LOGINUdara di dalam kamar Sang Jenderal seolah membeku, meski api di dalam tungku menyala dengan ganas. Shu Mei merasakan tubuhnya dingin, sementara sosok di depannya memancarkan hawa panas yang menyesakkan. Long Yuan, dengan tubuh yang dipenuhi balutan kain putih dan noda darah yang mulai mengering, tampak seperti predator yang baru saja memenangkan pertempuran namun masih lapar akan mangsa.
"Aku tetap tidak mau," suara Mei keluar dengan sisa-sisa keberaniannya. Ia menatap lurus ke dalam netra gelap Yuan, menolak untuk menjadi sekadar alat pemuas bagi pria yang terus menghinanya. Long Yuan menarik sudut bibirnya, membentuk seringai yang lebih menyerupai ancaman daripada senyuman, "Kau lupa dimana kau berdiri, Mei? Di istana ini, kata-kataku adalah hukum. Dan saat ini..." Yuan merunduk, membiarkan napasnya yang tajam menyentuh permukaan kulit leher Mei. "Aku tidak butuh izin darimu." Tanpa memberikan kesempatan bagi Mei untuk membantah, Yuan langsung mencumbu leher istrinya dengan kasar namun penuh tuntutan. Mei tersentak, tangannya yang mungil mencoba mendorong dada bidang Yuan, namun pria itu sekeras batu karang. Sentuhan bibir dan lidah Yuan di kulit sensitifnya mengirimkan sensasi asing yang menyakitkan sekaligus memabukkan. Sesuatu yang belum pernah dirasakan oleh seorang putri yang tumbuh dalam kesepian seperti Mei. Tubuh Mei mendadak terasa panas. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya seolah ingin melarikan diri. Efek dari ramuan herbal yang tadi ia racik sepertinya tidak hanya bekerja pada Yuan, tetapi aromanya yang kuat di dalam ruangan itu juga mulai mengaburkan kewaspadaannya. Gairah itu menjalar bagaikan api yang membakar setiap inci sarafnya, membuat lututnya terasa lemas. Tangan Yuan bergerak semakin agresif, meraba lekuk tubuh Mei dengan kepemilikan yang mutlak. Ramuan Mei memang ajaib, rasa sakit dari luka-lukanya seolah tersedot ke latar belakang, digantikan oleh dorongan hasrat yang jauh lebih berbahaya. Yuan ingin menaklukkan wanita ini,bukan hanya tubuhnya, tapi juga harga dirinya yang keras kepala. "Lepaskan!" Mei meronta sekuat tenaga. Ia berhasil memalingkan wajahnya, menghindari ciuman Yuan yang mulai turun ke dadanya. Dalam satu gerakan refleks yang dipicu oleh rasa terhina, tangan kanan Mei terayun dan mendarat dengan keras di pipi kiri sang Jenderal. Plak! Suara tamparan itu menggema di ruangan yang sunyi. Long Yuan terdiam. Wajahnya tertoleh ke samping, dan jejak kemerahan mulai muncul di kulitnya. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat mencekam hingga Mei lupa caranya bernapas. Namun, bukannya murka yang meledak, Yuan justru tertawa rendah. Ia menoleh perlahan, menatap Mei dengan mata yang berkilat tertantang. "Kau berani menamparku dengan tangan ini?" desis Yuan, kembali mendekatkan wajahnya. "Kau membuatku semakin ingin menghancurkanmu, Shu Mei." Yuan kembali merangsek maju, hendak mengklaim kembali bibir wanita itu. Namun, tepat sebelum kontak terjadi, sebuah suara bariton dari luar pintu merusak segalanya. "Maafkan saya, Pangeran Long Yuan. Kaisar Jin sedang menunggu Anda di aula utama. Ada urusan mendesak mengenai perbatasan." Suara itu milik Perdana Menteri Hong. Pria paruh baya itu tidak masuk, namun kehadirannya di balik pintu sudah cukup untuk mendinginkan atmosfer panas di dalam kamar. Long Yuan mendesah kesal, dahinya menyentuh dahi Mei sejenak sementara napasnya masih memburu. Ia memejamkan mata, mengutuk gangguan yang datang di saat yang paling tidak tepat. Perlahan, ia melepaskan cengkeramannya pada pinggang Mei. Begitu merasa bebas, Mei tidak membuang waktu. Ia langsung berlari keluar. Ia melewati Perdana Menteri Hong yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan datar. Mei terus berlari tanpa menoleh, air mata kemarahan mengalir di pipinya saat ia menghilang di kegelapan koridor istana menuju paviliunnya. "Aku akan datang sebentar lagi," jawab Yuan dengan nada yang sangat tidak ramah. Perdana Menteri Hong hanya mengangguk pelan, seolah tidak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, lalu pergi meninggalkan kamar itu. Sementara itu, Long Yuan berdiri sendirian di tengah ruangan yang berantakan. Ia memungut jubahnya dengan gerakan kasar, otot-otot di rahangnya mengeras karena rasa kesal yang tertahan. "Sialan! Berani sekali dia menolakku," umpat Yuan pada dirinya sendiri. Namun, di balik kemarahannya, ada rasa penasaran yang semakin besar terhadap putri selir yang berani menamparnya itu. Langkah kaki Long Yuan bergema di aula utama yang megah. Di sana, Kaisar Jin duduk di atas takhta emasnya, dikelilingi oleh para menteri senior dan jenderal militer. Wajah sang Kaisar tampak sangat serius di bawah cahaya obor yang temaram. "Kau datang juga, Yuan," ucap Kaisar Jin dengan nada berat. "Apa yang begitu mendesak hingga Ayahanda memanggilku di tengah malam?" tanya Yuan, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Kaisar Jin melemparkan sebuah gulungan surat ke atas meja batu di depan mereka. "Intelijen kita baru saja memberikan laporan yang lebih pasti tentang putri kekaisaran Shu yang melarikan diri itu. Wanita yang kau nikahi memang benar-benar bukan Shu Lian. Kaisar Shu telah menipu kita secara terang-terangan dengan mengirimkan putri selir yang tak berharga sebagai jaminan perdamaian. Ini adalah penghinaan fatal bagi garis keturunan Jin!" Suasana di aula itu menjadi riuh rendah oleh bisikan para menteri. "Ini adalah alasan yang cukup untuk melanggar perjanjian damai," sahut salah satu menteri. "Kita harus menghancurkan Kekaisaran Shu dan mengambil wilayah mereka sebagai ganti rugi atas penghinaan ini." Kaisar Jin menatap putranya tajam. "Aku sedang berpikir untuk membatalkan perdamaian ini dan memerintahkanmu untuk memimpin pasukan ke ibu kota Shu esok pagi. Bagaimana menurutmu, Yuan? Haruskah kita menebas kepala pengantin gadunganmu itu sekarang sebagai pernyataan perang?" Long Yuan terdiam. Pikirannya melayang kembali ke kamar pengantinnya, mengingat bagaimana Mei mengobati lukanya tanpa rasa jijik, bagaimana ia menyelamatkan nyawa ibunya, dan bagaimana tatapan matanya yang berapi-api saat ia melawan tadi. Menghancurkan Kekaisaran Shu adalah hal yang mudah baginya. Namun, membunuh wanita itu? Ada sesuatu yang menahannya. Wanita itu memiliki kemampuan herbal yang luar biasa, kecerdasan yang tajam, dan keberanian yang jarang ditemukan. Jika dia membunuh Mei sekarang, ia hanya akan mendapatkan kemenangan perang yang biasa. Tapi jika dia menyimpan wanita itu. "Kekaisaran Shu memang melakukan pengkhianatan," ucap Yuan perlahan, suaranya terdengar sangat berwibawa di tengah aula. "Tapi wanita itu... Shu Mei... dia telah membuktikan dirinya cukup berguna di istana ini." Yuan terdiam sejenak, menimbang-nimbang antara ambisi militernya dan ketertarikannya yang tumbuh secara berbahaya pada sang pengantin pengganti. "Berikan aku waktu sejenak, Ayahanda. Aku akan memutuskan apakah wanita itu layak menjadi alasan untuk memperpanjang perdamaian ini, atau dia akan menjadi orang pertama yang kepalanya kugantung di gerbang kota Shu." Kaisar Jin menyipitkan mata, melihat keraguan yang jarang muncul di mata putranya yang kejam. "Hampir satu bulan, Yuan. Kau yang memintanya. Jika dalam waktu itu dia tidak memberikan nilai yang setara dengan nyawa seluruh rakyat Shu, maka kau tahu apa yang harus dilakukan." Long Yuan membungkuk hormat, namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa permainan ini baru saja dimulai. Ia tidak hanya harus berurusan dengan musuh di luar, tetapi juga dengan perasaan asing yang mulai menggerogoti dinding es di hatinya. "Satu bulan," gumam Yuan pelan setelah Kaisar meninggalkan aula. Ia membalikkan badan, menatap ke arah koridor gelap yang menuju ke paviliun tempat Mei berada. Di tangannya, ia masih bisa merasakan sisa panas dari tamparan wanita itu, dan di indra penciumannya, aroma ramuan herbal Mei masih tertinggal seolah-olah wanita itu telah menandainya lebih dalam dari yang ia sadari. Langkah kakinya yang berat mulai bergema kembali di lantai batu, namun kali ini bukan menuju medan perang, melainkan kembali ke arah peraduannya yang sepi. Satu keputusan salah, maka darah Mei akan membasahi gerbang kota. Namun, satu langkah yang benar, dan ia mungkin akan memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar wilayah kekuasaan. Yuan berhenti di depan pintu kayu besar itu, tangannya mengepal kuat pada hulu pedangnya. Matanya berkilat dalam kegelapan malam, mencerminkan sebuah niat yang sulit diartikan. "Kita lihat saja, Shu Mei," desisnya ke arah angin malam. "Siapa yang akan bertekuk lutut lebih dulu. kau, atau seluruh kerajaanmu?"Hening malam itu terasa begitu berat, seolah udara di sekitar taman Paviliun Kediaman Pelayan telah membeku. Shu Mei berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram erat kantong hitam berisi daun Labah Merah yang baru saja ia gali dari tanah. Di hadapannya, Lin yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. "Kenapa?" suara Mei bergetar, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Selama ini aku menganggapmu lebih dari sekadar pelayan. Kau adalah ibuku! Kau yang memegang tanganku saat aku menangis karena perlakuan Lian di Shu. Kau juga yang berkata bahwa aku beruntung mendapatkan pria seperti Yuan... Kau bilang kau bahagia melihatku dicintai olehnya! Kenapa kau tega meracuninya?!" Lin tidak menunduk. Ia tidak bersimpuh memohon ampun seperti biasanya. Wanita tua itu justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengejek setiap tetes air mata Mei. "Bahagia?" Lin tertawa rendah, suara yang biasanya terdengar lembut itu kini terdeng
Udara malam di sekitar barak elit Jin terasa semakin pekat oleh aroma kematian dan kecurigaan. Di tengah kekacauan itu, suara Long Yuan menggelegar, memberikan instruksi tegas untuk mengunci seluruh gerbang istana. Para prajurit berlarian, obor-obor menari liar menciptakan bayangan raksasa di dinding batu. Di bawah cahaya yang berkedip itu, Shu Mei berdiri mematung, namun matanya tidak tertuju pada suaminya yang sedang murka. Fokusnya terkunci pada sebuah jejak samar di tanah yang sedikit becek, tak jauh dari genangan darah hitam salah satu jenazah. Jejak kaki itu kecil, terlalu ramping untuk ukuran seorang prajurit pria. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mei memutuskan untuk melangkah mundur secara perlahan, menjauh dari kerumunan tanpa menarik perhatian Yuan yang sedang sibuk mengintimidasi para perwira. Ia mengikuti jejak itu dengan langkah seringan bulu. Jejak tersebut mengarah menjauhi keramaian barak, menyusup ke jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak hias menuju area pa
Suasana di dalam kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan gairah kini berubah menjadi sedingin makam. Long Yuan mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih, sementara Shu Mei sudah bergerak cepat menyambar kotak medis besarnya. Kabar tentang kematian mendadak para prajurit elit adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Naga Hitam. "Yuan... biarkan aku ikut," tegas Mei, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Tidak! Kau tetap di sini, Mei! Ini adalah pembunuhan, dan aku tidak tahu siapa yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang!" bentak Yuan sembari mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan kasar. Namun, Mei tidak mendengarkan. Ia justru melangkah lebih dulu, melewati Yuan dan prajurit yang masih bersimpuh di lantai. Jubah tidurnya yang tipis kini ia lapisi dengan jubah luar yang tebal, dan langkah kakinya terdengar mantap di koridor kayu. "Mei! Aku bilang jangan ikut campur!" raung Yuan, berusaha mengejar istrinya. "Wanita itu, keras kepala sekali..." Mei ber
Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut. "Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi!" Namun, baru saja kakinya melangkah satu tindak menuju pintu, sebuah tangan mungil namun kuat mencengkeram lengannya. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Yuan!" pekik Mei. Ia menarik lengan suaminya dengan seluruh tenaga yang ia punya, memaksanya untuk berhenti. "Lepaskan, Mei! Ini masalah kedaulatan militer. Jika pengkhianat itu melarikan diri—" "Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dan memacu kudamu, racun itu akan mengalir lurus ke jantungmu karena detak j
Suasana di dalam kamar utama Paviliun Naga terasa begitu kontras dengan dinginnya angin dari luar. Hanya ada suara deru napas yang saling berburu dan gemertak kayu bakar dari perapian yang mulai meredup. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, Long Yuan tidak lagi memberikan ruang bagi Shu Mei untuk menghindar. Ia menyudutkan istrinya ke dinding sutra, menciumnya dengan rasa lapar yang telah ia pendam selama berhari-hari. Mei, yang awalnya berniat hanya memberikan pelukan singkat, perlahan luluh dalam kehangatan dekapan suaminya. Tangannya yang mungil merambat naik, meremas bahu kokoh Yuan saat bibir lelaki itu menjelajahi lehernya dengan tuntutan yang mendalam. Aroma maskulin bercampur debu peperangan dari tubuh Yuan terasa begitu memabukkan. "Aku menagih janjimu, Mei," bisik Yuan serak di sela-sela ciumannya. Dengan gerakan yang tidak sabar namun penuh perasaan, Yuan mulai menanggalkan jubah perangnya yang berat, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara dentingan logam
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan ditelan kegelapan malam. Di barak Jin, Long Yuan tidak lagi bisa memegang kuas strateginya dengan tenang. Pikirannya sudah melesat jauh menuju desa perbatasan. Meski ia telah mengirimkan pasukan elitnya, rasa tidak tenang itu tetap berdenyut di bawah kulitnya. Dengan geraman rendah, ia menyambar jubah hitamnya, menaiki kuda perangnya, dan memacu hewan itu seperti iblis yang mengejar mangsa. Sesampainya di desa, suasana yang tadinya kacau mulai sedikit lebih teratur, namun kedatangan Yuan seketika mengubah atmosfer. Derap kaki kuda hitamnya yang besar dan suara dentingan zirahnya menciptakan aura dominasi yang menyesakkan. Saat Yuan berjalan melewati tenda-tenda darurat, rakyat yang tadinya berbisik-bisik langsung bungkam. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin, tidak berani menatap wajah sang Jenderal yang terkenal tanpa ampun itu. Bahkan anak-anak kecil yang tadi sempat bermain di







