FAZER LOGINSatu minggu sudah Emily menjadi pelayan pribadi sang Duke. Di pagi ini, matanya terasa berat, bahkan ada lingkaran hitam tipis yang berusaha dia tutupi dengan abu tipis agar wajahnya terlihat lebih kusam.
Menjadi pelayan pribadi Duke Kael berarti dia adalah orang pertama yang bangun sebelum fajar menyapa dan orang terakhir yang memejamkan mata setelah lilin di ruang kerja sang Duke padam.
Dia baru saja meletakkan jubah berburu berbahan kulit rusa di atas kursi, ketika pintu kamar mandi terbuka. Kael keluar dengan uap air yang masih mengikuti langkahnya. Rambut hitamnya yang basah jatuh berantakan di dahi, memberikan kesan yang jauh lebih liar daripada biasanya.
“Pakaiannya, Tuan Duke,” ucap Emily dengan suara yang dibuat serak.
Kael tidak menyahut. Pria itu hanya berdiri diam dan membiarkan Emily mendekat untuk melakukan tugas rutinnya. Emily mengambil kemeja linen putih yang sudah disetrika kaku.
Tangannya bergerak pelan, berusaha tidak menyentuh kulit Kael lebih dari yang diperlukan. Namun, pagi ini, entah karena kelelahan yang menumpuk atau karena suhu ruangan yang terlalu rendah, jemari Emily terasa kaku.
Ia mulai mengancingkan bagian bawah kemeja itu. Satu kancing, dua kancing. Emily melangkah lebih dekat untuk mencapai bagian kerah.
Di posisi ini, jarak mereka menghilang. Emily hanya bisa menahan napas sambi menundukkan kepala sedalam mungkin agar helai rambut pendeknya menyembunyikan garis rahangnya yang terlalu halus.
Saat ia mencapai kancing ketiga dari atas, jemarinya yang gemetar tanpa sengaja menyentuh pangkal tenggorokan Kael. Emily tersentak kecil kemudian menelan salivanya untuk menyembunyikan kegugupannya.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang lebar dan kasar menyambar pergelangan tangan Emily.
Cengkeramannya tidak menyakitkan, tapi begitu mutlak. Emily sontak membeku. Jantungnya berdentum begitu keras di balik bebat dadanya, hingga ia takut Kael bisa mendengarnya melalui keheningan kamar itu.
“Tuan ... Duke?” Emily memberanikan diri memanggil nama pria itu.
Kael masih belum melepaskannya. Sebaliknya, pria itu justru merunduk. Emily merasakan hembusan napas hangat di dekat telinganya, disusul dengan gerakan Kael yang menghirup udara di sekitar ceruk lehernya dengan perlahan.
“Ada yang aneh,” gumam Kael.
Kael menarik diri sedikit, hanya untuk menatap tepat ke arah mata Emily. Jarak mereka kini sangat tipis, Emily bahkan bisa melihat pantulan wajahnya yang pucat di iris abu-abu gelap milik sang Duke. Tatapan Kael begitu tajam, seolah sedang membedah setiap lapisan kebohongan yang Emily bangun dengan susah payah.
“Kenapa aroma tubuhmu tidak seperti pelayan pria lainnya?” tanya Kael dengan suara datarnya. “Pelayan lain berbau keringat, kuda, atau sabun murah. Tapi kau ….” Kael kembali menghirup udara, kali ini lebih dalam. “Bau ini tercium lembut. Seperti mawar.”
Darah Emily seolah berhenti mengalir mendengarnya. Dia tahu persis dari mana bau itu berasal. Meski dia sudah mandi dengan sabun kasar pelayan, aroma alami tubuhnya sebagai seorang wanita Dawson, yang sejak kecil dirawat dengan rendaman kelopak bunga, tidak bisa hilang begitu saja dalam semalam.
Dia harus memutar otak mencari alasan yang logis sebelum Kael menarik kesimpulan yang akan berakhir dengan kepalanya di atas nampan perak.
“Itu ... itu karena kecerobohan saya, Tuan Duke,” Emily memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar gugup, sebuah akting yang dia harap cukup meyakinkan.
Dia juga memaksakan matanya untuk tidak berkedip. “Kemarin sore, saat saya membersihkan meja rias Anda, saya tidak sengaja menjatuhkan botol parfum sitrus milik Anda. Dan akhirnya cairannya tumpah ke seragam saya.”
Kael menyipitkan mata. “Parfumku tidak berbau seperti ini.”
“Mu-mungkin karena baunya sudah bercampur dengan sabun cuci di barak, Tuan,” Emily menelan ludah dengan susah payah.
“Atau mungkin hidung saya yang salah mencium. Saya hanya seorang pemuda desa yang tidak mengerti aroma mewah. Saya sangat menyesal jika bau ini mengganggu Anda. Saya akan segera mengganti seragam ini setelah tugas saya selesai.”
Kael terdiam untuk waktu yang cukup lama, dengan tangannya masih mengunci pergelangan tangan Emily. Dia merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang yang sangat curam. Sekali lagi Kael mencurigainya, maka identitasnya sebagai putri Marquis Dawson yang buron akan terbongkar.
Perlahan, Kael melepaskan cengkeramannya. Dia mundur selangkah, namun matanya tidak pernah lepas dari wajah Emily.
“Begitu,” ucap Kael pendek. “Selesaikan pakaianku. Aku punya janji dengan komandan kavaleri dalam sepuluh menit.”
Emily mengangguk cepat, dan tangannya kembali bergerak dengan kecepatan dua kali lipat untuk menyelesaikan sisa kancing kemeja dan memasangkan jubah luar Kael.
Dia berusaha mengabaikan tatapan Kael yang masih terus mengikuti setiap gerakannya, tatapan yang kini tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh selidik.
Setelah Kael akhirnya melangkah keluar dari kamar dengan derap sepatu bot yang berat, Emily jatuh terduduk di atas karpet bulu di samping tempat tidur. Ia meremas dadanya yang masih bergemuruh hebat. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin meskipun cuaca di luar sangat beku.
Ia melihat pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram Kael. Masih ada bekas kemerahan samar di sana. Emily menyadari satu hal yang mengerikan; Kael tidak benar-benar percaya pada alasan parfumnya. Pria itu adalah seorang pemburu, dan sekarang, Kael telah mencium aroma mangsanya.
Selama seminggu ini, dia mengira telah berhasil menjadi bayangan yang tak terlihat. Ia mengira dengan bekerja paling keras dan tidur paling akhir, ia bisa mengaburkan eksistensinya.
Namun pagi ini, sebuah kesalahan kecil, sebuah aroma yang tak bisa ia bunuh, telah meletakkan sebilah pedang di atas lehernya.
“Aku harus lebih berhati-hati,” bisik Emily sambil menyeka keringat dingin atas kecemasannya barusan.
“Jika sekali lagi dia mendekat seperti tadi, dia bukan hanya akan mencium bau mawar, tapi dia akan mendengar suara jantungku yang berteriak bahwa aku adalah seorang wanita.”
Rencana pengalihan yang dilakukan Johan berjalan dengan sangat sempurna. Provokasi beringasnya berhasil memancing amarah buta semua prajurit, hingga mereka bergerak massal dalam formasi buru, meninggalkan area tenda dalam gemuruh langkah besi yang menjauh.Kael kini benar-benar berada seorang diri di dalam tendanya tanpa perlindungan kavaleri satu pun.Namun, harga yang harus dibayar Johan untuk taktik nekat ini sangatlah mahal. Sesaat setelah dia melompat ke pohon berikutnya, rentetan anak panah militer dan tembakan uap bertekanan tinggi terus menyerang posisinya dari bawah dengan sangat gencar.JEDAS! JEDAS! STREEEK!"Sialan! Mereka benar-benar menembak untuk membunuh!" umpat Johan, suaranya tenggelam di antara dahan pinus yang hancur berantakan terkena proyektil uap.Hantaman energi mekanis itu merobek mantel bulunya menjadi serpihan, membuat Johan harus melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan bersusah payah demi menghindari maut yang mengintai di setiap jengkal udara.Napasn
Tanpa membuang waktu lagi, Johan bergerak dengan ketangkasan luar biasa yang hanya dimiliki oleh seorang ksatria terlatih perbatasan utara.Tubuh kekarnya merayap cepat, memanfaatkan tonjolan kulit pohon, lalu langsung memanjat naik ke atas dahan pohon pinus tinggi yang berada tepat di jalur luar perkemahan kavaleri. Angin badai yang mulai mereda membuat siluetnya terlihat samar namun pasti di antara dedaunan yang membeku.Dari atas sana, Johan menarik napas dalam-dalam, mengabaikan udara dingin yang menusuk paru-parunya. Ia berteriak lantang memanggil nama Kael dengan nada mengejek yang sangat menggema, memecah kesunyian lembah berbatu tersebut."Hei, Kael Ravenshire! Serigala pincang dari utara!" seru Johan, suaranya menggelegar bergaung di antara tebing-tebing granit. "Apakah zirah uap buatan kekaisaranmu itu hanya hiasan meja sampai-sampai kau tidak bisa mengejar seorang ksatria tua di halaman rumahnya sendiri?!"Tindakan provokasi yang luar biasa nekat itu seketika membuat semua
Dari balik bayang-bayang batang pohon pinus raksasa yang berselimut es, Emily dan Johan berdiri membeku. Dari celah semak-semak, mereka berdua bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kondisi Kael yang sangat mengenaskan di dalam tenda darurat yang kain depannya sengaja dibuka setengah untuk sirkulasi udara uap pemanas."Lihat itu, Kak," bisik Emily, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang nyaris pecah. "Tubuhnya menggigil sampai seburuk itu. Dia sekarat karena infeksi panahmu."Johan menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik Panglima Juan dan para prajurit yang sibuk di sekitar tenda. Ia basahi ujung jarinya, mengangkatnya ke udara untuk memeriksa arah mata angin yang berembus di antara celah tebing batu."Sial, ini buruk," gumam Johan, wajahnya mendadak berubah sangat serius. Ia lalu menoleh ke arah adiknya dengan tatapan memperingatkan."Emily, dengerkan aku baik-baik. Angin malam ini berembus tepat ke arah tenda Kael. Jika Kael yang sedang demam tinggi ekstrem itu sam
Panglima Juan akhirnya terpaksa menghentikan barisan kavaleri besi tepat di tengah lembah yang terlindung dinding batu raksasa.Ia melompat dari kudanya dengan beringas begitu melihat Kael sudah terlihat sangat sekarat, tubuh kekarnya limbung dan hampir jatuh terjerembab dari atas kudanya ke atas tumpukan salju yang membeku."Hentikan barisan! Dirikan tenda darurat sekarang juga!" teriak Juan, suaranya menggelegar mengalahkan deru angin badai. "Bawa lampu pemanas mekanis ke dalam! Cepat!"Para prajurit bergerak cekatan, memicu kompresor uap pada zirah mereka untuk menegakkan tiang-tiang tenda militer tebal dalam hitungan menit.Dua prajurit kavaleri lapis baja bergegas membopong Kael masuk ke dalam tenda, membaringkannya di atas dipan lipat darurat.Juan segera membuka wadah logistik medis, mengeluarkan sebuah botol kaca berisi cairan pekat berwarna perak kehitaman."Yang Mulia, Anda harus meminum ini. Ini adalah ramuan obat penurun demam militer dosis tinggi. Setidaknya, cairan ini b
"Lepaskan aku, Kak Johan! Kita membuang-buang waktu!" seru Emily, meronta dalam dekapan tangan kakaknya yang sekokoh karang.Johan menahan pundak adiknya dengan cengkeraman kuat agar tidak bertindak bodoh dan nekat menerobos badai salju di luar gua dalam kondisi buta. "Tenangkan dirimu, Emily! Keluar sekarang dalam keadaan badai seperti ini sama saja dengan bunuh diri!""Tapi Kael sedang terluka! Dia menderita di luar sana!" kilat Emily, air matanya kian deras membasahi pipi."Aku tahu! Dan aku setuju denganmu bahwa kita memang akan menemui Duke itu malam ini," kata Johan, suaranya meninggi demi mengalahkan deru angin, matanya menatap Emily dengan ketegasan mutlak."Maka dari itu, Emily, hapus air matamu dan segera bantu aku memasukkan racun herba ini ke dalam wadah tabung bambu agar persiapan kita segera selesai! Kita butuh tameng untuk melumpuhkan pengawalnya, atau kau akan tertembak sebelum sempat menyapanya!"Emily terengah-engah, mencoba menguasai gemuruh di dadanya, lalu mengang
Johan menatap jilatan api yang mulai mengecil, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Emily. "Pikirkan lagi, Emily. Paksa otakmu mengingat kembali masa sebelum rumah kita dibakar.""Aku sedang mencoba, Kak, tapi kepalaku sakit," keluh Emily, meremas pelipisnya yang terasa berdenyut akibat hawa dingin yang menusuk."Biar kubantu memancing ingatanmu," potong Johan, nadanya bergeser menjadi lebih dalam dan menyelidik."Bukankah kau dulu saat masih berusia tujuh tahun pernah memiliki seorang teman pria rahasia yang sering menyusup ke halaman belakang rumah kita? Ingatkah kau, kalian berdua bahkan sering membantu ibu kita memasak sup herba di dapur?"Emily tertegun. Detak dadanya mendadak bergemuruh hebat, seolah ada dinding besar di dalam ingatannya yang runtuh seketika. "Teman pria... rahasia?""Ya. Anak laki-laki bertubuh kurus yang selalu mengenakan jubah lusuh berkerung besar untuk menyembunyikan wajahnya," lanjut Johan, matanya berkilat intens."Ibu sering memberinya makanan kare
Suara robekan perkamen akibat patahnya pena Thomas menghentikan detak jarum jam di dalam kepala Emily selama beberapa saat.Merasakan atmosfer di dalam ruang kerja utama yang kian mencekam, pekat oleh rencana pembunuhan dan kecurigaan yang berbahaya, Emily segera menarik diri. Ia membungkuk sedalam
Emily menelan salivanya dengan pelan mendengar pertanyaan dari Kael yang mengandung kecurigaan tersebut.“Sa-saya—”“Saya memintanya untuk mengambil beberapa dokumen di perpustakaan di bawah tanah, Tuan,” ucap Thomas memotong ucapan Emily yang tampak sangat panik dan cemas saat ditanya oleh Kael.“
Emily berhasil menyelinap keluar dari jangkauan sorot lampu lentera itu, berkat celah sempit di balik dinding batu yang terhubung langsung ke lorong pelayan.Dengan napas yang masih tersengal-sengal di tenggorokan, ia berlari mengendap-endap menembus kegelapan fajar hingga berhasil mencapai kamar p
Emily menatap amplop hitam di tangannya selama beberapa detik. Jantungnya berdegup kencang, namun akal sehatnya segera mengambil kendali.“Tidak, bukan ini yang paling mendesak sekarang,” bisiknya pada kesunyian ruangan.Ia lalu menyelipkan kembali amplop bersegel lilin darah itu ke balik bingkai l







