مشاركة

BAB 77.

مؤلف: brownies coklat
last update تاريخ النشر: 2026-07-15 12:03:42

Kafka datang ke basecamp sore hari setelah mengantar Olivia pulang ke rumahnya dan menjelaskan kejadian hari itu ke orang tua Olivia, responnya di luar dugaan Kafka. Mama Olivia justru berterima kasih terus menerus kepada Kafka, malah jadi Kafka yang sungkan. Oliver dan Papanya sedang tidak ada di rumah. Jadi, untuk sekarang Kafka aman.

Kafka melepaskan nafas kasar sebelum tangannya membuka pintu basecamp, pemandangan di dalamnya membuat keningnya berkerut dalam. Basecamp kosong.

Langkahnya men
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 167.

    Pukul sepuluh lewat sedikit ketika Olivia akhirnya benar-benar terbangun. Cahaya matahari sudah menyelinap melalui celah tirai, jatuh membentuk garis-garis tipis di lantai kamar. Udara dari pendingin ruangan masih terasa dingin, membuatnya enggan meninggalkan tempat tidur. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, kemudian mengusap wajah sebelum meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.Layar ponselnya dipenuhi beberapa panggilan tak terjawab. Sebagian besar dari Kafka.Olivia mengernyit sambil menghitung sekilas jumlah panggilan yang masuk. Tidak sampai selesai, dia sudah lebih dulu mengunci layar ponselnya. Tidak perlu tahu sebanyak apa. Melihat nama itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali mengingat kejadian semalam.Ciuman di kening.Tatapan Kafka setelahnya.Lalu Mama yang tiba-tiba muncul.Olivia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. "Ya ampun, semalam nggak sempat ngobrol sama Mama. Pasti ditanyain lagi nih nanti …"Dia mengerang pelan.Seharusnya kejadian itu tidak per

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 166.

    Setelah semalaman tidak bisa benar-benar terlelap, pukul enam pagi barulah Olivia berhasil tertidur. Sepanjang malam, dia hanya berpindah dari satu sisi kasur ke sisi lainnya. Kadang menarik selimut sampai ke dagu, beberapa menit kemudian menendangnya karena merasa gerah. Bantal yang semula berada di bawah kepala bahkan sudah berpindah entah ke mana. Pada akhirnya, rasa kantuk yang sejak tadi ditahannya berhasil mengalahkan pikirannya yang tidak kunjung tenang.Sayangnya, tidur yang baru saja dia dapatkan tidak benar-benar memberinya waktu untuk beristirahat.Ponsel di atas nakas kembali bergetar panjang. Layarnya menyala, memperlihatkan panggilan masuk yang belum sempat dijawab. Nama Kafka muncul beberapa kali, disusul panggilan dari ibunya sendiri. Getaran itu berhenti sesaat, kemudian kembali terdengar beberapa menit setelahnya.Olivia sama sekali tidak bergeming.Bahkan ketika ponselnya kembali bergetar, dia hanya mengernyit kecil dalam tidur sebelum menarik selimut lebih tinggi d

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 165.

    Hujan deras baru saja reda meninggalkan bekas tetesan air pada dedaunan. Aroma tanah yang masih basah menguap ke udara, bercampur dengan hembusan angin dingin pukul sebelas malam.Kafka sudah mengeluarkan motor dari basement sejak bermenit-menit yang lalu, sebelum hujan benar-benar berhenti. Olivia, gadis itu sudah mengomel lebih dari tiga puluh menit. Katanya dia akan kena omelan ibunya kalau sampai di rumah lewat dari pukul sembilan. Yang nyatanya, sekarang mereka masih setia duduk di atas motor mengarungi jalanan menuju rumah Olivia.Olivia mencebikkan bibirnya berkali-kali, enggan berpegangan. Padahal pulang diantar Kafka naik motor adalah idenya. Kafka sudah kekeh untuk mengantar dengan mobil, jadi mereka tidak akan kehujanan dan akan sampai rumah Olivia sebelum pukul sembilan. Lagi-lagi, Olivia merajuk."Masih lapar, nggak?" Suara Kafka terbawa angin. Tidak terdengar jelas oleh Olivia yang dibonceng.Olivia tetap bergeming, tidak juga menjawab pertanyaan Kafka.Kafka menolehkan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 164.

    "Makasih, Olivia."Olivia mendongak, mendapati wajah Kafka yang sedang mengamatinya. Dia tersenyum kecil. "Makasih untuk apa? Perasaan gue nggak lakuin apa-apa."Kafka menghela napas panjang, tatapannya kembali mendongak. Melihat langit malam sudah tidak lagi cerah seperti sebelumnya, air dari langit mulai menetes sedikit demi sedikit membasahi bumi. "Makasih buat nggak membahas apapun yang lo lihat."Olivia mengerutkan keningnya, lalu menggeleng. "Bukan ranah gue buat nanya hal pribadi lo," ujar Olivia tenang. Kedua tangannya memegang tiang besi balkon, ikut menghirup udara dingin karena gerimis. "Lo nggak menceritakan ke gue, ya berarti itu hal pribadi yang nggak boleh gue tanya. Gue masih tahu batasan, Kafka. Gue juga paham, nggak semua hal bisa lo ceritakan ke orang lain.Kafka menoleh, mendapati Olivia yang sedang memejamkan mata. Dia belum benar-benar bisa menamai perasaan nyaman pada gadis di sampingnya, Cinta? Sayang? Atau hanya sekedar peduli."Kenapa lo baik sama gue?" Masih

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 163

    Pemandangan kota dengan kelap kelip lampu kendaraan begitu indah jika dipandang dari atas, belum lagi menikmati hembusan angin yang menerpa seakan menenangkan hati.Kafka memejamkan mata sejenak, merasakan terpaan angin yang menabrak wajah tampannya. Kedua tangannya tetap bertumpu pada tiang besi balkon apartemennya. Di sampingnya sudah ada sebungkus rokok yang hampir tidak pernah dia sentuh sama sekali. Kafka berjanji pada mendiang ibunya untuk tetap menjauhi benda terlarang itu.Tapi, kali ini sepertinya Kafka akan mengingkari janji pada ibunya, membersamai rasa sakit dan sesak di dada dengan kepulan asap yang mengudara, terbang terbawa angin malam.Satu hembus, dua hembus hingga habis satu batang. Kafka terkekeh ringan, meratapi hidupnya yang tidak punya jalur lurus seperti teman-temannya yang lain. Rasanya, hidup Kafka sudah terlalu hambar.Dua batang Kafka beranikan, ini mungkin akan menjadi malam panjangnya setelah sekian lama dia sengaja mengubur perasaan itu dalam-dalam.Pera

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 162

    Kafka baru saja menginjakkan kaki di apartemen saat dia mendapati sosok ayahnya di belakang. Pria itu mengikuti Kafka sejak di basement. Kafka hendak menutup pintu, tapi ayahnya menahan. Tatapan matanya sendu. "Biarkan Papa masuk, Kafka. Papa perlu bicara sama kamu." Kafka menghela nafas pendek sebelum akhirnya dia memperbolehkan ayahnya masuk ke dalam apartemennya yang terang benderang. "Mau minum apa?" Ayahnya menatap Kafka bingung. "Hm? Kamu nawarin Papa minum?" "Basa basi." "Apa saja, boleh," sahutnya atas pertanyaan Kafka sebelumnya. Kafka meletakkan dua kaleng minuman soda di pantry, membuka satu kaleng untuk dirinya. Dan, memberikan satu lagi ke hadapan ayahnya. "Ada perlu apa?" Pria tua di hadapannya tersenyum menunduk, ikut membuka kaleng soda yang memancarkan beberapa tetes isinya ke celana hitamnya. "Hanya kangen dengan apartemen ini." Meneguk minuman, tapi matanya mengedar. "Apartemen ini sudah banyak berubah sejak bundamu pergi." Kafka menahan geraka

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status