LOGIN"Apa? Kamu udah pernah menikah?" Perkataan bernada sedikit tinggi itu lolos begitu saja dari mulut Bu Yohana. Mata wanita separuh baya itu melotot, menunjukkan ekspresi kaget alami setelah mendengar pengakuan Rain yang katanya sudah pernah menikah. Rain yang duduk di sofa bersama Satria itu pun menganggukkan kepalanya. Sedangkan ekspresi wajahnya terlihat tegang dan amat serius. "Iya, Bu. Saya janda," aku Rain. "Selama ini saya dianggap sebagai perempuan mandul sama mantan suami dan mertua saya. Dan— Satria yang udah bantu saya lepas dari semua ini!" lanjutnya dengan suara agak pelan, tetapi terdengar tegas dan serius. Bu Yohana menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia menatap Rain dengan tatapan yang sulit diartikan.Takut ibunya berbicara kasar dan buruk pada Rain, Satria pun menggenggam erat jemari kekasihnya itu."Bu, ak—" "Berapa usia kamu?" tanya Bu Yohana pada Rain, memotong cepat perkataan yang hendak dilontarkan oleh Satria. Satria terdiam, sedangkan sepas
"Sat, dia hamil?" Degh! Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Bu Yohana, tubuh Satria membeku. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, sedangkan wajahnya yang babak belur terlihat tegang. Cemas pada keadaan Rain yang mengalami mual, pemuda gigolo privat itu sampai tidak sadar jika sejak tadi ibunya berada di sana dan memperhatikannya. "Gawat... aku harus bilang apa ke Ibu sekarang," batin Satria menjerit panik. Pemuda itu memandang wajah Rain yang tak kalah tegang. Ia menyadari jika saat ini Rain tak kalah panik dan bingung darinya. "Sat, jawab Ibu. Pacar kamu hamil?!" Bu Yohana kembali melayangkan pertanyaan, bahkan kali ini suaranya jauh lebih keras dan tegas dari sebelumnya..Gluk! Satria meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan bersusah payah. Rasanya pahit, dan sulit di telan. Tak memiliki pilihan, terpaksa pemuda itu mengangguk, mengakui jika Rain memang sedang mengangguk. "Iya, Bu. Rain hamil." Mendengar jawaban putranya, Bu Yohana menghela napas panjang.
"Huek, huek...." Mencium aroma parfum murah dari tubuh Atika, perut Rain seketika bergejolak dan mual. Spontan, wanita hamil itu menutup mulutnya. "Astaga, Sayang. Kamu mual?!" Refleks, Satria yang duduk bersandar di atas ranjang, melompat turun dan merengkuh tubuh Rain, tepat di hadapan ibu, ketiga adiknya dan juga Tono. "Tika, tolong ambilin minyak angin di dalam tas itu!" tunjuk Satria pada tas Rain yang berada di atas meja. Tanpa kata, Atika mengangguk dan bergerak cepat, mengambil tas Rain dan mengeluarkan sebotol minyak telon dari sana. Lalu memberikannya pada Satria. Rain yang tak tahan menahan gejolak di perutnya, mendorong dada Satria dan berlari menuju toilet yang ada di ruangan VIP tersebut. "Sayang...." panggil Satria sambil menyusul langkah Rain yang memasuki toilet. Di dalam toilet itu, Satria yang tubuhnya babak belur, membantu Rain mengusap tengkuk dan punggungnya untuk mengurangi rasa mual yang tiba-tiba melanda. Sedangkan di luar, Bu Yohana terlihat merenung
"Astaga, Satria... kenapa keadaan kamu bisa kayak gini? Siapa yang udah mukulin kamu?" Bu Yohana yang kursi rodanya di dorong oleh Atika, berbicara dengan suaranya yang agak keras. Ekspresi cemasnya terlihat begitu jelek dan lucu. Mendengar suara bernada cemas milik ibunya, Satria meringis sambil menepuk jidatnya. Benar kan, ibunya benar-benar datang. "Kenapa bisa kayak gini? Bilang sama Ibu, apa yang udah kamu lakuin di luaran sana? Kamu bikin masalah?" kata Bu Yohana yang kini sudah dekat dengan ranjang pasien putranya. Rain yang duduk di kursi samping ranjang, segera beranjak dan meletakkan piring berisi sarapan untuk Satria ke atas nakas. Ia melipir, membiarkan wanita separuh baya itu mendekati putranya. Ditanya oleh ibunya, Satria memaksakan senyumannya. "Aku gak apa-apa kok, Bu. Cuman memar dikit doang, jadi Ibu gak usah khawatir dan panik!" katanya dengan suaranya yang soft dan menenangkan. Bu Yohana menghela napas pelan. Tangannya terulur, menyentuh dan mengusap lembut p
"Kalau dibandingin antara kamu dan Rain, jauh jelas lebih baik Rain kemana-mana dong, Wi!" Mendengar perkataan Andrean, wajah Dewi seketika berubah memerah. Tak suka mendengar perkataan pria itu yang mengatakan jika Rain jauh lebih baik darinya. Wanita bertubuh seksi dan payudara besar brutal itu mendengus keras, menunjukkan ekspresi tak senangnya. Menyadari perubahan ekspresi wajah Dewi, pun menghela napas pelan. Batinnya, gawat jika wanita binal itu tak mau melayaninya lagi. Tak ingin kehilangan mainan barunya, Andrean pun segera mengeratkan pelukannya pada tubuh sintal Dewi. "Aku baru kenal sama kamu sehari loh, belum lama. Makanya aku bilang Rain jauh lebih baik, karena dia pernah ngelayanin aku dalam waktu yang gak singkat. Tapi— kalau urusan ranjang, kamu jauh lebih hebat dari dia yang kaku dan dan gak asik!" Kali ini, Dewi yang sempat kesal langsung mengulum senyum. Ia menoleh dan menatap Andrean yang sedang merayunya. "Beneran aku lebih hebat dari dia di atas ranjang?"
Di sisi lain, Andrean yang dicurigai sebagai dalang penganiayaan terhadap Satria, masih berada di apartemen Dewi. Sejak tadi, pria itu bergumul di atas ranjang bersama Dewi yang memiliki tubuh seksi dan payudara brutal. Di atas tubuh Andrean yang telanjang bulat, Dewi bergerak maju mundur memompa dengan gerakan yang cepat dan liar, hingga membuat batangan tegang pria itu keluar masuk dari lubang apem tembemnya. Plok, plok! Apem tembem Andrean dan Dewi terus beradu, menimbulkan bunyi gesekkan yang amat keras, memenuhi seantero kamar tersebut. Tubuh pasangan ilegal yang baru saling mengenal itu dibanjiri oleh keringat. Hawa dingin AC ruangan tersebut sama sekali tidak berfungsi bagi mereka. "Ahh, ternyata kamu jago banget di atas ranjang, Wi. Baru kali ini aku ngerasain seks yang bener-bener enak," kata Andrean. Bibirnya meracau, sedangkan tangannya meremas bokong Dewi yang sedikit menukik ke atas. Mendapatkan pujian dari Andrean, Dewi yang memang begitu haus validasi itu terseny







