مشاركة

Bab 2

مؤلف: Gali Pratama
last update تاريخ النشر: 2026-07-31 11:50:40

“Saya nggak peduli mau kamu tidur di kolong jembatan kek, di depan toko kek. Yang jelas, kamu jangan datang ke kantor saya lagi. Sama bos sendiri aja berani ngintip, apalagi ke karyawan yang lain!”

Clara kemudian menatap lekat wajah Raka. “Sembilan puluh persen karyawan saya itu perempuan. Bisa jadi hari ini kamu ngintip saya, besok ngintip yang lain!”

Raka menatap bos besarnya itu dengan pandangan nelangsa. Tudingan Clara barusan benar-benar di luar nalar.

“Duh, Bu. Itu mah keterlaluan nuduhnya.” Raka memelas dan hampir putus asa karena bosnya itu sudah bahas ke mana-mana.

"Nggak usah banyak alasan! Pokoknya saya nggak mau tahu!" desis Clara sambil merapikan blezer-nya dengan gerakan kasar dan terburu-buru.

Wajah cantiknya yang tadi kemerahan akibat kepuasan pribadi, kini murni memerah karena amarah yang memuncak.

“Halah! Nggak mau tahu saya. Awas, minggir. Saya mau pulang!”

“Ta-tapi, Bu—”

Belum selesai Raka berucap, wanita itu sudah berjalan dengan langkah lebar keluar dari ruangan tersebut.

Tumit sepatu high heels-nya menepuk lantai marmer dengan irama tajam dan cepat, menandakan keputusan yang sama sekali tak bisa diganggu gugat.

Raka cuma bisa meratapi nasibnya yang di ujung tanduk, membayangkan besok pagi harus angkat kaki dari kontrakan dan makan mi instan dibayar pakai doa.

Namun, langkah Clara terhenti mendadak di koridor, tepat di luar pintu. Tubuh wanita itu membeku kaku.

Raka yang hendak menyusul ikut menghentikan langkahnya.

Ketegangan baru yang jauh lebih pekat mendadak merayapi lorong kantor yang mulai temaram itu.

Seorang pria berpenampilan acak-acakan dengan aroma alkohol yang menyengat hidung sedang berdiri melangkah sempoyongan di depan ruang kerja Clara.

Mata Clara melebar penuh kegelisahan.

“Mau ngapain lagi kamu ke sini? Urusan kita udah selesai dan jangan pernah ganggu aku lagi!”

Pria bernama Heru itu menyunggingkan senyum samar mengerikan.

Langkahnya yang limbung perlahan mendekat, menyebarkan aroma minuman keras yang makin pekat di udara.

Clara menelan ludahnya sambil mundur satu langkah, jemarinya meremas tepi tas mewahnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Dasar jalang gila! Gue udah bilang kalau gue nggak mau cerai sama lo, keparat!” teriak Heru dengan wajah merahnya yang dipenuhi urat-urat menegang.

“Dasar wanita nggak tahu diuntung! Lo punya perusahaan gede kayak gini kalo bukan karena relasi dari gue, gak akan berdiri, Clara!” teriak Heru kembali. 

“Apa? Relasi?” Clara tersenyum miring. 

“Kerjaan kamu cuma habisin uang aku aja, alesan meeting sama kolega taunya dipake buat judi! Relasi yang mana yang kamu banggakan itu?” ucap Clara sudah habis kesabarannya. 

Mendengar teriakan yang siap memicu pertumpahan darah tersebut, Raka yang tadinya cuma memikirkan nasib uang kosan, refleks menoleh ke arah sumber suara tersebut. 

Pemuda itu lantas keluar dan kini berdiri tepat di hadapan Clara dengan raut wajahnya yang terlihat ketakutan.

“I-ini siapa, Bu?” tanya Raka dengan polosnya.

Heru menghentikan langkahnya dan tatapannya kini menyipit melirik ke arah Raka, lalu menyapu penampilan pemuda itu dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan sangat merendahkan.

“Diam, lo OB. Ini urusan gue sama istri gue. Mending lo pergi aja, kalau masih sayang sama muka lo yang jelek itu.”

Raka langsung tertegun mendengar hinaan tersebut. Otaknya yang mendadak lambat bekerja memproses kalimat Heru sejenak.

Pasalnya, kalau dilihat dari ujung Monas pun masih tampan Raka daripada pria mabuk berwajah kusut di hadapannya ini.

Raka pun membatin sengit, ‘Matanya rabun apa gimana sih nih mantan si bos? Muka sesempurna ini dibilang jelek?’

“Kita udah bukan suami istri lagi. Nggak usah kepedean, Heru. Mending kamu aja yang pergi sana. Aku nggak mau lihat muka memuakkan kamu itu!” ucap Clara sengit.

“Bajingan!” pekik Heru yang kesabarannya hilang total dipengaruhi alkohol.

Tangan kanannya terangkat hendak melayangkan tamparan keras pada wajah mulus Clara. Dengan cepat Raka berdiri pasang badan tepat di hadapan Clara dan akhirnya...

PLAKK!

Wajah tampan Raka yang tadi dibangga-banggakannya seketika terlempar ke samping, terkena tamparan tangan kasar Heru dengan keras.

Rasa panas pun langsung membakar pipinya seketika. 

“Duh, sialan! Sakit juga ternyata,” keluh Raka sambil mengusapi pipinya yang terasa panas dan memerah instan itu. 

Clara yang melihat kejadian itu tepat di depan matanya langsung terkejut dan matanya membola.

Rasa syok menghantam dadanya, sebab OB yang tadi ingin dia pecat justru membentenginya tanpa ragu.

“Raka!” pekiknya kemudian. 

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Clara dengan mata membola karena terkejut. 

“Saya nggak apa-apa kok, Bu. Hehe.” Raka menerbitkan cengiran konyol pada Clara walau sebenarnya pipinya masih sangat panas dan berkedut hebat karena ulah mantan suami Clara.

Senyum konyol itu berhasil menghantam perasaan Clara tepat di dada. Rasa bersalah seketika membuatnya terdiam atas tuduhan yang baru saja ia lemparkan pada Raka di dalam ruang kerjanya. 

‘Dia benar-benar nggak punya niat jahat?’ batin Clara.

Karena trauma dikhianati Heru membuat Clara memandang semua pria dengan rasa curiga. Ia mengira Raka sama seperti pria kebanyakan yang memanfaatkan kelemahannya. 

Tapi melihat pemuda 24 tahun itu berdiri memar demi membelanya dari Heru, Clara merasa sangat kecil. ‘Ya ampun, aku baru saja maki-maki orang yang tulus mau nolongin aku.’

Ulah Raka yang sok tegar itu justru makin memancing emosi Heru yang sudah menguasai kepalanya.

Urat-urat di leher pria mabuk itu makin menonjol.

“Awas lo, OB! Mau jadi pahlawan kesiangan lo, hah?!” bentak Heru murka. Pria mabuk itu melayangkan tinju susulan dengan kalap ke arah Raka.

Namun kali ini, Raka tidak mau lagi menjadi sasaran empuk.

Dengan gerak refleks yang cepat, Raka merangsek maju. 

Lengan kekarnya menangkis pukulan Heru, lalu memiting dan mencengkeram kerah baju Heru dengan satu tangan hingga pria mabuk itu tersudut keras ke dinding koridor.

Brak!

Tubuh tegap Raka mendorong Heru hingga tak berkutik. 

Heru pun terbatuk, matanya yang memerah menatap kaget ke arah Raka yang kini menatapnya penuh ancaman, benar-benar beda dengan gestur pemuda pemelas beberapa menit lalu.

"Bangsat! Ngerasa jagoan lo?!" rintih Heru sembari mencoba melepaskan cengkeraman Raka, namun tenaganya kalah jauh dari Raka yang bertenaga otot pekerja kasar. 

"Gue laporin polisi lo atas penganiayaan!"

Raka tidak bergeming sedikit pun. Ia justru makin memperketat cengkeramannya dan mendekatkan wajahnya dengan tatapan dingin yang tajam.

"Lapor aja, Pak! Saya nggak masalah," tekan Raka dengan suara rendahnya. 

"Yang pasti, kalau Bapak mau ganggu Bu Clara lagi, harus langkahin dulu mayat saya!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 13

    Clara menatap tonjolan tebal di balik celana Raka dengan binar mata liar.Tanpa ragu, jemari lentik dengan kuku berpoles cat merah itu membuka kancing dan Ritsleting celana Raka, lalu meluncurkan celana kain dan celana dalam pria itu ke bawah lutut.Anggota tubuh Raka yang besar, tebal, dan tegang keras melompat bebas. Urat-urat menonjol melingkari batangnya yang hangat.Clara menarik napas pendek. Meski sudah beberapa kali melihatnya, ukuran milik staf OB-nya ini selalu berhasil memancing rasa takjub sekaligus gairah murninya."Punya kamu selalu sebesar ini, Raka. Benar-benar gila," gumam Clara sambil memegang batang tebal itu dengan satu tangannya."Ini semua karena merekam keindahan tubuh Bu Clara," balas Raka jujur, suaranya makin berat saat jemari Clara mulai mengusap bagian kepalanya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.Clara membungkukkan tubuh cantiknya di tepi meja mahoni.Dengan bibir indahnya yang merekah, ia mulai melingkupi ujung kepala milik Raka, memasukkannya perlahan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 12

    Jemari Raka bergerak terampil meraih kepala ritsleting di bagian belakang rok pensil ketat milik bosnya.Dengan satu tarikan mantap, ritsleting besi itu bergeser turun, membelah kain ketat yang membungkus panggul berlekuk indah tersebut.Raka menuntun rok itu meluncur melewati paha mulus yang padat dan berisi, membiarkannya jatuh menumpuk di lantai marmer yang dingin.Kini, penglihatannya dimanjakan oleh pemandangan yang sanggup melipatgandakan gairah di dalam dadanya.Clara hanya mengenakan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang teramat transparan.Di bagian tengah kain tipis itu, bercak basah berdiameter lebar sudah mencetak jelas, membuktikan betapa tubuh CEO wanita itu sangat responsif terhadap sentuhannya.Bau harum parfum vanila bercampur aroma alami tubuh wanita yang bangkit gairahnya memenuhi udara di sekitar Raka.Tanpa membuang waktu, Raka mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha mulus Clara yang terkuak lebar di tepi meja mahoni.Dengan kedua tangannya yan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 11

    “Selamat pagi, Bu Clara,” sapa Raka saat tiba di depan pintu ruang kerja sang bos.“Pagi,” jawab Clara. "Tutup pintunya dan kunci dari dalam, Raka," perintah Clara. Suaranya rendah, penuh penekanan yang tak bisa dibantah."Baik, Bu Clara," jawab Raka patuh, lalu melangkah ke arah pintu utama, memutar kait kunci besi hingga terdengar bunyi klik yang bergema di ruangan hening itu.Ia pun kembali melangkah mendekati Clara, lalu berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita berkulit putih mulus itu.Clara melepaskan blazer mewahnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi kerja.Tatapan mata tajam sang CEO wanita berumur tiga puluh tahun itu mengunci wajah Raka. Ada gairah liar yang tersirat jelas di balik tatapan dominan itu.Clara menyandarkan pinggulnya pada tepi meja mahoni. Kakinya yang berbalut rok pensil ketat bersilangan rapi."Kamu tahu persis apa tugas tambahanmu pagi ini, kan?" Suara Clara terdengar serak, terengah pelan, menembus hening ruangan."Saya tahu, Bu," balas Raka

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 10

    Raka memacu sepeda motor tuanya menembus padatnya lalu lintas jalanan kota.Kebisingan klakson dan deretan lampu merah tak dihiraukannya; pikirannya sepenuhnya tertuju pada jarum jam yang terus berputar cepat.Angin malam menghantam dada tegapnya, tetapi rasa dingin tak terasa sama sekali karena darahnya berdesir hebat oleh ketegangan."Sedikit lagi, Raka, sedikit lagi!" gumamnya seraya memutar gas motor makin dalam.Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.52 WIB. Ia hanya punya waktu delapan menit sebelum Pak RT mewujudkan ancamannya.Setiap detik terasa begitu berharga, berpacu keras melawan keputusasaan yang hampir menenggelamkannya beberapa jam lalu.Sementara itu, di lorong kontrakan lantai dua, Pak RT sudah berdiri kaku di depan pintu kamar Raka. Raut wajah pria paruh baya itu sangat gusar.Di tangan kanannya tergenggam gembok besi besar yang masih baru, sedangkan tangan kirinya memegang dua kantong plastik sampah berukuran besar.Pak RT beberapa kali melirik jam

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 9

    Clara menarik napas panjang sembari membenarkan ikatan bathrobe sutranya, lalu memutar kunci dan membuka pintu apartemen.Di ambang pintu, berdiri dua sahabat sosialitanya: Fiona dan Sheila.Keduanya tampil memikat dengan gaun malam yang modis dan riasan sempurna, masing-masing memegang botol minuman mahal."Akhirnya dibuka juga! Kita pikir kamu lagi pingsan di dalam, Ra," cerocos Fiona seraya melangkah masuk tanpa diundang, disikuti Sheila yang tertawa renyah."Nggak ngabarin dulu kalau mau datang?" tanya Clara sambil berusaha menutupi kepanikannya dengan nada dingin yang biasa ia perlihatkan."Surprise, dong! Kita tahu kamu lagi butuh hiburan," balas Sheila santai.Namun, langkah Fiona dan Sheila terhenti mendadak begitu melewati lorong kecil menuju ruang tengah.Raka, yang tidak sempat bersembunyi penuh di kamar mandi karena panik dan bingung, justru keluar dari area kamar utama sambil merapikan kancing kemejanya yang belum sepenuhnya terpasang rapi.Pemuda bertubuh tegap dan berwa

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 8

    "Lepas baju kamu sepenuhnya," perintah Clara dengan nada suara tegasnya.Mendengar perintah tersebut, Raka langsung menelan ludahnya, tenggorokannya mendadak kering.“B-baik, Bu.”Jemarinya yang kasar bergerak cekatan melepas sisa kancing seragam OB yang melilit tubuhnya hingga kain murah itu jatuh begitu saja ke lantai.Di bawah pendar lampu kamar yang remang, dada tegap Raka terekspos jelas.Bentuk tubuhnya terbentuk alami dari kerja fisik sehari-hari, mengangkat dus berat, memindahkan furnitur kantor, dan menyapu koridor Gedung Graha Nusantara.Secara instingtif, Raka menyadari posisi tawar dalam ruangan ini.Di luar sana, ia hanyalah buruh harian dengan gaji pas-pasan yang sering dipandang sebelah mata.Namun di dalam kamar mewah ini, bentuk fisiknya yang tegap, bahunya yang lebar, serta otot dadanya yang padat menjadi modal utama yang sangat diinginkan oleh atasannya.Ada kepuasan tersembunyi yang bergetar di dadanya saat melihat mata Clara meneliti setiap lekuk tubuhnya dengan l

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status