LOGINRama menutupi kedua mata Aulia yang sedang melompat-lompat. Anak kecil yang memakai gaun warna merah muda ini berjingkrak penasaran setelah Rama memberitahu ada kejutan besar untuknya. Begitu juga Selina yang mengikuti mereka dari belakang.
Pintu dibuka oleh Rama. Selina terperangah. Aulia bahkan melompat sambil berteriak."Apa???" Aulia berteriak dengan matanya yang berbinar. Rama dan Selina sampai tertawa."Apa ini???" Tanyanya gemas."Kamar untuk Aulia."Rama melepaskan tangannya dari wajah Selina. Keduanya mendongak melihat pintu kamar yang digedor dengan hebat bak ingin dirobohkan. Sontak saja Rama dan Selina berdiri untuk mengetahui apa yang terjadi.Ceklek.Pintu kamar terbuka. Selina terkejut mendapati Aulia yang menangis tersedu-sedu."Mama!" Panggilnya menangis."Oh.. sayang!" Selina memeluk putrinya dan menggendong segera. "Kamu pasti takut tidur sendirian, ya?"Aulia hanya menangis dan memeluk ibunya dengan erat. Selina lalu beralih pada suaminya."Mas. Aku tidurin Aulia dulu, kayaknya dia belum cukup tidur makanya rewel."Rama mengangguk dan membiarkan Selina menidurkan putrinya. Setelah itu, dia menghela nafas berat."Mungkin aku terlalu terburu-buru." Gumam Rama menggelengkan kepala.Satu jam berlalu, Aulia berhasil tidur lagi. Selina pun kembali ke kamar pengantin dimana suaminya sudah menunggu. Saat masuk ke dalam kamar, Selina tersenyum.
Rama menutupi kedua mata Aulia yang sedang melompat-lompat. Anak kecil yang memakai gaun warna merah muda ini berjingkrak penasaran setelah Rama memberitahu ada kejutan besar untuknya. Begitu juga Selina yang mengikuti mereka dari belakang.Pintu dibuka oleh Rama. Selina terperangah. Aulia bahkan melompat sambil berteriak."Apa???" Aulia berteriak dengan matanya yang berbinar. Rama dan Selina sampai tertawa."Apa ini???" Tanyanya gemas."Kamar untuk Aulia."Aulia bertepuk tangan. Ia masuk ke dalam kamar yang memiliki wallpaper hewan kesukaannya. Tak hanya itu di sudut kamar ada lemari yang berisikan boneka. Di tengah ada tempat tidur berwarna merah muda. Didepannya ada playmate dengan kursi dan meja kecil untuk Aulia bermain dengan bonekanya.Anak ini mengitari kamar dan menyentuh semua perabotan yang menjadi miliknya. Ia lalu berbalik dan mengejar Rama untuk dipeluk."Makasih papa!" "Hanya makasih?"A
Cincin sudah tersemat. Selina meraih tangan Rama dan menciuminya dengan takzim. Sekarang pria ini adalah imamnya. Tempat ia bergantung. Tempat ia mematuhkan diri dan berlindung. Rama tersenyum. Ia mengusap kepala Selina yang tertutup hijab. Pria ini menyentuhnya dan melantukan doa. Wanita ini sekarang adalah istrinya. Tempat ia mencurahkan dan memberikan kasih sayang. Keduanya saling melempar senyum. Debaran itu sekarang sudah mereda. Berganti dengan rasa yang tegas melingkupi relung hatinya. Selina mencium tangan Mala dan Taufan secara bergantian. Mala memeluk menantunya dengan erat. Sekarang Selina resmi menjadi menantu kesayangannya. Begitu juga dengan Maryono yang membisikkan sesuatu pada Rama. Pria ini bahkan menangis pelan. "Aku percaya padamu, Rama. Kalau kamu tidak akan menyia-nyiakan Selina dan juga Aulia. Namun jika di lain hari kamu tidak sanggup lagi, tolong kembalikan mereka berdua
Mata Rama bengkak dengan lingkaran hitam. Bukannya tertidur nyenyak semalam, Rama maalh tak bisa tidur.Begini rasanya ingin menikah? Detak jantung Rama berdegup tak karuan. Ia antusias tapi juga cemas.. bagaimana jika pernikahan hari ini berjalan tidak sesuai rencana?Semalaman Rama berdoa untuk kelancaran pernikahannya hari ini. Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa acara pernikahannya.Pagi ini, Rama sudah tampan dengan memakai jas pengantin berwarna biru langit. Ia pun berkaca di cermin untuk memastikan penampilannya sebelum pergi ke gedung acara."Sudah siap, Rama?" Tanya Mala yang sudah memakai kebaya berwarna biru tua."Ma. Lihat mataku!" Rama menunjuk matanya."Astaga, nak! Apa yang terjadi?" Mala jadi tertawa. "Sebentar mama panggilan tim MUA. Biar mereka menyamarkan lingkaran hitammu.""Ya. Sekalian buatkan aku kopi." Rama ngantuk sekali dan butuh obat yang namanya tidur. Tapi tak mungkin dia tidur di hari be
Semua mata tertuju pada pria yang duduk dikursi roda tersebut. Rangga datang dengan wajah layunya. Ia tak berani mengangkat wajah ataupun menyapa keluarga yang tengah berkumpul.Lain hal lagi dengan wanita yang tersenyum sumringah itu. Ia menyapa semua orang tanpa rasa malu."Hai semua.. sepertinya kami melewatkan acara malam ini." Ucap Nisa tersenyum manis.Kirana bangun dari duduknya. Oleh karena situasi yang menjadi canggung, wanita ini mengambil alih dengan pura-pura tak mengerti."Hai, Nisa, Rangga. Kejutan sekali.. kamu sudah diperbolehkan pulang?""Tepat sekali saat tante dan mama tadi pulang ada dokter yang berkunjung. Dia bilang mas Rangga bisa pulang malam ini." Nisa yang menjawab pertanyaan itu."Begitu ternyata." Kirana tersenyum. "Kalian sudah makan malam?""Kebetulan belum. Aku dan mas Rangga belum sempat makan malam ini." Jawab Nisa lagi."Mari tante antarkan ke meja makan." Ajak Kirana.
Mala menatap tajam wanita yang tengah tersenyum manis padanya. Dengan wajah polos itu, ia bertingkah seolah tak terjadi masalah.Padahal satu minggu yang lalu, Nisa datang ke rumah dan mencaci maki Rangga. Setelah itu, ia mengancam akan menceraikan suaminya yang tak berguna."Apa kabar, tante?" Sapa Nisa ramah pada Kirana."Oh.. baik." Kirana menerima ciuman di pipi kanan dan kiri dari wanita ini. Sementara untuk mertuanya, Nisa main melewatinya saja."Kapan tante tiba dari Jerman?" Tanyanya."Subuh tadi.""Sedang apa kamu disini, Nisa?" Mala menatap tak suka."Seperti yang mama lihat. Mengurus suamiku.""Suami yang hendak kamu ceraikan?" Alis Mala terangkat satu. "Sejauh mana gugatanmu?"Nisa menggeleng. Wajah itu berubah sedih."Aku sudah impulsif dalam membuat keputusan. Jadi kami memutuskan untuk kembali bersama.""Kembali bersama?" Mala memandang anaknya. "Benar itu, Ran
Aldi sudah terhukum jika dia menyadarinya. Ia terpisah dari istrinya yang setia. Terpisah dari putri yang sudah membuka jendela hatinya.Aldi ingin marah, menuntut semua orang yang memisahkan dirinya dengan Selina dan Alina. Tapi apa Aldi masih memiliki hak akan itu? Sedangkan dia saja t
"Semuanya dalam keadaan normal. Tidak ada masalah."Aldi terheran-heran akan keadaan anaknya. Padahal dia sudah terkejut setengah mati karena Alina mengalami demam. Tapi dokter Fiona bilang bahwa tak terjadi masalah pada anaknya."Tapi anak saya masih demam, dok.." ujar Aldi tak
"Apa? Pengasuh untuk Alina?" Dahi Aldi sampai mengkerut-kerut. "Iya. Abisnya lama banget kamu nyari pengasuh untuk anakmu itu! Bisa-bisa mama kena stroke duluan!" "Siapa dia?" Tanya Aldi. Husna berdeham. "Yaya." Aldi terlonjak kaget. "Ap
Aldi tersenyum miring setelah mendapat kabar dari pengacaranya, Sandi. Setelah itu, pria ini membuka ponselnya. Saat melihat media sosial, skandal pelanggaran rumah sakit Berlian menjadi trending nomor satu.Dua perawat sudah dipecat karena kejadian ini. Dan dokter lainnya berinisial R s







