LOGINMelihat kelakuan Elzen, Brielle memantapkan hatinya untuk tidak banyak bicara pada sang Kapten. Brielle bertekad untuk tetap menjadi "Brion" yang dingin, agar tidak menarik perhatian.Hanya saja, saat ia masih sibuk menghakimi karakter Elzen di dalam kepala, alam semesta seolah punya rencana lain.Sekitar dua jam kemudian, saat sebagian besar kabin VIP sudah meredupkan lampu untuk tidur, suasana tenang berubah menjadi kepanikan. Pesawat tiba-tiba berguncang hebat, diiringi lampu indikator sabuk pengaman yang berdentang keras. Barang-barang di atas meja kabin mulai bergeser jatuh, menciptakan bunyi gemeretak.Gelas kopi Elzen terguling, tetapi pria itu dengan sigap menangkapnya sebelum tumpah ke kursi. Ini bukan sekadar turbulensi biasa, melainkan Clear Air Turbulence yang terjadi secara mendadak.Brielle, yang sejak kecil memiliki fobia terhadap guncangan dan ruang tertutup, mendadak pucat pasi. Napasnya mulai memburu, pendek-pendek, dan tidak teratur.Matanya terbelalak. Tangannya m
Udara di dalam kabin First Class pesawat Airbus A350-1000, terasa begitu tenang. Di ketinggian ribuan kaki, di atas hamparan awan yang mulai menggelap ditelan senja, Kapten Elzen Limantara melangkah keluar dari kokpit. Tubuhnya yang atletis dibalut seragam putih dengan empat garis emas di pundak, tetapi kancing kerahnya sedikit terbuka.Sebagai pilot utama untuk penerbangan rute panjang Jakarta menuju Paris, Elzen memiliki jadwal istirahat yang diatur ketat. Ia baru saja menyerahkan kendali pesawat kepada First Officer senior dan pilot cadangan, yang sudah berpengalaman untuk mengawasi fase penerbangan stabil di atas Samudra Hindia. Elzen tidak langsung menuju ruang istirahat kru. Ia memutuskan untuk duduk sejenak di salah satu kursi kosong di kabin VIP. Sekadar menyesap kopi atau memakan kue, sebelum benar-benar memejamkan mata. Akan tetapi, perhatian Elzen teralihkan pada penumpang yang berada tepat di sebelahnya. Di kursi 2A, duduk seorang pria muda dengan penampilan aneh. Penu
Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Rezon. Ia berdiri di dekat jendela besar, dadanya naik turun menahan amarah yang masih bergejolak. Sesaat kemudian, suara sekretarisnya terdengar dari interkom."Dokter, menurut perawat asisten spesialis yang mendampingi Dokter Celine, Beliau baru saja menyelesaikan jam praktek. Dokter Celine sudah turun, sepertinya berencana untuk langsung pulang."Mendengar itu, Rezon lekas menutup telepon tanpa menjawab. Dengan wajah sekeras batu, ia masuk ke dalam lift, tak menghiraukan tatapan ngeri dari para staf.Ketika pintu lift terbuka di lantai basement, Rezon setengah berlari menuju area parkir khusus dokter. Ia tidak lagi memedulikan rasa sakit fisik yang masih mendera. Mata Rezon menyapu jajaran mobil mewah di sana, dan akhirnya ia menangkap sosok yang familiar.Di ujung barisan, Celine tampak anggun dengan tas branded yang tersampir di bahu. Ia sedang memegang gagang pintu mobilnya, bersiap untuk masuk."Celine, tunggu!" seru Rezon, suaranya me
Langkah kaki Rezon menggema nyaring di lantai lobi Rumah Sakit Limantara Medika. Aura kepemimpinan yang biasanya berwibawa, kini berubah menjadi badai yang siap menghantam siapa saja. Para petugas keamanan dan staf administrasi di barisan depan terlonjak kaget. Mereka saling berbisik, tertegun melihat sang Kepala Rumah Sakit muncul tiba-tiba.Wajah Rezon masih pucat, dengan balutan perban tebal yang masih membungkus telapak tangannya. Namun, sorot matanya tampak menyala."Dokter Rezon? Bukankah Anda sedang cuti?" sapa seorang perawat senior, sambil memberikan salam hormat.Rezon mengangguk sekilas tanpa menjawab. Fokusnya hanya satu: lantai paling atas. Dengan tangan kirinya, ia menekan tombol lift khusus petinggi rumah sakit. Tak berselang lama, pintu lift berdenting terbuka. Sekretaris pribadi Rezon, yang sedang merapikan jadwal, hampir menjatuhkan tablet di tangannya kala melihat sang atasan."Dokter, Anda... Anda sudah kembali ke rumah sakit?" tanyanya terbata-bata."Panggilkan
Apartemen Rezon kini terasa seperti gua yang dingin dan hampa.Rezon menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap langit-langit ruangan yang biasanya ia anggap sebagai tempat istirahat paling tenang. Akan tetapi, sejak kepergian Izora pagi tadi, keheningan itu justru terasa mencekik. Hanya ada suara denting jam dan langkah pelan perawat serta pelayan yang diutus oleh Dastan.Ponsel di genggaman Rezon terasa berat. Berkali-kali jemarinya membuka aplikasi pesan, mengetikkan beberapa kalimat, lalu menghapusnya kembali. Sungguh, ia merindukan Izora, merindukan omelan gadis itu, sentuhan tangannya yang telaten saat mengganti perban. Bahkan, ia merindukan tatapan tajamnya yang selalu berusaha menjaga jarak. Rasanya, ia ingin menelepon Izora sekarang juga. Namun, Rezon takut jika Izora akan merasa terganggu atau marah karena ia melanggar kesepakatan."Dokter, Anda perlu sesuatu?" tanya sang perawat.Sambil menegakkan posisi duduknya, sebuah ide muncul di benak Rezon. "Bantu saya sambungkan
Langkah kaki Izora terasa berat, saat ia kembali memasuki area Instalasi Gawat Darurat. Bau antiseptik yang biasanya membangkitkan semangat, kini terasa menyesakkan di dada.Izora menghampiri Bayu, rekan dokter magangnya, yang sedang sibuk memeriksa pasien penderita demam berdarah bersama seorang perawat. "Bayu, aku ingin bicara sebentar," panggil Izora dengan suara parau.Bayu menoleh, alisnya bertaut melihat ekspresi Izora yang tidak biasa. "Eh, Izora. Syukurlah kau sudah kembali. Ada pasien rujukan kecelakaan di bilik tiga, bisa bantu aku?"Izora menggeleng pelan, sebuah senyum pahit terukir di bibirnya. "Maaf, Bayu. Mulai hari ini dan mungkin seterusnya, aku tidak bisa bertugas di IGD. Aku tidak bisa membantu kalian di sini."Ucapan Izora membuat Bayu terkesiap. Spontan, pria itu memegang lengan Izora. "Maksudmu apa? Kau akan cuti panjang?”"Bukan. Status magangku dinonaktifkan dari rumah sakit ini oleh Dokter Handoko," jawab Izora lugas. Kalimat tersebut meluncur seperti belati







