LOGIN"Jujur iya," ucap Inggita sambil menatap kesal pada staf baru tersebut. Dia meneguk saliva susah payah, bukan karena takut tetapi sebagai bukti betapa jengkelnya dia pada sosok perempuan yang saat ini sudah di depannya. "Ouh, berarti yang kuomongin barusan benar dong, Kak?" Perempuan itu menaikkan alis, semakin menatap remeh pada Inggita, "ternyata Kakak juga merasa yah kalau Kakak ini semena-mena setelah mendapat gelar sebagai CEO dari Des'Art?" "Nggak juga." Inggita berkata cukup tenang, mencoba menahan emosi karena masih mengingat posisinya. Yah, dia asisten Aluna yang sudah banyak menghadapi masalah yang menguji emosi. Dia tidak boleh terpancing begitu saja pada anak ingusan ini, "aku hanya tak suka pada sikapmu yang menjuruh ke arah keributan dan perselisihan." Dinda—staff baru tersebut bersedekap angkuh, menatap Inggita dari atas hingga bawah lalu senyum sinis pada Inggita. "Kalau kamu nggak suka, yah, itu urusan kamu, Kak. Ahahaha … sepertinya Kakak benar-benar merasa tingg
"Kau mau kemana, Sweetheart?" tanya Raigen, menatap istrinya dengan sebelah alis yang terangkat. Di tangannya ada nampan, berisi semangkuk bubur, buah potong, dan segelas air putih. Inggita tak langsung menjawab karena dia tertegun menatap Raigen yang sedang membawa nampan. U-untuk siapa bubur yang Raigen bawa? "Kerja, Mas," jawab Inggita pelan dan gugup, kembali menatap nampan di tangan suaminya. "Kembali ke kamar, Sweetheart," ucap Raigen, menatap penuh isyarat supaya Inggita masuk ke kamar. Inggita menetap ke pergelangan tangan, memeriksa jam apakah dia masih sempat. Sebenarnya percuma karena dia sudah sangat terlambat. Akan tetapi, … gaya biar terlihat sibuk! Setelah itu Inggita kembali ke dalam kamar, menuruti perkataan suaminya. Raigen juga ikut masuk, ke jalan ke arah sofa—meletakkan nampan di atas meja. "Gita, kemari," titah Raigen. Nadanya lembut dan hangat. Inggita menganggukkan kepala lalu segera berjalan mendekat ke arah Raigen. "Sarapan," ujar Raige
"Ta-tapi aku mau lepas kacamata biar nggak gugup," ungkap Inggita. Raigen yang sudah menunjukkan ekspresi senang, langsung menatap dingin dengan raut muka kesal pada Inggita. Dia memang senang perempuan ini mengungkapkan hal yang Raigen perintahkan tadi. Akan tetapi, tiba-tiba Inggita ingin melepas kacamanya. Bukankah ini menunjukan ketidak inginan Inggita padanya? "Katakan saja supaya kau tidak melihatku, Inggita Larasati Adam!" dingin Raigen. "Aku nggak buta yah, Mas," protes Inggita, "aku cuma rabun," sebal Inggita. "Yah, aku tahu. Tapi tujuanmu melepas kacamata memang itu kan? Agar kau tidak melihat wajahku," tuduh Raigen lagi, sudah duduk karena mendadak kesal pada Inggita. Apa yang salah dari wajahnya? Kenapa Inggita setidak ingin itu untuk melihatnya? "Sekalipun aku buka kacamata kalau jaraknya sedekat ini, muka Mas masih kelihatan kali. Yah, rada burem dikit doang, nggak terlalu HD. Tapi kan tetap lihat," jawab Inggita, tanpa sadar mengeluarkan skin cerewetn
"Mas, aku mau lewat," ucap Inggita dengan suara kecil saking takutnya pada Raigen yang menghadang di ambang pintu walk in closet. Demi Tuhan! Sekalipun pria ini tampan maksimal dan cold, tapi kali ini entah kenapa di penglihatan Inggita, Raigen terlihat seperti preman depan gang yang suka mengganggu anak gadis. Maksud Raigen apa, coba, tiba-tiba berdiri di ambang pintu walk in close lalu menghadangnya?! Sejujurnya Inggita merasa sejak tadi Raigen ini … lumayan menakutkan. Jujur saja Inggita merinding disko! Ah yah, saat ini Inggita sudah di rumah—lebih tepatnya dalam kamar. Dia habis mandi dan berniat mengnanti pakaian ke walk in closet. Itu karena lagi-lagi Inggita lupa membawa pakaian ganti saat mandi—kondisinya sekarang hanya mengenakan handuk, dan dia sangat malu sebab Raigen terus memperhatikan serta enggan membiarkannya masuk ke walk in closet. Oh yah, tadi sehabis dari pameran, Raigen membawa Inggita ke kantor pria itu sendiri. Selama di sana, Inggita tak melakuka
Raigen bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekat ke arah seorang perempuan yang sepertinya sedang mencari keberadaan seseorang. Cih, memangnya mata yang sudah dinerf oleh Sang Pencipta ini masih bisa menatap jelas, heh? "Eh." Inggita mendongak ke arah seorang pria yang tiba-tiba berdiri di depannya. Sayang sekali, Inggita tak bisa melihat wajah pria itu secara jelas sekalipun jarak pria ini tergolong dekat. Itu karena lampu pada bagian tamu undangan tiba-tiba redup, mungkin supaya para tamu undangan sekaligus penonton fokus memperhatikan seniman di depan yang sedang menjelaskan karyanya. Seandainya Inggita mengenakan kacamata, dia pasti melihat jelas wajah pria ini. Tapi kenyataannya Inggita sedang melepas kacamatanya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Inggita sopan, masih mendongak dan menatap sosok pria yang menjulang tinggi di depannya. Tuk' Tiba-tiba saja pria itu menyentil kening Inggita, membuat Inggita melebarkan mata sambil menatap horor pada pria itu.
"HAH?!" Inggita benar-benar cengang mendengar ucapan Raigen. Tubuhnya langsung menegang kaku dan tangannya refleks menyilang di depan dada. "Pak … Mas Raigen kena malaria yah?" gumam Inggita dengan ekspresi kaku, sisa dari rasa shocknya. Ah, tidak mungkin seorang Raigen mengatakan hal seperti tadi. Fix, pria ini memang sedang demam tinggi. Raigen tak mengatakan apa-apa lagi, memilih menghabiskan sarapannya dengan ekspresi wajah yang tampak … biasa. Datar tetapi penuh ketenangan. 'Ya elah. Dikacangin aku!' Inggita melirik muram pada Raigen. 'Udah dikagetin kayak uang kaget, sekarang malah sok … cool. Tapi emang cool sih. Ck, tapi aku masih kaget loh. Tadi itu … Mas Estetik ini kesurupan apa bagaimana?' batin Inggita, tanpa sadar terus menatap Raigen dengan ekspresi yang sungguh konyol. "Habiskan sarapanmu," ucap Raigen pelan, menatap istrinya yang terus mengamatinya—seolah dia ini … makhluk aneh yang baru turun ke bumi. "O-oh." Inggita ber-oh-ria lalu buru-buru menghabisk
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







