LOGINSiang Semua ( ╹▽╹ ) maaf othor terlambat rilis. Tadi ada orang KPR survey ke kantor, jadi belum sempat atur bab terjadwal. selamat membaca (◠‿・)—☆
Ryan berjalan mendekatinya. Langkah demi langkah. Tidak cepat. Tidak perlu cepat. Dan dengan setiap langkah yang ia ambil, sesuatu dalam diri Yakou Zedd semakin hancur. Bukan tulang-tulangnya, tulang-tulangnya sudah habis. Yang retak sekarang adalah sesuatu di balik itu semua, napasnya yang mulai tidak beraturan, matanya yang tidak bisa memilih satu titik untuk dipandang, bibirnya yang bergerak tanpa menghasilkan suara apa pun. Tribun terdiam. Bahkan kepala-kepala keluarga yang sudah menyaksikan ratusan pertarungan sepanjang hidup mereka tidak berkedip. Yakou mengangkat wajahnya. Matanya memandang ke atas ke arah Ryan yang kini berdiri tepat di hadapannya. Matanya merah, tidak dari amarah, tapi dari seseorang yang sudah kehabisan segalanya dan masih dipaksa sadar untuk merasakannya. Tidak ada lagi kata-kata. Tidak ada rencana. Tidak ada kalkulasi. Dengan menggunakan setiap milimeter kekuatan yang tersisa, ia mendekatkan wajahnya ke tanah. Ke arah kaki Ryan. Tribun meledak
Hanya satu pikiran yang tersisa di kepala Yakou Zedd. Mundur. Mundur sekarang. Mundur sebelum terlambat. 'Selama aku menyerah, Tetua Agung pasti akan menyelamatkanku.' 'Setelah ini, aku akan meninggalkan Sekte Moon Flower selamanya.' 'Tidak akan pernah muncul di hadapan Ryan Pendragon lagi. Tidak pernah!' Tangannya bergerak secepat kilat. Mutiara Pelindung Laut Utara memancar dari telapaknya, melingkupi seluruh tubuhnya dalam kubah biru muda yang berkilauan. Ia menarik napas dalam-dalam, membuka mulutnya. "Aku meny..." BOOM! Cahaya emas meledak tepat di depan wajahnya. Kubah biru itu berguncang keras seperti lonceng yang dipukul palu raksasa. Retak-retak halus menjalar di permukaannya selama sepersekian detik sebelum perlahan menstabilkan diri. Yakou mundur setengah langkah, jantungnya hampir berhenti. 'Hampir.' Keringat mengalir deras di punggungnya. Tangannya mengepal di dalam kubah. Tapi kubah itu sudah stabil kembali. Mutiara Pelindung Laut Utara adalah artef
Ryan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan."Aku akan masuk ke dahimu dulu. Perlu istirahat."Sebelum Ryan sempat berkata apa pun, pria itu berubah menjadi sinar iblis yang meluncur dan masuk ke celah di antara kedua alisnya.Hening.Ryan berdiri sendirian di antara reruntuhan yang perlahan-lahan mulai ambruk dari dalam. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan bara. Tulang-tulangnya berderak pelan saat ia menunduk dengan susah payah dan meraih kepala yang tergeletak di tanah.Kepala klon itu berat di tangannya.Tapi ia mengangkatnya.Ruang itu mulai runtuh sepenuhnya. Energi iblis yang tersisa menggulung dari segala penjuru, melingkupi tubuh Ryan yang penuh luka bak ombak yang menelan satu-satunya batu yang masih berdiri di tengah lautan.**Di arena, Yakou Zedd berdiri dengan senyum yang terus melebar.Senyum itu mengisi wajahnya hingga ke sudut-sudut yang biasan
'Anak itu pasti sudah mati.'Klon itu terbaring di antara reruntuhan yang gosong.Setiap serat dalam kerangkanya berteriak kesakitan, tapi pikirannya justru mencari satu-satunya kenyamanan yang tersisa. 'Backlash dari serangan tadi jauh lebih besar dari apa yang aku sendiri terima.' 'Ditambah pantulan dari tekniknya sebelumnya, tidak ada kultivator Primordial Chaos yang bisa menanggung itu semua.''Tidak mungkin ada.''Tidak mungkin.'Tap!Klon itu membeku.Telinganya menangkap sesuatu di antara kesunyian. Hanya satu ketukan, samar, hampir tenggelam dalam suara reruntuhan yang sesekali masih ambruk di sekitarnya.Ia mengabaikannya. 'Mungkin batu yang jatuh.' Pendengarannya mungkin mulai berhalusinasi karena lukanya terlalu parah.Tap! Tap!Kali ini lebih dekat.Perasaan buruk merayap di dalam dadanya pelan-pelan, seperti racun yang bekerja tanpa
Klon itu membeku. Bukan karena taktik. Bukan karena kalkulasi. Seluruh energi iblisnya, seluruh insting bertahan hidup yang telah ia asah selama ribuan tahun, semuanya berhenti sekaligus dalam satu detik yang sama. Tangannya yang sedang membentuk segel bergetar tanpa bisa ia hentikan. Kakinya melangkah mundur satu langkah, dua langkah, tanpa perintah dari otaknya. Sepasang mata itu. Dia mengenalnya. Bukan dari pengalaman pribadi. Dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu. Ingatan kolektif bangsa iblis yang diwariskan turun-temurun sejak zaman kuno, tertanam di lapisan terdalam inti keberadaannya, sesuatu yang tidak bisa dilupakan bahkan oleh makhluk yang sudah hidup ribuan tahun. "ITU... ITU DIA!" Suaranya putus di tengah kalimat, keluar setengah sebagai teriakan dan setengah sebagai bisikan yang tidak punya bentuk yang jelas. "Yang menekan Niflheim di zaman kuno!" "Tidak! Tidak mungkin!" "Bagaimana bisa makhluk itu ada di sampingmu?! Bukankah dia sudah musnah?!"
Cahaya emas itu muncul pertama kali hanya sebersit kecil di antara gulungan energi iblis yang pekat. Seperti nyala lilin di tengah badai. Lalu ia berlipat ganda. Tunas-tunas cahaya emas menerobos dari dalam lautan gelap tanpa henti, satu demi satu, puluhan demi puluhan, sampai tidak ada lagi sudut di dalam ruang itu yang terbebas dari kilauannya. Energi Gao yang murni dan padat meledak keluar sekaligus, membakar setiap lapisan energi iblis yang mengepung dari semua sisi. Lautan gelap itu kewalahan. Lalu runtuh. BOOOM! Klon itu tidak sempat bereaksi. Pada jarak sedekat itu, Energi Gao yang berpijar menghantam langsung ke arahnya tanpa hambatan. Cahaya emas itu tidak sekadar membakar permukaan. Ia menembus kulit, menjebol setiap lapisan pertahanan iblis yang tersisa, dan menyayat kedua mata merah darahnya dari dalam hingga kepulan asap kehijauan menguar dari rongga matanya. Klon itu menjerit. Bukan karena terluka biasa. Tapi karena rasa sakitnya menembus batas yang ia sen
"Ryan! Beraninya kau membunuh muridku yang sangat berbakat dengan kejam!" raung Tetua Agung Sekte Blood Heaven dengan amarah yang meluap-luap hingga wajahnya memerah. Urat-urat di pelipisnya menonjol seperti akan meledak. "Kau benar-benar berpikir aku tidak berani membunuhmu di sini?!" lanjutnya
Sementara itu di samping medan pertempuran yang brutal, tubuh Ryan mulai memancarkan cahaya keemasan yang semakin menyilaukan. Dia baru saja menggunakan tekanan dan pukulan-pukulan yang diterimanya sebelumnya untuk menempa dan memurnikan tubuh fisiknya dengan metode ekstrem.Melalui penderitaan ya
Dalam sekejap, sang tetua melompat maju dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Tangannya meraih leher Ryan dan mengangkat tubuh pemuda itu ke udara dengan mudah, seolah mengangkat boneka jerami. Tatapannya dingin dan penuh penghinaan."Jenius?" sang tetua mencibir. "Konyol sekali. Kau bahkan t
"Orang gila terkutuk ini!" James Liam tak ragu lagi setelah melihat kemampuan menyerap kekuatan hidup yang dimiliki Ryan. Amarah membakar di matanya saat ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan melancarkan tebasan dahsyat yang mengandung seluruh kekuatan kultivasi Ranah Demigod tingkat sembilan







