แชร์

Pelayan Cupu Sang BadBoy
Pelayan Cupu Sang BadBoy
ผู้แต่ง: i'mdream

Dunia yang Berbeda

ผู้เขียน: i'mdream
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-28 14:13:36

Ponsel Tian bergetar tepat ketika ia melangkah keluar dari lapangan basket sekolah. Kaus hitam yang dikenakannya telah basah oleh keringat setelah dua jam latihan bersama tim inti. Napasnya masih sedikit memburu, tetapi ekspresinya tetap datar seperti biasa.

Sebuah pesan masuk muncul di layar ponselnya.

Chelsea: Sayang, nanti sore temenin aku ke Mall, ya? Aku mau cari outfit buat ulang tahun Tres minggu depan.

Sudut bibir Tian sedikit terangkat. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan singkat.

Tian: Oke. Jam berapa?

Tak lama, balasan dari Chelsea kembali masuk.

Chelsea: Jam tiga. Jangan lupa, ya. Love you!

Tian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana olahraga sebelum berjalan menuju kantin sekolah yang mulai ramai oleh siswa saat jam istirahat.

Begitu memasuki kantin, pandangannya langsung tertuju pada sosok gadis cantik yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Chelsea memang selalu berhasil menjadi pusat perhatian. Dengan rambut panjang yang ditata sempurna dan senyum manis yang tak pernah absen dari wajahnya, ia terlihat seperti seorang putri di tengah keramaian sekolah.

Chelsea segera bangkit dari duduknya begitu Tian tiba di hadapannya.

"Lama banget balas chat aku," rajuknya manja sambil bergelayut di lengan Tian.

"Baru selesai latihan," jawab Tian singkat.

Meski terdengar dingin, tangannya secara refleks menarik kursi untuk Chelsea sebelum ia duduk di samping gadis itu. Perlakuan istimewa seperti ini bukan lagi hal yang mengherankan bagi seluruh siswa di sekolah.

Tian dan Chelsea adalah pasangan yang dianggap paling sempurna.

Tian dikenal sebagai ketua tim basket sekaligus ketua geng motor terbesar di sekolah mereka. Wajah tampan, prestasi akademik yang baik, dan latar belakang keluarga kaya membuat namanya begitu populer.

Sementara itu, Chelsea adalah primadona sekolah yang berasal dari keluarga terpandang. Cantik, percaya diri, dan selalu menjadi pusat perhatian ke mana pun ia pergi. Mereka seperti dua orang yang memang ditakdirkan untuk bersama.

"Nanti jangan lupa, ya. Aku mau ajak Tres sama Clara juga," ujar Chelsea sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Tian.

Tian hanya mengangguk pelan. Pikirannya masih dipenuhi jadwal latihan tim basket yang semakin padat menjelang turnamen internasional antarsekolah.

Belum sempat Chelsea kembali membuka pembicaraan, dua orang sahabat Tian datang menghampiri meja mereka.

"Bro, boleh ngobrol bentar?" Dani menarik kursi di hadapan Tian.

Liam ikut duduk di samping Dani dengan ekspresi yang cukup serius. "Ini soal latihan."

Chelsea yang mengerti situasi langsung berdiri. "Aku ke toilet dulu sama Tres dan Clara, ya."

Setelah Chelsea pergi, Dani menatap Tian cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.

"Lo sadar nggak kalau akhir-akhir ini fokus lo mulai berantakan?" tanyanya lugas.

Tian mengernyitkan dahinya. "Maksud lo?"

"Passing lo tadi dua kali salah," jawab Liam cepat. "Padahal biasanya hampir nggak pernah."

Dani mengangguk setuju. "Kita semua kerja keras buat turnamen ini, Tian. Jangan sampai fokus lo kebagi karena hal lain."

Tian terdiam beberapa detik sebelum mengembuskan napas pelan. Ia tahu kedua sahabatnya tidak sedang mencari masalah.

"Oke. Gue bakal lebih fokus mulai sekarang."

"Nah, gitu dong," sahut Dani sambil menepuk bahunya pelan.

Percakapan mereka berakhir dengan tawa kecil sebelum ketiganya kembali menikmati waktu istirahat yang tersisa.

 

Di sisi lain kota, seorang gadis tengah duduk bersila di atas kasurnya sambil menikmati sepiring nasi goreng dan menonton drama Korea favoritnya di laptop. Berbeda dengan Tian yang selalu menjadi pusat perhatian, Anya justru terbiasa menjadi sosok yang nyaris tak terlihat.

Rambutnya selalu diikat seadanya, kacamata bulat tak pernah lepas dari wajahnya, dan pakaian yang dikenakannya lebih sering berupa kaus oversized yang membuat tubuh mungilnya tenggelam.

Hari ini, ia tidak masuk sekolah karena demam ringan sejak pagi.

"Aku juga mau punya cowok green flag kayak di drakor," gumamnya pelan setelah adegan romantis yang ditontonnya berakhir.

Setelah membereskan piring makannya ke dapur, Anya kembali ke kamar sambil membawa ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Namun, langkahnya langsung terhenti.

Tujuh panggilan tidak terjawab terpampang jelas di layar ponselnya. Nama kontak itu membuat wajahnya seketika pucat.

BENCANA ALAM

"Anjir..."

Perutnya mendadak terasa mual. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka aplikasi pesan. Satu pesan singkat baru saja dikirim lima menit yang lalu.

Mall. Jam 15.00.

Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

"Kenapa sih harus gue lagi?" keluhnya sambil menjatuhkan tubuh ke atas kasur.

Sempat terlintas di pikirannya untuk mengabaikan pesan tersebut. Namun, bayangan sebuah video dan ancaman yang diterimanya tiga minggu lalu membuat tubuhnya merinding.

Tidak.

Ia tidak punya pilihan.

Jam dinding menunjukkan pukul 14.45 ketika ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan. Sebuah panggilan telepon masuk dari orang yang sama. Jantung Anya langsung berdegup lebih cepat.

Dengan bibir yang mulai mengering karena gugup, ia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum perlahan mengulurkan tangannya.

Apa yang akan terjadi jika kali ini ia menolak?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Susu Strawberry

    Anya memandangi susu stroberi yang sejak tadi mengganggu pikirannya.Ini siapa yang taruh di meja aku, sih?Masa tiba-tiba ada susu stroberi di meja aku?Apa kemarin aku yang kelupaan, ya?Kayaknya enggak deh. Aku kan selalu minum ini pas udah di bawah pohon mangga.Anya terus berperang dengan pikirannya sendiri.Tadi pagi, saat masuk kelas, ia melihat susu stroberi itu sudah ada di mejanya.Ia tidak berani mengambilnya karena takut susu itu milik orang lain.Akhirnya, ia menggesernya sedikit ke sudut meja agar tidak terus mengganggu pikirannya.Namun, tindakan itu sedari tadi diperhatikan oleh seorang siswi.Tres.“Lo ngeliatin apa sih dari tadi? Serius amat,” ucap Clara yang tiba-tiba mengagetkan Tres.“Eh, enggak kok. Lagi ngelamun aja,” balas Tres dengan salah tingkah, seperti baru saja ketahuan melakukan sesuatu.Tres membuka bukunya. Sengaja ia mengalihkan pandangan ke buku tersebut, padahal pikirannya sedang tidak berada di sana.Ia kembali teringat kejadian semalam.“Mama kete

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Tres?

    Brian masih memantau interaksi yang terjadi di antara tiga orang di sana. Ia melihat bagaimana Anya hanya menunduk sejak tadi.Chelsea dan Tian berdiri di antara Anya. Tangan Chelsea memegang pergelangan tangan Anya. Dan saat tangan Tian hendak memegang leher bagian belakang Anya, Brian buru-buru menghampiri mereka.“Permisi?!”Brian berhasil mengagetkan mereka.Tian buru-buru menarik tangannya, begitu pula dengan Chelsea.Perasaan belum lima menit dia pergi, kok udah balik lagi, sih? Ganggu banget! batin Chelsea.Sementara itu, Tian sedang memutar otaknya, mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan situasi ini kepada Brian.“Eh, Pak Brian. Tadi saya dan Chelsea lihat cewek ini sama Bapak, jadi kami mau kenalan aja,” ucap Tian dengan yakin.“Oh, hahaha... begitu, ya.” Brian tersenyum. “Maaf, ya. Teman saya ini tidak suka diganggu.”Brian menekankan setiap katanya, seolah-olah itu merupakan sebuah peringatan.Tian dan Chelsea hanya mengangguk, lalu buru-buru pergi dari sana.“Nya, kam

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Jangan Takut!

    “Chelsea?!” ucap Anya tertahan.Ia langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Chelsea dan Tian sedang duduk bermesraan, sedikit jauh dari tempat ia berdiri.Brian yang menyadari Anya tiba-tiba diam pun lantas bertanya.“Anya? Ada apa?”Namun, tidak ada jawaban dari Anya.Brian pun mengikuti arah pandangan Anya yang tertuju pada sepasang kekasih yang sedang romantis-romantisnya.Brian mengenali cowok itu.Yah, siapa yang tidak mengenal putra tunggal dari keluarga terpandang, kan?Tapi, kenapa Anya bereaksi seperti ini saat melihat mereka? batin Brian.Apa mereka saling kenal?Bisa aja kan? Mereka kan teman sekolah. Batin Tian.“ANYA!”Karena mereka sudah cukup lama terdiam tanpa ada pergerakan apa pun, akhirnya Brian sedikit berteriak untuk menyadarkan Anya.Dan sepertinya itu berhasil. Tapi panggilan ketiga barulah panggilannya direspon.Seketika Anya menoleh ke arahnya.“Kamu baik-baik aja?” tanya Brian langsung setelah Anya mendapatkan kembali kesadarannya.“Emm... i-iya, Kak.

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Adik yang Unik

    “Sayang!” “Ih, kamu kok gitu sih, Sayang? Aku ngundang dia kan cuma iseng aja. Siapa tahu dia bisa bantu-bantu apa gitu,” rengek Chelsea. Ia sedikit dimarahi oleh Tian karena mengundang Anya. Sudah pasti Tian akan marah. Bagaimanapun, ia tidak mau kedua sahabatnya mengetahui bahwa dirinya menjadikan seorang cewek culun sebagai pelayan. Untungnya, sampai sekarang dua sahabatnya itu belum muncul. Tidak ingin mengambil risiko, jari Tian langsung bergerak lincah di layar ponselnya. Ia mengklik aplikasi hijau di ponselnya, lalu masuk ke obrolan grup geng motornya. Kumpul di markas. Sekarang! Loh, Bos. Bukannya kita mau ada acara, ya? balas Dani. Iya, Tian. Kita udah rapi banget nih. Itu pesan dari Liam. Tidak lupa dengan foto yang dikirimnya, memperlihatkan dirinya sudah lengkap dengan kemeja batik. Entah kenapa, ia memilih setelan itu. Penampilannya malah terlihat seperti akan menghadiri acara pemerintahan. Wih, sendirian aja nih ceritanya? Kali ini anggota lain yang menyahut.

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Teman Abangmu

    Anya tiba-tiba terdiam sesaat.Loh, EO emangnya nyuci piring juga ya? Ini yang lagi nyuruh gue siapa sih? Kenapa juga gue nurut sama dia! batin Anya kembali bertanya-tanya."Nya, lu harus kasitau dia kalo lo tuh tamu undangan, bukan pekerja di sini!" gumamnya sendiri, terlambat menyadari kekeliruannya."Em, per—""Loh, lo bukannya adiknya—"Ucapan pria itu terhenti seketika saat melihat wajah panik Anya. Ia buru-buru mengalihkan tatapan tajamnya ke arah koordinator lapangan yang masih berdiri di dekat situ."Bu Intan?!" suaranya mendadak tegas. "Maksudnya apa ini?!""Em, Pak, begini. Em, saya..." Bu Intan tergagap, tidak berani menatap balik.Sementara itu, Anya masih sibuk berperang dengan pikirannya sendiri, mengamati wajah lelaki di depannya yang terasa familiar.Kakak ini nggak asing deh. Siapa ya? Apa kenalannya Papah?Tapi kalo dilihat dari tampangnya sih, kayaknya sepantaran sama Kak Bastian.Anya terus tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga tidak sadar bahwa Bu Intan yang

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Jebakan

    "Ini buat apa, Chelsea?" tanya Anya dengan wajah bingung, menatap sebuah kotak yang tiba-tiba disodorkan padanya, dibungkus kertas kado cantik berwarna pastel."Hadiah buat lo," ucap Chelsea dengan senyum manisnya, sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan pada Anya. "Sekalian permintaan maaf gue soal kejadian kemarin."Anya mengerjap, tidak menyangka akan mendengar kata "maaf" keluar dari mulut Chelsea. "Oh... nggak apa-apa kok, Chel.""Oh iya, ini juga," Chelsea kembali menyodorkan sebuah kartu kecil berwarna emas.Anya menerimanya dengan hati-hati, membaca tulisan yang tertera di sana—undangan pesta ulang tahun Tres."Sebenarnya ini dress buat lo pake nanti malem ke pesta ultahnya Tres," lanjut Chelsea, menunjuk kotak kado yang tadi ia berikan. "Inget, lo harus dateng ya, Anya. Kalo lo nggak dateng, gue bakal sedih banget loh."Wajah Chelsea berubah muram, bibirnya sedikit mengerucut, ekspresi sedih yang dibuat-buat namun begitu meyakinkan bagi Anya yang polos."Ih, tenang aja, Chel,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status