Compartilhar

Bab 3

last update Data de publicação: 2026-04-01 15:49:32

Satu minggu sudah Emily menjadi pelayan pribadi sang Duke. Di pagi ini, matanya terasa berat, bahkan ada lingkaran hitam tipis yang berusaha dia tutupi dengan abu tipis agar wajahnya terlihat lebih kusam.

Menjadi pelayan pribadi Duke Kael berarti dia adalah orang pertama yang bangun sebelum fajar menyapa dan orang terakhir yang memejamkan mata setelah lilin di ruang kerja sang Duke padam.

Dia baru saja meletakkan jubah berburu berbahan kulit rusa di atas kursi, ketika pintu kamar mandi terbuka. Kael keluar dengan uap air yang masih mengikuti langkahnya. Rambut hitamnya yang basah jatuh berantakan di dahi, memberikan kesan yang jauh lebih liar daripada biasanya.

“Pakaiannya, Tuan Duke,” ucap Emily dengan suara yang dibuat serak.

Kael tidak menyahut. Pria itu hanya berdiri diam dan membiarkan Emily mendekat untuk melakukan tugas rutinnya. Emily mengambil kemeja linen putih yang sudah disetrika kaku.

Tangannya bergerak pelan, berusaha tidak menyentuh kulit Kael lebih dari yang diperlukan. Namun, pagi ini, entah karena kelelahan yang menumpuk atau karena suhu ruangan yang terlalu rendah, jemari Emily terasa kaku.

Ia mulai mengancingkan bagian bawah kemeja itu. Satu kancing, dua kancing. Emily melangkah lebih dekat untuk mencapai bagian kerah.

Di posisi ini, jarak mereka menghilang. Emily hanya bisa menahan napas sambi menundukkan kepala sedalam mungkin agar helai rambut pendeknya menyembunyikan garis rahangnya yang terlalu halus.

Saat ia mencapai kancing ketiga dari atas, jemarinya yang gemetar tanpa sengaja menyentuh pangkal tenggorokan Kael. Emily tersentak kecil kemudian menelan salivanya untuk menyembunyikan kegugupannya.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang lebar dan kasar menyambar pergelangan tangan Emily.

Cengkeramannya tidak menyakitkan, tapi begitu mutlak. Emily sontak membeku. Jantungnya berdentum begitu keras di balik bebat dadanya, hingga ia takut Kael bisa mendengarnya melalui keheningan kamar itu.

“Tuan ... Duke?” Emily memberanikan diri memanggil nama pria itu.

Kael masih belum melepaskannya. Sebaliknya, pria itu justru merunduk. Emily merasakan hembusan napas hangat di dekat telinganya, disusul dengan gerakan Kael yang menghirup udara di sekitar ceruk lehernya dengan perlahan.

“Ada yang aneh,” gumam Kael.

Kael menarik diri sedikit, hanya untuk menatap tepat ke arah mata Emily. Jarak mereka kini sangat tipis, Emily bahkan bisa melihat pantulan wajahnya yang pucat di iris abu-abu gelap milik sang Duke. Tatapan Kael begitu tajam, seolah sedang membedah setiap lapisan kebohongan yang Emily bangun dengan susah payah.

“Kenapa aroma tubuhmu tidak seperti pelayan pria lainnya?” tanya Kael dengan suara datarnya. “Pelayan lain berbau keringat, kuda, atau sabun murah. Tapi kau ….” Kael kembali menghirup udara, kali ini lebih dalam. “Bau ini tercium lembut. Seperti mawar.”

Darah Emily seolah berhenti mengalir mendengarnya. Dia tahu persis dari mana bau itu berasal. Meski dia sudah mandi dengan sabun kasar pelayan, aroma alami tubuhnya sebagai seorang wanita Dawson, yang sejak kecil dirawat dengan rendaman kelopak bunga, tidak bisa hilang begitu saja dalam semalam.

Dia harus memutar otak mencari alasan yang logis sebelum Kael menarik kesimpulan yang akan berakhir dengan kepalanya di atas nampan perak.

“Itu ... itu karena kecerobohan saya, Tuan Duke,” Emily memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar gugup, sebuah akting yang dia harap cukup meyakinkan.

Dia juga memaksakan matanya untuk tidak berkedip. “Kemarin sore, saat saya membersihkan meja rias Anda, saya tidak sengaja menjatuhkan botol parfum sitrus milik Anda. Dan akhirnya cairannya tumpah ke seragam saya.”

Kael menyipitkan mata. “Parfumku tidak berbau seperti ini.”

“Mu-mungkin karena baunya sudah bercampur dengan sabun cuci di barak, Tuan,” Emily menelan ludah dengan susah payah.

“Atau mungkin hidung saya yang salah mencium. Saya hanya seorang pemuda desa yang tidak mengerti aroma mewah. Saya sangat menyesal jika bau ini mengganggu Anda. Saya akan segera mengganti seragam ini setelah tugas saya selesai.”

Kael terdiam untuk waktu yang cukup lama, dengan tangannya masih mengunci pergelangan tangan Emily. Dia merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang yang sangat curam. Sekali lagi Kael mencurigainya, maka identitasnya sebagai putri Marquis Dawson yang buron akan terbongkar.

Perlahan, Kael melepaskan cengkeramannya. Dia mundur selangkah, namun matanya tidak pernah lepas dari wajah Emily.

“Begitu,” ucap Kael pendek. “Selesaikan pakaianku. Aku punya janji dengan komandan kavaleri dalam sepuluh menit.”

Emily mengangguk cepat, dan tangannya kembali bergerak dengan kecepatan dua kali lipat untuk menyelesaikan sisa kancing kemeja dan memasangkan jubah luar Kael.

Dia berusaha mengabaikan tatapan Kael yang masih terus mengikuti setiap gerakannya, tatapan yang kini tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh selidik.

Setelah Kael akhirnya melangkah keluar dari kamar dengan derap sepatu bot yang berat, Emily jatuh terduduk di atas karpet bulu di samping tempat tidur. Ia meremas dadanya yang masih bergemuruh hebat. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin meskipun cuaca di luar sangat beku.

Ia melihat pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram Kael. Masih ada bekas kemerahan samar di sana. Emily menyadari satu hal yang mengerikan; Kael tidak benar-benar percaya pada alasan parfumnya. Pria itu adalah seorang pemburu, dan sekarang, Kael telah mencium aroma mangsanya.

Selama seminggu ini, dia mengira telah berhasil menjadi bayangan yang tak terlihat. Ia mengira dengan bekerja paling keras dan tidur paling akhir, ia bisa mengaburkan eksistensinya.

Namun pagi ini, sebuah kesalahan kecil, sebuah aroma yang tak bisa ia bunuh, telah meletakkan sebilah pedang di atas lehernya.

“Aku harus lebih berhati-hati,” bisik Emily sambil menyeka keringat dingin atas kecemasannya barusan.

“Jika sekali lagi dia mendekat seperti tadi, dia bukan hanya akan mencium bau mawar, tapi dia akan mendengar suara jantungku yang berteriak bahwa aku adalah seorang wanita.” 

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 10

    Kabut putih yang pekat mulai menelan iring-iringan kuda saat mereka melewati batas luar Hutan Obsidian.Pohon-pohon di sini tidak seperti pohon di pinggiran Ravenshire; batangnya hitam legam, menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling melilit, menutupi sebagian besar cahaya matahari yang tersisa.Emily menarik napas, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tajam dan membekukan, kontras dengan pelipisnya yang masih basah oleh keringat akibat memikul beban logistik tadi.Akar-akar pohon yang menonjol seperti tulang-tulang raksasa sering kali menjerat kaki kuda, membuat perjalanan menjadi sangat lambat dan melelahkan. Emily mencengkeram tali kekang kudanya dengan tangan yang mulai mati rasa karena kedinginan.Di barisan paling depan, Kael tampak tidak terpengaruh oleh suhu yang anjlok drastis. Jubah bulu serigalanya berkibar tertiup angin kencang, menutupi zirah besinya yang berkilau kusam.Meski ia memacu kudanya dengan kecepatan konstan, Emily menyadari bahwa setiap beberapa

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 9

    “Elian! Jangan hanya berdiri menatap kuda. Angkat peti gandum itu ke kereta belakang!” bentak seorang bintara tinggi dengan suara yang parau.Emily kemudian tersentak. Dia pun segera menghampiri sebuah peti kayu berisi pasokan gandum dan daging kering. Saat ia mencoba mengangkatnya, otot-otot lengannya langsung menegang hebat.Beban itu jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Emily harus menggertakkan gigi, memaksakan seluruh tenaganya agar peti itu terangkat dari tanah.Napasnya memburu, terasa sesak karena bebat kain di dadanya yang kini terasa semakin mencekik akibat aktivitas fisik yang berat.Dari sudut matanya, ia melihat Kael berdiri di tangga utama kastil. Duke itu sudah mengenakan jubah bulu serigalanya, sambil memegang sarung tangan kulit sambil mengawasi setiap detail persiapan.Matanya yang dingin tidak pernah lepas dari sosok “Elian” yang tampak kepayahan.Lucian berjalan mendekat sambil memanggul karung jerami. Melihat Emily yang wajahnya mulai memucat karena menahan be

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 8

    Kael keluar dari kolam dengan gerakan yang efisien, bahkan tidak memedulikan air yang bercucuran dari tubuhnya ke lantai marmer. Dia lalu berdiri di depan Emily, menjulang tinggi seperti menara batu yang tak tergoyahkan.“Jangan hanya berdiri di sana dengan mulut terbuka, Elian,” suara Kael tajam, memutus lamunan Emily. “Zirahku. Sekarang.”Emily langsung tersentak. Dengan tangan yang masih gemetar karena syok mendengar nama kakaknya disebut, ia melangkah menuju manekin kayu tempat zirah tempur Kael tersampir.Ia mengambil gambeson, lapisan kain pelindung tebal yang harus dikenakan sebelum lempengan besi.Kael merentangkan kedua tangannya dan membiarkan Emily mendekat. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Emily bisa merasakan panas yang menguar dari kulit Kael yang baru saja terkena air panas.Saat Emily memakaikan gambeson ke tubuh kekar itu, ia harus merapatkan tubuhnya agar bisa menjangkau bagian punggung dan bahu Kael.“Lebih cepat, Elian!” perintah Kael

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 7

    “Elian, ikut aku!” perintah Kael dengan nada dinginnya.Dengan langkah yang dia coba agar tidak gemetar, Emily masuk ke dalam kamar mandi. Saat tiba di dalam kamar mandi pribadi sang Duke, dia kini berdiri mematung di belakang tuannya itu.Sementara Kael sudah berada di dalam kolam marmer, sambil menyandarkan lengannya yang berotot di tepian kolam.Air panas itu merendam tubuhnya hingga sebatas dada, dan memperlihatkan bahu lebar yang penuh dengan bekas luka perang, tanda bahwa pria ini adalah mesin pembunuh yang nyata.Mata abu-abunya yang tajam menatap Emily tanpa berkedip, dingin dan penuh selidik. “Kenapa kau masih berdiri di sana seperti patung, Elian?” tanya Kael dingin.“Aku sedang memberimu hadiah. Kau sudah bekerja lembur seminggu ini tanpa mengeluh. Masuklah ke air. Itu akan melunakkan ototmu yang kaku.”Emily menelan ludah dengan susah payah usai mendengar perintah sang duke. “T-tuan Duke, saya ... saya benar-benar tidak pantas. Saya hanya seorang pelayan. Saya bisa mandi d

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 6

    “Kau yang sejak tadi bersama Lucian. Apa kau mencoba meracuninya?” tanya Kael dengan nada datarnya dan penuh dengan kecurigaan.Emily langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “T-tidak, Tuan. Saya tidak berani melakukan itu,” jawabnya terbata-bata.Kael menyipitkan matanya dengan tatapan yang begitu menghunus. “Dengar, Elian. Aku mencurigaimu karena kau adalah pelayan pribadiku. Jika ternyata Lucian diracun olehmu, maka kemungkinan besar kau juga akan melakukan itu padaku!”Emily hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Kael barusan. Kenapa pria itu bisa berpikir bahwa dia akan meracuni Kael hanya karena mencurigai Lucian diracuni olehnya?“Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Mulut Tuan Duke memang pedas dan jahat,” ucap Markus sambil menepuk pundak Emily dengan pelan.Emily menganggukkan kepalanya dan berjalan memasuki kastil kembali untuk menyiapkan pesta nanti malam.**Pesta para bangsawan telah dimulai. Emily ditugaskan menjadi salah satu pelayan untuk melayani para ta

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 5

    Emily dan Lucian tersentak hebat, seolah-olah sebilah belati baru saja menancap di lantai tepat di antara kaki mereka. Pria yang berdiri di ambang pintu itu bukan sekadar manusia; dia adalah maut yang terbungkus dalam jubah bulu serigala hitam.Duke Kael berdiri dengan tangan bersedekap, matanya yang abu-abu berkilat tajam di bawah cahaya lampu aula yang temaram.Emily merasa lidahnya mendadak kelu, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut detaknya akan memantul di dinding batu kastil.Ia mencoba menutupi bagian belakang celananya dengan gerakan kaku, berdoa agar bayangan di pojok ruangan cukup gelap untuk menyembunyikan noda merah yang mulai melebar.“Tuan Duke!” Lucian adalah yang pertama kali menguasai diri. Dia segera melangkah maju, memasang badan di depan Emily seolah-olah sedang melindungi adiknya sendiri.“Maafkan kami, Tuan. Kami tidak bermaksud berbisik-bisik. Saya hanya sedang memberitahu Elian tentang ... tentang pasokan daging rusa di gudang.”Kael men

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status