ANMELDENPagi itu, langit Mighatan tampak kelabu ketika mobil hitam Chase berhenti di depan gedung megah milik Callister Grup. Udara dingin menusuk, tapi yang membuat dada Chase sesak bukanlah cuaca—melainkan beban pikiran yang terus menekan sejak seminggu terakhir.
Kendati begitu, ia merasa cukup lega bisa menjemput Josh yang menghabiskan sisa liburannya di rumah Daven. Meski saat ini, ia ingin menemui Daven terlebih dahulu. Membicarakan proyek yang sempat tertunda.
Begitu masuk k
Suara hujan mengetuk lembut kaca jendela ruang kerja. Malam sudah larut, namun lampu di lantai tertinggi kantor Callister Group masih menyala. Di balik kaca besar itu, Daven berdiri dengan jas yang sudah dilonggarkan, menatap kelap-kelip lampu kota yang memantul di matanya yang lelah.Sudah hampir 2 tahun Daven membuat kantor khusus Callister Grup di SunCity. Semua itu demi agar dirinya tak terlalu repot pulang pergi Mighatan-SunCity.Ketika pintu diketuk, suaranya terdengar rendah namun tenang. “Masuk.”Arsen melangkah dengan sopan, membawa beberapa dokumen di tangannya. “Maaf mengganggu, Tuan. Saya perhatikan Anda belum pulang sejak sore.”Daven menoleh sedikit, tersenyum samar. “Tidak apa. Saya hanya butuh waktu sendiri.”Arsen meletakkan dokumen di meja, lalu berkata pelan, “Kalau boleh jujur, saya jarang melihat Anda sekeras ini bekerja… tapi juga jarang melihat Anda setenang ini.”
Hujan deras mengguyur SunCity malam itu. Langit gelap, petir sesekali menyambar. Di ruang bermain yang hangat, Daven tertidur di lantai berkarpet, dengan Josh bersandar di dadanya dan Grace terlelap di pelukannya.Althea berdiri di ambang pintu, memandangi pemandangan itu dengan dada sesak.Ia melangkah perlahan, lalu berbisik lembut, “Daven…”Daven mengerjap pelan, suaranya serak karena kantuk. “Hm? Sudah jam berapa?”“Jam sebelas lewat,” jawab Althea, menunduk sedikit. “Kau ketiduran lagi.”Daven menatap dua anak di pelukannya lalu tersenyum kecil. “Kelihatannya mereka menang malam ini.”“Kau lembur semalam, kan?”“Cuma sedikit,” katanya santai. “Josh minta aku bantu buat roket dari kardus, aku kalah cepat. Jadi ya… hukuman tidur di sini.”Althea menghela napas lembut, lalu mengambil selimut untuk menutupi mereka. &ld
Hujan turun pelan di luar jendela. Aroma tanah basah menyelinap lewat celah kaca yang sedikit terbuka.Di ruang keluarga, Althea duduk di sofa dengan selimut di pangkuannya, menatap kosong ke arah api perapian yang kecil. Di pangkuannya, Grace menggeliat, masih terlelap. Sementara di seberang, Josh sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya.“Mommy,” panggilnya pelan. “Boleh aku tambahin Papa di gambar ini?”Althea menoleh perlahan. “Tentu saja, Sayang. Papa kamu harus ada di sana.”Josh tersenyum kecil. “Tapi Daddy juga harus ada. Daddy yang tanam pohon di sekolah, kan?”Althea menunduk, matanya hangat tapi lembab. “Iya. Daddy yang tanam.”“Jadi... dua-duanya boleh ada di sini.” Josh menunjuk gambarnya dengan polos. “Karena aku sayang mereka berdua.”Sebelum Althea bisa menjawab, bel rumah berbunyi.Ia menarik napas dalam, menatap sekilas ke ara
“Mommy, lihat! Grace tersenyum!”Suara Josh memecah keheningan pagi di ruang keluarga yang hangat.Althea menoleh dari kursi tempat ia duduk menyusui bayi kecilnya. Wajahnya lembut tapi lelah. “Iya, sayang… dia memang suka senyum kalau dengar suara Josh.”Josh terkekeh kecil, menatap adik bayinya dengan bangga. “Berarti dia suka aku.”“Tentu saja,” jawab Althea, berusaha menahan air mata yang tiba-tiba terasa mendesak naik. “Semua orang suka kamu.”Dari balik jendela besar, Lydia memperhatikan mereka sambil tersenyum lembut. Ia duduk di kursi rodanya, jemarinya mengetuk pelan lengan kayu di sisinya. “Kau melakukannya dengan baik, Althea. Chase pasti bangga padamu.”Althea menatapnya sejenak. “Aku hanya mencoba bertahan, Lydia. Kadang rasanya seperti berjalan di tengah kabut tebal. Tapi setiap kali aku melihat anak-anak…”
“Dia ditemukan pagi ini.”Suara Chris terdengar parau, menahan emosi yang hampir meledak. Semua orang di ruang keluarga Callister mendadak terdiam. Hanya suara isak pelan dari Lydia yang terdengar samar di sudut ruangan.“Di mana...?” suara Daniel nyaris berbisik.“Di perairan dekat lokasi jatuhnya pesawat,” jawab Chris dengan napas berat. “Tim SAR mengkonfirmasi dari tanda identitas di tangannya. Itu benar Chase.”Riana langsung menutup mulutnya, menahan teriakan. Lydia beringsut memeluknya, tapi air matanya sendiri jatuh deras. Cale hanya menunduk, memijit pelipisnya, seolah mencoba menahan kenyataan pahit yang baru saja menghantam mereka semua.“Sudah... sudah diberitahu Althea?” tanya Daven pelan, berdiri di dekat jendela.Chris menggeleng. “Belum. Aku ingin memastikan dulu semuanya sebelum dia tahu.”Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan, suara
Malam itu, ruang rawat terasa begitu sunyi. Hanya suara mesin monitor jantung yang berdetak lembut, menyatu dengan deru napas Althea yang belum benar-benar stabil. Ia belum bisa tidur. Tangannya bergetar ketika meraih ponsel di meja kecil samping ranjang.Tayangan berita masih berulang di layar.Siaran langsung dari pantai Turki—gelombang besar, serpihan logam, dan tim pencari yang mengangkat barang-barang pribadi dari lautan.“Pesawat yang hilang sejak dua hari lalu, kini telah ditemukan dalam kondisi hancur di perairan dekat Selat Dardanella. Berdasarkan laporan awal, tidak ditemukan tanda-tanda korban selamat di antara 180 penumpang dan kru…”Althea menatap layar tanpa suara. Bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar.Hanya air mata yang perlahan mengalir.Tangannya terangkat, menyentuh layar ponsel seolah ingin meraih wajah Chase dari balik berita itu. “Kau... sungguh tidak akan kembali, ya?” bis
“Kurasa corak dasi yang ini, cocok untukmu.” Althea mengambil salah satu dasi dari koleksi yang Daven miliki. Meski wanita itu tahu, Daven sangat terpaksa menerima keberadaannya tapi Althea harus menekan rasa malunya. Apa yang sudah ia rencanakan harus berhasil sampai akhir waktu perj
“Kau ... benar-benar kehilangan kewarasanmu?”Althea sangat memahami kenapa sahabatnya mengatakan hal itu dengan wajah terkejut. Dia menceritakan semuanya, meski tanpa air mata, tapi Lydia tahu kekecewaan dan sakit hati yang Althea alami sangat besar. Tak semua rasa sakit yang menghampiri seseorang
Bohong kalau Althea tak sakit hati. Munafik kalau Althea tak merasa sedih dan kecewa. Tapi ... apa yang bisa ia lakukan untuk menahan semua ini? Bahkan pria yang ia pikir bisa dijadikan sandaran, justru orang pertama yang paling membuatnya patah hati. Althea tak buta melihat bagaimana Daven yang te
“Apa kau gila?” sentak Catherine Callister—lebih sering dipanggil Kate—dengan suara tinggi yang memecah keheningan taman belakang. Jemarinya yang dicat rapi mencengkeram bahu Althea dengan kasar, membuat tubuh ramping itu sedikit terhuyung. Teko air berbahan plastik ringan yang tadi Althea gunakan