مشاركة

Bab 2

مؤلف: Lysa
Gadis itu bernama Cheria, seorang dokter magang di bawah bimbingan Tristan. Pada awalnya, saat Tristan menyebutnya di depan Irene, yang dia tunjukkan hanyalah rasa tidak suka. Katanya gadis itu sangat bodoh dan penakut, bahkan sering salah memberikan obat kepada pasien.

Belakangan, ketika Tristan datang ke luar negeri untuk merayakan ulang tahun Irene, hari itu dia justru menghabiskan sepanjang malam berdiskusi dengan Cheria mengenai kasus-kasus medis.

Barulah setelah panggilan berakhir, Tristan memuji Cheria di depan Irene sambil tersenyum, mengatakan bahwa gadis itu rajin belajar, berkembang dengan cepat, serta memiliki kepribadian yang lucu dan menarik.

Irene menatap lilin yang sudah habis terbakar dan bertanya dengan pelan apakah mereka bisa berhenti membicarakannya.

Saat itu juga, senyuman Tristan menghilang. Dia terdiam sesaat, lalu menjawab dengan datar, "Oke."

Setelah itu, ketika Irene tanpa sengaja menanyakan tentang Cheria lagi, Tristan mengatakan bahwa dirinya sudah tidak berhubungan lagi dengannya. Namun jelas sekali, dia berbohong.

Salju tipis berjatuhan di malam hari. Saat Irene pulang ke rumah, pakaiannya sudah basah dan menempel di tubuhnya. Dia memasukkan kode sandi yang telah dihafalnya di luar kepala. Kode itu adalah tanggal saat dirinya dan Tristan mulai berpacaran.

Tristan tidak mengubahnya. Pintu pun terbuka. Di dalam rumah, pemanas menyala dengan hangat. Irene menatap lemari kaca yang berada di tengah ruang tamu. Dia menatapnya tanpa berkedip untuk waktu yang lama.

Jantungnya menegang, air mata tiba-tiba mengalir deras. Di dalam lemari kaca itu, lampu kuning hangat menerangi segepok tiket pesawat. Setiap lembar diberi nomor urut. Semuanya tepat berjumlah 988 lembar.

Dulu, Tristan pernah dengan bangga memotretnya sebagai kenang-kenangan dan berkata bahwa itu adalah bukti cintanya kepada Irene.

Dia juga pernah berkata, saat berhasil mengumpulkan 1.000 tiket pesawat, Irene pasti sudah pulang ke tanah air. Saat itu, dia akan segera melamarnya agar mereka bisa bersama seumur hidup dan tidak pernah berpisah lagi.

Detak jantung Irene makin lama makin terasa berat. Dengan hati yang sakit, dia teringat setiap siang dan malam yang dijalaninya di negeri asing.

Demi menyelesaikan studinya lebih cepat, hampir setiap saat dia menghabiskan waktunya di perpustakaan. Dia tidak punya waktu untuk berteman. Bahkan teman-teman sekelasnya pernah mengejek dan menyebutnya membosankan.

Namun, dia tidak pernah peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah segera kembali ke sisi Tristan.

Saat mengerjakan skripsi, dia pernah kelelahan hingga terserang flu dan demam. Dia menyembunyikan semua dari Tristan dan tidak mengatakan apa pun.

Dia hanya menelan obat penurun panas, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa sambil tersenyum dan berkata kepada Tristan bahwa dirinya juga merindukannya. Benar-benar merindukannya.

Namun, ketika akhirnya keinginannya terwujud dan dia kembali ke tanah air, kenyataan justru memberitahunya bahwa semuanya sudah terlambat. Cinta Tristan telah berubah.

....

Saat Tristan pulang ke rumah, dia melihat Irene duduk di lantai sambil memeluk lututnya dan menangis hingga seluruh tubuhnya gemetar.

Alisnya langsung berkerut. Dia segera menghampiri untuk memeluk dan dengan cemas bertanya apa yang terjadi.

Namun, Irene mendorongnya. Dia memejamkan mata. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri saat dia berusaha keras mempertahankan kewarasannya. "Aku tadi sepertinya dengar suara Cheria di telepon."

Hanya beberapa kata pendek itu saja sudah menghabiskan seluruh tenaganya. Dia beberapa kali menarik napas dengan gemetar sebelum akhirnya melanjutkan, "Sudah selarut ini, kenapa kalian masih bersama?"

Setelah mengatakannya, dia menatap langsung ke dalam mata hitam Tristan. Di sana ada sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sikap dingin, tidak peduli, dan kelelahan yang sangat dalam.

"Kamu harus bahas ini sekarang?" Tristan menegakkan tubuhnya. Dia menjaga jarak yang tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh dari Irene, sementara suaranya terdengar agak dingin.

"Cuma kebetulan bertemu. Kami cuma rekan kerja biasa, nggak ada hubungan kotor seperti yang kamu bayangkan."

Kalau hanya rekan kerja, lalu kenapa mereka berpelukan seakrab itu?! Namun, sebelum Irene sempat mengucapkannya, Tristan sudah memiringkan tubuhnya.

Di belakangnya terdapat sebuah kotak perhiasan dan kue yang cantik. Dia secara khusus mengambilnya sendiri di tengah cuaca yang bersalju.

Irene langsung terdiam. Jantungnya seolah dihantam berkali-kali. Rasa getir, sesak, dan bahagia bercampur menjadi satu.

Namun, kemudian suara Tristan kembali terdengar. Dingin dan keras.

"Cheria adalah gadis yang baik. Kamu nggak seharusnya curiga sama dia. Dia sangat mandiri dan bisa berada di laboratorium seharian penuh. Nggak seperti kamu. Sedikit capek karena kuliah saja, kamu sudah ngeluh ke aku."

"Dia sangat rasional. Dia nggak pernah mencampurkan emosi pribadi ke dalam pekerjaannya. Nggak seperti kamu yang setiap buka mulut selalu melontarkan pertanyaan dengan sangsi."

"Aku dan dia sangat kompak. Di ruang operasi, dia bisa bekerja sama dan memahami aku dengan sempurna."

Pada akhirnya, Tristan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Irene, sampai sekarang aku masih mencintaimu. Tapi kalau kamu terus buat keributan tanpa alasan, aku juga manusia. Aku juga bisa capek."

Hadiah-hadiah itu dia lemparkan ke tempat sampah. Kue krim putih yang indah pun menjadi berantakan.

Kue itu persis seperti cinta mereka. Berantakan, menyedihkan, dan tak lagi utuh.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 21

    "Kamu pergi saja."Setelah waktu yang terasa sangat lama, Tristan menutup matanya dengan kuat dan berkata dengan suara tertahan kepada Irene, "Pergi sekarang juga."Irene tidak ragu sedikit pun. Dia segera bangkit dan merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju pintu. Atas perintah Tristan, pintu yang terkunci itu kembali dibuka. Sebelum Irene benar-benar menghilang dari pandangannya, pria itu akhirnya bertanya dengan suara lirih, "Benarkah ... kita sudah nggak punya kemungkinan lagi?"Suara seraknya yang terendam alkohol terdengar rendah dan berat, membuat dirinya tampak semakin kesepian dan menyedihkan.Irene tidak menjawab. Namun, Tristan sudah mendapatkan jawabannya. Entah itu tawa mengejek dirinya sendiri atau karena kesedihan yang telah mencapai puncaknya, dia tiba-tiba tertawa pelan.Lalu dia berteriak ke arah punggung Irene, "Irene, jangan lupakan aku ... dan jangan membenciku."Irene melangkah keluar dari hotel.Langit dipenuhi awan gelap yang pekat. Angin dingin bercampur kabu

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 20

    Malam pun segera tiba.Tempat yang telah disiapkan berada di dalam ruang VIP. Begitu melangkah masuk, Irene langsung terkejut melihat beberapa brankas yang terbuka di atas meja. Di dalamnya tersusun tumpukan demi tumpukan uang tunai.Jika dihitung secara kasar, jumlahnya memang mencapai 20 miliar. Namun, pemandangan itu sama sekali tidak membuat Irene senang. Sebaliknya, dia merasa semuanya sangat tidak normal. Langkahnya langsung terhenti dan secara naluriah dia berbalik hendak pergi.Akan tetapi, sudah terlambat.Pintu telah ditutup dari luar. Terdengar bunyi "klik" saat kunci diputar.Pupil mata Irene menyusut tajam. Dia segera berjalan cepat menuju pintu dan mencoba memutar gagangnya. Namun sekeras apa pun dia menekan, pintu itu tidak mau terbuka."Irene ...."Suara yang sangat familier milik Tristan terdengar dari belakangnya.Amarah Irene langsung berkobar. Dia sudah muak dengan sikap Tristan yang terus mengejarnya tanpa henti."Tristan, sebenarnya apa yang kamu inginkan?! Apa ka

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 19

    Dyson.Jika Tristan adalah tuan muda kalangan elite ibu kota yang membuat banyak orang iri, maka keberadaan Dyson adalah sosok bangsawan konglomerat yang sama sekali tak terjangkau.Sejak kecil dia tumbuh di luar negeri, tetapi di dalam negeri tidak pernah kekurangan cerita tentang dirinya. Atau lebih tepatnya, legenda tentang dirinya.Kecerdasan luar biasa hanyalah kelebihan paling sepele yang dimilikinya. Yang lebih mengerikan, dia sudah mendirikan perusahaannya sendiri pada usia 15 tahun dan hanya dalam waktu satu tahun berhasil menjadikannya perusahaan terkemuka di dalam maupun luar negeri.Saat ini dia masih berstatus mahasiswa, tetapi aset yang dimilikinya tak terhitung jumlahnya. Tidak diragukan lagi, dia adalah orang terkaya di dunia."Kamu pikir aku akan percaya?" balas Tristan langsung. Dia sama sekali tidak percaya Irene bisa memiliki hubungan dengan Dyson.Begitu membayangkan Irene menemukan seseorang yang seratus kali lebih unggul darinya, seseorang yang sama sekali tidak

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 18

    Album foto itu mendadak terasa dingin. Saat digenggam di telapak tangan, bahkan sudut-sudutnya terasa menusuk dan membuat sakit.Tristan menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju beberapa langkah dan menarik Irene ke sisinya. Dia tahu tenaganya agak terlalu besar, tetapi itu sudah hasil dari usahanya menahan diri.Hanya Tuhan yang tahu, rasa cemburu dan keinginan untuk memiliki langsung membanjiri tubuhnya saat melihat ada pria lain muncul di samping Irene."Irene, aku punya hadiah untukmu," katanya dengan suara tertahan.Awalnya, Tristan mengira Irene pasti akan menanyakan ke mana dia pergi setelah dirinya menghilang tanpa sepatah kata selama dua hari. Namun dia sama sekali tidak menyangka, kalimat pertama yang diucapkan Irene saat melihatnya justru adalah, "Bukannya kamu sudah pergi? Kenapa masih di sini?"Begitu kata-kata itu diucapkan, Tristan hampir tidak mampu mempertahankan senyum di wajahnya. Otot-otot wajahnya menegang saat dia memaksakan tawa kaku."Istriku, mana mungkin

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 17

    Tristan bahkan tidak ingat bagaimana dirinya diusir oleh petugas keamanan. Sepertinya dia tidak merasa malu. Tidak juga merasa marah. Yang ada hanyalah ketidakpercayaan yang memenuhi seluruh hatinya.Irene tidak pernah mengatakan kata-kata perpisahan seperti itu kepadanya. Di hadapannya, Irene selalu lembut. Selalu penuh pengertian. Selalu memaafkan. Tristan-lah yang telah kehilangan dirinya.Namun, dia tidak rela menyerah begitu saja. Irene adalah orang yang ingin dia genggam tangannya hingga akhir hayat. Dia bersedia melakukan apa saja, asalkan Irene mau memaafkannya.Karena itu, Tristan menunggu sangat lama. Dia menunggu hingga matahari perlahan tenggelam. Barulah Irene keluar dari aula konferensi.Di sekelilingnya ada beberapa teman kuliah yang tersenyum cerah.Mereka memuji Irene dalam bahasa asing, mengatakan bahwa dia begitu luar biasa dan jumlah dana investasi yang berhasil diperoleh jauh melampaui perkiraan mereka.Namun, Irene hanya menggeleng dengan rendah hati. "Ini adalah

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 16

    Mungkin karena langit masih berbelaskasihan padanya. Pada akhirnya, Tristan benar-benar berhasil bertemu dengan Irene. Dia berdiri di area penonton yang remang-remang, sementara Irene berada di tengah panggung dan bersinar terang.Sorotan lampu jatuh ke tubuhnya, membalutnya dengan lingkaran cahaya yang memukau.Irene mengenakan setelan blazer dan rok pendek yang rapi serta elegan. Rambut yang disanggul semakin menonjolkan kesan tegas dan bersih, sementara beberapa helai rambut tipis di dekat dahinya membuatnya tampak lebih anggun.Setiap senyuman, setiap gerakan, dan setiap ekspresinya memancarkan kepercayaan diri.Dengan bahasa asing yang fasih dan penuh pesona, dia menjelaskan proyek startup miliknya dengan tenang dan sistematis.Irene benar-benar telah berubah ....Tristan berdiri terpaku di bawah panggung, menatapnya dengan penuh keterpesonaan.Tidak. Lebih tepatnya, Irene seolah kembali menjadi sosok yang pertama kali dia temui dahulu.Tristan masih ingat dengan jelas. Saat dia m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status