LOGINKeanehan susulan tersebut menyebabkan Angon Luwak semakin penasaran saja. Dia tetap bersikeras untuk mencabut batu pemantik tadi dari tempat menempelnya. Dikerahkannya kembali seluruh tenaga.
Sekali ini, tangannya tergelincir dari permukaan batu pemantik. Rupanya batu itu cukup licin. Satu-satunya cara untuk mengatasi hal itu, Angon Luwak harus mempergunakan kelima ujung jarinya. Usahanya diianjutkan.
Angon Luwak sekali ini merasa benar-benar harus mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya. Jika perlu sampai tak tersisa. Dia harus dapat melepasnya pada sentakan terakhir ini. Agar tarikannya lebih kuat, sengaja ditopangkannya kaki pada dinding goa.
Angon Luwak memulai dengan satu teriakan keras.
"Heaaaat"
Ujung jari-jari yang dipergunakan untuk mencengkeram sudut batu menjadi teramat perih dan sakit luar biasa. Padahai selama ini jari-jari itu sudah demikian menebal, kebal dan terlatih selama dipergunakan untuk mendaki gigir bukit karang.
B
“Aku memiliki dua buah pusaka yang menjadi pilar kekuasaan Istana Laut Kidul. Yang pertama adalah sebuah pusaka pedang yang tiada bandinganya di dunia persilatan. Pedang ini bisa menjadi malapetaka bagi dunia persilatan bila berada di tangan manusia sesat ataupun pendekar berwatak jahat. Pedang Laut Selatan ku titipkan pada prabu Sangga Langit, penguasa Istana Es... Hingga peristiwa berdarah itu terjadi...” Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul menghentikan sejenak ceritanya untuk melihat reaksi Angon Luwak.Benar saja, berhentinya cerita Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul membuat Angon Luwak penasaran akan ceritanya.“Peristiwa apakah itu Kanjeng Ratu?”“Dua puluh satu tahun yang lalu, Seluruh penghuni Istana Es terbunuh dalam 1 malam”Wajah Angon Luwak berubah mendengar hal itu, hingga tanpa sadar, ia mengulangi ucapan Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul dengan terbata-bata.“Te..Ter.. terbunuh dalam 1 malam?”Kan
Malam itu, diantara debur ombak ganasnya Pantai Selatan. Di keremangan sinar bulan yang bersinar, tampak sesosok tubuh yang tengah duduk menghadap ke arah laut pantai selatan. Melihat posisinya, sosok yang ternyata adalah seorang pemuda berambut kemerahan itu tengah melakukan semadi. Melihat sosoknya, pemuda itu tak lain adalah Angon Luwak. Seorang tokoh muda persilatan tanah Jawa yang julukannya mulai sering berseliwer keras di telinga warga persilatan lain. Pendekar Sinting. Murid dua tokoh kenamaan tanah Jawa sekaligus; Dedengkot Sinting dan Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu!Apa yang dilakukan Angon Luwak hingga melakukan semadi di karang pantai selatan. Apakah ia sudah gila? Ataukah ia ingin membuktikan mitos tentang keberadaan Kanjeng Ratu Kidul yang selama ini didengarnya. Tidak! Itu salah. Angon Luwak berada di pantai selatan bukan karena kesengajaannya, karena memang kebetulan saja dia melewati tempat itu.Dari pertemuan terakhir lawan bertarungnya, Nini Jong
Pendekar Sinting mengulang semadi singkatnya. Sewaktu dua cakar Perempuan Pengumpul Bangkai hendak merobek tenggorokannya, Pendekar Sinting telah siap kembali. Bahkan pandangannya dapat lebih jernih dan tajam dari sebelum terkena pengaruh tenung lawan. Dia bergerak sigap satu tindak ke samping.Wuk!Sambaran lawan pun lewat begitu saja. Hanya setengah jengkal dari tenggorokannya. Sebuah cara menghindar yang terlalu berisiko besar. Seakan-akan pendekar muda itu hendak mengejek lawan."Sayang tak kena. Kau kurang cepat, Perempuan Siluman!""Khaaah! Jebol igamu!"Dalam segebrakan, Nini Jonggrang sudah membuat serangan susulan dengan siku kirinya. Dada bidang lawan hendak dijadikan sasaran.Pendekar Sinting tak mau terus menghindar. Kalau terus seperti itu dia sadar lama kelamaan akan terhantam juga salah satu serangan gencar lawan. Maka dengan satu gerak yang terlihat pontang-panting, tapi secepat kedipan mata, tangannya menekuk di depan dada.
"Menurut Eyang Guru, hanya murid kita yang bisa menghadapinya. Biarkan dia sendiri. Aku percaya pada kesanggupan Cah Sinting kita itu! He he he!"Sementara Dongdongka tertawa, Ki Kusumo cuma bisa mengernyitkan kening. Bagaimana orang tua ini masih sempat tertawa pada saat-saat demikian genting.Di kancah pertarungan tunggal, Pendekar Sinting telah bersiap mati dalam menghadapi lawan. Nini Jonggrang menggeram-geram tiada terputus. Tangannya mendadak terayun cepat. Dari kedua telapak tangannya mendadak keluar bola-bola api sebesar kepala bayi!Wuk wuk wuk!Deru santer bagai kepakan sayap rajawali raksasa terdengar. Disusul dengan membesarnya api di seputar bola-bola api tadi. Melayang-layang liar menuju sasaran. Lidah apinya siap menerkam. Tak pernah mengalami kejadian serupa dalam hidupnya yang tergolong hijau, Pendekar Sinting tercekam. Dia tercengang tanpa bisa melakukan apa-apa. Saat itulah, terdengar bisikan gaib menyelusup langsung ke telinganya.
Itu sebabnya, pukulan Perempuan Pengumpul Bangkai di Wadaslintang tak berakibat parah terhadap diri Tresnasari. Kebetulan, pukulan itu adalah salah satu ilmu tenaga dalam yang dicurinya."Tresna, bawalah Mayangseruni menyingkir dari tempat ini!" seru Pendekar Sinting, mengimbangi ancaman sengit Nini Jonggrang.Tak perlu dua kali diperingati, Tresnasari segera memapah saudara kembarnya meninggalkan tempat tersebut. "Tak semudah itu kau menyingkir, Murid Jahanam!" teriak Nini Jonggrang kalap bukan main, Nini Jonggrang berjuang untuk melepaskan diri dari hujanan serangan Pendekar Sinting. Tubuhnya digenjot hendak menghadang Tresnasari dan Mayangseruni.Dengan ketat, Pendekar Sinting merapatkan serangan, mencoba membendung usaha lawan. Nini Jonggrang makin dibuat kalap.Sementara, malam kian terlelap. Hal yang paling ditakuti Dedengkot Sinting malam itu akhirnya terjadi juga. Apa lacur, orang tua sakti yang harus tiba sebelum tengah malam, tak kunjung-kunjung
Mayangseruni terlempar. Tubuhnya berguling di tanah menurun. Saatnya bagi Pendekar Sinting untuk bertindak!Wrrr!Sekali sentak, tubuh Pendekar Sinting melayang cepat menyusul Mayangseruni. Nini Jonggrang tak bisa membiarkan begitu saja. Rasa sakit di pahanya telah sanggup dikuasai. Perhatiannya kini bisa dipusatkan kembali ke arah kancah kekacauan. Kekacauan memang telah berlangsung demikian cepat. Tak meleset perhitungan Tresnasari. Tindakan cepat tak terduga seperti rencananya, telah memporak-porandakan kemenangan sementara si Perempuan Pengumpul Bangkai dan Iblis Dari Neraka!Nini Jonggrang berteriak bagai auman singa betina tua."Khuuaaaa!"Wikh wiikh wikh wiikh!Dengan nekat dan amat menggidikkan bagi siapa pun yang menyaksikannya, Nini Jonggrang melepas lima kuku jari tangan kanannya dengan sengaja. Sentakan tenaga dalam yang disalurkan kelewat batas menyebabkan kelima jari hitam itu meluncur bagai taring-taring setan terbang!







