LOGINDi paviliun Bintang, Pangeran Arlon dan Elena sudah berada berbaring di atas ranjang yang sama, tapi sudah lebih dari lima belas menit, tidak ada percakapan diantara mereka berdua.
"Elena," panggil Pangeran Arlon pelan. "Apa lagi?" tanya Elena, melirik Pangeran Arlon dengan ekor matanya. "Besok, saat kamu bertemu Selena, jangan pernah takut, karena jika dia berani menyentuhmu, aku sendiri yang akan meratakan istana ini malam itu juga, meski aku harus terbunuh sekalipun, setidak nya penawar ku, aman," ucap Pangeran Arlon, melirik Elena sekilas. "Terimakasih untuk malam ini Elena, dan terimakasih sudah sudi masuk ke dunia ku..." lanjut Pangeran Arlon, lirih. Elena hanya diam, namun ada sedikit rasa hangat yang tidak biasa menjalar di dadanya mendengar ucapan posesif suaminya itu. "Simpan bicaramu untuk besok, Pangeran. Sekarang, tidurlah, aku tidak mau jadi janda secepat itu," ucap Elena, memunggungi Pangeran Arlon. Pangeran Arlon tersenyum kecil, sambil menatap langit-langit kamarnya nya, dia juga tidak protes, walaupun Elena melepaskan genggaman tangan mereka. "Ibunda, sekarang aku sudah menikah dan memiliki istri, dia perempuan yang baik, sama seperti mu, ya walapun cukup galak," batin Pangeran Arlon, tersenyum dengan bibir pucat nya. "Uhuk...uhuk..." Pangeran Arlon terbatuk-batuk, dan mencoba bangkit, duduk bersandar di kepala ranjang nya, baginya rasa sakit di dada nya, sudah terbiasa. Sementara Elena, dia sebenarnya belum tidur, Elena mendengar suara batuk Pangeran Arlon, tapi dia berusaha mempertahankan pendirian nya, dirinya tidak boleh lemah dan tidak boleh kasihan. "Uhuk...uhuk...uhuk..." Batuk Arlon terdengar semakin parah, Elena masih berusaha untuk memejamkan mata erat-erat, sementara tangan nya mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya. "Sial, dia benar-benar berisik," gumam Elena pelan, meskipun sebenarnya hatinya mulai tidak tenang dan khawatir. Uhuk! Uhuk! Elena menyerah, dia mendengus kesal lalu membalikkan tubuhnya dengan kasar. Hal pertama yang Elena lihat, dia melihat Pangeran Arlon yang sedang duduk bersandar, telapak tangannya menutupi mulut, dan di sela-sela jarinya, Elena bisa melihat noda merah yang merembes. "Bisa diam tidak? Aku sedang mencoba tidur," ucap Elena ketus, sambil bangkit duduk di samping Arlon. Pangeran Arlon menoleh, matanya terlihat sayu dan bibirnya semakin memucat, tapi dia masih mencoba tersenyum. "Maaf... uhuk... sepertinya paru-paruku tidak setuju dengan rencanamu untuk tidur tenang," ucap Pangeran Arlon, dengan suara parau. Tanpa banyak bicara, Elena meraih tangan Arlon, menggenggam jemari pria itu dengan erat. Seketika, getaran hangat itu kembali mengalir, dan batuk Arlon perlahan mereda. Napas pria itu yang tadinya tersengal, kini mulai teratur kembali. "Sudah kubilang, jangan dilepas," bisik Arlon pelan, kepalanya perlahan terkulai lemas ke bahu Elena. Elena membeku, tubuhnya menegang saat merasakan berat kepala Pangeran Arlon di bahunya, ini adalah pertama kalinya ia bersentuhan sedekat ini dengan pria tanpa ada niat untuk mematahkan lehernya. Elena ingin menolak, tapi hatinya berkata lain. "Hei, Pangeran! Jangan ambil kesempatan ya. Aku memegang tanganmu agar kamu tidak mati dan membuatku repot, bukan agar kamu bisa menjadikanku bantal," protes Elena, meskipun ia tidak mendorong Arlon menjauh. Pangeran Arlon terkekeh lemah, matanya terpejam menikmati kehangatan yang mengalir dari tubuh Elena. "Sebentar saja, Elena, hanya sampai rasa perih di dadaku hilang. Kamu tahu, bau tubuhmu lebih menenangkan daripada semua obat pahit yang para tabib berikan pada ku..." bisik Arlon, pelan. Elena memutar bola matanya, meski pipinya terasa sedikit panas. "Bau tubuhku? Itu bau darah dari mayat-mayat tadi," ucap Elena, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Mungkin itu sebabnya aku suka, kita sama-sama hidup di antara darah dan kematian. Bedanya, kamu yang melakukannya, dan aku yang menerimanya," gumam Arlon lirih. Mendengar itu, pertahanan Elena sedikit luluh, dua melihat wajah Pangeran Arlon dari samping. Pria ini sangat tampan, namun garis-garis penderitaan terlihat jelas di wajahnya. Ada rasa iba yang mulai menyelinap di antara dinding pertahanan hati Elena sebagai seorang pembunuh. "Kenapa kamu tidak kabur saja dari sini? Setidak nya kamu tidak perlu di cekokin racun setiap hari," tanya Elena, suaranya kini sedikit lebih lembut. Pangeran Arlon membuka matanya sedikit, menatap ujung kaki mereka yang tertutup selimut. "Lalu membiarkan Selena menang? Tidak, Elena. Ibuku meninggal karena wanita itu, dia merampas segalanya dariku, jika aku pergi, aku hanya akan menjadi pengecut yang menunggu ajal di tempat lain," ucap Pangeran Arlon, dengan rahang mengeras. "Aku harus mendapatkan keadilan untuk ibu ku. Akan aku pastikan Selena akan hancur, seperti dia menghancurkan hidup ibuku," lanjut Pangeran Arlon, penuh kebencian Elena terdiam, dia mengerti rasa dendam itu. Di dunianya, dendam adalah bahan bakar untuk tetap hidup. "Lalu apa rencanamu? Aku yakin besok aku akan diseret ke hadapan wanita tua itu, kamu pikir dia akan percaya dengan cerita ku?" tanya Elena lagi. Pangeran Arlon mengangkat kepalanya dari bahu Elena, menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Dia tidak perlu percaya, dia hanya perlu merasa ragu. Selama dia curiga ada kekuatan besar yang melindungiku dari balik bayangan, dia tidak akan berani bertindak gegabah secara terang-terangan," jawab Pangeran Arlon, menatap Elena. Arlon meraih tangan Elena yang satu lagi, menangkup kedua tangan mungil itu di dalam genggamannya. "Elena, besok dia pasti akan mencoba menekan mu. Dia mungkin akan menawarkan emas yang lebih banyak dariku," ucap Pangeran Arlon, dengan pelan. Elena menyeringai miring, kembali ke sifat aslinya yang angkuh. "Emas? Dia pikir aku semurah itu? Aku sudah mengambil emas dari pria berjubah yang mengirim ku. Seorang pembunuh bayaran tidak akan mengkhianati kontraknya hanya karena sedikit gertakan dari wanita tua," ucap Rania, tersenyum miring. Pangeran Arlon tersenyum lebar, kali ini senyumnya terlihat tulus. "Itu istriku. Galak, tapi punya prinsip," ucap Pangeran Arlon, merasa ada sesuatu yang menggelitik perut nya. "Sekali lagi kau panggil aku istriku dengan nada itu, aku akan memastikan sentuhanku berikutnya adalah tusukan belati di lehermu," ancam Elena, meski dia tidak menarik tangannya dari genggaman Arlon. Pangeran Arlon tidak marah, justru dia tertawa kecil, lalu perlahan dia merebahkan tubuhnya kembali, menarik Elena agar ikut berbaring di sampingnya tanpa melepaskan kaitan jemari mereka. "Tidurlah, Elena. Malam ini kita berbagi nyawa, karena besok kita akan mulai menghancurkan mereka satu per satu," ucap Pengeran Arlon pelan sebelum akhirnya dia benar-benar jatuh terlelap karena kelelahan. Sementara Elena, dia masih terjaga, menatap langit-langit paviliun yang bolong, mendengarkan suara napas teratur Arlon di sampingnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak merasa sendirian di tengah kegelapan, sekarang dia bukan hanya punya misi, tapi dia memiliki nyawa Arlon. "Dasar pangeran merepotkan," gumam Elena tersenyum kecil, sebelum akhirnya ikut memejamkan mata, membiarkan tangannya tetap bertautan dengan tangan sang naga yang baru saja terbangun itu."El, coba kamu lihat ini," panggil Arlon dengan suara setengah berbisik, memanggil Elena tanpa menoleh ke belakang.Elena membuka matanya perlahan, mengusap pelipisnya yang masih berdenyut, lalu berjalan mendekati Arlon dengan langkah yang agak limbung."Ada apa? Kamu menemukan jejak anak buah Arkan?" tanya Elena masih sedikit lemas."Bukan. Lihat ukiran kuno ini," jawab Arlon menunjuk ke arah permukaan batu yang sudah dia bersihkan.Di sana, terukir sebuah simbol kuno berbentuk bunga matahari besar yang mekar sempurna, dengan detail kelopak yang sangat rapi.Ukiran itu tampak sangat tua, namun polanya benar-benar persis dengan gambar bunga matahari yang selalu disukai Elena, bahkan mirip dengan simbol pada kotak misterius dari pria bertudung hitam itu.DegElena terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap lekat-lekat ke arah ukiran batu tersebut.Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan ada rasa hangat yang aneh kembali menjalar dari ujung jarinya hingga ke seluruh tubuh, perl
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar, tepat mengenai wajah Arlon. Pangeran itu mengerjap-erjap, lalu meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena semalaman tidur dengan posisi bersandar di tepi ranjang.Begitu matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dia lihat adalah kasur jerami di sampingnya yang sudah kosong dan rapi."El?" panggil Arlon setengah berbisik, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.Tidak ada jawaban, seketika Arlon langsung menegakkan tubuhnya dengan panik, mengira terjadi sesuatu pada istrinya. Namun, pintu kamar mendadak terbuka pelan dan sosok Elena masuk sambil membawa sebuah bungkusan kain kecil."Jangan teriak-teriak, ini masih terlalu pagi untuk ukuran pedagang bangkrut yang pemalas," ucap Elena ketus, sambil menutup pintu kembali dengan sikutnya."Astaga, kamu membuatku jantungan, aku kira kamu diculik oleh anak buah Arkan saat aku ketiduran," ucap Arlon mengembuskan napas lega, lalu kembali duduk lemas di lantai.
Mendengar frasa Klan Penyembuh Matahari, Elena mendadak merasa dadanya sangat sesak, kepalanya mendadak berdenyut menyengat, membuat gadis itu refleks memegangi pelipisnya dengan tangan yang sedikit gemetar."Elena? Kamu kenapa?" tanya Arlon panik, wajah jahilnya langsung hilang total berganti kekhawatiran, bahkan dia lupa dengan nama samaran mereka."Kepalaku... mendadak pusing sekali," bisik Elena jujur, suaranya agak melemah, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang pembunuh bayaran berdarah dingin."Ada rasa hangat yang aneh di dadaku, rasanya seperti tempat itu memanggilku..." ucap Elena lirih.Arlon meremas pelan jemari Elena, menyalurkan kehangatan tubuhnya untuk menenangkan istrinya."Tenang, El, atur napas mu perlahan, kita tidak bisa menarik perhatian mereka sekarang," ucap Arlon, khawatir.Elena memejamkan matanya selama beberapa detik, menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya perlahan sampai denyut di kepalanya agak mereda.Begitu dia membuka mata, dia l
"Aktingku lumayan bagus kan tadi, Elna? Pria itu langsung percaya kalau aku ini pedagang miskin," tanya Arlon, melirik Elena.Elena mengikat tali kudanya dengan kencang, lalu menoleh ke arah Arlon dengan senyuman miring yang tipis."Lumayan untuk ukuran pangeran yang selama ingin tidak pernah tahu dunia luar, tapi jangan senang dulu, kamar di atas pasti sangat kotor, dan tugas kita yang sebenarnya adalah menguping pembicaraan orang-orang di dalam kedai nanti saat makan malam," ucap Elena, menatap Arlon.Arlon mengusap tengkuknya sambil menatap bangunan kedai kayu yang tampak reyot itu."Iya, aku tahu. Tapi jujur, Elna, bau kotoran kuda di samping sini benar-benar menguji penciumanku. Ayo cepat masuk sebelum aku pingsan duluan," ajak Arlon, sudah mulai rewel.Pangeran buangan yang belum terbiasa dengan dunia luar itu, terlihat kurang nyaman dengan keadaan di luar, yang ternyata lebih kotor dari pada Paviliun Bintang tempat dia tinggal selama ini."Manja sekali, pdahal tadi di hutan gay
"Lalu kamu mau aku bilang apa, Arlon?! Bahwa aku ini monster? Atau aku ini penyihir?!" suara Elena sedikit meninggi, memperlihatkan emosi yang selama ini selalu dia tekan rapat-rapat di balik wajah datarnya.Arlon tertegun melihat reaksi Elena yang cukup emosional, dia sadar bahwa pertanyaannya mungkin telah menyentuh sisi sensitif dari masa lalu istrinya yang misterius.Dengan gerakan lembut, Arlon memajukan kudanya sedikit lebih dekat dan mengulurkan tangannya, menepuk pundak Elena dengan pelan."Hei, tenanglah, aku tidak bermaksud menuduh mu yang macam-macam, mau kamu monster, mau kamu penyihir, atau mau kamu cuma perempuan galak yang hobi menyiksa suaminya, kamu tetap Elena ku. Kamu tetap istriku yang sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali," ucap Arlon dengan senyuman tulus yang sangat hangat, matanya menatap Elena dengan binar penuh penerimaan.Elena terpaku mendengarkan kalimat Arlon. Rasa hangat yang familiar kembali menjalar di dadanya, perlahan mencairkan amarah dan ketakut
Arlon hanya bisa menghela napas panjang melihat keras kepalanya sang istri, meskipun dalam hati dia merasa lega karena Elena mau sedikit menurunkan kecepatan berkudanya.Mereka terus memacu kuda dalam keheningan selama beberapa menit, hanya suara derap kaki kuda dan patahan ranting kering yang memecah kesunyian hutan mati itu."Arlon," panggil Elena tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka."Ya? Ada apa? Kamu mulai merasa kasihan pada suamimu ini?" tanya Arlon dengan senyum miring andalannya, mencoba mencairkan suasana yang kaku.Elena mengabaikan godaan itu dan melemparkan tatapan serius ke arah jalanan di depan yang mulai melandai."Di depan ada pertigaan sungai keringat, itu adalah titik terdekat dengan jalur utama yang dilewati Arkan. Kita akan berhenti di sana sebentar untuk membaca jejak kaki kuda mereka," ucap Elena menjelaskan rencananya tanpa bantahan."Setuju, pasukan pribadi Arkan tidak sedikit, mereka pasti meninggalkan jejak yang cukup jelas, bahkan di malam hari se
Elena mendengus, namun dia tidak menepis tangan Arlon, dia memilih kembali fokus pada Anggrek Api yang bergoyang tertiup angin di tengah sungai.Air sungai yang berwarna perak itu terlihat tenang, tapi Elena tahu ada sesuatu yang mengintai di baliknya."Duduk di sini, jangan bergerak sedikit pun,"
"Kamu yang harusnya istirahat, karena sudah berani mencuri ciuman pertama ku," sindir Elena, walau dia akhirnya menyerah dan menyandarkan punggungnya ke lengan Arlon. "Itu karena aku punya perawat yang sangat hebat, dan sangat cantik kalau sedang marah," jawab Arlon tertawa kecil, dia kemudian men
Elena bisa merasakan sesuatu di dalam tubuh Arlon mulai terbangun. Rasanya seperti ada seekor binatang buas yang selama ini dirantai, kini mulai memutuskan belenggunya satu per satu.Di saat yang sama, Elena merasa kepalanya berdenyut hebat, potongan-potongan memori yang bukan miliknya berkelebat c
Arlon menangkis sisi kapak itu hanya dengan telapak tangannya.BHUKBunyi logam beradu dengan kulit itu terdengar sangat aneh, seolah-olah tangan Arlon terbuat dari baja.Seluruh aula mendadak hening, bahkan Ratu Selena sampai berdiri dari duduknya karena terkejut."Apa yang terjadi? Dia menangkisn







