LOGINHolla, MyRe!! Jumpa lagi dengan CaCi. Semoga kalian suka dengan bab ini! Dukung terus novel kita yah dengan cara vote gems, hadiah, ulasan, dan komentar. Sehat selalu buat semua MyRe!(◍•ᴗ•◍)💖 Semoga apapun urusan baik yang sedang diusahakan, sukses dan dilancarkan oleh Yang Maha Kuasa. Jumpa besok lagi yah. Papai .... IG:@deasta18
"Hehehe …." Sera cengengesan malu. Dia segera login ke sosial medianya melalui HP sang sahabat. Setelah itu dia melakukan apa yang Kaina katakan, memposting foto pernikahannya dengan Xavier lalu memberikan caption 'Tgl 18 Juni adalah hari di mana suamiku menikahiku, menjadikanku sebagai ratu yang dicintai. Namun, sampai detik ini aku merasa masih menjadi seorang ratu untuknya karena beliau seorang suami yang baik dan bertanggung jawab. Suamiku sosok yang kuhormati dan kucintai, dan rasa yang kumiliki ini muncul karena keberhasilannya sebagai suami terbaik.' Selain itu, Sera juga mengganti bio-nya dengan kalimat 'sudah menikah dengan Tuan Xavier Ghazan Adam.' "Weih … captionmu, Pung! Puitis sekali. Nggak sekalian kamu bilang 'Suamiku Xavier adalah bulan bintangku." Kaina berkata geli, menetap Sera dengan raut muka konyol campur meledek. "Emang aku harus bikin begitu yah? Berarti aku harus edit dong," ujar Sera dengan polos, berniat mengedit postingannya untuk menambahkan kalimat
"Hah? Sumpah?" Kaina terlihat kaget, melebarkan mata sambil menatap horor pada Sera. Sera menganggukkan kepala. "Jadi gini, si Bunga dan suaminya yang biadap itu … perusahaan mereka lagi kacau, beberapa investor sudah menarik saham dan mereka kehilangan beberapa proyek. Intinya sudah di fase hampir gulung tikar. Nah, entah gimana ceritanya mereka dijanjikan suntikan dana dari perusahaan Aditama. Tapi dengan satu suara, mereka harus menyerahkanku sebagai istri Rangga. Makanya si Bunga menculikku, supaya mereka memenuhi syarat dan mereka mendapat bantuan." "Gila!" Kaina langsung menunjukkan ekspresi wajah tegang, ada marah di matanya tetapi ada iba juga secara bersamaan. Ya, Tuhan! Entah kenapa nasib sahabatnya ini sangat horor. Seorang ibu seharusnya menjadi pelindung utama anak. Namun, sahabatnya tidak demikian. Ibunya adalah villain utama di hidup Sera. "Otak ibumu sepertinya ada di pantat," gumam Kaina dengan penuh perasaan kesal. "Ck, bukan ibuku dia," jawab Sera malas.
"Kenapa?" Xavier tiba-tiba menunduk ke arah kepala Sera, sengaja menbenturkan dagunya ke atas ubun-ubun istrinya. Sera memejamkan mata sejenak, menahan kesal pada Xavier yang … selain mesum juga suka usil. "Aku tidak suka pria mesum," jawab Sera, menatap berang pada suaminya. Setelah itu dia menjauh supaya Xavier berhenti usil. Namun, Xavier menarik pinggang Sera, membuatnya kembali duduk merapat di sebelah Xavier. Xavier menyunggingkan smirk tipis, memindahkan Sera ke atas pangkuannya. "Aku bukan pria mesum, aku hanya suamimu, Na …-" Sera dengan cepat membekap mulut suaminya, membuat Xavier menghentikan ucapannya. Ck, Sera benci Nagos! "I-iya, Mas Xavier suamiku." Sera berkata panik tetapi judes pada akhir kalimat. Sialan! Kata Nagos selalu berhasil menakut-nakutinya. Padahal saat pria ini menyentuhnya, Sera paling menikma …- Ah, sudahlah! Ini terlalu bulan gosong untuk Sera yang merupakan menantu dari sang Dewi Bulan. "Cih." Xavier berdecih pelan, "semakin kesini, kuperh
"Bebek berenang di sungai?" gumam Sera dengan nada pelan, menatap suaminya dengan kening mengerut. Sungguh dia tak pagam dengan istilah bebek berenang di sungai. Maksudnya, sejak kapan seorang Xavier yang waktunya hanya untuk hal serius, tiba-tiba … melihat bebek? "Humm." Xavier berdehem rendah. Sera memilih diam, masih mencerna apa maksud dari melihat bebek berenang di sungai. Bukankah tadi suaminya menangani Bunga dan Javan? Lalu kenapa tiba-tiba … bebek? Setelah di kamar, Xavier langsung membawa Sera ke dalam kamar mandi. Sera cukup gugup karena tadi pria ini menyebut 'Nagos. Benar saja! Xavier ikut mandi dengannya. "Aku se-sedang hamil dan baru saja mengalami penculikan, Mas," panik Sera yang berada dalam bath up, di mana Xavier ikut masuk ke dalam dan saat ini sedang menatapnya buas. "Yang kau butuhkan sekarang adalah relaksasi, Darling." Xavier menarik Sera untuk duduk di depannya dengan posisi menghadap depan—membelakanginya, "aku bisa membantumu, Nagos," ucapn
"Kau ini seperti mommymu saja, pembuktian harus dengan salto," ucap Kaizen dari tempatnya, geleng-geleng kepala sambil menatap tak habis pikir pada sang menantu. Ah, sepertinya perempuan di rumah ini … semuanya gemar salto. Istri, purtinya, dan sekarang menantunya. Mungkin hanya keponakannya perempuan yang normal di rumah ini. "Jangan dengarkan dia, Sayang." Aluna berbisik pelan pada Sera. Satu tangannya memeluk lengan Sera, lalu satu lagi berdiri di dekat sudut bibir—sebagai penghalang saat berbisik supaya gerakan bibirnya tak terbaca, "si tua sok ketampanan tapi memang tampan itu suka bohong. Bukan! Suka fitnah lebih tepatnya, Nak. Kamu tahu?! Mommy habis difitnah sama dia.""Hehehe … i-iya, Mom. Aku kan di sana saat Kai cerita soal itu," cengenges Sera. "Tukang fitnah!" sinis Aluna, memutar bola mata secara jengah lalu menatap sinis pada suaminya. "Aku berniat bercanda, Aimee. Timee yang terlalu serius. Bukan salahku," jawab Kaizen, membela diri sekalipun dia sudah terdakwa ber
"Jangan punya perasaan padanya."Sera menoleh ke arah ayahnya, menatap sayu dengan pancaran mata yang penuh kesedihan. "Cintamu terlalu murah untuk kau berikan padanya, Nak. Lupakan dia dan jangan pernah punya perasaan padanya," ucap Diego lagi. Awal, nadanya begitu lembut, akan tetapi diakhir kalimat nadanya berubah dingin dan penuh peringatan. Saat ini mereka masih di mobil, di mana Diego menyandar di mobil sambil memegang dada yang rasa sakitnya perlahan reda. Akibat kemarahan tadi, dadanya terasa sesak dan sakit. Debaran jantungnya juga tak normal. Diego sudah meminum obat dan sekarang kondisinya berangsur membaik. Sera menatap iba pada ayahnya, bibirnya terkunci rapat dan wajahnya penuh perasaan bersalah. Tes'Sebulir kristal jatuh dari pelupuk mata Sera. Tadi ayahnya kesakitan, Sera sangat takut. Di sisi lain, ucapan ayahnya seperti sosok yang hatinya telah mati, terasa menohok dan menampar hati Sera. "Dia bukan ibumu, Nak. Dia bukan ibumu!" ucap Diego lagi, di akhir kalim
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







