LOGINPenyidikan kasus kematian Pak Hendra yang menjadi korban penganiayaan di penjara masih terus berlanjut.Seminggu lebih berlangsung, akhirnya polisi berhasil mengamankan beberapa orang pelaku yang menjadi pelaku penganiayaan dan juga penyebab kematian pria paruh baya tersebut.Dan setelah diinterogasi, salah satu tahanan itu mengaku jika ia dan teman-temannya diperintah oleh seseorang.Brak!"Jangan bohong. Katakan semuanya dengan jujur jika tidak ingin hukuman kalian diperberat!"Gebrakan meja yang diiringi bentakan petugas polisi itu seketika membuat tahanan yang sedang diinterogasi tersebut terperanjat kaget."Sumpah, Pak. Saya gak bohong! Laki-laki yang membayar kami adalah orang yang waktu itu datang membesuk Hendra. Dia menjanjikan banyak uang dan akan menjamin kehidupan keluarga kami di luaran sana kalau kami bersedia menghabisi Hendra!""Betul, Pak. Kalau Bapak gak percaya, kami punya buktinya!"---"Emphhh... pelan-pelan, Om. Ouch...."Nabila yang saat ini berada di bawah kung
"Om mau ngapain? Kenapa tangannya dimasuki ke punyaku?!" Merasa geli dibagian paha dan apem tembemnya, Nabila yang sedang tidur siang itu pun membuka matanya. Alangkah terkejutnya gadis itu saat melihat Tuan Seno berada di bawah selangkangannya. Pria paruh baya yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu sedang mengendus-endus area sensitifnya. Bahkan, jarinya sudah masuk ke dalam hotpants nya dan menyentuh bibir apem tembemnya. Spontan, gadis itu menjerit lantaran kaget setengah mati. Namun, dengan cepat Tuan Seno menindih tubuhnya dan membekap mulutnya. "Hust... jangan teriak Nabila, nanti ada yang denger," kata Tuan Seno dengan suara tertahan dan deru napas memburu. Nabila yang semula terkejut, menganggukkan kepalanya. Sedangkan sepasang matanya menatap wajah Tuan Seno tanpa berkedip. "Jangan teriak, oke?" lanjut Tuan Seno dan kembali diangguki kepala oleh Nabila. Setelah memastikan Nabila tidak berteriak dan memberontak, barulah Tuan Seno melepaskan bekapan tangannya dari
Seminggu kemudian....Satria yang saat ini duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Arya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, sedangkan ekspresi wajahnya terlihat begitu jelek.Bagaimana tidak?Bibir pemuda itu cemberut dan wajahnya ditekuk.Sedangkan di kursi kebesarannya, Tuan Arya duduk dengan tegap. Matanya menatap serius pada putranya yang berada tepat di hadapannya.Wajah pria paruh baya itu memerah dan terlihat marah. Di atas meja kerjanya terdapat beberapa lembar foto yang didapatnya dari Ares, sang asisten terbaik sekaligus adik angkatnya."Sejak kapan, Satria Narendra?!"Pertanyaan bernada agak tinggi itu dilontarkan Tuan Arya pada Satria yang memasang ekspresi cemberut di hadapannya.Melihat kemarahan Tuan Arya, Ares yang sejak tadi berdiri di sisi kanan meja itu hanya bisa diam menyimak.Pria kaku itu memasang wajah datar yang terlihat amat serius. Padahal sebenarnya, Ares cukup kaget melihat bosnya itu marah-marah seperti itu. Karena selama ini, ia tidak pernah m
"Tunggu, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu!"Nabila yang baru berjalan beberapa langkah itu pun seketika menghentikan langkahnya. Sudut bibirnya tersungging lantaran merasa menang karena Diana benar-benar menahannya.Gadis itu pun berbalik badan. Lalu menatap ke arah Diana dan Tuan Seno dengan tatapan matanya yang sendu berair."Iya, Tante. Ada apa?" tanya Nabila. Suaranya pelan dan terdengar menyedihkan. Tampangnya saat ini benar-benar memelas. Membuat Diana menghela napas panjang melihatnya.Diana yang duduk di kursi makan, menatap sang suami sesaat. Lalu pandangannya kembali beralih pada Nabila yang berdiri di ujung meja.Wanita bertubuh agak subur itu memindai Nabila dari ujung kaki hingga kepala berulang kali. Lalu, tatapannya berhenti pada wajah gadis itu.Diperhatikan oleh Diana, Wulan meremas pinggiran dress yang dipakainya dengan erat. Sebisanya ia memasang ekspresi semenyedihkan mungkin agar wanita paruh baya itu luluh dan mau menampungnya."Ta-ta-tante, ada apa? A-a-a
"Argh... Papa, Om Anjas, Tante Tasya dan Om Ares mesum di teras rumah!"Sruk!Bleduk!Terkejut mendengar teriakan keras Satria yang berasal dari arah pintu utama, Tasya yang duduk di atas pangkuan Ares spontan melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher pria kaku tersebut.Tak ayal lagi, Tasya yang hilang keseimbangan berakhir jatuh terhempas di lantai yang dingin."Aw... sakitnya bokongku!" Tasya yang terduduk di lantai merintih sambil menyentuh bokongnya yang terasa sakit.Ares yang tak kalah gugup dan panik beranjak dari duduknya dengan gerakan yang cepat. Lalu merapikan celananya yang agak kusut karena perbuatan Tasya sebelumnya.Wajah pria kaku itu berubah pucat. Bingung harus melakukan apa saat ini. Terlebih lagi saat dirinya mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke teras rumah itu."Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Semuanya jadi kacau gara-gara perempuan aneh ini," batin Ares menggerutu sebal, sedangkan matanya menatap Tasya yang masih terduduk
"Astaga, apa yang kamu lakukan? Jangan pegang-pegang pisang saya!"Sepasang mata Ares seketika melotot lebar saat tangan Tasya yang berada dalam saku celananya meremas batangannya yang agak tegang.Pria itu terkejut bukan main. Bahkan tubuhnya spontan menegang dan wajahnya berubah merah seperti tomat matang yang hampir busuk.Seumur hidupnya, belum pernah ada wanita yang bertindak seberani itu kepadanya. Ares yang dikenal dingin dan kaku benar-benar kehilangan cara untuk bereaksi. Otaknya seolah mendadak kosong."Balikin HP-ku!" kata Tasya, masih dengan tangan yang meraba-raba dan menyentuh aset pribadi milik Ares.Semakin melotot mata Ares dibuatnya. Bahkan kini tubuhnya tegang maksimal.Bagaimana tidak? Tasya yang notabene bukan gadis polos sama sekali tidak terlihat gugup. Ia menekan dan meremas batang kemaluan Ares yang agak tegang dan keras.Tindakan yang saat ini dilakukan Tasya membuat Ares semakin salah tingkah dan gugup."Astaga, jauhkan tangan kamu, Tasya! Jangan remas batan
"Yuk, Sayang. Aku udah selesai!" Melati yang kembali dari toilet, menghampiri Andrean dan menggandeng tangannya. Tak sadar, jika Andrean sedang bertengkar dengan Satria dan Rain. Di gandeng tangannya oleh Melati, Andrean yang merasa malu, segera menarik dan menepisnya.Wajahnya yang memerah, kini
"Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!" Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak
"Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip. Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan. "Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu
"Astaga, kamu...." "Saya di sini, Nyonya!" Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut. "Maaf, s







