Home / Romansa / Sang Pelindung Terakhir / 83 - Pagi Setelah Membakar Hasrat

Share

83 - Pagi Setelah Membakar Hasrat

Author: Shiooki
last update publish date: 2026-05-17 19:02:12

Jung Ara membuka mata ketika tenggorokannya terasa kering dan perih. Pandangannya menyapu sekitar, lalu berhenti pada langit-langit kamar sang tuan—tempat dirinya dan Anthony bergelut panas semalam.

Seketika wajah Ara memanas. Dirinya yang bahkan belum genap delapan belas tahun, kini sudah tidak perawan.

Dan lagi, mengapa ukuran milik tuan Wallenstein sebesar itu?!

Astaga.

Ara benar-benar tidak percaya benda itu masuk dan bergerak di dalam tubuhnya. Bay
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Pelindung Terakhir    84 - Kebenaran Di Balik Kesunyian

    "Tunggu apa lagi? Lepaskan pakaianmu," ujar Anthony, bibirnya menggariskan senyuman tipis. "Bukankah tadi kau sendiri yang mengajakku mandi bersama?" Apa Ara masih bisa menarik ucapannya? Kalau dipikir-pikir lagi, ini benar-benar memalukan. Apa yang merasukinya sampai berani mengajak tuan Wallenstein mandi bersama? Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ara tidak mungkin menarik kata-katanya sekarang. Dengan gugup, dia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Akan tetapi, gerakannya mendadak berhenti ketika suara ritsleting terdengar dari arah sang tuan. Perlahan, dia melirik ke arah Anthony, dan saat itu juga wajahnya diserbu panas luar biasa. Ya, Tuhan .... Ara merasa dirinya berubah menjadi orang mesum karena terus membayangkan benda besar itu kembali memasuki dirinya, bergerak di dalam sana, lalu membuatnya mendesah tak berdaya seperti semalam. Dasar bodoh! Enyah kau, pikiran kotor! "Ara, ada yang sa

  • Sang Pelindung Terakhir    83 - Pagi Setelah Membakar Hasrat

    Jung Ara membuka mata ketika tenggorokannya terasa kering dan perih. Pandangannya menyapu sekitar, lalu berhenti pada langit-langit kamar sang tuan—tempat dirinya dan Anthony bergelut panas semalam. Seketika wajah Ara memanas. Dirinya yang bahkan belum genap delapan belas tahun, kini sudah tidak perawan. Dan lagi, mengapa ukuran milik tuan Wallenstein sebesar itu?! Astaga. Ara benar-benar tidak percaya benda itu masuk dan bergerak di dalam tubuhnya. Bayangan semalam kembali berputar di kepala; bagaimana Anthony sempat menarik miliknya keluar perlahan, memperlihatkan batang keras dengan urat-urat menonjol yang tampak begitu menakutkan sekaligus memalukan untuk dilihat, sebelum kembali mendorongnya masuk dalam sekali hentakan hingga membuatnya menjerit. Ugh ... memikirkannya saja sudah membuat wajah Ara terasa terbakar. Apa yang harus dia katakan saat bertemu Anthony nanti? "Tubuhku sakit sekali ...." Ara meringis p

  • Sang Pelindung Terakhir    82 - Fakta Yang Mengerikan

    “Siapa kau? Kenapa kau berada di dalam ruangan Baginda Raja?” tanya sosok yang baru saja memasuki ruang pribadi penguasa Abyss itu menatap tajam figur di hadapannya—seseorang yang berdiri membelakanginya dengan aura angkuh dan menyesakkan. Dilihat dari posturnya, sosok itu tampak seperti manusia. Namun, bagaimana mungkin manusia berada di ruangan milik Raja Abyss? “Seharusnya aku yang bertanya.” Suara berat itu bergema pelan. “Kenapa kau berada di ruanganku?” Seketika itu juga, kedua mata milik Mikhail Littenheim membelalak ngeri. Lututnya jatuh begitu saja ke lantai. Tekanan luar biasa memaksanya bersujud saat sosok di depannya menoleh setengah dan meliriknya sekilas. “Apa yang kau cari di ruanganku?” Mikhail membeku. Dia Raja, itu suara Baginda Raja. Dia tidak mungkin salah dengar. Peluh dingin langsung mengucur membasahi pelipisnya. 'Aku sama sekali tidak menyadarinya!' Baik rupa

  • Sang Pelindung Terakhir    81 - Kehendak-Nya Yang Mutlak

    “Sungjael!” Sosok yang dipanggil itu menoleh ketika seseorang berjalan tergesa ke arahnya. Napasnya terdengar memburu, seolah datang kemari tanpa sempat berhenti sedikit pun. Sungjael segera bangkit dari duduknya, lalu memberi hormat begitu sosok itu tiba di hadapannya. “Sephael. Maaf mengganggu waktumu.” “Ah, tidak.” Sephael menggeleng pelan. “Aku mendengar kau datang ke ruanganku, jadi aku langsung menyusul. Ada keperluan apa?” Sungjael tersenyum tipis. Dari raut wajah Sephael, terlihat jelas bahwa pemimpin para seraphim itu menaruh harapan besar atas kedatangannya. Wajar saja. Sungjael jarang keluar dari ruangannya karena tugasnya terlalu banyak—mengurus kelahiran dan kematian seluruh makhluk bukan perkara mudah. “Duduklah dulu,” ujar Sephael seraya menarik kursi di hadapan meja kerjanya. Dia duduk lebih dulu sebelum kembali berkata, “Sebenarnya aku berniat menemuimu, tapi akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Jadi aku senang kau dat

  • Sang Pelindung Terakhir    80 - Ikatan Yang Terbagi

    "Vance, ada apa?" "Tidak apa-apa." Vance menggaruk tengkuknya sebelum mendongak ke langit Tír na nÓg yang jauh berbeda dari dunia manusia. Langit itu terasa menenangkan untuk dipandang, meski dia tahu ketenteraman tersebut hanyalah bagian dari sihir sang Raja peri. Pohon-pohon raksasa menjulang layaknya menara, sungai-sungai mengalir dengan air semanis madu, udara terasa segar, makanan melimpah, tidak ada diskriminasi, dan rakyat hidup makmur dalam kedamaian. Semua itu tercipta berkat Raja negeri yang kini Vance tinggali. Tír na nÓg memang pantas dijuluki sebagai dunia mimpi. Dan hingga sekarang, Vance masih sulit percaya bahwa pria aneh bernama Hope Nightray adalah sosok di balik negeri seindah ini. "Tapi wajahmu merah, tingkahmu juga aneh. Apa kau sakit?" "Tidak ...." Lagi, Vance menggaruk tengkuknya, kali ini disertai tawa hambar. Sosok yang berbicara padanya bernama Alice, salah satu

  • Sang Pelindung Terakhir    79 - Rencana Kejam

    Pada akhirnya, malam panjang itu berhenti ketika tubuh Ara benar-benar menyerah pada kelelahan. Sesaat setelah Anthony memeluknya erat dalam dekapan hangat, kesadaran gadis itu perlahan tenggelam bersama napasnya yang mulai teratur. Anthony masih terdiam cukup lama di atas ranjang, menatap wajah Ara yang tertidur pulas di bawah cahaya remang lampu kamar. Jemarinya perlahan menyingkirkan helaian rambut yang menempel di pipi gadis itu. Ada bekas air mata di sana, juga rona lelah yang belum sepenuhnya hilang. Untuk sesaat, pria itu menutup mata. Menyesal? Tidak. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Dengan hati-hati, Anthony membersihkan tubuh Ara menggunakan air hangat, mengganti pakaian gadis itu, lalu menyelimutinya hingga rapat. Sentuhan yang sebelumnya dipenuhi bara kini berubah jauh lebih lembut, cukup berlebihan seolah Ara adalah sesuatu yang mudah pecah. Setelah memastikan Ara benar-benar tertidur,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status