เข้าสู่ระบบTerima Kasih Kak KibutsukiM36316 dan Kak Mobile atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) siang ini othor ada acara, jadi othor akan jalankan bab terjadwal otomatis, dan baru rilis bab manual di sore hari. Selamat Membaca (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 1/6 Bab Antrian: 51
Ketiga pria itu menatap Ryan Pendragon dengan tajam.Di mata mereka, dengan kultivasi serendah itu, Ryan pasti akan pergi dengan patuh begitu ditekan aura tiga Kultivator Ranah Star Seed tahap akhir. Kalau nyalinya lebih kecil, mungkin ia bahkan akan kabur ketakutan tanpa berani menoleh.Namun di luar dugaan mereka, Ryan justru berdiri dengan tenang.Tidak ada setitik pun kepanikan di wajahnya. Tatapannya datar, napasnya stabil, dan tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tertekan.“Tadi kau bilang aku tidak punya kelayakan?” Ryan menatap Dunn dengan sorot dingin.Dunn dan dua temannya memang selalu tinggi hati. Mereka jarang bergaul dengan murid Akademi Heavenly Flame yang lebih lemah dari mereka, apalagi memperhatikan kabar kecil dari kalangan murid tahun pertama.Karena itu, mereka bertiga sama sekali tidak tahu apa saja yang sudah Ryan lakukan beberapa hari terakhir.Mendengar pertanyaan tersebut, ketiganya justru tertawa.Bagaimana mungkin mereka tidak tertawa?Seor
“Saya yakin bisa.”Ryan Pendragon menjawab dengan tenang, lalu melangkah menuju arah inti urat spiritual.“Adik Seperguruan, tunggu sebentar.”Sebuah suara perempuan terdengar dari belakang.Ryan berbalik. Matanya sedikit menyipit ketika melihat seorang wanita muda berdiri tidak jauh darinya. Perawakannya ramping, gerak tubuhnya anggun, dan gaun istana berwarna ungu muda yang dikenakannya membuatnya tampak lembut.Wanita ini memang cantik, tetapi belum sampai membuat Ryan terpaku. Bagaimanapun, setelah terbiasa berada di dekat Shirly Jirk, Rindy Snowfield, dan Jessica Neuro, kecantikan biasa tidak lagi cukup untuk menahan pandangannya terlalu lama.Meski begitu, Ryan mengakui satu hal.Senyum wanita ini tidak dibuat-buat. Sikapnya juga tidak membawa tuntutan apa pun. Di tempat seperti Akademi Heavenly Flame, ketulusan semacam itu justru lebih jarang ditemui daripada wajah cantik.Yang benar-benar membuat Ryan terkejut adalah tingkat kultivasinya.Di angkatan mana pun, kultivasi se
Pada saat itu, Ryan sudah tiba di depan pintu masuk Sumber Urat Spiritual.Ia sempat tertegun melihat banyaknya murid yang berkerumun di sana. Sebagian duduk bersila di atas batu sambil memejamkan mata, seolah sedang menenangkan napas. Sebagian lagi berdiri bersandar di dinding tebing, sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan wajah tidak sabar.Semuanya menunggu.Poin kontribusi yang dibutuhkan untuk memasuki Sumber Urat Spiritual dan berkultivasi di dalamnya bisa disebut tidak masuk akal. Meski begitu, masih sebanyak ini murid yang rela datang dan menunggu giliran.Dari sini saja, Ryan sudah bisa membayangkan sepekat apa energi spiritual di dalamnya.Ia menarik napas pelan.Bahkan di luar pintu masuk, udara yang masuk ke paru-parunya terasa jauh lebih padat daripada energi spiritual di asramanya. Setiap tarikan napas seperti membawa butiran energi halus yang langsung meresap ke dalam tubuh.Ryan tidak membuang waktu.Ia melangkah menuju pintu masuk.Di depan pintu itu duduk se
Benua Valorisia teramat luas.Di negeri seluas itu, kekuatan kelas puncak bukan hanya lambang kekuatan. Mereka juga melambangkan fondasi dalam yang diwariskan turun-temurun, dengan sumber daya, teknik, dan warisan yang tidak bisa dibandingkan dengan sekte biasa. Satu keputusan dari kekuatan seperti itu bisa mengubah arah banyak kerajaan, bahkan membuat sekte kelas satu menundukkan kepala.Corwin Samian adalah genius terbaik yang dilahirkan Sekte Primordial Sword dalam ribuan tahun terakhir. Lebih dari itu, sekte tersebut sudah memilihnya sebagai calon ketua sekte berikutnya.Corwin menggeleng pelan.“Sekalipun kau tidak datang, kultivasiku hari ini memang sudah hampir selesai. Perayaan hari kelahiran keluarga kerajaan Kerajaan Nine Nether sudah dekat. Aku harus mempersiapkan diri.”“Kakak Seperguruan Samian,” Hollis Lie mengerutkan kening, “justru perkara itulah yang membuatku mencarimu. Kali ini, sepertinya
Setelah Ryan keluar dari Paviliun Moonveil, suara Quillon Wynn mendadak terdengar di dalam benaknya. “Perempuan itu punya fisik yang istimewa. Dia terlahir dengan Tubuh Iblis Bawaan. Luar biasa.” “Tubuh Iblis Bawaan?” Ryan tertegun. Bukankah tubuh seperti itu seharusnya ditempa melalui proses yang sangat panjang? Banyak kultivator iblis menghabiskan hidup untuk mengejarnya, bahkan rela menghancurkan tubuh lama demi membangun fondasi baru. Namun Selene Chase justru sudah memilikinya sejak lahir. Quillon seolah mengangguk di dalam benaknya. “Aku pun sedikit terkejut. Perempuan ini pasti punya kedudukan yang tidak biasa di Wilayah Iblis.” Nada suaranya berubah lebih dalam. “Lahir di Wilayah Iblis, tetapi mampu mendirikan Paviliun Moonveil di dalam Akademi Heavenly Flame. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa, apalagi kekuatan biasa.” Ryan teringat sesuatu, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu. “Mungkinkah Selene Chase ini putri Demon Emperor yang terperangkap itu?
Di dalam Paviliun Moonveil, udara terasa berat sampai menekan dada. Selene Chase menggenggam pedangnya erat. Bilah dingin itu menempel di leher Ryan Pendragon, siap menebas kapan saja. Namun Ryan hanya menatap pedang itu tanpa sedikit pun panik. ‘Justru bagus,’ pikirnya. ‘Kalau dia tidak mencabut pedang, aku tidak akan pernah bisa memastikan hubungannya dengan Demon Emperor.’ Sekarang semuanya menjadi lebih jelas. Sekalipun Selene bukan orang yang dimaksud Demon Emperor, ia tetap seseorang yang sangat peduli pada keberadaan sosok itu. Selene menatap Ryan yang tidak bergeming, lalu mengerutkan kening. “Kau tidak takut aku benar-benar membunuhmu?” Niat membunuhnya semakin pekat. “Sekalipun kau murid Akademi Heavenly Flame, akademi tidak akan berbuat apa-apa kepadaku kalau aku membunuhmu.” “Sejujurnya, Akademi Heavenly Flame bahkan tidak akan berani menyelidiki terlalu jauh.” Ryan mengepalkan tangan, dan secangkir teh muncul di telapaknya. Ia menyesapnya pelan, seolah pedang







