LOGINLangit Jingga, gadis berusia dua puluh lima tahun ini memiliki tubuh tinggi semampai dengan body goals dan paras cantik bak Dewi Yunani membuat seorang anak petinggi POLRI tergila-gila padanya. Gayung bersambut, Langit Jingga menerima pinangan Davian Raziel Dharta dalam sebuah pertunangan yang akan membawa mereka ke jenjang pernikahan. Namun sayang, beberapa bulan sebelum hari pernikahan mereka berlangsung nasib naas menyambangi gadis yang kerap disapa Jingga itu. Seorang pria bernama Bumi Xabiru Dewangga yang merupakan anak dari Panglima Tinggi TNI tanpa sengaja merenggut keperawanan Jingga dalam keadaan tidak sadar karena di bawah pengaruh obat. Lalu bagaimana nasib Jingga setelah dirinya Bukan Perawan lagi? Apakah Davian masih mau menjadikannya sebagai istri? Dan bagaimana pertanggungjawaban Biru atas perbuatan yang tidak dia sengaja kepada Jingga?
View MoreCinta Pertama
Tangan pria itu berada dipucuk kepala Lara, samar dalam ingatan Lara apa yang saat itu dirasakananyya, apa yang saat itu terjadi, dia mendadak tidak mengenali dirinya, otaknya dipenuhi perasaan aneh tetapi sangat candu, sementara tubuhnya sesekali memaksa untuk menggigil tanpa terkendali.
“Are you ok?” Tanya Gaga, dari jarak yang sangat dekat sehingga Lara dapat merasakan hangat napasnya mengembus.
Gaga menurunkan tangannya ke tengkuk Lara, tanpa mengangkatnya dari permukaan kulit gadis itu, lalu memijat-mijatnya, Lara menggeleng pelan sebagai jawaban, gejolak yang ada di dalam diri Gaga semakin tak terbendung saat merasakan napas Lara tak beraturan. Gaga memangkas jarak antara mereka, segalanya bertemu tanpa perantara, tanpa dihalangi apapun lagi. Lara merasakan kehangatan menjalar dari ujung kaki hingga kepala, tetapi hal itu justru membuat tubuhnya semakin bergetar karena gigil.
“Demi Tuhan aku tidak pernah melakukan ini dengan siapapun sebelumnya, Ga.” Gumam Lara, matanya terpejam, tangannya mencengkram.
***
8 bulan sebelumnya …
Apa itu cinta pertama? Apakah cinta pertama adalah sosok yang pertamakali membuat jatuh cinta di dalam hidup? Lara mengingat-ingat saat pertama kali dia jatuh cinta yaitu saat usianya baru Sembilan tahun dan dia menyukai Fahri, teman sekelasnya yang masih ingusan itu. Lara kemudian bergidik itukah sebenarnya cinta pertama?
“Tidak mungkin.” Gumam Lara.
“Tidak mungkin apa, Ra?” Tanya Sela yang ada didekatnya.
“Eh, enggak.” Jawab Lara.
“Enggak enggak. Dasar aneh, kamu lagi mengkhayal lagi ya?”
“Aku lagi memikirkan cinta pertamaku, Sel.” Jawab Lara, akhirnya mengaku. “Apakah dia teman sekelasku waktu SD dulu, ya?” Lanjutnya.
Sela tertawa terbahak-bahak.
“Mana ada cinta pertama anak bau kencur.” Sergah Sela setelah mengakhiri tawanya. “Tuh cinta pertama kamu!” Lanjutnya seraya menunjuk salah seorang anak laki-laki yang sejak kelas satu SMA ditaksir oleh Lara.
“Ih, apaan, sih, Sel.”
“Hari ini adalah hari kelulusan kita, kamu tahu artinya?” Tanya Sela, Lara menggeleng. Sela mendengus kesal. “Itu artinya ini adalah kesempatan terakhir kamu nembak dia, atau kamu tidak akan pernah bisa bersama dia seumur hidup.” Jelas Sela.
“Uhuk.” Lara tersedak padahal saat itu dia tidak sedang makan atau minum apa-apa. “Masa aku yang nembak?” Protesnya.
“Ya, kan kamu yang suka.”
“Apa dia suka juga sama aku, ya, Sel?”
“Mana kutahu,” Sela mengendikkan bahu. “Makanya ditembak biar tahu.” Lanjutnya.
“Enggak, ah.”
“Itu artinya kamu siap buat gak akan bersama dia selamanya.” Tegas Sela.
“Lebih baik mungkin seperti itu.” Jawab Lara lesu.
Lara kembali mengalihkan pandangannya kepada Faldy, laki-laki yang sejak kelas satu disukainya. Tidak ada yang menarik dari laki-laki itu, perawakannya kecil, kulitnya gelap, dia juga bukan siswa popular di sekolahnya mungkin dia cuma memiliki satu-satunya kelebihan yaitu jago pelajaran matematika. Selebihnya, tidak ada. Seharusnya Lara dengan mudah bisa mendapatkannya, namun selama tiga tahun Faldy tidak pernah melirik Lara sama sekali.
“Apa aku tidak menarik, ya, Sel?” Tanyanya, dia menoleh ke samping dan ternyata Sela sudah tidak ada lagi di sisinya.
Hari itu adalah hari kelulusan di SMA Lara, teman-temannya sedang sibuk membicarakan kampus-kampus dan jurusan-jurusan yang hendak mereka masuki di universitas nanti. Namun berbeda dengan Lara, dia tidak akan nimbrung dengan obrolan teman-temannya itu karena Lara sudah membulatkan tekatnya untuk langsung bekerja setelah lulus SMA.
Hari sudah beranjak sore, acara itu telah tiba dipenghujung. Para siswa berpelukan satu sama lain sebelum akhirnya satu persatu dari mereka meninggalkan lapangan sekolah dan keluar melalui gerbang. Lara berpelukan lama sekali dengan Sela, sahabatnya yang meski setiap kali semester ada rolling kelas, namun mereka berdua tidak pernah berpisah, selalu satu bangku selama tiga tahun. Sela bilang dia akan berkuliah di luar kota dengan jurusan seni lukis, Lara mengangguk antusias mendengar itu, dia benar-benar ikut senang dan dengan tulus mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu.
“Makasih sudah jadi sahabat terbaikku walaupun kamu sering aneh.” Ucap Sela setelah mereka saling melepaskan pelukan.
“Makasih juga sudah mau menjadi sahabat orang aneh ini, ya, Sel.” Jawab Lara. Mereka berdua tertawa sebelum akhirnya Sela pamit pulang duluan.
Sebelum pulang, Lara menoleh sekali lagi, melihat bangunan sekolahnya untuk yang terakhir kali.
“Selamat tinggal putih abu-abu, selamat tinggal Faldy.” Gumamnya, lalu menoleh dan melangkah menjauh dari sekolah.
***
Satu bulan setelah lulus sekolah Lara mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan dirinya menetap di luar kota.
“Kenapa harus ke luar kota sih, Ra?” Tanya Ibunya, sesaat setelah Lara meminta izin. “Di sini banyak juga pekerjaan.’ Lanjutnya.
“Ya, karena pekerjaan itu punya jenjang karir yang lumayan untuk Lara yang Cuma lulusan SMA, Bu.” Jawabnya, “Memang benar di sini banyak pekerjaan, tapi untuk yang lulusan SMA, mentok-mentok cuma jadi karyawan supermarket.” Lanjutnya, menjelaskan.
“Memangnya pekerjaanmu nanti seperti apa?” Tanya ibunya.
“Jadi costumer service, Bu.”
“Tukang bersih-bersih kantor, gitu ya? kalau seperti itu apa tidak lebih baik jadi karyawan supermarket saja, Ra?”
“Costumer service itu melayani pelanggan di sebuah perusahaan, Bu. Misalnya, nih, kalau ada keluhan dari pelanggan atau pembeli, nah Lara yang melayani. Pelayanannya ada dua bu, secara langsung dan via jaringan.” Lara menjelaskan dengan hati-hati dan sedetail mungkin agar ibunya tidak salah arti. “Kalau yang ibu maksud itu namanya cleaning service, Bu.” Lanjutnya mempertegas.
“Habisnya sama-sama ada service-servicenya, sih.”
Lara tertawa sejenak.
“Jadi bolehkan, Bu. Lara merantau.” Tanyanya dengan memasang wajah memeles.
“Tanyalah, ayahmu.” Jawab ibunya, itu adalah sebuah jawaban akhir yang sebenarnya ibunya tidak setuju atas permintaan Lara.
Lara menelan ludah, dia selalu tidak yakin akan mendapat restu dari ayahnya. Selama ini, ayah Lara jauh lebih protektif dibandingkan ibunya. Lara biasa memaksa ibunya untuk membantunya membujuk ayahnya agar mendapatkan izin. Sedangkan untuk perkara kali ini, kemungkinan izin itu bisa dikantongi olehnya sangat tipis.
Lara melirik ke arah ayahnya yang dari tadi sibuk mengoreksi hasil ujian murid-muridnya di sekolah. Ayah Lara merupakan seorang guru honorer di salah satu sekolah menengah pertama negeri di kotanya. Lara masih mengurungkan ucapannya, meskipun sebenarnya ayahnya sudah mendangar percakapannya dengan ibunya.
“Yang penting kau bisa menjaga dirimu, hanya itu saja yang ayah minta.” Ujar ayahnya dengan tiba-tiba.
“Putri satu-satunya milik ayah kini sudah besar. Cepat atau lambat Lara akan meninggalkan ayah dan ibu untuk melanjutkan hidup sesuai dengan apa yang Lara impikan. Ayah tidak bisa mencegah jika yang kamu lakukan itu adalah hal baik.” Lanjut ayahnya, laki-laki itu meletakkan tumpukan kertas yang ada di tangannya, lalu memandang putrinya dengan senyuman yang terlihat sedih.
Lara tidak menyangka jika semudah itu mendapatkan izin dari ayahnya. Mulutnya seolah terkunci untuk berkata-kata, hanya matanya yang terlihat berkaca-kaca.
Biru merangkul pundak Jingga, mengecup pelipisnya sebagai ungkapan Terimakasih yang sudah ribuan kali dia ungkapkan semenjak Jingga dengan kesadaran sendiri mengajak Biru ke dokter kandungan setahun lalu untuk membuka KB IUD.Katanya Jingga merindukan suara tawa bayi dan pekerjaannya yang sekarang pun tidak seberat dulu.Jadi Jingga merasa mungkin sudah waktunya memiliki anak ke tiga.Dan tanpa dia duga, hanya dalam jangka waktu kurang lebih setahun setelah membuka KB IUD—Tuhan mempercayakan malaikat kecilnya lagi kepada mereka. Semua bahagia mendengar kabar kehamilan Jingga.Kehamilannya yang ketiga ini pun begitu dinikmati oleh Jingga.Pekerjaan Jingga tidak terganggu karena tidak ada kendala berarti selama kehamilan.Sampai Jingga lupa mengajukan cuti hamil, dia tetap pergi ke kantor meski kandungannya sudah memasuki masa persalinan.Pagi itu satu kantor geger karena Jingga ditemukan jatuh di kamar mandi oleh stafnya dengan ketuban pecah.“Panggil ambulan!” Atasan Jingga berseru k
Papi sudah pensiun sebagai Panglima TNI Republik Indonesia, sekarang beliau sedang menikmati masa tua di rumah saja. Ada beberapa bisnis yang digeluti papi yang sudah dipersiapkan sebelum pensiun tapi tidak memerlukan perhatian khusus dari beliau.Hanya sesekali saja mengecek dan sisa waktunya papi bisa habiskan dengan bermain bersama cucu.Setelah Cinta menjadi sarjana meski sempat terseok menjalaninya karena harus melahirkan anak ke tiga, papi meminta besannya yaitu papanya Jingga untuk memasukan Cinta menjadi pegawai Bank dari jalur Officer Development Program.Kebetulan Cinta berkuliah di kampus unggulan dan memiliki IPK yang baik dan ternyata Cinta bisa lulus menjalani test yang dilakukan pihak ketiga dan sekarang Cinta seperti kakak iparnya, menjadi seorang bankir.Davian tidak melarang Cinta berkarir, seperti halnya Biru yang justru mendukung karir Jingga.Meski sekarang Jingga lebih menikmati bekerja dibalik meja menjadi backoffice berkutat setiap harinya dengan kertas dan an
Hari berikutnya dan hari-hari selanjutnya, Cinta seakan bukan miliknya lagi.Cinta dikuasai oleh Kiana dan Bara apalagi Bara yang masih sering tantrum, kalau kata bunda dan mami—mungkin Bara tahu akan memiliki adik sementara dia masih ingin kasih sayang dan perhatian full dari kedua orang tuanya.Baiklah, ingatkan Davian untuk meminta Cinta pasang KB setelah melahirkan anak ketiga mereka nanti.Karena sesungguhnya, tanpa ada yang tahu kalau Cinta tertekan.Dia lelah karena harus membagi waktu dengan anak-anak dan kuliah.Berimbas pada bobot tubuh Cinta yang menurun padahal sedang mengandung.“Sayang.” Suara Davian yang baru saja masuk ke dalam kamar membuat Cinta refleks mengusap air mata di pipi.“Kamu nangis?” Davian bergerak mendekat dengan langkah cepat.Pria yang gagah dan selalu tampan di mata Cinta dengan seragam Polisinya itu langsung menangkup wajah Cinta menggunakan tangannya yang besar.“Kamu nangis?” Davian mengulang.“Enggak, tadi aku pakai obat tetes mata karena mata aku
Semenjak kejadian Davian menyusul Cinta yang pergi tanpa ijinnya ke Puncak, Cinta jadi banyak berubah.Sekarang Cinta lebih mementingkan keluarga kecilnya.Cinta sudah tidak lagi melimpahkan urusan anak-anak kepada Nanny kalau dia ada di rumah.Meski keteteran dengan tugas kuliah tapi sebisa mungkin Cinta yang mengambil peran untuk mengurus anak-anaknya.Davian juga sebagai suami tidak merasa dirinya paling benar, dia berpikir kalau Cinta sempat khilaf pasti karena kesalahannya juga.Bila dulu Davian jarang sekali mengajak Cinta jalan-jalan, setelah kejadian itu Davian membuat jadwal kencan berdua dengan Cinta di malam minggu.Jadi setiap malam minggu, Davian dan Cinta akan mengantarkan Kiana dan Bara bergantian antara rumah papinya Cinta atau rumah ayahnya Davian untuk menitipkan mereka sementara dia dan Cinta menghabiskan malam minggu berdua.Entah itu hanya makan malam, nonton konser, nonton film atau checkin di hotel berbintang dan pulang keesokan harinya. Dan malam ini—selagi ka
Davian menarik pundak Cinta kemudian mengecup pelipis istrinya.“Aku pake baju dulu ya, kasian papi sama mami udah nungguin.” Tidak ada respon dari Cinta, raut wajahnya masih masam.“Papi ganti baju dulu ya, Kiana duduk sini sama bunda.”Cinta merangkul Kiana sehingga Kiana mau duduk di atas pangkuanny
“Ibu sama Bapak manggil saya?” Lala datang dengan kepala menunduk.“Duduk di kursi itu,” kata Biru menunjuk kursi di depannya.Lala yang sedari tadi tidak berani mengangkat pandangan hanya menganggukan kepala lalu duduk sesuai perintah.Kepalanya masih menunduk setelah dia duduk.“Nanny Lala, mulai hari
“Pagi, Pak …,” sapa Jingga saat netranya bertemu dengan netra sang bos yang duduk di balik meja kerja.“Pagi … duduk, Bu Jingga.” Pak Kurnia mempersilahkan.Jingga tahu kalau dia akan dicecar habis-habisan karena target timnya masih merah sedangkan lima hari lagi akhir bulan.Jingga duduk, senyumnya ta
“Kamu yang pegang hape, aku gendong Kiana.” Davian memberi instruksi dan Cinta menurut lagi.Mereka berdiri di depan cermin, Cinta mengarahkan kamera belakang ponsel dan mulai menangkap beberapa pose dengan aba-aba hitungan satu sampai tiga. Cinta menekan beberapa beberapa kali tombol capture dengan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore