Share

Bab 24

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-04-09 22:28:55

Gerbang besi Kastil Ravenshire berderit terbuka, menyambut kepulangan rombongan yang tampak kuyu dan bersimbah lumpur.

Kael berjalan tegap menuju aula utama, jubah bulu serigalanya yang basah menyapu lantai marmer. Di sana, para pengawal yang berjaga segera berdiri tegak.

Kael tidak membuang waktu lagi dan kini berdiri di tengah ruangan, membiarkan suaranya yang berat bergema hingga ke langit-langit aula yang tinggi.

“Dengarkan semua!” seru Kael.

“Pencarian Johan Dawson belum berakhir. Jangan a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 27

    “Elian. Ikut aku!”Keesokan harinya, Kael mengajak Emily ke sebuah penjara bawah tanah Ravenshire terasa lembap dan dingin, yang mengeluarkan bau karat besi serta busuk yang menusuk hidung.Emily berjalan di belakang Kael, mengikuti derap langkah sepatu bot pria itu yang bergema di sepanjang lorong batu yang sempit. Hanya ada cahaya obor yang bergoyang di dinding, hingga menciptakan bayangan panjang yang tampak menakutkan.Kael berhenti di depan sebuah jeruji besi yang berat. Dia lalu memberi isyarat kepada penjaga untuk membukanya.Di dalam ruangan kecil itu, seorang pria dengan pakaian koyak terikat pada kursi kayu. Kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat.“Ini adalah salah satu kurir yang tertangkap di perbatasan kemarin,” ucap Kael tanpa emosi. “Dia membawa pesan berkode, tapi mulutnya masih terkunci rapat. Dia mengaku tidak tahu apa-apa tentang keluarga Dawson.”Kael melangkah masuk lalu berdiri tepat di depan tawanan itu. Dia lalu menoleh ke arah Emily yang masih berdi

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 26

    Kepanikan di dapur segera mereda setelah para prajurit bergerak ke pos masing-masing, namun ketegangan di atmosfer kastil justru semakin meruncing.Suara terompet dari menara pengawas menggema, menandakan kedatangan tamu penting yang tidak terduga.Bukan pemberontak yang datang menyerbu, melainkan serombongan kurir berkuda dengan panji emas Kerajaan yang berkibar di tengah badai salju.Emily baru saja selesai membantu Lucian membereskan sisa sayuran ketika seorang ajudan Kael muncul di ambang pintu dapur.“Elian! Duke memanggilmu ke ruang kerja pribadinya sekarang. Bawa sebotol anggur terbaik dari gudang bawah tanah,” perintah ajudan itu tanpa basa-basi.Emily mengangguk patuh, meski perutnya kembali melilit. Dia pun mengambil botol anggur tahun tua dan nampan perak, lalu berjalan melewati koridor-koridor sunyi menuju sayap utara.Di depan ruang kerja Kael, ia berpapasan dengan seorang pria berpakaian megah, kurir Raja, yang baru saja keluar dengan wajah kaku.“Ingat, Duke,” suara kur

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 25

    “Saya ... saya sering melihat gadis-gadis di desa melakukan perawatan dengan minyak bunga matahari,” ucap Emily sembari mengatur detak jantungnya.“Karena saya sering dianggap terlalu cantik untuk ukuran pria desa, saya terobsesi merawat tangan saya agar tidak kasar. Saya tidak ingin terlihat seperti buruh rendahan.”Kael menyipitkan matanya menatap telapak tangan Emily yang kini memerah karena cengkeramannya. “Minyak bunga matahari? Kau pikir aku akan percaya alasan sepicik itu?”“Tuan Duke, mohon maafkan kelemahan saya,” Emily segera menundukkan kepalanya dan membiarkan beberapa helai rambutnya menutupi mata.“Saya tahu saya tampak tidak berguna dengan tangan seperti ini, tapi saya mohon jangan usir saya. Saya akan melakukan pekerjaan apa pun. Saya akan mencuci zirah, membersihkan istal, atau apa pun sekeras mungkin asalkan saya bisa tetap bekerja di sini. Saya tidak punya tempat tujuan lain.”Kael mendengus lalu melepaskan tangan Emily dengan sentakan kasar hingga tangan gadis itu

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 24

    Gerbang besi Kastil Ravenshire berderit terbuka, menyambut kepulangan rombongan yang tampak kuyu dan bersimbah lumpur.Kael berjalan tegap menuju aula utama, jubah bulu serigalanya yang basah menyapu lantai marmer. Di sana, para pengawal yang berjaga segera berdiri tegak.Kael tidak membuang waktu lagi dan kini berdiri di tengah ruangan, membiarkan suaranya yang berat bergema hingga ke langit-langit aula yang tinggi.“Dengarkan semua!” seru Kael.“Pencarian Johan Dawson belum berakhir. Jangan ada yang berasumsi dia sudah mati hanya karena sungai itu menelannya. Tingkatkan penjagaan di setiap pos perbatasan.“Siapa pun yang melihat orang asing atau pergerakan mencurigakan, tangkap! Jika ada yang membiarkannya lolos, kepalanya sendiri yang akan menggantikannya di tiang gantungan.”Para prajurit serentak menghentakkan kaki ke lantai sebagai tanda patuh. Kael kemudian menoleh ke arah Emily yang berdiri di pojok ruangan.“Elian, siapkan air panas di kamarku. Sekarang,” perintah Kael dingin

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 23

    Emily mengepalkan tangannya sekuat tenaga, merasakan pinggiran tajam cincin perak itu menusuk telapak tangannya.Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia takut Kael bisa mendengarnya di tengah kesunyian pinggir sungai ini. Dia perlahan membuka jemarinya, namun bukan cincin yang ia tunjukkan.Dengan gerakan cepat yang tampak canggung, Emily memungut sebuah batu sungai yang kasar dan berlumut tepat di samping tempatnya berjongkok.“Ini, Tuan Duke,” ucap Emily dengan suara serak, sambil mengangkat batu itu tinggi-tinggi.“Saya hanya ... saya butuh batu kasar untuk menggosok daki di tubuh saya. Air sungai ini sangat dingin, saya pikir dengan menggosok kulit, tubuh saya akan sedikit lebih hangat.”Kael menatap batu di tangan Emily, lalu beralih menatap mata gadis itu.Emily tidak berani berkedip, dan akhirnya memaksakan tatapan polos yang penuh ketakutan, berharap Kael tidak menyadari cincin yang kini ia selipkan di antara sela-sela jari di bawah batu tersebut.“Kau memungut batu saat

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 22

    Suara gemuruh air terjun Guntur masih mendominasi pendengaran Emily saat dia berdiri di tepian sungai yang alirannya sangat deras. Kabut tipis menyelimuti permukaan air yang berwarna kelabu gelap.Di seberang sana, beberapa prajurit Kael baru saja keluar dari air dengan tubuh menggigil hebat, kulit mereka membiru karena suhu yang mendekati titik beku.Kael berdiri di depan tenda darurat yang didirikan di atas tanah berbatu. Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan di permukaan sungai.“Tuan Duke, kami sudah menyisir hingga dua mil ke hilir,” lapor seorang komandan dengan napas tersengal. “Arusnya terlalu kuat. Jika dia menghantam batu di dasar, mayatnya mungkin sudah hancur atau tersangkut di celah yang tidak terjangkau.”Kael tidak menoleh. “Cari lagi. Aku tidak membayar kalian untuk memberi spekulasi. Aku butuh bukti fisik.”“Tapi Tuan, dua orang prajurit sudah mengalami hipotermia. Jika kita terus memaksa mereka masuk ke air—”“Gantikan dengan yang masih segar!” potong Kael d

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 21

    “Suara itu,” ucap Kael pelan dan tajam. “Aku belum pernah mendengar seorang pria desa berteriak melengking seperti wanita yang kehilangan nyawanya. Jelaskan padaku, Elian. Apa yang baru saja keluar dari mulutmu?”Emily meremas ujung bajunya yang basah. Ia kemudian mencoba menelan ludah, meski tengg

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 20

    Kael turun dari kuda dengan gerakan tenang yang mengerikan. Ia melangkah maju, membiarkan ujung pedang besarnya terseret di atas bebatuan, menimbulkan suara srek-srek yang menyayat di sela deru air.Emily turun mengekor di belakangnya, kakinya terasa lemas melihat punggung kakaknya yang bersimbah d

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 19

    “Katakan sekali lagi, Elian,” ucap Kael kembali. “Kain itu. Kenapa sulamannya identik dengan jubah Dawson?”Emily meremas tali kekangnya, dengan tangan yang terasa kaku. “Tuan Duke, saya sudah mengatakannya. Itu hanya kain pembersih milik saya yang robek. Saya berasal dari desa yang sama dengan pen

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 18

    Bau amis darah dan erangan prajurit yang terluka mengisi udara lembap di bawah kaki bukit. Kael tidak bergabung dengan tim medis.Ia justru berjalan lurus ke arah Emily yang masih berdiri mematung di balik batu besar. Wajah Duke itu tampak gelap, lebih menyeramkan daripada kegelapan Hutan Obsidian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status