LOGINPOV Angela
Begitu aku masuk ke mobil, aku langsung mengunci pintu. Baru saat itulah aku mengembuskan napas yang sejak tadi kutahan. Tanganku gemetar saat menyalakan mesin.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang. Setiap lampu merah membuat dadaku mengencang. Setiap mobil yang melambat di sampingku membuat jantungku melonjak. Ketakutan jika Ian akan mengikuti. Suaranya juga terus menggema di kepala.
Katakan tidak… dan kau akan tahu kenapa itu ide yang buruk.
Dia memang selalu seperti itu, sangat menempel dengan keyakinan bahwa aku tidak pernah benar-benar bebas darinya.
Sejauh apa pun aku berlari, selama apa pun waktu berlalu, dia selalu ada menunggu momen yang tepat untuk mengambil kembali kendali.
Saat aku sampai di rumah Aaron, matahari sudah hampir tenggelam. Aku menendang sepatu, lalu bersandar di pintu sambil memejamkan mata.
Kata-kata Ian merayap kembali ke pikiranku.
Aku tidak menyesal. Sedikit pu
POV AaronRapat dijadwalkan pukul sepuluh. Aku masuk pukul sepuluh kurang dua.Darren sudah duduk di sisi kanan meja dengan tabletnya yang terbuka. Dia mengangguk singkat begitu aku duduk."Mulai," kataku.Brand Manager langsung berdiri dan memutar layar di ujung ruangan."Autumn Reserve siap rilis satu bulan lagi," katanya. "Limited batch. Karakternya lebih dalam, oak-forward, bukan untuk first-time drinker."Aku mengangguk. Itu memang konsep yang kami set sejak awal."Kami melihat perlu ada wajah kampanye," lanjutnya. "Bukan iklan masif. Visual campaign saja, print, katalog buyer, dan media lifestyle."PR menambahkan, "Tujuannya positioning. Supaya Autumn Reserve punya identitas sendiri."Aku bersandar di kursi, "Siapa wajahnya."Brand manager mengambil beberapa map dan mendorongnya pelan ke arahku."Ini masih shortlist awal," katanya.Aku mengangguk tanpa koment
POV AngelaTangannya masih menahan pinggulku erat, membuatku tak bisa bergerak sedikit pun."Ahh… Aaron…"Namanya lolos begitu saja dari bibirku, serak dan tak terkendali. Napasku tersendat dengan tubuhku yang menggeliat tak berdaya. Lidahnya masih bermain, tangannya menjelajahi tubuhku dengan intensitas yang membuat kepalaku kosong.Saat gelombang sensasi itu hampir datang, dia tiba-tiba berhenti.Aku terengah, menatapnya tanpa kata.Dia mendekat perlahan, begitu dekat hingga napasnya menyentuh kulit di bawah telingaku."Kau gemetar," katanya rendah.Sentuhannya kembali ke pahaku, lambat dan disengaja, cukup untuk mengingatkanku pada sensasi yang baru saja dia ciptakan, membuatku menginginkan lebih."Tubuhmu selalu jujur," lanjutnya dingin.Gerakannya naik dari paha ke pinggang, menyusuri dada. Setiap sentuhan terasa sengaja dan menggoda, sampai akhirnya dia menahan rah
POV AngelaKeheningan di dalam mobil terasa berat.Aku menggeser sedikit tubuhku, lalu berdehem pelan. Pada akhirnya, aku yang membuka suara, sekedar untuk mencairkan suasana."Umm... kau tidak memakai arm sling-mu."Dia tidak menjawab sebaliknya aku bisa melihat urat di punggung tangannya yang menonjol, jari-jarinya mencengkeram setir terlalu erat."Aku tidak tahu kau akan datang ke sini," kataku akhirnya. Jujur. Tanpa maksud apa pun.Dia tetap diam.Beberapa detik berlalu sebelum ponselnya bergetar. Aaron merogohnya dari saku celana tanpa menoleh ke arahku. Aku tidak tahu apa yang dia lihat di ponselnya, tapi perubahan di wajahnya jelas, rahangnya mengeras dan sorot matanya menjadi lebih gelap.Tanpa sepatah kata pun, dia menyalakan mesin.Suara mesin menyala memecah keheningan. Mobil langsung melaju keluar dari area estate. Tidak terburu-buru, tapi tegas.Aku memilih diam.&nb
POV AngelaAku merasakan udara yang semakin menegang di antara persaingan sengit mereka.Aaron mengangkat paddle-nya lagi."Satu koma tiga."Ian menyeringai. "Dia sangat keras kepala."Suara juru lelang terdengar semakin naik oleh antusiasme."Kita punya satu koma tiga juta. Apakah ada satu koma empat?"Ian mengangkat paddle-nya tanpa ragu. "Satu koma empat."Beberapa desahan tersebar di beberapa meja. Seorang wanita di meja seberang menutup mulutnya. Ini sudah melewati batas wajar. Gila.Aku menoleh ke Aaron.Kali ini, dia menoleh balik.Tatapan kami bertemu.Sekilas saja, aku bisa merasakan kemarahan dari sorot matanya sebelum dia kembali mengangkat paddle-nya. "Satu koma lima."Ruangan nyaris hening sebelum tepuk tangan meledak. Juru lelang tersenyum lebar, jelas menikmati pertarungan ini.Ian terkekeh pelan. "Kau membuatnya bertahan le
POV AngelaTidak berapa lama, seorang pria bersetelan hitam rapi mendekat, earpiece kecil tersembunyi di teliganya."Miss Angela?" tanyanya.Aku mengangguk."Tuan Bennett sudah berada di dalam. Silakan ikut saya."Dia langsung berbalik tanpa menunggu jawabanku.Aku mengikutinya satu langkah di belakang. Begitu pintu masuk terbuka, suara langsung menyergap, musik lembut, tepuk tangan yang terputus-putus, dan dengung percakapan yang bercampur tawa.Lalu sebuah suara jernih dan percaya diri memotong semuanya."Hadirin sekalian, saat ini tawaran berada di angka lima ratus ribu. Apakah ada yang menawar enam?"Langkahku melambat.Mataku refleks mengarah ke arah panggung. Seorang pria yang terlihat seperti juru lelang tampak memakai tuxedo rapi. Di belakangnya, layar besar menampilkan lukisan abstrak.Aku membeku.Jadi Ian menyeretku ke acara lelang.Ru
POV AngelaBegitu aku masuk ke mobil, aku langsung mengunci pintu. Baru saat itulah aku mengembuskan napas yang sejak tadi kutahan. Tanganku gemetar saat menyalakan mesin.Perjalanan pulang terasa lebih panjang. Setiap lampu merah membuat dadaku mengencang. Setiap mobil yang melambat di sampingku membuat jantungku melonjak. Ketakutan jika Ian akan mengikuti. Suaranya juga terus menggema di kepala.Katakan tidak… dan kau akan tahu kenapa itu ide yang buruk.Dia memang selalu seperti itu, sangat menempel dengan keyakinan bahwa aku tidak pernah benar-benar bebas darinya.Sejauh apa pun aku berlari, selama apa pun waktu berlalu, dia selalu ada menunggu momen yang tepat untuk mengambil kembali kendali.Saat aku sampai di rumah Aaron, matahari sudah hampir tenggelam. Aku menendang sepatu, lalu bersandar di pintu sambil memejamkan mata.Kata-kata Ian merayap kembali ke pikiranku.Aku tidak menyesal. Sedikit pu







