LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Pengunjung5804, Kak Sendy Zen, dan Kak Alberth Abraham Parinussa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) karena jumlah koin belum mencapai target, maka ini adalah bab terakhir hari ini Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Suara tribun meledak.Xavier tidak menunggu. Begitu kata "dimulai" jatuh, jarinya bergerak membentuk segel tangan.Dari dalam tubuhnya, raungan naga bergema seperti petir yang meledak di balik dinding batu tebal, dalam dan berguncang, menembus sampai ke tulang. Aura darah naga berwarna kebiruan melingkupi seluruh tubuhnya dalam hitungan detik, memancarkan tekanan yang membuat udara di radius beberapa meter terasa seperti berdiri di dasar kolam yang dalam.'Drew Shadowmist kuat. Kondisiku tidak ideal. Tidak ada pilihan selain langsung bertarung penuh sejak awal.'Drew menatap transformasi itu dari tempatnya berdiri. Senyumnya tidak goyah."Menarik." Suaranya ringan, hampir seperti orang yang baru menemukan mainan baru. "Kau ini manusia atau binatang iblis?"Xavier mendengus. "Dan kau? Dengan senyum seperti itu... manusia atau anjing gila?"Drew terdiam satu detik.Lalu tawanya meledak, keras dan tiba-tiba, sampai beberapa penonton di baris depan tribun refleks menoleh.Kemudian tawa i
Tribun belum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi ketika suara Tetua berbadan besar memecah keheningan. "Ryan Pendragon menang!" Satu dua kepala mulai menoleh. Lalu semua. Tavin Sanctum berlutut di atas bluestone dengan kedua tangan yang bukan lagi berbentuk tangan. Yang tersisa hanyalah kabut darah pekat dan remukan tulang yang hancur dari dalam, tanpa satu luka luar pun yang bisa dijadikan alasan untuk memprotes hasil ini. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang perlu bicara. Beberapa peserta yang belum bertanding menatap ke arah Tavin dengan ekspresi yang sama, bukan simpati, lebih ke perhitungan ulang soal lawan yang baru saja mereka lihat bertarung. Ryan berbalik dan menuruni arena. Langkahnya terukur. Tidak terburu-buru, tidak pula dibuat-buat lambat. Seperti seseorang yang baru selesai melipat kain setelah pekerjaan rumah beres. Tapi begitu tubuhnya melewati batas pandang tribun, rona di wajahnya turun tipis. 'Bahkan dengan menahan diri seperti ini, meridian yang
Tribun meledak.Keheningan yang tadi masih mengambang seketika digantikan oleh gelombang bisik-bisik dan teriakan yang saling tindih. Tidak ada yang memprediksi pertandingan ini akan terjadi di babak ini."Kenapa kau memilihku?" Tavin berdiri lima langkah dari Ryan, suaranya mengandung sesuatu di antara pertanyaan dan tuntutan."Apakah aku perlu alasan untuk memilihmu?" Ryan balik bertanya, santai.Tavin menghela napas pendek. "Kau tahu siapa kami? Dua keluarga di kawasan terpencil ini punya kedudukan istimewa yang tidak dimiliki siapa pun.""Keluarga Sanctum adalah keturunan para dewa. Apakah dengan memilihku, kau tidak merasa sedang meremehkan sesuatu yang tidak kau mengerti?"Ryan melirik Tavin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cara pandangnya singkat, sekilas, tapi cukup untuk membuat pemuda itu merasakan sesuatu berdiri di tengkuknya tanpa ia tahu alasannya."Keturunan para dewa?" Ryan mengula
"Tuan Rodick, sudah berapa lama aku tidur?" Ryan bertanya sambil meregangkan lehernya pelan. "Ada kabar apa dari kompetisi?"Rodick Blazesky menggeser posisi duduknya, lalu melempar sebuah gulungan ke arah Ryan. "Hari kedua kompetisi hampir selesai." "Dua belas besar sudah ditentukan tadi siang. Lihat sendiri."Ia menunggu sejenak."Dengan kondisimu sekarang, apakah kau yakin bisa bertanding besok?"Ryan menangkap gulungan itu tanpa membukanya dulu. Bibirnya membentuk senyum tipis. "Tidak ada masalah, Tuan Rodick. Tidak perlu khawatir."Rodick tidak menjawab. Ia mengangguk sekali, berdiri, lalu meninggalkan kamar tanpa menambahkan sepatah kata pun.Ryan membuka gulungan itu.Matanya menelusuri daftar nama yang tertulis di sana, satu per satu. Dari dua belas nama yang tersisa, Keluarga Shadowmist menyisakan empat orang. Keluarga Sanctum juga empat. Trev Sanctum sudah tersi
Ryan berjalan mendekatinya. Langkah demi langkah. Tidak cepat. Tidak perlu cepat. Dan dengan setiap langkah yang ia ambil, sesuatu dalam diri Yakou Zedd semakin hancur. Bukan tulang-tulangnya, tulang-tulangnya sudah habis. Yang retak sekarang adalah sesuatu di balik itu semua, napasnya yang mulai tidak beraturan, matanya yang tidak bisa memilih satu titik untuk dipandang, bibirnya yang bergerak tanpa menghasilkan suara apa pun. Tribun terdiam. Bahkan kepala-kepala keluarga yang sudah menyaksikan ratusan pertarungan sepanjang hidup mereka tidak berkedip. Yakou mengangkat wajahnya. Matanya memandang ke atas ke arah Ryan yang kini berdiri tepat di hadapannya. Matanya merah, tidak dari amarah, tapi dari seseorang yang sudah kehabisan segalanya dan masih dipaksa sadar untuk merasakannya. Tidak ada lagi kata-kata. Tidak ada rencana. Tidak ada kalkulasi. Dengan menggunakan setiap milimeter kekuatan yang tersisa, ia mendekatkan wajahnya ke tanah. Ke arah kaki Ryan. Tribun meledak
Hanya satu pikiran yang tersisa di kepala Yakou Zedd. Mundur. Mundur sekarang. Mundur sebelum terlambat. 'Selama aku menyerah, Tetua Agung pasti akan menyelamatkanku.' 'Setelah ini, aku akan meninggalkan Sekte Moon Flower selamanya.' 'Tidak akan pernah muncul di hadapan Ryan Pendragon lagi. Tidak pernah!' Tangannya bergerak secepat kilat. Mutiara Pelindung Laut Utara memancar dari telapaknya, melingkupi seluruh tubuhnya dalam kubah biru muda yang berkilauan. Ia menarik napas dalam-dalam, membuka mulutnya. "Aku meny..." BOOM! Cahaya emas meledak tepat di depan wajahnya. Kubah biru itu berguncang keras seperti lonceng yang dipukul palu raksasa. Retak-retak halus menjalar di permukaannya selama sepersekian detik sebelum perlahan menstabilkan diri. Yakou mundur setengah langkah, jantungnya hampir berhenti. 'Hampir.' Keringat mengalir deras di punggungnya. Tangannya mengepal di dalam kubah. Tapi kubah itu sudah stabil kembali. Mutiara Pelindung Laut Utara adalah artef
Calvin Robert bangkit berdiri, matanya menatap tajam ke arah petir yang mengamuk di selatan. Bahkan dia yang begitu kuat pun merasa ngeri melihat skala bencana petir ini. "Tetua Zhu, Anda tahu betul Nexopolis," ujarnya serius. "Lihatlah peta dan tentukan di mana petir Ilahi itu berada. Kita harus
"Ryan," Waver Jorge akhirnya berkata dengan hati-hati, "mari kita akhiri masalah ini di sini. Kamu tidak mengerti beberapa hal tentang Gunung Langit Biru. Jika orang-orang penting itu mengetahui hal ini, konsekuensinya akan tak terbayangkan." "Ryan, tolong dengarkan Paman dan berhenti." Namun Ryan
Ekspresi lelaki tua dan Larry Brave berubah drastis menyaksikan rekaman tersebut. Gunung Langit Biru selalu mengurus urusan internal mereka sendiri. Biasanya hanya beberapa orang yang turun gunung, tapi kali ini ada puluhan orang sekaligus!Yang lebih mengkhawatirkan,
"Terima kasih, Senior, karena telah melindungiku selama ini," Ryan mengangguk sopan pada Shiki Seiho. Mendengar panggilan 'senior' itu, Shiki Seiho nyaris berlutut karena panik. "Tu-tuan Ry… maksud saya Tuan Arthur, senioritas tidak bisa diganggu gugat! Anda adalah Master... Jika ketua sekte menget







