Share

BAB 27.

last update publish date: 2026-06-23 11:33:15

Suasana di depan gerbang SMA Budi Karya mendadak berubah menjadi medan perang yang mencekam. Baru saja Olivia hendak melangkah keluar untuk pulang, gerbang sekolah terpaksa ditutup rapat oleh satpam. Di jalanan raya tepat di depan sekolah, puluhan cowok dengan seragam sekolah sudah saling berhadapan.

Tawuran pecah. SMA Rajasa, sekolah rival abadi mereka, datang membawa pasukan penuh dengan senjata tajam, balok kayu, dan batu. Di kubu sekolah Olivia, Kafka memimpin barisan paling depan bersama g
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 195.

    "Aku nggak pernah nyangka lho kita akan sejauh ini, aku pikir sebelumnya setelah putus sama kamu dan kamu ninggalin aku, semua akan selesai …."Olivia menyeruput coklat hangat miliknya, masih dengan menatap hujan yang deras turun di luar ruangan. Rintiknya menerpa basah ke kaca bening, menciptakan suara dentingan samar yang menyelimuti malam hening."Kenapa kamu mikir kayak gitu? Padahal aku setia banget lho sama kamu." Suara Kafka terdengar jelas di belakang Olivia, membuat Olivia sedikit tersentak karena kaget tiba-tiba tangan besar itu sudah melingkar pada bahunya.Masih dengan memegang gelas berisi coklat hangat, dia geser pada Kafka. "Minum nih, aku bikin tadi." Disambut oleh anggukan Kafka.Diseruputnya cokelat hangat yang—entah kenapa begitu nikmat—terasa berbeda. Atau hanya perasaannya saja? "Enak, Sayang …"Panggilan yang berubah menjadi 'aku-kamu' itu mengalir begitu saja. Sejak kemarin di sekolah, Olivia merasa Kafka lebih berbeda.Berkali-kali memanggilnya Olivia dengan s

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 194.

    Hembusan angin kencang menerpa wajah Kafka, membuat rambutnya yang berantakan jadi semakin tidak beraturan. Matahari sudah mulai turun, menyisakan langit yang sudah menggelap.Karina duduk di samping Kafka, di kursi yang sudah rusak sisinya. Ditopang oleh kaki masing-masing agar tidak ambruk."Lo kenapa nyamperin gue? Mau marahin gue kayak Panji?" suara Karina ketus. Tidak menoleh ke samping.Kafka menarik napas.Berat sekali."Nggak. Gue cuma mau minta maaf sama lo kalau selama ini sikap gue ke lo kurang baik sebagai kakak," jelas Kafka.Tentu saja hal itu membuat Karina menoleh, dia sudah menahan tubuhnya agar tidak memutar menghadap Kafka. Takut kursi yang mereka duduki bergoyang."Tiba-tiba banget?"Kafka mengangguk. "Gue belum sempat jelasin ke lo soal Olivia sejak awal gue pacaran sama dia. Bukannya gue nggak mau ngobrol sama lo, tapi … rasa benci gue tiap lihat muka lo terlalu besar. Gue berusaha jauhin lo … karena tiap lihat kebersamaan kalian di rumah Papa, bikin gue merasa k

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 193.

    Sore perlahan turun, menyisakan berkas cahaya keemasan yang memantul di lapangan yang masih basah karena gerimis siang tadi.Olivia dan Sarah duduk menghadap lapangan basket, tempat Kafka, Rio, Haykal dan Hendra bermain basket. Mereka saling lempar, dorong dan setelahnya bertengkar kecil yang dipisahkan oleh wasit dadakan, anak kelas 12.Di kanan kiri Olivia dan Sarah bertumpuk seragam putih milik para laki-laki yang sedang melakukan oper bola itu, beberapa menit lalu sejak bel pulang sekolah. Tiba-tiba ide bermain basket ini menjadi satu-satunya alasan Olivia dan Sarah masih duduk di tribun kecil.Menunggu pasangan masing-masing."Gue nggak nyangka akhirnya kita akan ada di momen kayak gini, ngeliat pasangan masing-masing main bareng. Kita duduk bareng buat menyemangati mereka." Olivia bersuara, membuat Sarah mengalihkan tatap.Senyum tipis terbit di wajah Sarah. Setelah seharian mereka melakukan tes pemilihan minat dan bakat untuk kelas 12, momen ini setidaknya sudah menjadi penyega

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 192.

    Siang ini keadaan kantin sekolah begitu penuh, bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit lalu. Di beberapa stand makanan pun sudah mengantri, antriannya mengular hingga ke pintu masuk kantin. Membuat Olivia, Kafka dan juga Sarah mendelik tatkala melihat semua isi meja penuh.Hanya beberapa meja yang berisi dua orang, Rio sudah Kafka tugaskan untuk mencari tempat selain di kantin. Jika menunggu setengah isi kantin kosong, maka mereka akan kehabisan waktu istirahat. Alhasil mereka menempati taman samping sekolah.Sarah membagi setengah es jeruknya pada Haykal, laki-laki itu menyusul setelah tidak mendapatkan tempat di kantin. Sesuai arahan Kafka, semua teman-temannya berkumpul di taman samping. Membuat dua lingkaran.Lingkaran pertama berisi Kafka, Olivia, Sarah dan Haykal. Sedangkan di lingkaran kedua berisi Rio, Hendra dan teman-temannya yang lain. Makanan hasil traktiran dari Kafka ini membuat suara semakin riuh, saling berebut dan saling balas canda tawa.Olivia mengedarkan tata

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 191.

    Kafka berdiri di depan mobilnya, kedua tangannya bersedekap di dada. Netranya menatap erat pintu kediaman Kusuma yang masih belum terbuka, Olivia masih di dalam sana. Berbicara dengan ayahnya, entah membicarakan apa.Hardi meminta Kafka untuk menunggu Olivia di luar. Pria tua itu—entah firasat Kafka tidak enak— sejak mengajak Olivia mengunjungi tempat ini.Masih terjebak di dalam pusara rasa penasarannya, suara hentakan kaki yang mendekati Kafka, membuat Kafka menarik kembali dirinya. Memusatkan perhatian penuh pada gadis yang sedang membawa sebuah kantong plastik berukuran besar dari dalam rumahnya.Langkahnya yang pelan tapi dihentak itu membuat Kafka mengerutkan kening, gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya."Lo nggak diapa-apain sama bokap gue, kan?"Olivia melangkah mendekat, mengangsurkan sekantong plastik besar itu kepada Kafka. "Nggak, ini buat lo. Stok makanan seminggu."Tatapan Kafka turun, menatap heran pada tubuh gelisah Olivia. "Kok buat gue? Nggak mungkin banget bokap

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 190.

    Hari kamis sore setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka, Olivia dan Kafka sepakat untuk menyambangi kediaman Kusuma. Kafka sudah berjanji untuk membenahi hal-hal yang seharusnya dia perbaiki, setidaknya dia akan mencoba meredam rasa ingin balas dendam demi bersama Olivia.Mobil Kafka terparkir rapi di pinggir jalan, tidak jauh dari kediaman keluarga Kusuma. Rumah bak istana itu terlihat menjulang di antara rumah lainnya.Gagah dan mewah.Seakan tahu pemilik di dalamnya memang bukan orang sembarangan.Olivia membuka kaca dari dalam tasnya, menyisir rambut yang sempat tidak beraturan karena kegiatan pramuka di bawah terik matahari siang tadi. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke berbagai sisi tubuhnya.Membuat Kafka terbatuk pelan, Olivia langsung buru-buru menyimpan kembali parfum dan sisir kecilnya. Lalu, menoleh khawatir pada Kafka yang sedang meneguk air."Duh, maaf. Nggak sengaja, harusnya gue pakai parfum di luar aja."Kafka mengibaskan kedua tangan di udara sembari mengg

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status