Share

1045. Part 3

last update Last Updated: 2025-02-05 01:05:45

Sebuah senjata rahasia telah terselip di antara jemari Baraka. Citradani terperanjat dan segera menyadari apa sebenarnya yang dilakukan oleh Baraka. Ternyata Pendekar Kera Sakti baru saja menyelamatkan jiwa Citradani dari ancaman senjata rahasia yang dilemparkan oleh seseorang dari tempat yang tersembunyi. Senjata rahasia itu berupa sepotong bulu landak yang tajam dan beracun ganas. Jika tangan Baraka tidak menutup ujung bukit dada Citradani maka senjata rahasia itu yang akan menancap di sana. Tapi dengan gerakan tangan Baraka menutup ujung bukit dada Citradani, maka senjata rahasia itu hanya terselip di sela jari Baraka dan dijepit kuat agar tak menyentuh kulit dada gadis itu.

"Kau mengenal siapa pemilik senjata ini?" tanya Baraka.

"Tidak. Tapi aku melihat sekelebat bayangan lari ke sana. Aku akan mengejarnya!"

"Tunggu dulu, aku akan...."

Wuuusss...!

Citradani sudah melesat lebih dulu sebelum Baraka selesai bicara. Kecepatan gerakannya yang menyer

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Kera Sakti   1505. Part 23

    "Muri... ooohh...!"Habis sudah napas Sulang Dongo. Ia tak bernyawa lagi. Baraka menyesalkan kekerasan hati Sulang Dongo yang tak mau ditolong itu. Seandainya ia mau ditolong dan menyetujui perjanjiannya dengan Pendekar Kera Sakti, setidaknya sampai saat ini pun Sulang Dongo masih bisa menyebutkan nama Muria Wardani.Baraka segera mendekati Telaga Sunyi yang tundukkan kepala di bawah pohon. Dengan mata memandang tak berkedip suara Pendekar Kera Sakti pun terdengar jelas di telinga gadis itu."Mengapa dia mengulurkan tangan padamu, Telaga Sunyi? Mengapa dia memanggilmu Muria...?"Telaga Sunyi pun akhirnya tarik napas panjang-panjang dan berkata, "Memang akulah Muria Wardani!"Kini Pendekar Kera Sakti yang terperangah dengan pandangan mata tak berkedip sedikit pun. Seakan ada sesuatu yang menyumbat tenggorokan Pendekar Kera Sakti."Akulah Muria Wardani, dan akulah putri sang Adipati itu!""Ajaib sekali!" gumam Baraka. "Ajaib sekali, men

  • Pendekar Kera Sakti   1504. Part 22

    Setelah mereka melintasi desa ketiga, perjalanan terhenti kembali karena munculnya seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun yang menghadang langkah mereka. Lelaki itu bertubuh sedikit gemuk, mempunyai kumis lebat. Tampak gagah namun berwajah culas, ia mengenakan pakaian merah berlengan tanggung sampai lewat siku. Senjata yang dibawanya adalah golok lebar bergelang-gelang tiga buah pada bagian sisinya. Rambutnya yang panjang dijepit dengan ikat kepala warna merah juga."O, ini orangnya!" kata lelaki berkumis. "Ha, ha, ha, ha... rupanya hanya seorang bocah kemarin sore yang belum bisa buang ingus!""Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?" tanya Baraka dengan heran."Apakah si manis itu belum sebutkan namaku?" sambil orang itu menuding Telaga Sunyi. "Sayang, ayo perkenalkan diriku kepada bocah ingusan itu!""Siapa dia, Telaga?" bisik Baraka kepada Telaga Sunyi. Gadis itu agak gugup, tapi akhirnya menjawab pertanyaan tadi."Dia yang bernama Sulang

  • Pendekar Kera Sakti   1503. Part 21

    Ketika mereka tiba di tempat semula, mulut gua masih tertutup batu besar. Kali ini, Baraka menggunakan ilmu ‘Mata Malaikat’-nya karena dadanya masih diliputi oleh gemuruh kecemburuan atas kata-kata Nyai Kucir Setan itu.Claaap...! Claaap...!Tiba-tiba dari kedua mata Baraka keluar sinar terang berwarna putih keperakan. Bentuknya sebesar lidi, melesat dari kedua mata Baraka. Sinar putih keperakan itu begitu melesat langsung berputar cepat, makin lama semakin besar, memercikkan bunga api warna merah.Woos, wooos, woos, woos...!Sinar putih keperakan itu bagaikan sinar laser yang kini menghantam batu besar yang menutupi mulut gua.Glegaaarrr...!Batu besar itu pun terbang dan terbelah menjadi tiga bagian.Cahaya matahari pagi masuk ke dalam gua, sementara dinding gua semakin bergetar. Langit-langit gua pun bertambah hancur. Dengan gerakan cepat Pendekar Kera Sakti melesat keluar dari mulut gua yang menjadi lebar akibat sebagi

  • Pendekar Kera Sakti   1502. Part 20

    Perempuan yang mengaku bernama Nyai Kucir Setan itu tersenyum sinis dan berkata, "Gadismu sangat mengkhawatirkan kau, Baraka. Tapi jangan hiraukan dia! Ikutlah aku masuk ke lorong itu!""Tidak. Aku... aku mau keluar dari gua ini, Nyai.""Bukankah kau ingin menemuiku?""Ya, tapi bukan untuk hal-hal lain. Aku hanya ingin meminta maaf atas... atas peristiwa yang menimpa muridmu, si Karto Dupak itu! Aku tak sengaja membunuhnya. Dia sendiri yang menantangku dan melepaskan jurus mautnya itu. Aku hanya menangkis dan... dan....""Dan dia sekarang mati. Aku sudah memakamkannya begitu kau melangkah meninggalkan desa itu!""Oh...?" Baraka bernada heran."Itu memang kesalahan muridku sendiri. Sekalipun begitu, seharusnya kau tetap harus menebusnya dengan nyawa. Tapi jika kau mau melayaniku, kau akan kuangkat sebagai murid baru, Baraka!""Hmmm... maksudmu... maksudmu melayani bagaimana, Nyai?""Ah, kau berlagak bodoh. Aku tahu kau punya gai

  • Pendekar Kera Sakti   1501. Part 19

    "Pakai kepala ayam juga bisa!" jawab Baraka membuat suasana agar tak terlalu dicekam ketegangan.Tak ada cara lain kecuali mengikuti saran Telaga Sunyi. Titik putih yang tadi dilihat Telaga Sunyi saat Baraka masih terkapar itu sekarang masih ada. Titik putih itu bagaikan ada di ujung lorong. Dan mereka pun bergerak menyusuri lorong tersebut dengan saling bergandengan, karena suasana gelap membuat mereka sulit saling berhubungan jika terjadi bahaya secara mendadak. Tetapi anehnya titik putih itu semakin lama bukan semakin dekat, namun semakin terasa menjauh.Pendekar Kera Sakti segera hentikan langkah dan berkata kepada Telaga Sunyi, "Kita terjebak. Itu bukan titik sinar mulut gua! Perhatikan saja, sejak tadi jaraknya masih tetap jauh dan bahkan lebih jauh dari yang pertama kita lihat, bukan?""Benar juga. Jadi, kita tersesat di mana ini, Baraka?""Akan kucoba untuk melihat alam lain. Mungkin ada yang mengganggu kita, sehingga kita terkurung di sini tanpa

  • Pendekar Kera Sakti   1500. Part 18

    "Kenapa Kertapaksi dan Karto Dupak tidak mati di tangan Penguasa Teluk Neraka?""Mereka belum bertemu Penguasa Teluk Neraka. Coba kalau Kertapaksi bertemu dengan Penguasa Teluk Neraka, pasti dihajar habis oleh Penguasa Teluk Neraka itu.""Lalu, apa hubungannya denganku? Mengapa Kertapaksi dan Karto Dupak menyangka aku adalah kekasihnya Muria Wardani?""Mungkin kau memang kekasihnya? Mana kutahu!""Sumpah setan tujuh warna, aku bukan kekasihnya! Aku tidak kenal sama Muria Wardani.""Betul?""Yaah... masa' kau belum percaya juga. Aku toh sudah bersumpah! Mau sumpah apa lagi? Sumpah biar mati disambar lalat. Boleh!"Telaga Sunyi tertawa kecil. "Lelaki mana saja memang paling berani kalau disuruh bersumpah. Buat lelaki, sumpah adalah bunga bibir.""Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak kenal dengan Muria Wardani.""Bagaimana kalau kutemukan dengan Muria Wardani. Berani?""Berani!" jawab Baraka bersemangat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status