Mag-log inXu Wen dan Shen Yuan sudah tiba di ruang VIP milik Yan Muchen, juga ada Ye Wanqing di sana. Sesaat Shen Yuan terperangah.“Da Ge,” gumamnya sedikit aneh. Cara berpakaian lelaki berwajah sama dengan Shen Yanzuo membuat mereka terlalu asing untuk saling menyapa.“Da Ge?” Yan Muchen mengulangnya. Sapaan itu biasanya digunakan di lingkungan formal seperti anak pejabat. “Panggil aku seperti biasa saja.”Xu Wen menyikut Shen Yuan. Ia belum sempat menjelaskan semua hal karena kejadiannya terlalu cepat. Dokter bedah itu hanya berbisik, “Dia bukan lagi kakakmu dan dia bukan lagi Jenderal Ye Lin."Shen Yuan hanya mengangguk.“Maaf aku harus memanggilmu, perkenalkan namaku Yan Muchen, pemimpin Grup Yan sekaligus pemilik proyek tambang mineral di mana tubuhmu ditemukan.” Yan Muchen mengulurkan tangannya perlahan dan Shen Yuan hanya menatapnya.Xu Wen memberi isyarat agar Pangeran Salju melakukan hal yang sama. Lelaki berambut putih itu mengulurkan lalu berjabat tangan, tetapi Yan Muchen tak tahan
Xu Wen masuk dan membawa satu nampan berisi bubur panas dan minuman penghangat tubuh serta buah-buahan. Susah payah ia meminta porsi lebih dari dapur. Saat masuk ke kamar ia tidak melihat di mana Shen Yuan.“Hei, kau di man—“ Tetapi tiba-tiba saja Shen Yuan sudah berdiri di sampingnya. “Haiish, apa yang kau lakukan? Dari mana saja kau?” tanya Xu Wen bertubi-tubi.“Aku di kamar saja. Ikatan talimu yang rapuh tidak akan bisa menghentikanku. Aku sedang mempelajari benda-benda apa di kamar ini.” Shen Yuan menyentuh kaca tempat menyimpan obat, lalu bertanya, “Ini apa benda, seperti karet?”“Aduuh, siapa yang taruh kondom di sana, ceroboh sekali.” Xu Wen terlihat malu. “Itu untuk pengendalian anak. Maksudnya program keluarga berencana, jadi kalau ehm ehm tidak jadi anak.”“Oooh.” Shen Yuan mengangguk. “Ternyata zaman modern juga mengendalikan kelahiran manusia.” Shen Yuan meletakkan benda itu lagi pada tempatnya.“Kau masih lapar, kan? Makan lagi.” Xu Wen meletakkan nampan berisi makanan di
Dokter Xu Wen menikmati makan siang sejenak. Ia menyeruput mi instan dengan potongan daging sapi serta nasi panas. Dokter bedah itu makan dengan cepat karena takut Pangeran Shen Yuan sadar tiba-tiba dan mengamuk serta membekukan semuanya.“Dokter Xu, masih banyak makanan yang lain, kenapa tidak dicoba?” tanya perawat bernama Zi Yi.“Aku harus menunggu seseorang,” jawab Xu Wen cepat tanpa menoleh lagi.Zi Yi hanya mengangguk saja. Sebenarnya semua orang di ruang makan sedang membicarakan dirinya dan lelaki berambut putih yang ditemukan di dalam perut bumi. Namun, sesuai permintaan Pak CEO tidak boleh ada satu pun gosip atau video yang bocor ke sosmed.Sebagai kompensasinya mereka akan diberi bonus tutup mulut. Ya, demikian jauh lebih baik daripada dituntut oleh bagian hukum Grup Yan.Xu Wen membuka pintu rawat di dalam kabin dengan perlahan. Ia mendekat dan melihat Shen Yuan menggerak-gerakkan kepalanya tanda gelisah. Juga perut lelaki berambut putih itu berbunyi kuat sekali. Tak perna
“Siapa kau?” Shen Yuan tidak mengenali Dokter Xu Wen yang berlarian ke arahnya.“Hentikan, jangan kau lakukan itu. Kita hidup di masa yang berbeda, kau bukan lagi Pangeran.” Xu Wen mengisyaratkan agar tangan Shen Yuan turun.Sementara itu Yan Muchen jatuh tepat di antara tumpukan salju, bahkan lebih tepatnya di atas tubuh Ye Wanqing. Saat memandang mata gadis itu ia merasa adegan yang ia lakukan sekarang tidaklah asing dan dulu pernah sangat intim.“Berat,” ucap Ye Wanqing.“Oh, maaf.” Yan Muchen berdiri dan ia membantu Ye Wanqing bangkit.“Pak CEO, kau baik-baik saja? Ada yang luka atau memar?” Belum sempat mengurus diri sendiri, Ye Wanqing malah mengurus Yan Muchen.“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Pak CEO sedikit senang.“Bukan, tapi aku takut dipecat.” Sekarang semua yang dilakukan oleh Ye Wanqing adalah demi dan dapat uang.“Oh, aku pikir ... sudahlah ayo kita lihat apa yang terjadi.” Yan Muchen melangkah dan masuk di antara kerumunan para pekerja.Sebelum mendekati Shen Yuan ia me
Sampai di atas galian, Yan Muchen langsung mengumpulkan kepala proyek dan seluruh staf lapangan di tengah embusan salju."Aku mau benda di bawah sana diangkat ke permukaan. Malam ini juga!" perintah Muchen. Suara mengalahkan deru angin.Kepala staf lapangan seakan-akan tak percaya. "T-tapi Pak CEO, lorong galian kita terlalu sempit untuk menarik bongkahan es sebesar itu. Risikonya sangat mematikan bagi pekerja di bawah sana, dan ini sudah di luar jam kerja—""Buat lubang galian yang baru! Gunakan alat berat dan peledak untuk melebarkan jalurnya!" kata Muchen tanpa boleh dibantah. "Lakukan dengan cara apa pun! Berapa pun biaya operasionalnya, aku yang tanggung. Dan untuk semua pekerja yang turun malam ini, aku akan bayar uang lembur kalian dua kali lipat! Harus berhasil, atau kalian semua angkat kaki dari Grup Yan besok pagi!"Mendengar ancaman sekaligus iming-iming uang lembur dua kali lipat, tak ada satu pun pekerja yang berani membantah. Seluruh pekerja langsung bergerak tanpa pikir
Lorong gelap tanpa ujung seperti siap menelan siapa saja yang lewat. Yan Muchen melangkah lebih dulu di depan, ditemani Ye Wanqing dan Xu Wen, sementara empat orang staf ahli berada di sekeliling mereka.Sinar dari senter yang terpasang di helm para staf menyinari setiap sudut ruangan tanpa batas itu demi memastikan tidak ada retakan atau ancaman bahaya yang mengintai dari atas sana.Langkah sepatu safety mereka mengusir kesunyian abadi selama puluhan ribu tahun lamanya. Namun, baru berjalan belasan meter, aura kesedihan di dalamnya semakin menjadi. Udara tidak hanya membekukan kulit, tapi langsung menusuk dan mencekik rongga dada."Maaf, Pak CEO Yan, aku tidak sanggup lagi," ucap salah seorang staf tiba-tiba.Lelaki bertubuh besar itu jatuh berlutut sambil menangis, dadanya naik turun ditambah air mata terus mengalir seperti kesedihan akibat kehilangan seluruh anggota keluarganya.Temannya yang satu lagi juga bernasib sama, ia menangis memeluk lututnya sendiri di atas lantai es. Rasa
Di waktu yang sama, hawa panas memenuhi paviliun pribadi Pangeran Pertama. Udara di dalam ruangan itu berapi-api seperti di jurang neraka.Yanzuo berdiri tegak di depan cermin, ia sedang mendandani dirinya sendiri. Tidak ada satu pun pelayan atau kasim yang berani masuk untuk membantunya berpakaian
Hari penobatan dan pernikahan agung itu akhirnya tiba. Langit ibu kota Dinasti Hanlu tampak kelabu. Bahkan matahari pun enggan menjadi saksi dari perayaan yang dibangun di atas penderitaan.Di kamar Ye Lin, keheningan begitu terasa. Belasan pelayan istana sibuk mengelilinginya, mendandani jenderal
Badai salju di luar kediaman Keluarga Ye semakin mengganas. Rasa malu dan aib keluarga itu seperti telah terkubur oleh salju. Bahkan Jenderal Besar Ye menolak dirinya diperiksa oleh tabib karena sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun.Akibatnya Jenderal Besar Ye terbaring lemah setiap saat. Na
Wajah Wei Lan Yi seketika memerah. Kelembutan seorang wanita telah mati di dalam raganya. Semua karena cinta butanya bukan pada kaisar melainkan pada takhta di depan matanya."Aku tidak peduli pada kutukan itu. Aku tidak peduli jika mereka menjadi siluman sekalipun!" jerit Wei Lan Yi sambi







