Share

BAB - 50

Author: shart96
last update publish date: 2026-08-11 09:15:53

Candra diam. Diamnya menjadi jawaban paling menyakitkan.

“Lalu, kenapa aku dijebak?” Suara William terdengar bergetar.

Rian menunduk.

“Karena kau adalah ahli waris sah dari harta peninggalan Arman. Selama kau masih bebas, Candra tidak bisa menguasai seluruh aset itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 50

    Candra diam. Diamnya menjadi jawaban paling menyakitkan.“Lalu, kenapa aku dijebak?” Suara William terdengar bergetar.Rian menunduk.“Karena kau adalah ahli waris sah dari harta peninggalan Arman. Selama kau masih bebas, Candra tidak bisa menguasai seluruh aset itu. Jadi, ia menciptakan kasus agar kau terlihat sebagai pelaku kejahatan.”“Dan kau menjadi saksi?”“Aku dipaksa.”William menatap Rian dengan mata memerah. “Kau bisa memberitahuku setelah aku keluar.”“Aku mencoba

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 49

    Mia menggenggam tangan William. “Berarti sudah jelas,” bisiknya.“Belum,” jawab William pelan. “Mereka masih bisa menyangkal bahwa Candra sendiri yang melakukan.”Seolah mendengar ucapan William, pengacara Candra segera berdiri.“Yang Mulia, jaringan perusahaan dapat digunakan oleh banyak orang. Bukti tersebut sama sekali tidak membuktikan bahwa klien kami ikut terlibat terlibat.”Hakim mengangguk, terlihat setuju dengan apa yang baru saja diucapkan pengacara Candra.“Pihak pembela harus menunjukkan hubungan langsung antara perangkat tersebut dan terdakwa.”

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 48

    “Semua orang yang tahu tentang masa lalu… disingkirkan.”Dada William tiba-tiba terasa sesak, begitu mendengar apa yang baru saja didengarnya “Apakah maksud Bapak, Candra juga terlibat dalam kasus yang membuat saya dipenjara?”Ayah Mia memejamkan mata. Ruangan itu mendadak terasa sunyi, kecuali suara alat pemantau yang terus berbunyi. Beberapa detik kemudian, ia membuka mata kembali.“Bukan dia… yang menyusun semuanya.”William menahan napas.“Siapa?”Bibir ayah Mia bergerak pelan.“Adiknya…”Mia mengerutkan kening.“Adik siapa, Ayah?”Namun, sebelum pria itu dapat melanjutkan, suara alat pemantau berubah cepat. Dokter dan beberapa perawat segera masuk ke dalam ruangan. Mereka meminta William dan Mia keluar agar dapat memeriksa kondisi pasien.Mia berdiri di lorong dengan wajah penuh tanda tanya.“Adik siapa yang dimaksud ayahku?”William tidak menjawab. Hanya ada satu nama yang terus terlintas dalam pikirannya.Rian.Adik tirinya yang tiba-tiba berubah menjadi begitu baik. Adik yang

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 47

    “Kita harus memeriksa isinya.” William menyimpan kartu memori itu di dalam wadah kecil yang dibawa Dimas.Mereka tidak langsung membukanya menggunakan komputer biasa. Setelah menerima ancaman, William tidak ingin mengambil risiko.“Jangan gunakan perangkat yang terhubung ke jaringan umum,” ucap William. “Kalau ada program pelacak di dalamnya, mereka bisa mengetahui lokasi kita.”Dimas mengangguk paham langsung membawa mereka ke ruang kerjanya yang berada di bagian belakang sebuah kantor lama. Ruangan itu tidak memiliki kamera pengawas, dan seluruh perangkat di dalamnya bekerja menggunakan sistem tertutup.Selama beberapa jam, Dimas memeriksa isi kartu memori tersebut. Mia terus berjalan mondar-mandir di belakangnya, sementara William berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan terlipat di depan dada.“Sudah ada hasil?” tanya William.Dimas tidak segera menjawab. Ia memperbesar salah satu folder yang baru berhasil dibuka.“Bukan hanya satu atau dua dokumen,” sahutnya. “Di dalamnya ad

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 46

    William dan Mia tidak menunggu lebih lama. Keesokan paginya, keduanya bergegas untuk pergi ke rumah ayah Mia untuk mencari bukti yang dapat menghubungkan Candra dengan kasus yang menimpa pria itu.Dugaan saat ini saja tidak cukup. Mereka membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat, sesuatu yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Sejak ayahnya terbaring di rumah sakit, rumah itu terasa berbeda bagi Mia begitu memasukinya. “Semua dokumen penting Ayah ada di ruang kerja,” kata Mia sambil membuka pintu. “Tapi aku sudah mencarinya sebelum kau datang. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.” sambungnya.William tidak langsung menjawab. Ia masuk perlahan, lalu mengamati seluruh ruangan. Pandangan matanya bergerak dari rak buku, meja kerja, lemari arsip, hingga kamera kecil yang terpasang di sudut ruangan. Ia tidak menyentuh apa pun. Hanya memperhatikan.“Kalau seseorang sengaja menjebak ayahmu,” ujar William akhirnya, “dia tidak akan meninggalkan bukti di tempat yang mudah ditemukan.” Mia menat

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 45

    Setelah sambungan terputus, William kembali menatap foto Raka. Namun, kali ini ia tidak hanya melihat seorang pria yang berdiri di samping Candra.William menyimpan semua dokumen tersebut ke dalam laptop, lalu mematikan layar. Saat ia hendak meninggalkan kafe, ponselnya bergetar sekali lagi.Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, William mulai membukanya.“Berhenti mencari tahu tentang Candra jika kau masih ingin Mia tetap hidup.”Untuk beberapa detik, William hanya menatap pesan itu tanpa berkedip. Lalu, sebuah foto dikirimkan.Foto Mia sedang berdiri di depan perusahaan ayahnya. Diambil dari jarak jauh. Wajahnya terlihat jelas.William merasakan amarah yang selama ini ia tahan mulai mendidih di dalam dada. Di bawah foto itu, terdapat satu kalimat tambahan.“Pertemuan berikutnya akan menentukan siapa yang kehilangan segalanya.”William mengangkat kepalanya dan menatap pantulan dirinya di kaca cafe. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya berubah menjadi dingin dan mematikan.

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB 9 - SEBUAH MISI?

    "Apa aku harus percaya dengan apa yang wanita ini katanya? dan ikut membantunya untuk mencaritahu lebih dalam tentang siapa Tedi Yan sebenarnya, dengan begitu dia juga bisa membantuku mencari tahu apa anak itu benar-benar bekerja sama dengan Tedi Yan yang menghancurkan perusahaanku dan membuatku ma

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB 8 KAWAN ATAU LAWAN?

    William hendak menjawab panggilan tersebut, namun sepersekian detik kemudian panggilan itu terputus. selang beberapa saat tiba-tiba ada pesan masuk, William pun langsung membuka pesan itu dan mulai membaca isi pesan itu dengan seksama. "Apa ini dengan William Argantara? ada yang in

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB 7 MENCARI SESEORANG

    "Udah ngocehnya? udah kaya emak-emak yang lagi marahin anaknya, nyerocos cepet kaya kereta cepat." William jengah dengan tingkah Hendery yang mengomeli dan menasehatinya sejak tadi seraya mengobatinya dengan telaten. "Udah diem! masih mending mau aku obatin, ngapapin aja sih sampe

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB 6 AMARAH YANG SELAMA INI DIPENDAM

    BAB 6 AMARAH YANG SELAMA INI DIPENDAMRian yang melihat William ditampar oleh Ayah kandungnya sendiri cukup puas, dia tidak perlu melakukannya dengan tangannya sendiri.Hanya dengan bicara dan memutarbalikkan fakta kepada Candra, dia tidak perlu turun langsung untuk memberikan pelajaran kepada Will

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status