Share

Gairah Di Balik Luka

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2025-12-22 09:06:02

Medan perang adalah tempat di mana Long Yuan benar-benar menjadi dirinya sendiri. Di bawah langit yang kelam oleh asap pembakaran, sang Jenderal berdiri di atas tumpukan mayat musuh. Zirah peraknya kini berubah warna menjadi merah pekat, bermandikan darah segar yang bahkan belum mengering. Dengan pedang raksasa di tangan kanan dan kepala komandan musuh di tangan kiri, ia meraung. Sebuah suara yang sanggup membuat nyali ribuan prajurit lawan menciut.

Ia bertarung seperti monster yang tidak mengenal rasa sakit. Meskipun anak panah sempat menyerempet bahunya dan tebasan pedang mengenai pinggangnya, Yuan tidak berhenti. Ia menebas, menusuk, dan menghancurkan barisan pertahanan lawan dengan kegilaan yang murni. Matanya berkilat haus darah, membuatnya tampak lebih menyerupai iblis daripada seorang manusia. Kemenangan besar diraih, namun harga yang harus dibayar tidaklah murah. Sang Naga Jin kembali ke istana dengan tubuh yang compang-camping oleh luka.

Namun berkat kesenangan ini, sejenak ia bisa melupakan perjanjian damai bodoh itu. Dimana ia hanya mendapatkan seorang puteri selir rendahan, yang ini begitu sombong menunjukkan kemampuannya.

Sesampainya di kamar pribadinya, suasana menjadi tegang. Tabib militer yang mencoba membersihkan lukanya gemetar hebat hingga peralatan medisnya berdenting. Yuan yang menahan rasa perih yang luar biasa, naik pitam. Ia menendang meja di samping ranjang hingga hancur.

"Keluar! Kau hanya membuatku semakin sakit dengan tanganmu yang gemetar!" raungnya. Yuan kemudian menatap seorang prajurit setianya. "Panggil wanita itu. Bawa Shu Mei ke sini!"

Pintu kamar sang Jenderal terbuka dengan kasar saat Mei tiba. Udara di dalam ruangan itu berbau besi darah yang menyengat dan aroma maskulin yang berat. Mei menelan ludah, mencoba memantapkan hatinya. Di atas ranjang, ia melihat Long Yuan duduk bersandar. Pria itu hanya mengenakan kain putih yang melilit bagian bawah tubuhnya, sementara tubuh bagian atasnya yang kekar terekspos sepenuhnya. Penuh dengan luka robek, memar biru keunguan, dan darah yang masih merembes.

Mei tidak memalingkan wajah. Ia tidak tampak jijik atau takut melihat daging yang koyak itu. Ia melangkah mendekat dengan kotak herbalnya.

"Semua keluar! Jangan ada yang berani masuk tanpa perintahku!" perintah Yuan pada para pelayan dan tabib lainnya.

Setelah ruangan sepi, Yuan menatap Mei dengan mata yang merah karena kelelahan dan rasa sakit. "Dekatlah, Pengkhianat. Obati aku. Aku tahu kau punya ramuan aneh di paviliunmu."

"Jenderal, luka-luka ini sangat dalam. Aku belum pernah menangani luka tempur seluas ini," ucap Mei jujur, suaranya sedikit bergetar.

"Jangan banyak bicara!" bentak Yuan, wajahnya mengeras menahan nyeri. "Lakukan saja atau kau ingin aku memenggal tanganmu sekarang?"

Mei menarik napas panjang. Ia mulai membersihkan luka-luka itu dengan air hangat. Dengan tangan yang sangat hati-hati, ia meracik campuran dua tanaman yang telah ia haluskan. Ia tahu ramuan ini adalah anestesi yang sangat kuat, namun ia juga tahu efek sampingnya. Ramuan ini bisa mengacaukan kesadaran dan memicu panas tubuh yang tidak wajar.

Saat Mei mulai mengoleskan pasta herbal itu ke dada dan perut Yuan yang berotot, suasana mulai berubah. Sentuhan jari-jari Mei yang lembut dan dingin di atas kulitnya yang panas membuat saraf Yuan berdenyut aneh. Sensasi mabuk perlahan mulai menjalar di kepala Yuan. Pandangannya mengabur, namun indra penciumannya menjadi sangat tajam. Ia bisa mencium aroma bunga melati dan obat-obatan yang menguar dari tubuh Mei.

Setiap kali ujung jari Mei menyentuh kulitnya, Yuan merasakan sengatan listrik yang menyiksa sekaligus memabukkan. Ia merasa terganggu dengan respon tubuhnya sendiri. Dengan kasar, ia menepis lengan Mei hingga mangkuk obat itu nyaris jatuh.

Tangan Yuan yang besar dan kuat mencengkeram leher Mei, mendorong wanita itu hingga punggungnya membentur tiang ranjang. Ia menatap Mei dengan tatapan liar yang sulit diartikan.

"Kau... kau memang sengaja memberikan obat seperti ini padaku, Shu Mei?" desisnya, suaranya parau dan penuh kecurigaan. "Kau ingin membuatku lemah agar kau bisa menusukku dari belakang?"

Mei mencoba tetap tenang meski napasnya tersengal akibat cengkeraman itu. "Aku tidak akan pernah memberimu racun. Itu hanya efek samping dari obatnya untuk menahan rasa sakitmu. Sabarlah, panas itu akan segera hilang."

Yuan tertawa getir, matanya menelusuri wajah Mei yang tampak cantik di bawah cahaya lilin yang remang. "Sabar? Kau membuat darahku mendidih dan kau memintaku sabar? Kau sengaja melakukan ini untuk menggodaku, bukan? Kau pikir dengan tubuhmu, kau bisa menjinakkan aku?"

Yuan melepaskan cengkeramannya di leher, namun tangannya turun dengan cepat, menarik tali pengikat pakaian linen Mei hingga bahu wanita itu tersingkap.

"Kau ingin aku melakukan ini?" bisik Yuan tepat di telinga Mei.

Mei tersentak, ia segera menepis tangan Yuan dengan wajah penuh ketakutan. Ia menatap Yuan seolah pria itu adalah setan yang siap menerkamnya. "Jangan salah paham! Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal sehina itu untuk mendapatkan perhatianmu!"

Tawa Yuan kembali pecah. "Berani sekali kau menolakku. Aku adalah tuanmu! Aku tahu isi pikiran kotormu itu, Pengkhianat! Kau hanya berpura-pura suci agar aku memohon padamu!"

Dengan satu gerakan cepat meskipun tubuhnya penuh luka, Yuan menarik tangan Mei dan menjatuhkan wanita itu ke pangkuannya. Ia mencengkeram dagu Mei dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya yang kini dipenuhi gairah gelap yang dipicu oleh obat dan amarah.

Di luar pintu, Ibu Suri yang baru saja tiba karena khawatir mendengar putranya terluka, menghentikan langkahnya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat pemandangan yang mengejutkan. Ia melihat putranya yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini mencium Mei dengan penuh paksaan dan gairah yang meledak-ledak. Ia melihat Mei meronta, namun Yuan justru semakin mengeratkan pelukannya.

Ibu Suri menarik napas perlahan, lalu berbalik pergi dengan tawa kecil yang tersimpan di bibirnya. Sepertinya lukanya tidak akan mematikan jika dia masih punya tenaga untuk berbuat seperti itu, pikir sang Ibu Suri.

Di dalam kamar, suasana semakin mencekam. Yuan melepaskan tautan bibirnya, meninggalkan bibir Mei yang basah dan sedikit bengkak. Mei terengah-engah, matanya berkaca-kaca karena terhina. Ia mencoba berdiri untuk melarikan diri, namun tangan Yuan yang kokoh menahan pinggangnya, menariknya kembali hingga dada mereka bersentuhan.

"Kau mau pergi kemana?" bisik Yuan dengan nada mengancam yang sensual. "Kau mau melupakan kewajibanmu sebagai seorang istri, Shu Mei? Kau yang meminta satu bulan untuk membuktikan diri... dan malam ini, aku ingin melihat seberapa pantas kau melayaniku."

Mei menatap Yuan dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, malam ini bukan lagi tentang obat dan luka, melainkan tentang penyerahan diri yang akan mengubah segalanya di antara mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Luka Di Balik Zirah Hitam

    Keheningan malam di istana Jin terasa lebih berat dari biasanya. Pangeran Long Yuan berjalan dengan langkah yang masih tampak kokoh menuju kamar pribadinya, namun jika seseorang memperhatikan dengan sangat teliti, bahu kanannya sedikit turun dan langkahnya tidak seimbang. Di belakangnya, ia menyeret Shu Mei dengan cengkeraman yang tidak menyisakan ruang untuk melawan. Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, Yuan melepaskan tangan Mei dengan sentakan kasar. Ia segera membuka jubah beludru merahnya yang telah koyak dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Aroma besi dari darah kering segera menyerbak di ruangan itu. "Siapkan peralatanmu. Cepat!" perintah Yuan dengan suara parau yang menahan nyeri. Mei tidak membantah. Ia segera mengambil kotak herbal yang selalu ia bawa. Saat ia berbalik, ia melihat Yuan sudah menanggalkan zirah besinya. Di balik pakaian dalam sutra putih yang kini berubah menjadi merah pekat, terlihat luka robek yang cukup panjang di bahu hingga ke pungg

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Melindungi Tahanan Berharga

    Rombongan besar Kekaisaran Jin baru saja meninggalkan gerbang perbatasan Shu, melintasi lembah sempit yang diapit oleh tebing-tebing tinggi yang curam. Di dalam kereta, suasana kembali membeku setelah perdebatan kecil Mei dan Yuan. Ia duduk dengan mata terpejam, namun tangannya tidak pernah lepas dari hulu pedangnya. Ketajaman instingnya sebagai seorang jenderal perang mulai menangkap sesuatu yang tidak beres di udara,keheningan yang terlalu sunyi, bahkan untuk hutan sejauh ini."Jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku-"Tiba-tiba, suara siulan anak panah membelah kesunyian.Jleb! Jleb!Dua orang prajurit kavaleri yang mengawal kereta jatuh tersungkur dengan leher tertembus panah. Detik berikutnya, jeritan perang bergema dari atas tebing. Sekelompok pembunuh bayaran berpakaian hitam, yang diduga merupakan sisa-sisa pemberontak yang membenci aliansi Jin-Shu, melompat turun dengan senjata terhunus."Serangan!" teriak komandan pasukan Jin.Di dalam kereta, Shu Mei tersentak, namun seb

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pelukan Di Ambang Kehancuran

    Aula perjamuan Kekaisaran Shu yang biasanya dipenuhi dengan musik kecapi yang mendayu, kini terasa seperti medan perang yang sunyi. Aroma dupa yang mahal berbaur dengan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Di meja utama, Pangeran Long Yuan duduk dengan gagah, tangannya yang kekar sesekali memutar cawan emas berisi arak, sementara matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik pelayan Shu seolah-olah mereka adalah mata-mata yang siap menyerang.Di sampingnya, Shu Mei duduk dengan punggung tegak, meskipun hatinya terasa remuk. Sesuai tugasnya, ia harus mencicipi setiap hidangan yang disajikan sebelum Yuan menyentuhnya. Namun, di tengah proses itu, Kaisar Shu yang duduk di sisi lain meja membungkuk sedikit, berpura-pura hendak menawarkan hidangan tambahan, namun sebenarnya ia membisikkan kata-kata yang tajam ke telinga Mei. Kata-kata terus ia ucapkan setelah pembicaraan singkat mereka tadi, jika ia harus bersikap manis."Bersikaplah manis, Mei," desis Kaisar Shu, suaranya hampir tidak

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengadilan Di Tanah Kelahiran

    Gerbang besar Kekaisaran Shu terbuka dengan derit yang memilukan, seolah-olah kayu tua itu pun merasakan beban kengerian yang dibawa oleh kavaleri Jin. Di sepanjang jalan menuju istana, rakyat Shu berdiri dengan kepala menunduk, tidak berani menatap panji Naga Hitam yang berkibar pongah. Di dalam kereta, Shu Mei merasakan jemarinya mendingin. Setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah ingatan akan pengabaian yang ia terima selama belasan tahun. Saat pintu kereta dibuka di depan aula utama, pemandangan yang menyambut mereka adalah kemewahan yang dipaksakan. Kaisar Shu berdiri di puncak tangga, dikelilingi oleh para menterinya yang berpakaian serba sutra, namun wajah mereka sepucat kain kafan. Long Yuan melangkah turun terlebih dahulu. Denting zirahnya yang berat menghantam lantai batu istana, menciptakan gema yang mengintimidasi. Ia tidak menunggu protokol istana, ia justru meraih tangan Mei dan menariknya dengan kasar namun posesif untuk berdiri di sampingnya. "Selamat datang, M

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Putri Yang Tidak Berharga

    "Siapkan semua yang menantuki butuhkan! Jangan ada yang terlewat. Buat putriku itu secantik mungkin."Pagi itu, paviliun utama Kekaisaran Jin disibukkan oleh para pelayan yang berlalu-lalang membawa nampan berisi perhiasan giok dan kain sutra bermutu tinggi. Atas perintah khusus dari Ibu Suri, Shu Mei tidak diperbolehkan mengenakan pakaian linen sederhananya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka menuju Kekaisaran Shu, dan Ibu Suri bersikeras bahwa Mei harus tampil dengan martabat seorang Permaisuri Jin, terlepas dari status aslinya.Ibu Suri sendiri yang mengawasi riasan wajah Mei. Ia memulas bibir Mei dengan pemerah dari sari bunga mawar dan menyapukan bedak tipis yang membuat kulit pucat Mei tampak bersinar seperti porselen. Rambut hitam panjang Mei yang biasanya dibiarkan jatuh lurus, kini disanggul rumit dengan tusuk konde emas berbentuk sayap phoenix."Kau sangat cantik, Mei," bisik Ibu Suri lembut, menatap pantulan Mei di cermin. "Tunjukkan pada ayahmu bahwa kau bukan lagi

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Surat Dari Naga Hitam

    Langit di atas ibukota Kekaisaran Shu tampak muram, diselimuti kabut tipis yang seolah membawa firasat buruk. Di dalam istana yang megah namun rapuh, Kaisar Shu duduk di singgasananya yang berhias ukiran emas. Di depannya, tersaji berbagai hidangan mewah dan arak terbaik, namun selera makannya telah lenyap sejak seorang utusan dari Kekaisaran Jin tiba beberapa jam yang lalu.Tangan sang Kaisar gemetar saat ia kembali membaca gulungan surat yang tergeletak di atas meja gioknya. Surat itu memiliki segel lilin merah darah dengan lambang Naga Hitam. Simbol pribadi Long Yuan. Kata-kata yang tertulis di dalamnya tidaklah panjang, namun setiap goresan tintanya terasa seperti mata pedang yang siap menyayat lehernya."Kami telah mengetahui kebusukan di balik kerudung merah itu. Pengantin yang kau kirim bukanlah Shu Lian. Minggu depan, aku akan membawa putri selirmu kembali ke hadapanmu untuk menuntut penjelasan yang setimpal."Kaisar Shu meremas pinggiran jubah suteranya hingga kuku-kukunya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status