Mag-log inPOV Angela
Begitu aku masuk ke mobil, aku langsung mengunci pintu. Baru saat itulah aku mengembuskan napas yang sejak tadi kutahan. Tanganku gemetar saat menyalakan mesin.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang. Setiap lampu merah membuat dadaku mengencang. Setiap mobil yang melambat di sampingku membuat jantungku melonjak. Ketakutan jika Ian akan mengikuti. Suaranya juga terus menggema di kepala.
Katakan tidak… dan kau akan tahu kenapa itu ide yang buruk.
POV AngelaBeberapa menit kemudian, aku menyadari Aaron tidak sedang membuat satu hidangan saja.Dia membuat beberapa.Karena penasaran, aku berdiri dan berjalan mendekatinya di dapur. Aku terpana melihat pemandangan di depanku.Di atas kitchen island sudah tersaji beberapa potong roti sourdough panggang, grilled chicken dan roasted potatoes.Sementara itu, sepanci sup ayam hangat sedang mendidih di atas kompor.Aku memandang semuanya dengan tak percaya selama beberapa saat. Bahkan cara dia menata makanannya terlihat sangat profesional."Jadi kau bisa memasak."Dia tidak menjawab.Pandanganku beralih ke freezer besar di sampingku."Aku ingat pernah melihat banyak wadah makanan berlabel di freezermu. Ada nama makanan dan tanggalnya. Itu masakanmu?""Bukan," jawabnya singkat."Jadi, siapa yang menyiapkannya?""Seorang koki.""Aku
POV AngelaAku melihat Aaron langsung berbalik ke arahku.Aku masih berusaha berpura-pura seolah tidak ada yang salah sementara gelombang mual menghantamku lagi sampai aku tidak bisa menahannya.Satu tanganku langsung bertumpu pada dinding bata sementara tangan satunya menutupi mulutku.“Ugh..."Aku membungkuk dan akhirnya muntah.Napasku menjadi tidak beraturan saat aku berusaha menenangkan diri.Beberapa detik kemudian, Aaron sudah berdiri tepat di depanku.“Ada apa denganmu?”Aku cepat-cepat menyeka mulutku lalu memaksa diri berdiri tegak.“Tidak apa-apa.”Ekspresinya tetap dingin. Dia hanya menatapku selama beberapa detik.Lalu perkataannya kali ini menghantamku.“Kita ke rumah sakit.”Mataku langsung membelalak.“Apa?”“Tidak.” Aku cepat-cepat menggeleng. “Tidak perlu.”
POV AaronSaat aku kembali ke rumah malam harinya, aku melepaskan dasiku sambil masuk ke dalam rumah. Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. Tubuhku sudah lelah setelah hari yang panjang tetapi pikiranku terus terbayang Angela.Aku berjalan lebih jauh ke dalam rumah untuk menemukannya tetapi dia tidak ada di mana-mana.Aku langsung mengeluarkan ponselku.Panggilan itu langsung tersambung setelah dering kedua."Di mana dia?""Di sebuah private members club di West Hollywood.""Dengan siapa?""Sendirian.""Kirim alamatnya," kataku sebelum mengambil kunci mobil dari meja."Ya, Tuan."***Kurang dari tiga puluh menit kemudian, aku berjalan memasuki private club itu dan berhenti di depan salah satu ruangan.Begitu aku masuk, kedua wanita itu langsung menoleh ke arahku.Angela membeku sementara ekspresi Lyla langsung berubah seketika.Tatapan
POV AngelaNama Lyla langsung muncul di layar ponselku.“Halo?""Ayo kita ketemu."“Sekarang?”“Ya."Aku memejamkan mata sebentar.“Lyla, paparazzi ada di mana-mana sekarang.”“Aku tahu.” Nada suaranya langsung berubah tajam. “Itu kenapa aku sudah memilih tempat yang privat."“Aku akan mengirimkan alamatnya,” lanjutnya cepat. “Gunakan pintu belakang. Tidak akan ada yang melihatmu.Sebelum aku sempat menjawab, teleponnya langsung terputus.***Malam itu, sekitar empat puluh menit kemudian, mobil yang kutumpangi berhenti di belakang sebuah private members club di West Hollywood.Tempat itu cukup terkenal di kalangan selebriti karena paparazzi tidak bisa sembarangan masuk.Aku langsung mengenakan hoodie dan topi sebelum turun dari mobil.Seorang staff segera membawaku masuk lewat pintu belakang tanpa banya
POV Angela“Aku lelah, Beth.”Beth langsung terdiam.“Aku benar-benar lelah.”Ruangan kembali sunyi beberapa detik.Lalu Beth berjalan mendekat dan duduk di sampingku.“Dengar.” Nada suaranya jauh lebih lembut sekarang. “Kalau kau ingin break, fine. Kalau kau ingin menjauh dari Hollywood untuk sementara, aku akan mendukungmu.”“Tapi jangan membuat keputusan besar saat hidupmu sedang berantakan seperti sekarang.” Beth menatapku lurus. “Karena begitu semuanya tenang nanti… mungkin kau akan menyesal meninggalkan hal yang sebenarnya masih kau cintai.”Aku hanya diam.Beth memperhatikanku beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas pelan."Dan jujur saja... aku rasa kau tidak cuma mencoba lari dari Hollywood sekarang.""Kau juga mencoba lari dari Aaron, kan?""Aku tahu kau tidak ingin melibatkannya," lanjutnya. "Tapi k
POV AngelaAku memejamkan mata sebentar."Aku ada di rumah Aaron.""Apa?""Angela," suara Beth terdengar frustasi. "Sekarang seluruh internet sudah berpikir macam-macam tentang kalian berdua. Jadi ini benar-benar waktu yang buruk untuk mengatakan kalimat itu."Aku tidak menjawab.Beberapa detik kemudian, Beth kembali bicara."Kirim alamatnya."“Beth...""Aku akan ke sana sekarang."Nada suaranya terdengar tegas kali ini.Sebelum aku sempat membantah lagi, teleponnya langsung terputus.Aku akhirnya mengirimkan lokasi rumah Aaron kepadanya.Jujur saja... aku sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini pada Beth.***Sekitar tiga puluh menit kemudian, ponselku kembali bergetar dengan pesan baru dari Beth.Penjaga di depan tidak mau membiarkanku masuk.Aku langsung berjalan keluar menuju gerbang depan.Beberapa detik kemudi
POV AngelaAku menarik napas pelan. “Kau mengajakku ke sini. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”Ian menyandarkan punggungnya ke kursi. Senyum tipis bermain di sudut bibirnya.“Tidak ada,” jawabnya ringan. “Aku hanya mengajakmu makan. I
POV AngelaPintu pengemudi mobil hitam itu terbuka perlahan dan memperlihatkan sosok familiar yang turun.Ian Bennett.Sial.Aku mendorong pintu mobilku dan turun cepat, menutup jarak di antara kami.Telapak tanganku langsung menghantam wajahnya keras sebe
POV AngelaPagi itu, aku kembali berdiri di depan pintu kamarnya.Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ini murni soal praktis. Lengannya masih cedera. Siapa pun pasti kesulitan melakukan banyak hal dengan satu tangan.Setidaknya, itu yang terus kuucapkan dalam hati.
POV AaronAku menutup pintu kamar mandi dengan bahu.Arm sling sudah kulepas dan kuletakkan di kasur tadi. Lenganku terasa berat tanpa penyangga, nyerinya masih ada.Aku membuka keran shower dengan satu tangan.Air jatuh ke lantai, memantul dingin sebelum berubah







