.Untungnya Miya bukan tipe pemaksa. Dia hanya merengut dan memasang mulut mengerucut, namun segera keluar sebab seseorang memanggil dirinya dari luar pick-up. Orang itu adalah Paman Dharma.Miya segera datang pada Paman Dharma yang kali itu menampilkan tas jinjing yang diyakini berisi uang untuk dia berikan pada Miya.
Sekilas, Zeds melihat ke arah rumah yang terbuka pintunya dengan lebar tersebut. Dia bisa melihat seseorang yang keluar dari rumah itu sambil menunjuk-nunjuk memberikan perintah.Tidak disangka, Zeds melihat orang itu di sini.Lelaki yang dia kenal baik dengan nama Pijaraga di belakangnya.Ya, Dharma Pijaraga.Lelaki itu keluarga dari Pijaraga. Dia adik dari Daniyal Pijaraga. Beda dengan Daniyal yang mengabadikan dirinya untuk urusan bisnis, adik kandung dari ayahnya tersebut lebih menggeluti bidang kepolisian. Dia dan keluarganya memangku pangkat tertinggi dalam kepolisian.Dharma memiliki putra semata wayang yang seumuran Zeds. Namanya Neil Pijaraga. Zeds dengar Neil sudah lulus akademi kepolisian tahun lalu. Dia dan sepupunya itu tidak begitu dekat, juga tidak tahu kabar lelaki dingin seperti es itu. Ada yang bilang dia masuk ke jajaran kepolisian, ada yang bilang dia lari dar







