ANMELDENBeberapa jam kemudian... Setelah melewati masa kritis, kondisi Angelina Elvarisse mulai berangsur membaik. Kelopak matanya perlahan bergerak sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya masih samar. Cahaya lampu ruang perawatan membuatnya sedikit menyipitkan mata. Di samping ranjang, Lyanna yang sejak tadi tak pernah beranjak langsung berdiri. Wajahnya yang dipenuhi kecemasan seketika berubah lega. "Mama... akhirnya mama sadar juga." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi Lyanna. Ia segera menggenggam tangan sang ibu dengan erat, seolah takut kehilangan wanita yang telah membesarkannya seorang diri. Angelina menoleh perlahan ke arah putrinya. Bibirnya bergerak pelan. "Lyanna..." "Aku di sini, Ma. Mama jangan bicara dulu. Dokter bilang mama harus banyak istirahat." Namun begitu melihat wajah Lyanna, ingatan Angelina perlahan kembali. Ia teringat amplop misterius. Foto-foto yang berserakan di lantai. Dan sosok pria yang berdiri berdampingan de
Pagi harinya... Mentari pagi mulai menyelinap melalui celah tirai kamar hotel, menerangi ruangan yang kini dipenuhi keheningan. Setelah malam yang penuh kekacauan, Lucian terbangun lebih dulu. Ia terduduk di tepi ranjang, kedua telapak tangannya menekan wajahnya sendiri. Potongan-potongan ingatan semalam kembali memenuhi kepalanya. Tatapan Selena... Tubuhnya yang tiba-tiba terasa begitu panas... Lalu... Lyanna. Lucian mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Sial..." desisnya pelan. Ia sadar. Tubuhnya semalam memang kehilangan kendali akibat sesuatu yang diberikan Selena. Namun kenyataan bahwa Lyanna harus menerima semua akibatnya tetap membuat rasa bersalah memenuhi dadanya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Lyanna keluar dengan rambut yang masih basah. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna putih dan berdiri di depan cermin, menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Lucian memperhatikannya beberapa saat
Setelah menjalani operasi besar dan masa pemulihan yang cukup panjang, Angelina Elvarisse akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Wanita paruh baya itu duduk di kursi roda yang didorong perlahan oleh Lyanna menuju rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat mereka berteduh. Rumah itu memang tidak besar, bahkan jauh berbeda dari kemewahan yang kini mengelilingi kehidupan Lyanna setelah menikah dengan Lucian Raveheart. Namun bagi mereka berdua, rumah itu menyimpan begitu banyak kenangan, tawa, tangis, perjuangan, dan kasih sayang seorang ibu serta anak yang saling menguatkan. Begitu memasuki rumah, Angelina mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Senyum haru terukir di wajahnya. "Akhirnya mama pulang juga," gumamnya pelan. Lyanna tersenyum hangat. Ia membantu sang ibu duduk di sofa sebelum berlutut di sampingnya. "Aku bersyukur mama akhirnya sembuh dan sekarang bisa pulang ke rumah kita." Angelina mengusap pipi putrinya dengan penuh kasih sayang. "Mama juga
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis kamar apartemen mereka, jatuh tepat di wajah Lyanna yang baru saja terbangun. Pandangannya sempat kabur, tapi begitu melihat sosok Lucian berdiri di depan cermin dengan setelan formalnya, ia langsung terduduk di ranjang. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya. Lucian tampak begitu berwibawa, kemeja putihnya terpasang rapi, dan kini jemarinya sibuk mengikat simpul dasi berwarna gelap. Tatapannya singkat terpantul di cermin, menangkap wajah Lyanna yang masih terlihat letih. "Ada apa, Lyanna? Kenapa kau seperti gelisah?" suara Lucian terdengar tenang, namun tetap mengandung ketegasan khas dirinya. Lyanna menggenggam erat selimut, suaranya lirih. "Maafkan aku, Lucian… aku terlambat bangun. Harusnya aku bisa membantumu bersiap." Lucian menoleh sebentar, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara dingin dan hangat. "Tak apa, Lyanna. Aku tahu kau lelah, itu sebabnya aku tak membangunkanmu." Lyanna terdiam, dadanya berdeg
Lyanna duduk di kamar apartemen nya, menatap layar televisi yang sebenarnya tak ia tonton. Pikirannya tak kunjung fokus. Sejak pesta semalam, sikap Lucian terasa berbeda, lebih dingin, lebih penuh amarah. “Kenapa dia berubah begitu cepat…?” gumamnya lirih. Tangannya meremas ujung gaun rumah yang ia kenakan. Evelyn datang sambil membawa secangkir teh hangat. “Nyonya muda, sebaiknya Anda beristirahat dulu. Wajah Anda terlihat lelah.” Lyanna tersenyum samar. “Terima kasih, Evelyn. Aku hanya… menunggu kabar dari Lucian. Dia bilang rapatnya bersama Orion Group akan selesai sore ini. Tapi…” Lyanna menunduk, menahan resah. Evelyn menatap tuannya dengan iba. “Tuan muda memang selalu sibuk. Tapi saya yakin, ia memikirkan Anda.” Lyanna menghela napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Aku harap begitu…” Namun jauh di sana, tanpa ia ketahui, Lucian justru tengah berhadapan dengan sosok dari masa lalu yang bisa mengguncang seluruh kehidupannya. Di dalam lift, suasana tera
Musik lembut dari orkestra mulai mengalun, memenuhi ballroom yang dipenuhi cahaya lampu kristal. Para tamu undangan mulai menuju lantai dansa dengan pasangan mereka masing-masing. “Sekarang adalah saatnya untuk berdansa,” ucap pembawa acara dengan suara lantang namun elegan. Lucian otomatis mengulurkan tangannya pada Lyanna. Senyumnya dingin, namun tetap terjaga karena banyak mata yang memperhatikan. Dengan ragu, Lyanna menerima uluran tangan itu. Jemari mereka bertaut, dan tubuh Lyanna perlahan ditarik ke tengah lantai dansa. Semua pasang mata mengikuti setiap gerakan pewaris keluarga Raveheart dengan istrinya yang baru. Beberapa wanita bahkan berbisik iri, menatap Lyanna yang tampak anggun dalam balutan gaun putih gading yang membalut tubuh mungilnya. Lucian menundukkan sedikit wajahnya. “Ikuti langkahku,” bisiknya, nada suaranya kaku, seakan berdansa hanyalah kewajiban. Lyanna menahan napas, mencoba menyesuaikan diri. Awalnya canggung, namun perlahan tubuhnya mulai mengik
Setelah nama Lyanna Raveheart merajai headline seluruh media, hidupnya berubah drastis. Ke mana pun ia melangkah, sorotan kamera dan suara teriakan wartawan menjadi makanan sehari-hari. Tak ada lagi kebebasan untuk sekadar berjalan-jalan santai atau duduk di taman tanpa pengawalan. Ia kini bukan
Sorotan kamera, judul utama koran, dan berita daring nyaris serempak menampilkan hal yang sama. Seorang wanita muda berdiri elegan di sisi pewaris tunggal Raveheart Group, Lucian Raveheart.> "Siapa Lyanna Raveheart, wanita misterius yang kini menjadi istri pewaris kerajaan bisnis Amerika?""Lyanna
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai apartemen mewah itu, membelai pelan wajah Lyanna yang tampak lelah. Ia sudah bangun lebih awal, mungkin karena canggung tidur di tempat asing atau karena pikirannya terlalu penuh untuk bisa beristirahat dengan tenang. Tapi ia mencoba bersikap
Restoran bintang lima yang berada di puncak gedung pencakar langit Los Angeles itu menyajikan panorama malam yang menakjubkan. Lampu kota berkelap-kelip, menciptakan latar sempurna untuk malam pertama mereka sebagai pasangan kontrak. Tapi bagi Lyanna, semuanya terasa seperti panggung dan dia hanyal







