Masuk
Tangan wanita itu memegang kepala anak kecil yang baru berumur lima tahun, dia mengecup kening bocah lelaki itu.
”Wira, Ibu pergi tidak akan lama. Ibu harus menjemput Ayahmu, kamu ikut bibimu selama Ibu pergi ya.”
Senyuman wanita itu menguatkan putra satu-satunya, dia harus pergi. Wanita itu, Rania berdiri dan menyentuh rambut putera kecilnya. Dia berpamitan pada adiknya dan memegang koper untuk pergi. Senyumannya terlihat berat tapi tetap dipaksakan. Mobil sudah berada di depan gerbang, wanita itu meninggalkan si kecil dengan lambaian tangan berat.
BROOOOOOMMM!
”IBUUUUUUUU!”
Hah! Hah! Hah!
Seorang lelaki muda terbangun dari mimpinya, mimpi yang selalu datang saat tidurnya. Saat terakhir dia bertemu dengan ibunya setelah hampir dua puluh tahun. Wira, mengusap wajahnya dan mengambil air wudhu. Hari masih tepat di waktu shalat subuh.
Pagi harinya, Wira sepertinya biasanya berangkat kuliah. Hidupnya sebatang kara, kuliah di tempat kampus yang cukup terkenal di kota Jakarta. Wira mendapatkan beasiswa sejak sekolah menengah. Sejak ditinggal ibunya saat kecil, lima tahun kemudian bibinya membuang Wira ke panti asuhan. Sang Bibi mengambil harta peninggalan Ibunya dan menitipkan Wira ke panti asuhan. Tidak ada yang mau mengadopsinya, semua takut melihat tingkahnya yang tak bersahabat dengan mata tajam yang menakutkan.
Wira bekerja di panti asuhan, tak punya teman dan kebanyakan mereka melihat Wira sebagai anak penyendiri. Begitulah kisah Wira, dan dia pun tak betah lalu kabur dari panti asuhan setelah mendapatkan beasiswa sekolah menengahnya.
Wira naik motor yang dipesannya dengan aplikasi, dia naik mobil itu dan saat dekat dengan kampus dia turun. Dia menuju sebuah rumah kompleks tidak jauh dari kampusnya, itu adalah rumah Paman Gani, seorang security di kampus. Paman Gani adalah guru bela diri Wira selama tiga tahun terakhir ini. Entah kenapa, saat semester dua, Paman Gani mendekatinya dan meminta Wira berlatih bela diri. Wira pun mengiyakan, dan Paman Gani adalah salah satu kenalannya.
Rumah paman Gani terlihat sepi, dia benar-benar sudah pergi. Hari kemarin, Paman Gani pamit dengan Wira saat latihan terakhir dan dia akan pergi jauh.
Ada kertas yang menempel di pintu paling bawah.
’Wira! Masuklah!”
Kunci di atas pintu, seperti biasanya. Wira mengambil kunci itu, dan membuka pintu.
Kreetttt!
Pintu yang sudah tua terbuka. Wira masuk ke dalam, tak ada siapapun. Semua ruangan terlihat dibersihkan, dan secarik kertas ada di atas meja ruang tamu.
’Jika kamu menemukan surat ini, kamu harus memulai perjalananmu sendiri, Wira. Aku sudah membekalimu dengan latihan bela diri. Tugasku sudah selesai, jika kita bertakdir maka kita bisa bertemu lagi. Paman harus pergi, dan bersiaplah jika suatu hari nanti, kiamat terjadi!
Pamanmu, Gani!’
Apa maksudnya? Wira tak paham. Dia pun menyimpan kertas itu, tak ada satupun yang bisa dilihat. Wira pun pergi dari ruma itu dan menuju ke kampus sambil mencerna tulisan terakhir dari paman Gani.
Sudah hampir empat tahun Wira kuliah, sekarang hanya tinggal sedikit lagi dan menulis skripsi. Hari ini, masih ada mata kuliah meskipun hanya satu yang harus diikuti oleh Wira. Tadi malam hujan cukup lebat, Wira teringat kembali mimpinya semalam tentang Ibunya.
Hidup memang seperti ini, tak ada teman bagi Wira. Mungkin, selamanya, Wira hanya akan sebatang kara ..., oh Ibu ...
BRUSH!
Scrap!
Saat berjalan ke arah kampus, cipratan air mengenai baju di sebelah kanan Wira. Sebuah mobil terlihat sengaja melewati genangan air agar airnya mengenai Wira. Wira bahkan kaget dan melompat ke kanan agar air tidak banyak yang mengenai bajunya. Siapa yang melakukannya? Saat Wira menoleh, tahulah dia siapa yang melakukannya.
TET!
Mobil itu behenti lima meter setelah mengerjai Wira, kepala seorang lelaki menyembul dari jendela depan, Roni, pemimpin geng tersebut.
”Hei, mahasiswa miskin! Harusnya kamu jauh-jauh dari kampus ini. Mobilku jadi tidak sengaja menargetkan dirimu, ha.. ha.. ha.!” tawa Roni dan diikuti oleh tiga mahasiswa di dalam mobil. Di dalam mobil itu, tiga lainnya adalah satu gengnya; Darto, Malin, dan Reka.
”Makanya, jalan pakai mata, dasar miskin!” kata Raka, satu-satunya wanita di dalam mobil itu dan dia berada di samping Roni.
Jendela bagian belakang mobil pun terbuka, ”Hei Wira kamu pikir kamu pahlawan yang tak mempan ditabrak! Hati-hati kalau jalan!” lagi-lagi, Darto yang tertawa menghina pada Wira.
Begitulah empat orang itu, berlalu dengan deru mobil yang dijalankan meninggalkan Wira. Wira tak membalas apapun, dia hanya melihat kepongahan mereka dari jauh. Wira sudah menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan baik. Tak ada teman, tak ada apapun. Wira menahan dirinya untuk berkelahi, sepanjang bersekolah. Hal itu karena prestasinya bisa dibatalkan jika dia berbuat hal anarkis.
Wira berjalan lagi ke kampus, tak perlu dipikirkan. Hal itu sudah sering ditemui dalam kehidupan Wira.
”Hei, Wira!”
Dari belakang, seorang lelaki merangkul Wira. Dia adalah Bisma, satu-satunya teman Wira di kampus yang dia miliki selama ini. Benar! Wira hanya memiliki satu teman yang tak membedakan dirinya, itulah Bisma. Bisma anak yang berkecukupan dan dia tidak sombong. Bism selalu memberi Wira semangat.
”Kamu dari tadi melihatku kan, Bisma.”
”Oh, iya. Mereka berempat memang begitu, biarin saja! Sudah jangan hiraukan mereka, mereka hanya pengecut yang beraninya bergerombol. Makanya, mereka membuat geng agar telihat hebat. Oke, tak perlu dirisaukan, jika mereka mengganggumu lagi, aku akan menendang mereka semua!”
Wira tersenyum, ada-ada saja lelucon Bisma. Padahal, Wira tahu bahwa Bisma adalah pemuda yang paling penakut. Namun, Wira jadi terhibur dan melupakan kelakukan geng Roni.
Keduanya pun tertawa dan menuju kelas, hari ini ada mata kuliah Penulisan Artikel Ilmiah, itu adalah mata kuliah akhir untuk pembuatan skripsi mahasiswa.
”Kamu sudah selesai membuat makalah dari DR. Salim kan?” tanya Bisma dan matanya melihat tajam ke arah Wira. Mereka mendapatkan tugas kelompok berdua.
”Sip! Sudah kukerjakan semalam!”
”Alhamdulillah, kamu memang pahlawanku, Wira!”
Wira hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Keduanya berjalan memasuki kampus, sambil bercerita tentang hobi yang hampir sama, hal-hal mistis. Teori konspirasi, makhluk dari dunia lain seperti alien, makhluk mitologi yang menyeramkan dan juga makhluk yang ada di tembok antartika; makhluk raksasa, makhluk purba, dan manusia supranatural. Hal itu karena, banyak video amatir yang bocor tentang hal-hal mistis tersebut.
Keduanya adalah penggemar game RPG dan fantasi, tapi hanya Bisma yang memainkannya sedangkan Wira hanya membaca tentang strategi game dari mesin pencari internet. Meskipun Wira tak memainkan game, tapi dia jago dalam strategi dengan membaca banyak hal di permainan game.
”Hei, Bisma. Kamu berhenti main game untuk sekarang, siapkan skripsi lebih dahulu agar bisa lulus bersamaku!”
”Okelah, tapi aku tak bisa berhenti main game, Wira.”
”Dasar Bisma!”
”Tenanglah pak Ustadz, kan ada dirimu. He.. he.. he.., nanti aku akan diajari olehmu saat deadline.”
Wira menggelengkan kepalanya, keduanya pun tertawa kembali.
Mereka sampai di kelas, saat masuk kelas, Roni kembali berulah.
”Ha.. ha.. ha.. pasangan sejoli sedang bahagia! Dua pecundang bodoh dan pengecut!”
Tawa beberapa orang terdengar, Bisma menggerakkan telunjuknya.
”Hei, sialan!”
Bisma kehabisan kesabarannya.
”Apa!” Roni dan rekan se-gengnya berdiri. Mata mereka saling melotot.
”Sudahlah, Bisma.”
Tap! Tap!
Langkah kaki menghentikan mereka semua, DR. Salim masuk kelas, semuanya pun bubar. Mereka kembali duduk, Wira dan Bisma ke tempat duduknya.
Salim duduk, melepas kacamatanya dan menaruhnya di meja. Dia berdiri dan menanyakan tugasnya kepada para mahasiswa. Namun, sesuatu terjadi, sebuah suara memekakkan telinga mereka semua.
TEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!
Suara terompet menggema, dan gempa bumi skala ringan menggoncang ruangan tersebut. Gempa terjadi. Beberapa meja bergeser dan semua menunduk dan berteriak.
GEMPA!
”Ada gempa!”
”TOLOOOONNNG!”
Wira melihat ke jendela sambil memegang dinding di jendela, dia melihat langit yang berkilauan seolah ada begitu banyak cahaya bermekaran di seluruh langit. Seperti ada, ledakan-ledakan cahaya di semua tempat.
Ada apa ini?
Seluruh dunia mendengar penjelasan Wira, hal itu sebagai jawaban dari pertanyaan mereka tentang sistem yang menghilang. Lalu … monster yang tersisa sudah dibersihkan meskipun mungkin masih ada yang bersembunyi. Setidaknya, tidak ada portal yang muncul menunjukkan keterlibatan dewa celestial memang sudah dihancurkan.Langit malam bumi kini terlihat bersih, Bintang-bintang bersinar terang di seluruh penjuru dunia. Yah, semua orang menikmati malam sunyi tanpa ketakutan dan juga dimulainya pemulihan terhadap kondisi kiamat yang mengerikan yang sudah terjadi.Di lapangan pengungsian, para warga masih diidentifikasi oleh petugas dan akan dimulainya pemetaan agar kondisi dunia dapat dipulihkan. Bisma berdiri di depan kedua orangtuanya, mereka saling bercerita tentang banyak hal. Kedua orangtua Bisma sangat khawatir karena puteranya terus bertarung memasuki portal bersama dengan temannya, Wira. Namun, di satu sisi mereka bangga karena puteranya menjadi seorang pahlawan yang melawan para celest
Aroma khas tanah setelah hujan tercium, dedaunan jatuh karena hembusan angin yang menerpa. Hujan pasca guncangan perang semesta yang terjadi menimbulkan suara gaduh di seluruh planet di semesta. Rintik hujan yang tersisa masih sesekali jatuh dan menimpa apapun yang ditemuinya, pendar Cahaya yang memekakkan telah terganti dengan hawa damai yang sejuk. Begitu tenang suasana seolah kiamat tidak pernah ada di bumi.Splash! WOOOONGG! WHOSH!Portal keemasan muncul dan memuntahkan para pejuang yang sudah bertarung mati-matian di Aethel, mereka mendarat di Lembah Kabut tempat semula mereka memasuki istana para celestial. Martha duduk dan lukanya sudah dibalut dengan energi healer, tapi dia masih merasakan sakit, sementara Bisma juga terluka karena kelelahan. Lylia dan Kakaknya, Harry saling berpandangan dan akhirnya senyum mereka terukir.Mereka berhasil!Saat itu, Wira turun dan datang berlutut serta masih memeluk Ibunya yang tak pernah ditemuinya sejak pertemuan terakhir saat dia kecil.IBU
Sinar laser raksasa, Ragnarok Ray melesat seperti pusaran energi badai yang membakar apapun dan mengarah pada Wira. Gelombang panas menghancurkan kekosongan dan apapun yang ditemui, energi kosmik mengerikan itu terlihat memiliki kekuatan penghancur maksimal.“Apa kita akan mati!” Bisma memegang kepalanya, sedangkan energi kosmik penghancur itu semakin dekat.“Tidak akan, Bisma! Kamu tahu, kita selalu melawan takdir selama ini!”Whosh!Wira melesat meninggalkan Bisma, dia menuju gelombang kosmik raksasa itu dengan pedang penghancur dewa. Dia lurus menghadang serangan puncak tersebut.Maju! Wind-Phantom Step: Ultimate God-Slayer Charge!Wira menerjang dengan memutar dan mengarahkan pedangnya, melebur semua kekuatan di tubuhnya mengikuti alur Wind-Void Domain. God-Slayer Blade di kedua tangannya memancarkan pendaran tiga warna; hitam pekat, perak tajam, dan emas murni dan membentuk perisai berbentuk pasak angin yang membelah pilar Ragnarok Ray menjadi dua bagian secara absolut!BRRRRRRRR
Pedang Pembunuh Dewa, God-Slayer Blade tercipta dari dagger Wira. Jadi, selama ini ayahnya yang mengarahkan dirinya untuk mendapatkan belati Matic untuk dapat menyerap energi para monster yang dibunuhnya. Entitas apapun yang diserap Matic, Adalah pemicu dari God-Dlayer Blade? Tiga warnah berpendar dari God Slayer Blade; hitam pekat bagai bayangan, perak tajam dari Phantom wind yaitu kekuatan angin, dan emas berkilauan dari Source Core. Kombinasi yang tepat untuk menyatukan kekuatan Wira.Kekuatan pedang milik Wira tidak hanya memotong udah, melainkan mengoyak struktur energi domain dari bunker inti Aethel, tekanan energi dari Kristal-kristal di Aethel tak mampu menahan energi dari pedang God Slayer Blade.BRUSH!Sang Raja para dewa, Aethelgard mundur, wajah tampan yang semula bersinar berubah penuh murka dengan kulit wajah menegang karena kaget dengan kekuatan pedang Wira.“Kau … manusia fana! Selama ini kalian kami jaga agar terus hidup di dunia kalian, tapi kalian sungguh berani men
Delapan bentuk pedang raksasa bercahaya mengelilingi Aehtelgard, berputar dengan pelan hingga semakin cepat. Pedang – pedang itu seperti beresonansi dengan energi fisik sempurna mode tempur milik Aethelgard. Zirah tempur dan mode wujud sempurna Aethelgard membuat domain wind void milik Wira bergetar, dia mampu merasakan energi destruktif yang siap menghancurkan Wira. Sosok penguasa sejati yang selama ini menyerap energi dari dunia di semesta ini memang memiliki kekuatan yang menakutkan. Udara di dalam Bunker Inti tertekan hingga batas maksimal, memicu retakan-retakan dimensi berukuran mikro di sekitar pilar Source Core.“Kamu sangat beruntung, Manusia hina! Kamu melihat wujud tempurku yang sempurna, dan matilah dengan kebanggaan!” Aethelgard meraung dan mulai menyerang.BOOOOOOOOOOMMMM!Dua dari delapan pedang cahaya raksasa meluncur menukik dari angkasa, membelah atmosfer bunker dengan kecepatan yang melampaui logika waktu!SWISH!Wira tak mau diam saja, serangan itu sangat berbahaya.
Wira di lantai kaca inti bunker menyadari rekan-rekannya dalam bahaya, jeritan Bisma terdengar meneriakkan Martha yang pastinya mereka mengalami luka. Namun, Wira di sini sedang berhadapan dengan pemimpin para dewa. Dia tidak mungkin sembarangan pergi, karena musuh yang sebenarnya, boss para dewa ada di sini. Dewa sialan! Mereka selalu saja mengatasnamakan kebaikan manusia demi kepentingan mereka sendiri.Wira merasakan energi Martha berdenyut lemah dari energi sense energi miliknya. Namun, Wira yakin mereka pasti bisa bertahan. Kini, suara dan sense Wira tidak lagi bergantung pada sistem, dia mampu merasakan energi elemental angin dengan baik. Hembusan angin dari luar inti bunker mampu dirasakan Wira dan mengabarkan apa yang terjadi para rekan-rekannya dengan baik.DRRRRTTT!Wira Bersiap dan dagger miliknya bergetar, dia tahu bahwa ketenangan ini adalah persiapan persiapan perang mati-matian melawan raja para dewa. Energi kegelapan yang menyelimuti dagger matic berdenyut, memancarkan
Kilauan cahaya menyala di langit, Wira kaget melihat pemandangan di langit. Apa yang sebenarnya terjadi?Gempa berhenti, meja yang semua saling berderak dan bertabrakan sudah kembali normal. Semua mahasiswa di kelas itu bangkit dari tiarap. Semuanya saling memandang dan kebingungan. Mereka mulai be
Makhluk tinggi itu datang ke arah Wira, benturan tubuh mereka terjadi dan membuat para mahasiswa lainnya ada yang menutup matanya.Slap!Brush!Wira terdorong ke belakang dan tubuh monster kurus tinggi itu menimpa Wira, suaranyanya terdengar menyayat.KUUUUKKKKK! (Sakit, sakit ....)Bruk! Kepala mo
”Cepat keluarkan senjatamu, Wira! hadapi monster-monster belalang itu!” Bisma memegangi lengan Wira cukup kuat.Capit-capit tiga belalang besar itu terus bergerak, terbuka dan tertutup. Suara bertemunya antar ujung capit terdengar menyeramkan dan ruangan kelas itu menjadi mencekam karena suara capi
Wira telah melakukan pelanggaran karena memilih dua kotak, tapi Wira tidak peduli dengan hal itu.[Anda memilih kemampuan, Elemental Angin dan Pembunuh]Splash!Tulisan di atas adalah tulisan terakhir yang dilihat Wira, dan matanya menjadi nanar karena gelap kembali menyelubung di depannya. Ruangan







