LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu dan Kak Alberth Abraham Parinussa atas Hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Hadiah: 655/1000 Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
"Boleh." Tidak ada yang menduga Ryan akan menjawab semudah itu. Satu kata. Diucapkan dengan nada orang yang setuju untuk minum teh bersama, bukan menerima tantangan tiga genius sekaligus. Theo Tanner, Chase Vale, dan Hugh Vale membeku selama hampir dua detik penuh. Mereka sudah bersiap untuk segala kemungkinan. Kemarahan, penolakan, keangkuhan yang meledak, atau bahkan ketakutan yang disembunyikan di balik sikap dingin. Tapi bukan ini. Mereka tidak pernah mempersiapkan diri untuk ketenangan seperti ini. Keheranan di wajah mereka bertahan hanya sebentar. Lalu ekspresi ketiganya berubah, bola mata Hugh menyipit, sudut bibir Chase turun, dan bahu Theo sedikit naik saat tarikan napasnya melambat. 'Bocah bodoh ini benar-benar menerimanya.' Hugh Vale menyipitkan matanya yang kekuningan. 'Bahkan Serena Carr pun tidak bisa ikut campur sekarang. Sudah waktunya mengajarinya pelajaran yang tidak akan dia lupakan seumur hidup.' Theo Tanner melangkah setengah ke depan, hendak membuka
Nada pujiannya sempurna, kata-katanya terdengar kagum. Tapi tidak ada satu pun orang di sini yang tidak mendengar racun di balik setiap kalimatnya. "Kalau tidak demikian," Theo Tanner mengangkat bahunya santai, "masa Klan Harimau Darah yang sebesar itu tidak punya kandidat lain yang lebih layak?" "Masa ini satu-satunya yang bisa mereka kirimkan?" Chase Vale yang dari tadi berdiri diam di sisi kiri tidak bisa menahan diri lagi. Langkahnya maju setengah, matanya menusuk langsung ke arah Ryan. "Anak muda, kami sudah memujimu setinggi langit. Kenapa kau hanya berdiri diam dengan wajah beku seperti itu?" "Apa kata-kata kami benar-benar tidak ada artinya bagimu?" Hugh Vale menimpali dengan tawa yang setengah ditahan. "Mungkin sahabat kita memang lebih suka berbicara lewat tinju daripada lidah. Bagaimana kalau kita berlatih tanding sebentar sebelum ujian dimulai?" "Tapi aku khawatir, ini kan genius langka sepuluh ribu tahun sekali. Bisakah aku minta dia pakai satu tangan saja agar
Sebelum Ryan sempat berkata apa pun, suara Divine God Beast Tamer sudah bergema lebih dulu di dalam benaknya. "Pemuda berambut keperakan itu membawa sebagian Garis Darah Serigala Roh Kuno dalam tubuhnya." "Di antara binatang iblis, serigala memang bukan yang terkuat secara individu. Tapi kawanan serigala tunduk pada perintah raja mereka dengan loyalitas yang bahkan binatang iblis lain tidak mampu menandingi." Suara itu berhenti sejenak. "Dan satu hal lagi yang perlu kau ingat. Permusuhan antara Klan Serigala dan Klan Harimau Darah sudah mengakar sejak zaman kuno. Jangan anggap remeh." Ryan menyerap semua itu sambil menatap ke depan, tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun. Matanya bergeser tenang ke dua sosok lain di belakang wanita berjubah abu-abu itu. Yang pertama seorang pria dengan aura yang tampak biasa. Justru di situlah masalahnya. Tekanannya sengaja ditekan jauh ke dalam, disembunyikan di balik lapisan tipis yang menyerupai kultivator Dao Integration puncak biasa.
"Tepat. Dan ini jauh lebih berbahaya dari pertarungan biasa." Serena berbicara dengan nada yang sama lambannya, tapi matanya tidak sedang bercanda. "Dalam ujian yang pernah diselenggarakan sebelumnya, banyak genius yang tewas di bawah tekanan itu." "Mereka yang mati, esensi darahnya diserap oleh patung untuk memperkuat diri." "Klan Harimau Darah tidak punya genius yang cukup kuat di generasi ini. Tidak ada gunanya mengirim mereka mati sia-sia."Ryan mengerutkan kening perlahan.Pikirannya bergerak ke satu ingatan. Setetes esensi darah, satu kali saja, sudah cukup membuat kemampuan yang bersandar pada Teknik Reinkarnasi Dewa Iblis-nya melonjak drastis. Dan itu hanya setetes dari satu sumber.Patung itu menyimpan ratusan jiwa sejati dari esensi darah binatang iblis kuno sekaligus. Bukan satu, bukan dua. Ratusan.Kalau sampai salah langkah di dalam sana, yang tersisa dari dirinya hanya esens
Ryan menatap langsung ke mata emas Serena Carr dan mengangguk pelan, tanpa kata berlebih.Serena tersenyum tipis. "Bagus. Ujian dimulai tiga hari lagi. Kau bisa tinggal di paviliun ini selama itu. Aku ada urusan yang harus diselesaikan."Tanpa menunggu Ryan merespons, cahaya emas meledak dari tubuhnya dan dia lenyap seketika.Ryan berdiri sendiri di lantai dua paviliun.Keheningan menutup seluruh ruangan. Matanya singgah sebentar di ranjang giok yang sudah tidak ada penghuninya, lalu dia menarik napas pendek dan kembali duduk bersila di lantai.Masih tiga hari.**Tiga hari kemudian, Ryan membuka matanya dari sesi kultivasi yang cukup panjang.Napas panjang keluar dari mulutnya, membawa kabut tipis energi yang terkompresi.Ternyata enam jam bertahan di bawah tekanan spiritual Serena Carr yang sekelas Ranah Star Seed tidak berlalu begitu saja tanpa bekas. Selama tiga hari, dia berulan
Wajah tidur Serena hampir menyentuh pipinya. Hembusan napasnya yang hangat dan sedikit manis menyentuh sisi hidung Ryan, teratur, tidak tergesa. Tubuhnya yang hangat menempel tanpa celah, berat dan nyata seperti sesuatu yang tidak bisa ia abaikan dengan hanya memejamkan mata. Ryan menelan ludah. Detak jantungnya tidak sepenuhnya mau patuh. Sebelum pikirannya mulai berjalan ke arah yang tidak semestinya, dia langsung beralih ke dalam. 'Divine God Beast Tamer, bantu aku keluar dari ini.' Suara tua itu muncul di benaknya, terdengar santai luar biasa. "Kau ini laki-laki dewasa. Tidur bersama perempuan cantik, dan bukan hal yang penting pun yang akan hilang darimu. Kenapa harus aku yang turun tangan?" Ryan tidak punya balasan untuk itu. Enam jam berikutnya adalah enam jam terpanjang dalam hidupnya. ** Serena Carr membuka matanya perlahan. Dia duduk di ranjang, menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan puas, seperti kucing yang baru bangun dari tidur siang yang sempurna.
Mata Ryan tertuju pada sinar cahaya misterius yang perlahan-lahan mulai memudar, mengungkapkan sosok di baliknya dengan jelas. Cahaya keperakan yang tadinya menyilaukan kini meredup, dan dari kedalaman ruang dimensi tersebut, seorang wanita paruh baya melangkah keluar dengan anggun. Wanita itu me
Inez Kenz yang tadinya bersikap arogan tiba-tiba merasakan perubahan mencengangkan di sekelilingnya. Udara seolah menjadi berat dan mencekam, tekanan spiritual yang dahsyat menekan tubuhnya dari segala arah. Instingnya sebagai pembunuh berpengalaman langsung membunyikan alarm bahaya di dalam kepal
Eliot Lane menghela napas panjang. "Kita memang tidak cukup kuat untuk menyelamatkannya dengan cara konvensional. Itu adalah fakta pahit yang harus kita terima."Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, "Namun, ketika aku keluar dari Nisan Pedangku beberapa waktu lalu
Ryan menemukan sebuah kedai teh yang ramai di sudut kota, dan masuk sambil menyamarkan auranya. Dia memesan secangkir teh dan duduk di pojok sambil bersiap mengumpulkan informasi.Di dunia kultivasi seperti ini, tanpa teknologi modern, kedai teh adalah tempat berkumpulnya banyak kultivator dari be







