ログイン"De-demi uang, Kak," jawab Sera gugup. "Maaf yah, Dek. Kami tidak berani melakukan apa-apa. Soalnya keluarga Wijaya bukan orang sembarangan. Kami hanya orang biasa, kami takut melawannya." Sera diam sejenak karena sedikit panik. Namun, detik berikutnya dia kembali bersuara. Ah, otaknya terlalu encer untuk buntuh dalam waktu cepat. "Tenang, Kak. Keluarga suamiku jauh di atas keluarga Wijaya. Kalau aku selamat, kalian pasti juga bakalan selamat. Bahkan kalian akan mendapatkan hadiah dari keluarga suamiku. Soalnya aku ini berharga untuk keluarga suamiku, aku ini … umm … istilahnya penjinak bom. Hanya aku yang bisa menjinakkan suamiku yang gila, soalnya dia cuma dengerin kata-kataku." Di akhir kalimat, Sera senyum lebar dan cerah pada ketiga perempuan penata rias ini. "Apa yang bisa kami bantu, Dek?" ucap si penyiap gaun pengantin. Dia mulai tergiur karena hadiah yang Sera iming-imingkan. "Boleh pinjam HP?" Sera menatap penuh harap pada ketiganya. Ketiganya serentak menggelengkan kep
"Katakan, di mana kau menyembunyikan putriku?!" marah Diego pada Vanessa, mencengkeram kuat lengan perempuan itu sambil mengatupkan rangan. "A-aku tidak tahu menahu soal Sera, Mas. De-Demi Tuhan!" ucap Vanessa panik. Xavier berdecak pelan, menatap Vanessa campur aduk. Mereka semua memang curiga pada Vanessa karena mendadak perempuan ini ingin berlibur ke luar negeri. Vanessa mereka temukan di bandara, dan saat ini mereka ada di rumah Diego. Xavier cukup putus asa, CCTV halte memang menunjukkan kalau Sera diculik oleh sebuah mobil yang ditutup platnya. Oleh karena itu mobil tersebut sulit dicari dan saat ini masih dalam pencarian. Xavier menduga mobil yang Sera gunakan ditukar di sebuah tempat yang tak ada CCTV-nya karena rekaman CCTV terakhir yang mereka temukan mobil itu mengarah ke jalan menuju desa. Sedangkan, HP Sera ditemukan masih di kota ini—di trotoar menuju kota selatan. "Sepertinya memang bukan dia pelakunya, Ayah," ucap Xavier, duduk di sofa ruang tamu sambil menatap d
'Sera tidak ada di sini, Nak.' "Baik, Ayah." Xavier berkata pelan, tetapi dengan ekspresi wajah khawatir. Setelah mematikan sambungan telepon dengan ayah mertuanya, Xavier langsung menghubungi adiknya. Satu jam yang lalu, Sera mengabarinya kalau istrinya tersebut ingin ke kantor ayahnya. Xavier mengizinkan tetapi mengatakan pada Sera supaya Sera mengabarinya setelah sampai di kantor ayahnya. Ini sudah satu jam berlalu setelah Sera mengirim pesan padanya dan istrinya sama sekali tak memberi kabar padanya. Xavier sudah mengirim pesan pada Sera, sudah menghubungi juga, akan tetapi HP istrinya tidak bisa dihubungi. HP Sera juga tak bisa dilacak, statusnya non-aktif. Xavier menghubungi ayah mertuanya untuk menanyakan apakah Sera ada di sana, dan istrinya ternyata tak ada di sana. Ini sudah satu jam sejak Sera mengirim pesan terakhir padanya dan seharusnya Sera sudah ada di sana. 'Ada apa, Kak?' Suara Kaina terdengar di seberang sana. "Kau di mana?" tanya Xavier dengan nada cukup tega
"Aku cinta Mas Xavier," ucap Sera secara lugas sambil senyum haru dalam pelukan suaminya. Namun, menyadari apa yang sedang dia katakan, mata Sera langsung melebar, wajahnya tegang, tubuh membeku, dan jantung berdebar sangat kencang. Sreet'Sera langsung melepas pelukan Xavier, dia segera turun dari pangkuan suaminya lalu buru-buru ke kamar mandi dengan perasaan gugup setengah mati. Sedangkan Xavier, pria itu bak patung, hanya diam dengan wajah kaku—duduk lemas di sofa. A-apa yang istrinya katakan tadi? Sera mencintainya? Su-sungguh?!Tunggu! Damn it! Bagaimana bisa Sera mendahuluinya?! Maksudnya Xavier senang dengan ungkapan mendadak tadi. Rasanya seperti meteor sedang menimpa dirinya, dahsyat! Kutukan itu kumat! Hanya saja, sebagai seorang pria sejati, Xavier merasa kalah. Ck, tidak seharusnya Sera mendahuluinya. Ck, ini rumit! Selain masalah harga diri, Xavier juga harus segera menangani kutukan Adam brengsek ini. Bisa-bisa dia tidak bangkit dari sofa ini, atau dia harus mengor
"Dan Mas tahu nggak siapa awal mula yang mencomblangkan kami?" tanya Sera, mulai berbicara lugas. Xavier mendengarnya dan pria ini tak terlihat ilfeel padanya. "Siapa, Darling?" Xavier bertanya rendah. Dia menarik Sera supaya duduk lebih rapat dengan tubuhnya. Setelah itu dia memiringkan sedikit tubuh istrinya, begitupun dengan tubuhnya. Posisinya Sera sedikit membelakanginya. Dia melakukan itu supaya bisa memijat pundak Sera, agar perempuan ini lebih rileks bercerita padanya. "Lana, pacar sekaligus tunangan Rangga sendiri." Sera berkata pelan, mengembungkan pipi sejenak untuk mengekpresikan rasa marah dan kesal yang melandanya saat ini. "Hell! Mereka pantas mati," ucap Xavier, memijat pelan pundak istrinya. Sesekali dia mencium belakang kepala istrinya. "Jangan dulu, Mas. Ceritanya belum habis," ucap Sera menoleh ke arah suaminya sambil mendongak—ke arah belakang. Setelah itu dia kembali menghadap depan dan kembali bercerita, "setelah kami dekat kurang lebih satu tahun, kup
Mendoakannya hingga pelaminan? Tidak! Xavier merampasnya! "Salah satu mata-mataku, mengatakan kalau kalian pernah pacaran." Xavier berkata dingin. Mata-mata? Dialah mata-matanya. Untuk Sera, Xavier terlalu posesif. Dia mandiri mencari tahu sebisa mungkin, dia tak ingin melibatkan siapapun! Jika dia menyuruh mata-mata untuk mencari tahu informasi yang banyak tentang Sera, bukankah mata-mata itu juga akan tahu banyak tentang perempuan favoritnya ini?! Bagaimana jika mata-matanya malah berakhir jatuh cinta pada Sera? Cih, Xavier tidak akan membiarkan, oleh karena ituebih baik dia mencari tahu sendiri sekalipun dia sering gila sendiri. "Mata-mataku bertanya langsung pada Si Bajingan itu. Dia bilang kalian memang pernah pacaran," tambah Xavier, tiba-tiba mencengkeram lengan Sera dengan cukup kuat. "Mas, tolong! Lenganku sakit," cicit Sera, mencoba melepas tangan Xavier dari lengannya. Untungnya pria itu mau melepas, "aku beneran tidak pernah pacaran, Mas. Kalau memang Rangga mengaku
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m







