INICIAR SESIÓN
Ponsel Tian bergetar tepat ketika ia melangkah keluar dari lapangan basket sekolah. Kaus hitam yang dikenakannya telah basah oleh keringat setelah dua jam latihan bersama tim inti. Napasnya masih sedikit memburu, tetapi ekspresinya tetap datar seperti biasa.
Sebuah pesan masuk muncul di layar ponselnya.
Chelsea: Sayang, nanti sore temenin aku ke Mall, ya? Aku mau cari outfit buat ulang tahun Tres minggu depan.
Sudut bibir Tian sedikit terangkat. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan singkat.
Tian: Oke. Jam berapa?
Tak lama, balasan dari Chelsea kembali masuk.
Chelsea: Jam tiga. Jangan lupa, ya. Love you!
Tian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana olahraga sebelum berjalan menuju kantin sekolah yang mulai ramai oleh siswa saat jam istirahat.
Begitu memasuki kantin, pandangannya langsung tertuju pada sosok gadis cantik yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Chelsea memang selalu berhasil menjadi pusat perhatian. Dengan rambut panjang yang ditata sempurna dan senyum manis yang tak pernah absen dari wajahnya, ia terlihat seperti seorang putri di tengah keramaian sekolah.
Chelsea segera bangkit dari duduknya begitu Tian tiba di hadapannya.
"Lama banget balas chat aku," rajuknya manja sambil bergelayut di lengan Tian.
"Baru selesai latihan," jawab Tian singkat.
Meski terdengar dingin, tangannya secara refleks menarik kursi untuk Chelsea sebelum ia duduk di samping gadis itu. Perlakuan istimewa seperti ini bukan lagi hal yang mengherankan bagi seluruh siswa di sekolah.
Tian dan Chelsea adalah pasangan yang dianggap paling sempurna.
Tian dikenal sebagai ketua tim basket sekaligus ketua geng motor terbesar di sekolah mereka. Wajah tampan, prestasi akademik yang baik, dan latar belakang keluarga kaya membuat namanya begitu populer.
Sementara itu, Chelsea adalah primadona sekolah yang berasal dari keluarga terpandang. Cantik, percaya diri, dan selalu menjadi pusat perhatian ke mana pun ia pergi. Mereka seperti dua orang yang memang ditakdirkan untuk bersama.
"Nanti jangan lupa, ya. Aku mau ajak Tres sama Clara juga," ujar Chelsea sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Tian.
Tian hanya mengangguk pelan. Pikirannya masih dipenuhi jadwal latihan tim basket yang semakin padat menjelang turnamen internasional antarsekolah.
Belum sempat Chelsea kembali membuka pembicaraan, dua orang sahabat Tian datang menghampiri meja mereka.
"Bro, boleh ngobrol bentar?" Dani menarik kursi di hadapan Tian.
Liam ikut duduk di samping Dani dengan ekspresi yang cukup serius. "Ini soal latihan."
Chelsea yang mengerti situasi langsung berdiri. "Aku ke toilet dulu sama Tres dan Clara, ya."
Setelah Chelsea pergi, Dani menatap Tian cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.
"Lo sadar nggak kalau akhir-akhir ini fokus lo mulai berantakan?" tanyanya lugas.
Tian mengernyitkan dahinya. "Maksud lo?"
"Passing lo tadi dua kali salah," jawab Liam cepat. "Padahal biasanya hampir nggak pernah."
Dani mengangguk setuju. "Kita semua kerja keras buat turnamen ini, Tian. Jangan sampai fokus lo kebagi karena hal lain."
Tian terdiam beberapa detik sebelum mengembuskan napas pelan. Ia tahu kedua sahabatnya tidak sedang mencari masalah.
"Oke. Gue bakal lebih fokus mulai sekarang."
"Nah, gitu dong," sahut Dani sambil menepuk bahunya pelan.
Percakapan mereka berakhir dengan tawa kecil sebelum ketiganya kembali menikmati waktu istirahat yang tersisa.
Di sisi lain kota, seorang gadis tengah duduk bersila di atas kasurnya sambil menikmati sepiring nasi goreng dan menonton drama Korea favoritnya di laptop. Berbeda dengan Tian yang selalu menjadi pusat perhatian, Anya justru terbiasa menjadi sosok yang nyaris tak terlihat.
Rambutnya selalu diikat seadanya, kacamata bulat tak pernah lepas dari wajahnya, dan pakaian yang dikenakannya lebih sering berupa kaus oversized yang membuat tubuh mungilnya tenggelam.
Hari ini, ia tidak masuk sekolah karena demam ringan sejak pagi.
"Aku juga mau punya cowok green flag kayak di drakor," gumamnya pelan setelah adegan romantis yang ditontonnya berakhir.
Setelah membereskan piring makannya ke dapur, Anya kembali ke kamar sambil membawa ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Namun, langkahnya langsung terhenti.
Tujuh panggilan tidak terjawab terpampang jelas di layar ponselnya. Nama kontak itu membuat wajahnya seketika pucat.
BENCANA ALAM
"Anjir..."
Perutnya mendadak terasa mual. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka aplikasi pesan. Satu pesan singkat baru saja dikirim lima menit yang lalu.
Mall. Jam 15.00.
Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.
"Kenapa sih harus gue lagi?" keluhnya sambil menjatuhkan tubuh ke atas kasur.
Sempat terlintas di pikirannya untuk mengabaikan pesan tersebut. Namun, bayangan sebuah video dan ancaman yang diterimanya tiga minggu lalu membuat tubuhnya merinding.
Tidak.
Ia tidak punya pilihan.
Jam dinding menunjukkan pukul 14.45 ketika ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan. Sebuah panggilan telepon masuk dari orang yang sama. Jantung Anya langsung berdegup lebih cepat.
Dengan bibir yang mulai mengering karena gugup, ia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum perlahan mengulurkan tangannya.
Apa yang akan terjadi jika kali ini ia menolak?
“Terima kasih, Nak Dani.” Bibi War tersenyum tulus. Wajahnya berseri-seri saat menerima buket bunga dari Dani. “Ini pertama kalinya dalam hidup Ibu dikasih bunga seperti ini,” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.“Sama-sama, Bu. Lain kali Dani bawain yang lebih besar, deh,” balas Dani sambil tersenyum lebar.“Nggak perlu repot-repot, Nak.”“Nggak repot, kok. Dani malah senang bisa jadi cowok pertama yang ngasih bunga ke Ibu.” Dani mengangkat dagu sedikit, tampak bangga dengan dirinya sendiri.Bibi War terkekeh kecil melihat tingkah pemuda di hadapannya. “Nak Dani ini pandai sekali mengambil hati orang.”Dani tertawa ringan. “Wah, Ibu bisa aja.”Anya yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas pelan. Siapa sangka, Dani ternyata sangat pandai mendekati wanita, bahkan wanita yang baru dikenalnya beberapa menit lalu.Kalau begini, tidak mustahil Dani bisa semakin dekat dengannya.Padahal, Anya adalah gadis pendiam, tertutup, dengan tingkat introversi yang bisa dibilang suda
Dani menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Sudah sejak tadi ia ingin menghubungi Anya untuk menanyakan alamat rumahnya, tetapi ia bisa membayangkan bagaimana gadis itu akan bereaksi. Padahal, Dani sudah berjanji akan meminta izin langsung kepada papa Anya. Dan sebagai laki-laki yang ingin membuktikan keseriusannya, ia tidak berniat mengingkari janji itu hanya karena Anya mungkin akan menolaknya.Akhirnya, Dani memutuskan mencari alamat Anya melalui administrasi sekolah.Awalnya, ia mengira akan mendapat banyak pertanyaan. Namun, begitu menyebutkan nama lengkap dan identitas keluarganya, proses itu justru berjalan jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Orang tua Dani berasal dari kalangan konglomerat yang cukup dikenal dan memiliki hubungan baik dengan pihak sekolah. Setelah menjelaskan bahwa ia perlu mengunjungi rumah teman sekolahnya untuk suatu keperluan penting, Dani berhasil mendapatkan alamat yang dicari.Tak butuh waktu lama baginya untuk bersiap. Sebuah buket bunga yan
“Harusnya Pak Bima, deh,” jawab Dani dari seberang telepon. Anya bertanya nama guru yang mengurus relawan ke jepang, ia ingin bertanya terkait telepon yang papanya terima juga informasi tentang nilai tambahannya.Ia sendiri juga tidak tahu dan bahkan tidak pernah bertemu dengan guru yang mengurus relawan. Karena dari awal pendaftarannya, semua sudah diatur oleh si bencana alam. Ya, siapa lagi kalau bukan Tian.Anya yang sejak tadi menggenggam ponselnya sedikit mengeratkan pegangan. Ia ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.“Emm, boleh minta tolong nggak?”Dani tersenyum miring. Pandangannya beralih pada buket bunga yang sudah ia selipkan ke dalam tasnya.Wah, sepertinya ada kesempatan bagus nih!“Mau minta tolong apa?” tanyanya santai. “Aku boleh ajuin syarat, nggak?”Anya terdiam sesaat.Syarat?Kira-kira syarat apa yang ingin diajukan cowok di seberang sana?Pikiran Anya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia takut Dani akan memintanya melakukan sesuatu yang sulit atau merepotk
Sempat terlintas di pikiran Tian bahwa hubungan Dani dan Anya mungkin hanya hubungan palsu.Mungkin Dani hanya berpura-pura menjadi pacar Anya.Namun, semua keraguan itu seakan terjawab hari ini.Kontak Anya di ponsel Dani bahkan sudah diberi nama Pacar.Bukan hanya itu. Bahkan ketika Anya tidak datang ke sekolah, Dani tetap berniat mendatangi rumahnya hanya untuk mengantarkan sebuket bunga.Tian memijat pelipisnya dengan dua jari.Bukan ini rencananya.Alurnya seharusnya tidak seperti ini.Anya tidak boleh berpacaran dengan sahabatnya sendiri.Terlebih lagi, dengan Dani.“Kenapa semuanya jadi rumit begini?” gumamnya lirih.Otak Tian dipenuhi berbagai pertanyaan.Bagaimana bisa Dani memiliki perasaan kepada cewek cupu seperti Anya?Apa yang menarik dari gadis itu?Menurut Tian, Anya tidak memiliki sesuatu yang istimewa sedikit pun.Namun, semakin ia memikirkannya, semakin kepalanya terasa pusing.*Mereka sudah berpacaran. Pasti bakal semakin dekat, kan?!*Tian mengembuskan napas kasar
Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem
“Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik







