เข้าสู่ระบบ
Maggie mengangguk, memandang sekeliling.Hingga hampir sampai di ujung gang, sebuah toko kerajinan tangan kecil menarik perhatiannya.Maggie masuk, disambut angin dingin dari AC. Tokonya tidak besar. Begitu masuk, ada dua baris etalase kaca yang dipenuhi kerajinan perak.Pemilik toko mengenakan celemek, duduk di sudut sambil serius membuat kerajinan. Melihat kedatangan tamu, dia tersenyum dan menyapa, "Silakan lihat-lihat. Kalau ada yang suka, panggil saja aku."Teresa langsung duduk di kursi kosong di dekat situ. Kantong belanjaan menumpuk di kaki. Dia mengibaskan tangan untuk mengipas. "Ternyata kamu suka ini ya. Kamu keliling saja, aku istirahat sebentar."Maggie berkeliling, setiap perhiasan perak tampak begitu indah dan halus. Ada anting, gelang, cincin ....Di dinding belakang pemilik toko tergantung penuh kertas desain yang dipaku dengan pin. Maggie menatapnya dengan agak terpukau."Bisa ajari aku buat sepasang cincin sendiri?"Pemilik toko adalah seorang kakak-kakak sekitar 30-
Easton sedikit goyah, sengaja menggodanya. "Kamu tega ninggalin aku sendirian di hotel? Setidaknya tunjukkan sedikit ketulusan dong?"Wajah Maggie mendadak terasa panas. Dia tidak merasa sedang manja, tetapi melihat reaksi Easton, jelas sekali dia sangat menikmatinya.Dengan tekad bulat, dia mendekat dan mencium sudut bibir Easton."Sudah cukup?" Maggie benar-benar malu. Wajahnya semakin merah.Easton masih merasa kurang puas, memiringkan wajahnya sedikit. "Kurang! Kamu sepertinya kurang tulus ya. Mau nambah sedikit lagi!"Maggie menarik napas dalam-dalam, lalu kedua tangannya melingkar erat di leher Easton. Dengan gugup, dia memejamkan mata, memperdalam ciumannya sedikit demi sedikit, hanya sekadar mencicipi. Tekniknya sangat canggung."Kalau begini?"Easton tertawa pelan. "Masih mau lagi …."Maggie yang malu sekaligus kesal langsung mencubit pinggangnya. "Jangan keterlaluan! Tahu batas sedikit ya!"Easton tertawa sampai hampir tak bisa berdiri tegak. "Baiklah, kalau begitu aku nggak
Keduanya terus berada di kamar sampai hari mulai gelap. Selama itu, ponsel Maggie beberapa kali berbunyi.Saat diambil dan dilihat, ternyata Teresa mengirim banyak pesan.[ Perjalanan ini benar-benar nggak sia-sia! Aku tidur sama model pria yang super ganteng! ][ Memang beda kalau yang lebih muda! Cowok brondong itu wangi banget, puas banget! Puas maksimal! ]Maggie merasa lucu, tetapi juga tak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia melirik Easton sekilas, lalu meletakkan ponselnya dengan perasaan bersalah. Siapa juga yang tanya dia? Siapa yang peduli dengan kesan setelah tidurnya?Easton sempat melihat sekilas layar ponsel yang menyala dan menangkap beberapa kata kunci. Dia menarik Maggie ke dalam pelukannya. Jemarinya dengan lembut merapikan rambut panjang Maggie."Kenapa? Datang ke Sarnya kali ini, kamu juga berharap ada pertemuan romantis? Priamu ini sedang di masa jayanya, belum sampai umur cuma bisa dilihat tapi nggak bisa dipakai."Wajah Maggie langsung memerah. Kaget dan malu berc
Wajah Maggie sepucat kertas. Setelah ketakutan besar itu, mentalnya runtuh, tubuhnya lemas tak bertenaga.Sekelompok orang berkerumun mengelilingi Easton. Perhatian dan kepedulian mengalir seperti air pasang.Barulah Maggie mendapat kesempatan untuk mundur. Dia berjalan di atas pasir lembut dengan langkah goyah, seakan-akan detik berikutnya dia bisa saja terjatuh."Pak Easton dan Pak Owen punya masalah apa? Rasanya bukan seperti main gim ... tapi lebih seperti balas dendam.""Pak Easton ternyata sudah nikah? Bukankah harapan Selina untuk naik kelas jadi pupus?""Kalian nggak lihat cincin berlian merah muda di jari manis tangan kiri Pak Easton? Sejak hari pertama di Sarnya, aku sudah melihatnya. Entah wanita beruntung mana yang mendapat pria sekelas berlian seperti ini.""Sekalipun Pak Easton masih lajang, rasanya dia nggak akan melirik Selina. Orang kaya nggak bodoh, mereka juga nggak buta.""Kecilkan suaramu, nggak takut didengar Selina? Nanti dia sengaja kasih nilai C waktu evaluasi.
"Entah jujur atau tantangan, itu hanya permainan terselubung. Pada akhirnya tetap mengikuti kata hati. Karena aku sudah ikut bermain, tentu aku nggak akan curang. Nggak seperti seseorang yang nggak sanggup bermain."Easton berbicara santai, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh sindiran, menusuk hati dan mata Owen.Owen menggertakkan giginya, menenangkan diri, lalu ekspresinya kembali seperti semula. "Oke. Kalau begitu, Pak Easton pilih jujur atau tantangan?""Kalau jujur gimana, kalau tantangan gimana?""Kalau jujur, aku ingin bertanya, apakah di hati Pak Easton masih ada tempat untuk cinta pertama? Tujuh tahun hubungan, apakah Pak Easton benar-benar bisa melepaskannya begitu saja?"Easton tersenyum tipis, wajahnya tetap tenang. "Pak Owen benar-benar mengenalku. Kalau aku memilih tantangan, tugas apa yang akan kamu berikan?""Silakan Pak Easton telanjang dan lompat ke laut."Begitu kata-kata itu keluar, semua orang tersentak dan menarik napas tajam.Kamil memasang w
"Sebenarnya kemungkinan terpilih itu kecil sekali. Di sini ada 30 sampai 40 orang. Sedikit saja sudut kemiringan botol berubah, nggak mungkin mengarah padamu."Selina hanya ingin membuat Easton sedikit berpartisipasi supaya bisa memanfaatkan kesempatan untuk cepat akrab dengannya. Sebagai orang yang lihai membaca situasi, tentu dia tahu dengan status dan kedudukannya, pria seperti Easton pasti meremehkan permainan tak penting dan kekanak-kanakan seperti ini bersama mereka yang bukan siapa-siapa.Semua yang perlu dikatakan sudah dia katakan, orang-orang di sekitar hanya bisa tersenyum canggung.Maggie sedikit bangkit, menggenggam botol, lalu memutarnya dengan cepat. Semua orang menjadi tegang. Puluhan pasang mata menatap botol yang berputar di atas meja. Bayangannya perlahan melambat ....Ujung botol menunjuk ke sudut yang cukup rumit. Semua orang mengikuti arah mulut botol dan mendapati itu tepat mengarah ke celah kosong kecil di antara kursi."Jadi ronde ini tetap dihitung?""Atau kit
Maggie menggeleng pelan. Dia mengetik sesuatu di ponsel.[ Aku sudah kenyang. ]Easton tidak membujuk lagi dan menyantap sarapan dengan tenang. Tidak terlihat gelisah sedikit pun. Setelah para pembantu membawa kotak makan dan buah yang sudah disiapkan ke mobil, Easton baru berdiri dengan santai. Seb
Gadis pramuniaga di toko itu agak terkejut dan membenarkan dugaannya. "Benar juga, Anda kenal dengan pria ini?"Beberapa orang di sisi lain panik dan buru-buru mengirim pesan beruntun di grup untuk mengingatkan Easton. Lucano sangat paham latar belakang pria ini dan samar-samar merasa sebentar lagi
"Lepaskan tanganmu," tegas Easton dengan ekspresi datar. Dia berlutut dengan satu kaki di samping tempat tidur.Jossie yang berada di pelukan Easton merangkulnya dengan erat. Mereka berdua bertatapan dengan posisi yang mesra.Entah Jossie dicekoki berapa banyak anggur. Wajahnya pucat, tetapi pipinya
"Pokoknya kamu nggak boleh makan sedikit pun. Nanti kamu sendiri yang tersiksa kalau alergimu kambuh. Terakhir kali kamu makan kaviar karena nggak bisa menahan nafsu. Akibatnya, tubuhmu dipenuhi ruam waktu malam. Apa kamu lupa?" ujar pria itu.Pria itu memang terdengar seperti menegur, tetapi nada b







