LOGINMedan perang adalah tempat di mana Long Yuan benar-benar menjadi dirinya sendiri. Di bawah langit yang kelam oleh asap pembakaran, sang Jenderal berdiri di atas tumpukan mayat musuh. Zirah peraknya kini berubah warna menjadi merah pekat, bermandikan darah segar yang bahkan belum mengering. Dengan pedang raksasa di tangan kanan dan kepala komandan musuh di tangan kiri, ia meraung. Sebuah suara yang sanggup membuat nyali ribuan prajurit lawan menciut.
Ia bertarung seperti monster yang tidak mengenal rasa sakit. Meskipun anak panah sempat menyerempet bahunya dan tebasan pedang mengenai pinggangnya, Yuan tidak berhenti. Ia menebas, menusuk, dan menghancurkan barisan pertahanan lawan dengan kegilaan yang murni. Matanya berkilat haus darah, membuatnya tampak lebih menyerupai iblis daripada seorang manusia. Kemenangan besar diraih, namun harga yang harus dibayar tidaklah murah. Sang Naga Jin kembali ke istana dengan tubuh yang compang-camping oleh luka. Namun berkat kesenangan ini, sejenak ia bisa melupakan perjanjian damai bodoh itu. Dimana ia hanya mendapatkan seorang puteri selir rendahan, yang ini begitu sombong menunjukkan kemampuannya. Sesampainya di kamar pribadinya, suasana menjadi tegang. Tabib militer yang mencoba membersihkan lukanya gemetar hebat hingga peralatan medisnya berdenting. Yuan yang menahan rasa perih yang luar biasa, naik pitam. Ia menendang meja di samping ranjang hingga hancur. "Keluar! Kau hanya membuatku semakin sakit dengan tanganmu yang gemetar!" raungnya. Yuan kemudian menatap seorang prajurit setianya. "Panggil wanita itu. Bawa Shu Mei ke sini!" Pintu kamar sang Jenderal terbuka dengan kasar saat Mei tiba. Udara di dalam ruangan itu berbau besi darah yang menyengat dan aroma maskulin yang berat. Mei menelan ludah, mencoba memantapkan hatinya. Di atas ranjang, ia melihat Long Yuan duduk bersandar. Pria itu hanya mengenakan kain putih yang melilit bagian bawah tubuhnya, sementara tubuh bagian atasnya yang kekar terekspos sepenuhnya. Penuh dengan luka robek, memar biru keunguan, dan darah yang masih merembes. Mei tidak memalingkan wajah. Ia tidak tampak jijik atau takut melihat daging yang koyak itu. Ia melangkah mendekat dengan kotak herbalnya. "Semua keluar! Jangan ada yang berani masuk tanpa perintahku!" perintah Yuan pada para pelayan dan tabib lainnya. Setelah ruangan sepi, Yuan menatap Mei dengan mata yang merah karena kelelahan dan rasa sakit. "Dekatlah, Pengkhianat. Obati aku. Aku tahu kau punya ramuan aneh di paviliunmu." "Jenderal, luka-luka ini sangat dalam. Aku belum pernah menangani luka tempur seluas ini," ucap Mei jujur, suaranya sedikit bergetar. "Jangan banyak bicara!" bentak Yuan, wajahnya mengeras menahan nyeri. "Lakukan saja atau kau ingin aku memenggal tanganmu sekarang?" Mei menarik napas panjang. Ia mulai membersihkan luka-luka itu dengan air hangat. Dengan tangan yang sangat hati-hati, ia meracik campuran dua tanaman yang telah ia haluskan. Ia tahu ramuan ini adalah anestesi yang sangat kuat, namun ia juga tahu efek sampingnya. Ramuan ini bisa mengacaukan kesadaran dan memicu panas tubuh yang tidak wajar. Saat Mei mulai mengoleskan pasta herbal itu ke dada dan perut Yuan yang berotot, suasana mulai berubah. Sentuhan jari-jari Mei yang lembut dan dingin di atas kulitnya yang panas membuat saraf Yuan berdenyut aneh. Sensasi mabuk perlahan mulai menjalar di kepala Yuan. Pandangannya mengabur, namun indra penciumannya menjadi sangat tajam. Ia bisa mencium aroma bunga melati dan obat-obatan yang menguar dari tubuh Mei. Setiap kali ujung jari Mei menyentuh kulitnya, Yuan merasakan sengatan listrik yang menyiksa sekaligus memabukkan. Ia merasa terganggu dengan respon tubuhnya sendiri. Dengan kasar, ia menepis lengan Mei hingga mangkuk obat itu nyaris jatuh. Tangan Yuan yang besar dan kuat mencengkeram leher Mei, mendorong wanita itu hingga punggungnya membentur tiang ranjang. Ia menatap Mei dengan tatapan liar yang sulit diartikan. "Kau... kau memang sengaja memberikan obat seperti ini padaku, Shu Mei?" desisnya, suaranya parau dan penuh kecurigaan. "Kau ingin membuatku lemah agar kau bisa menusukku dari belakang?" Mei mencoba tetap tenang meski napasnya tersengal akibat cengkeraman itu. "Aku tidak akan pernah memberimu racun. Itu hanya efek samping dari obatnya untuk menahan rasa sakitmu. Sabarlah, panas itu akan segera hilang." Yuan tertawa getir, matanya menelusuri wajah Mei yang tampak cantik di bawah cahaya lilin yang remang. "Sabar? Kau membuat darahku mendidih dan kau memintaku sabar? Kau sengaja melakukan ini untuk menggodaku, bukan? Kau pikir dengan tubuhmu, kau bisa menjinakkan aku?" Yuan melepaskan cengkeramannya di leher, namun tangannya turun dengan cepat, menarik tali pengikat pakaian linen Mei hingga bahu wanita itu tersingkap. "Kau ingin aku melakukan ini?" bisik Yuan tepat di telinga Mei. Mei tersentak, ia segera menepis tangan Yuan dengan wajah penuh ketakutan. Ia menatap Yuan seolah pria itu adalah setan yang siap menerkamnya. "Jangan salah paham! Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal sehina itu untuk mendapatkan perhatianmu!" Tawa Yuan kembali pecah. "Berani sekali kau menolakku. Aku adalah tuanmu! Aku tahu isi pikiran kotormu itu, Pengkhianat! Kau hanya berpura-pura suci agar aku memohon padamu!" Dengan satu gerakan cepat meskipun tubuhnya penuh luka, Yuan menarik tangan Mei dan menjatuhkan wanita itu ke pangkuannya. Ia mencengkeram dagu Mei dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya yang kini dipenuhi gairah gelap yang dipicu oleh obat dan amarah. Di luar pintu, Permaisuri yang baru saja tiba karena khawatir mendengar putranya terluka, menghentikan langkahnya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat pemandangan yang mengejutkan. Ia melihat putranya yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini mencium Mei dengan penuh paksaan dan gairah yang meledak-ledak. Ia melihat Mei meronta, namun Yuan justru semakin mengeratkan pelukannya. Permaisuri menarik napas perlahan, lalu berbalik pergi dengan tawa kecil yang tersimpan di bibirnya. Sepertinya lukanya tidak akan mematikan jika dia masih punya tenaga untuk berbuat seperti itu, pikir sang Permaisuri. Di dalam kamar, suasana semakin mencekam. Yuan melepaskan tautan bibirnya, meninggalkan bibir Mei yang basah dan sedikit bengkak. Mei terengah-engah, matanya berkaca-kaca karena terhina. Ia mencoba berdiri untuk melarikan diri, namun tangan Yuan yang kokoh menahan pinggangnya, menariknya kembali hingga dada mereka bersentuhan. "Kau mau pergi kemana?" bisik Yuan dengan nada mengancam yang sensual. "Kau mau melupakan kewajibanmu sebagai seorang istri, Shu Mei? Kau yang meminta satu bulan untuk membuktikan diri... dan malam ini, aku ingin melihat seberapa pantas kau melayaniku." Mei menatap Yuan dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, malam ini bukan lagi tentang obat dan luka, melainkan tentang penyerahan diri yang akan mengubah segalanya di antara mereka. "Kau memiliki pilihan, Mei," desis Yuan, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang lebih berbahaya daripada teriakan perang mana pun. "Menjadi alat politik yang kusembunyikan di paviliun ini, atau menjadi milikku sepenuhnya malam ini dan mempertaruhkan sisa harga dirimu." Tangan Yuan perlahan bergerak ke tengkuk Mei, menarik wajah wanita itu hingga hidung mereka bersentuhan. Napas panas sang Jenderal yang beraroma maskulin dan sisa ramuan herbal menerpa wajah Mei, membuatnya pening. Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, jari Mei tanpa sadar menyentuh luka di dada Yuan yang masih basah. Sebuah sentuhan yang bisa berarti penyembuhan, atau justru kehancuran. Mata Mei yang berkaca-kaca bertemu dengan tatapan gelap Yuan yang penuh tuntutan. Bibir Yuan hanya berjarak beberapa milimeter dari bibirnya saat ia membisikkan kata-kata terakhir yang membuat jantung Mei seolah berhenti berdetak. "Katakan padaku, putri pengganti... apakah kau cukup berani untuk membenciku saat aku menyentuhmu nanti?"Hening malam itu terasa begitu berat, seolah udara di sekitar taman Paviliun Kediaman Pelayan telah membeku. Shu Mei berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram erat kantong hitam berisi daun Labah Merah yang baru saja ia gali dari tanah. Di hadapannya, Lin yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. "Kenapa?" suara Mei bergetar, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Selama ini aku menganggapmu lebih dari sekadar pelayan. Kau adalah ibuku! Kau yang memegang tanganku saat aku menangis karena perlakuan Lian di Shu. Kau juga yang berkata bahwa aku beruntung mendapatkan pria seperti Yuan... Kau bilang kau bahagia melihatku dicintai olehnya! Kenapa kau tega meracuninya?!" Lin tidak menunduk. Ia tidak bersimpuh memohon ampun seperti biasanya. Wanita tua itu justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengejek setiap tetes air mata Mei. "Bahagia?" Lin tertawa rendah, suara yang biasanya terdengar lembut itu kini terdeng
Udara malam di sekitar barak elit Jin terasa semakin pekat oleh aroma kematian dan kecurigaan. Di tengah kekacauan itu, suara Long Yuan menggelegar, memberikan instruksi tegas untuk mengunci seluruh gerbang istana. Para prajurit berlarian, obor-obor menari liar menciptakan bayangan raksasa di dinding batu. Di bawah cahaya yang berkedip itu, Shu Mei berdiri mematung, namun matanya tidak tertuju pada suaminya yang sedang murka. Fokusnya terkunci pada sebuah jejak samar di tanah yang sedikit becek, tak jauh dari genangan darah hitam salah satu jenazah. Jejak kaki itu kecil, terlalu ramping untuk ukuran seorang prajurit pria. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mei memutuskan untuk melangkah mundur secara perlahan, menjauh dari kerumunan tanpa menarik perhatian Yuan yang sedang sibuk mengintimidasi para perwira. Ia mengikuti jejak itu dengan langkah seringan bulu. Jejak tersebut mengarah menjauhi keramaian barak, menyusup ke jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak hias menuju area pa
Suasana di dalam kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan gairah kini berubah menjadi sedingin makam. Long Yuan mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih, sementara Shu Mei sudah bergerak cepat menyambar kotak medis besarnya. Kabar tentang kematian mendadak para prajurit elit adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Naga Hitam. "Yuan... biarkan aku ikut," tegas Mei, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Tidak! Kau tetap di sini, Mei! Ini adalah pembunuhan, dan aku tidak tahu siapa yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang!" bentak Yuan sembari mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan kasar. Namun, Mei tidak mendengarkan. Ia justru melangkah lebih dulu, melewati Yuan dan prajurit yang masih bersimpuh di lantai. Jubah tidurnya yang tipis kini ia lapisi dengan jubah luar yang tebal, dan langkah kakinya terdengar mantap di koridor kayu. "Mei! Aku bilang jangan ikut campur!" raung Yuan, berusaha mengejar istrinya. "Wanita itu, keras kepala sekali..." Mei ber
Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut. "Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi!" Namun, baru saja kakinya melangkah satu tindak menuju pintu, sebuah tangan mungil namun kuat mencengkeram lengannya. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Yuan!" pekik Mei. Ia menarik lengan suaminya dengan seluruh tenaga yang ia punya, memaksanya untuk berhenti. "Lepaskan, Mei! Ini masalah kedaulatan militer. Jika pengkhianat itu melarikan diri—" "Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dan memacu kudamu, racun itu akan mengalir lurus ke jantungmu karena detak j
Suasana di dalam kamar utama Paviliun Naga terasa begitu kontras dengan dinginnya angin dari luar. Hanya ada suara deru napas yang saling berburu dan gemertak kayu bakar dari perapian yang mulai meredup. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, Long Yuan tidak lagi memberikan ruang bagi Shu Mei untuk menghindar. Ia menyudutkan istrinya ke dinding sutra, menciumnya dengan rasa lapar yang telah ia pendam selama berhari-hari. Mei, yang awalnya berniat hanya memberikan pelukan singkat, perlahan luluh dalam kehangatan dekapan suaminya. Tangannya yang mungil merambat naik, meremas bahu kokoh Yuan saat bibir lelaki itu menjelajahi lehernya dengan tuntutan yang mendalam. Aroma maskulin bercampur debu peperangan dari tubuh Yuan terasa begitu memabukkan. "Aku menagih janjimu, Mei," bisik Yuan serak di sela-sela ciumannya. Dengan gerakan yang tidak sabar namun penuh perasaan, Yuan mulai menanggalkan jubah perangnya yang berat, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara dentingan logam
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan ditelan kegelapan malam. Di barak Jin, Long Yuan tidak lagi bisa memegang kuas strateginya dengan tenang. Pikirannya sudah melesat jauh menuju desa perbatasan. Meski ia telah mengirimkan pasukan elitnya, rasa tidak tenang itu tetap berdenyut di bawah kulitnya. Dengan geraman rendah, ia menyambar jubah hitamnya, menaiki kuda perangnya, dan memacu hewan itu seperti iblis yang mengejar mangsa. Sesampainya di desa, suasana yang tadinya kacau mulai sedikit lebih teratur, namun kedatangan Yuan seketika mengubah atmosfer. Derap kaki kuda hitamnya yang besar dan suara dentingan zirahnya menciptakan aura dominasi yang menyesakkan. Saat Yuan berjalan melewati tenda-tenda darurat, rakyat yang tadinya berbisik-bisik langsung bungkam. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin, tidak berani menatap wajah sang Jenderal yang terkenal tanpa ampun itu. Bahkan anak-anak kecil yang tadi sempat bermain di







