LOGINJavendra berjalan cepat menuju sudut lorong yang sepi, jauh dari jangkauan ruang tunggu Sasa maupun pos penjagaan utama. Bram melangkah lebar mengekor di belakang atasannya dengan raut wajah tenang namun siaga. Javendra menghentikan langkahnya di depan jendela kaca besar yang menghadap ke area halaman luar rumah sakit. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pribadinya, lalu melempar benda itu tepat ke dada Bram. Bram menangkap ponsel itu dengan refleks cepat. "Lihat isi pesan terakhir di sana," perintah Javendra tegas. Bram membuka kunci layar ponsel yang sudah disesuaikan oleh Javendra. Pria berjas abu-abu itu membaca baris demi baris tulisan di dalam pesan anonim tersebut, lalu membuka dokumen-dokumen berstempel hukum yang terlampir di dalamnya. Dahi Bram berkerut dalam. Semakin jauh ia membaca, semakin tegang garis bibirnya. "Dokumen pengalihan hak asuh dan penguasaan kembali aset warisan Sasmaya Larasati?" gumam Bram tak percaya. Ia menengadahkan kepala menatap Javendra
Iring-iringan tiga mobil melaju membelah padatnya arus lalu lintas pagi kota Jakarta. Di dalam kabin mobil tengah yang kedap suara, udara terasa begitu dingin oleh hembusan pendingin udara. Javendra tidak pernah sekali pun melepaskan genggaman tangannya dari jemari Sasa. Ibu jarinya terus bergerak mengelus punggung tangan Sasa, tetapi usapan itu terasa tidak tenang. Ada getaran halus dan ketegangan terselubung yang terpancar dari setiap gerakan jemarinya. Sasa menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Javendra. Tangannya yang satu lagi naik, mengusap pelan lengan kemeja putih Javendra yang terlipat rapi. "Mas Javendra," panggil Sasa dengan suara sangat lembut. Javendra menoleh seketika. "Iya, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing lagi?" Sasa menggeleng pelan di bahu Javendra. Ia menatap ke arah jendela depan, memperhitungkan jarak mobil pengawal di depan mereka yang melaju sangat rapat. "Aku tidak apa-apa, Mas," tutur Sasa. Ia meremas pelan jemari Javendra. "Cuma... kenapa pengaw
"Aku baru saja menerima bukti dokumen hukum yang sedang disusun oleh tim pengacara Kenzo," pangkas Javendra cepat. "Pria itu ingin merebut kembali hak atas Sasa dan menguasai peninggalan Almarhumah Ibu Sasmaya secara sepihak." "Apa?!" teriak Bram terkejut. "Maaf, Tuan, saya kaget. Tapi bukankah kemarin Tuan Kenzo sendiri yang berjanji tidak akan mengganggu Nona Sasa lagi?" "Janji seorang Pratama tidak ada harganya, Bram!" tegas Javendra. "Sekarang dengarkan instruksiku baik-baik." "Siap, Tuan." "Perketat seluruh pengawasan di sekitar Sasa," perintahkan Javendra. "Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang asing atau perwakilan dari keluarga Pratama yang boleh mendekati Sasa dalam radius seratus meter. Jika kamu melihat orang-orang Kenzo atau perantara mereka mencoba menghubungi Sasa, langsung amankan dan jauhkan secara paksa!" "Baik, Tuan Javendra. Perintah dimengert," sahut Bram mantap. "Bagaimana dengan pengamanan di Rumah Sakit Medika Utama untuk Ibu Andini?" "Tingkatk
Suara panggilan Sasa yang lembut mendadak memecah keheningan di antara mereka. Javendra tersentak pelan, namun ia tidak langsung menoleh. Ia bergegas menekan tombol matikan layar, mengembalikan ponsel hitam itu ke posisi gelap, lalu menggenggamnya erat di dalam telapak tangannya. Sasa yang menyadari perubahan raut wajah Javendra yang mendadak sangat tegang mulai merasa cemas. Ia menyentuh lengan Javendra yang terasa mengeras seperti batu. "Mas... ada apa?" tanya Sasa dengan nada khawatir. "Ada masalah di kantor? Atau ada kabar dari rumah sakit tentang Ibu?" Javendra memejamkan matanya sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Amarah yang mendidih di dadanya akibat nama Kenzo Pratama berusaha ia tekan sekuat tenaga agar tidak meluap di depan Sasa. Ia memutar tubuhnya menghadap Sasa, memaksa sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya. Namun, senyuman itu tidak lagi sampai ke matanya. Tatapannya terlihat goyah dan penuh ketegangan yang tersembunyi. "Tidak
"Bukan begitu, suamiku Sayang. Oke, aku tidak akan kaget lagi ke depannya." Sasa terkekeh. "Bagus, kamu harus selalu biasakan." Javendra mencium kening Sasa. "Iya, jadi memang mereka langsung menuju rumah sakit setelah beristirahat sebentar di hotel," jelas Javendra. "Mas sudah minta dokter kepala di sana untuk menyiapkan seluruh rekam medis Ibu Andini secara lengkap. Jadi begitu tim dokter Jerman sampai, mereka bisa langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh tanpa membuang waktu." "Semoga ada kabar baik ya, Mas," bisik Sasa penuh harap. "Aku rindu sekali melihat Ibu tersenyum. Aku rindu mendengar suara Ibu memanggil namaku." "Pasti ada kabar baik," sahut Javendra menenangkan. "Ibu Andini itu wanita yang sangat kuat. Beliau sudah bertahan sejauh ini demi kamu. Mas yakin beliau pasti akan berjuang untuk siuman." "Iya, Mas. Aku percaya itu." Javendra mengecup puncak kepala Sasa sekali lagi, membiarkan keheningan manis kembali menyelimuti mereka berdua. Bagi Sasa, momen sepe
"Mas Javendra, jarimu dingin sekali." Sasa mengusap punggung tangan kanan Javendra yang masih melingkar hangat di pinggangnya. Ibu jarinya mengelus perlahan buku-buku jari pria itu, mencoba menyalurkan kehangatan dari tubuhnya sendiri. Di atas sofa empuk ruang keluarga, posisi mereka begitu rapat sampai Sasa bisa merasakan detak jantung Javendra yang berembus konstan di balik kain kemeja putihnya. Javendra terkekeh pelan. Suara beratnya terdengar begitu dekat di telinga Sasa, menimbulkan getaran halus yang membuat dada Sasa mendadak berdesir hangat. Javendra makin mengeratkan pelukannya, mendaratkan kecupan lembut yang cukup lama di pelipis Sasa. "Memangnya dingin, ya?" tanya Javendra dengan nada suara setengah berbisik. Tangannya yang satu lagi bergerak mengusap lembut pipi Sasa yang merona merah. "Mungkin karena dari tadi aku cuma sibuk menatap wajahmu, jadi lupa menyalurkan darah ke ujung jari." Sasa tertawa kecil, sebuah tawa lepas yang sudah sangat jarang terdengar dalam beb
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta







