INICIAR SESIÓNAndaikan Nenek Sarah mau meluangkan sedikit waktu dan tenaganya untuk datang ke Harsa dan menemui keluarga Doha, keluarga Doha pasti akan menyambut dengan baik dan meringankan hukuman mereka kepada Samuel. Namun, Nenek Sarah tidak melakukan itu. Alih-alih keluarga Doha, yang memberi hukuman paling berat kepada Samuel justru adalah neneknya sendiri. Bahkan ketika sedang berbicara di telepon, sudah ratusan kali Samuel mencibir neneknya dalam hati. Nenek Sarah yang sedang berada jauh di Vila Ferda sampai bersin-bersin beberapa kali gara-gara Samuel. Dia pun segera menjauh dari Audrey takut penyakitnya akan menular ke Audrey. Nenek Sarah sampai meminta Kellin untuk memeriksa apakah dia sedang sakit dan minta diobati. Setelah Kellin memeriksa nadinya, dia berkata, “Nenek sehat-sehat saja, kok. Bahkan banyak anak muda yang badannya nggak sekuat Nenek.” Mendengar itu, Nenek Sarah pun menggerutu, “Berarti ada salah satu dari cucuku yang ngomongin aku di belakang, nih. Pasti Samuel!” Di an
Untungnya Samuel sudah membeli rumah di kota ini. Prosedur serah terima unit sudah selesai. Walaupun rumah itu tidak terletak persis di samping rumah Yohanna, jaraknya masih tidak terlalu jauh. Paling hanya sekitar satu dua kilometer saja. Hanya butuh beberapa menit jika Samuel mengendarai mobil. Di saat itu, Samuel sedang duduk di dalam mobilnya. Di kursi penumpang depan sudah ada seikat bunga dan satu kotak brokat besar berwarna merah. Kota itu berisi perhiasan yang Samuel belikan untuk Yohanna. Selain itu, di kursi belakang masih ada barang-barang lain seperti produk perawatan kulit, tas, serta pakaian branded. Namun Samuel tidak bisa masuk. Dia hanya bisa menunggu di depan pintu masuk kantor. Baru saja sepuluh menit yang lalu, Samuel melihat Joshua mengendarai mobilnya masuk ke area parkiran Doha Group. Walaupun Joshua datang dengan pakaian kerja dan membawa seorang sekretaris bersamanya untuk membahas kontrak kerja sama, Samuel tetap merasa jengkel. Dia berhasil membujuk kakakn
“Cewek yang dipilih sama Nenek Sarah untuk Ronny itu, jangan bilang anak perempuan sulung keluarga konglomerat Aldimo?” “Kalau dengar dari Olivia bilang, sih, begitu,” jawab Amelia. “.... nggak nenek nggak cucu sama-sama menikmatinya, ya. Kita dan yang lain cuma tunggu kabar baik saja dari mereka.” “Iya. Kita tunggu saja undangan pernikahan dari mereka. Mamaku juga sudah minta tolong Nenek Sarah carikan pasangan untuk Kak Aldi.” “Nenek Sarah pasti bakal bantu, tapi hasilnya nggak akan sebagus cucu-cucunya. Gimanapun juga Kak Aldi kan bukan keluarga Adhitama, belum tentu dia mau menuruti pilihannya Nenek Sarah.” “... kalau begitu kita ikuti alurnya saja, deh. Toh aku sudah punya keponakan dan ada Kak Tiara. Beberapa tahun ke depan kalau Kak Tiara mau punya anak lagi perempuan, lengkap sudah. Biar Papa Mama saja yang pusing soal pernikahan Kak Aldi. Aku sebagai adiknya mau ngomong apa juga nggak bakal didengar sama dia.” Aldi sangat menyayangi Amelia, tetapi dalam hal yang sifatnya
Di atas meja makan sudah tersedia empat jenis lauk dan semangkuk sup hangat, yang semuanya adalah menu kesukaan Amelia. Menyenangkan sekali rasanya di saat seperti ini diperhatikan oleh orang tersayang. Amelia tidak terlalu lapar karena dia sudah banyak makan camilan sebelumnya, tetapi dia tetap bisa makan banyak. Dia tidak bisa menahan godaan masakannya Jonas. “Jonas, aku rasa masakan kamu makin hari makin enak. Sudah mulai mendekati levelnya Ronny.” Di luar sana, Ronny dijuluki “Koki Dewa”. Sesuai dengan julukan yang melekat pada namanya, dia memiliki keterampilan memasak yang setara dengan dewa. Jonas juga kenal dengan Ronny, tetapi dia tidak begitu dekat karena jarang bertemu. Sudah berapa bulan berlalu sejak Ronny meninggalkan Mambera. Sekarang Jonas sampai harus mengingat-ingat seperti apa rupa Ronny. “Yang penting asal kamu suka, aku sudah puas.” Upaya Jonas dalam melatih kemampuan memasaknya secara diam-diam tidak sia-sia. Jonas yakin keterampilan memasaknya sudah lebih ba
Keluarga Leonarto memang tidak sekaya keluarga Sanjaya, tetapi mereka masih termasuk dalam keluarga konglomerat, dan pernikahan antara Aksa dan Tiara juga masih sesuai dengan standar kedua keluarga. Tuntutan Yuna terhadap Tiara sedikit lebih tinggi karena Tiara akan menjadi istri dari putra sulungnya. Jika Tiara berasal dari keluarga yang biasa saja, dikhawatirkan gaya hidup dan selera akan jauh berbeda, sehingga dia tidak bisa memikul beban yang keluarga Sanjaya tuntut darinya. Namun untuk menantu kedua, Yuna hanya meminta dia memiliki karakter yang baik. “Kak Aldi kan cowok yang baik. Dia pasti bisa ketemu cewek yang cocok. Soal pernikahan begini juga tergantung takdir. Kalau memang sudah takdirnya ketemu, pasti bakal ketemu. Tapi kalau belum takdir, dipaksa juga percuma. Mungkin takdirnya Kak Aldi itu menikah di usia yang agak tua,” kata Amelia berusaha untuk menghibur ibunya. “Sekarang menikah saja sudah termasuk tua. Nggak perlu diramal juga sudah ketahuan,” keluh Yuna. lalu tib
“Aku nggak cemburu, kok. Aku cuma lagi bercanda sama Mama. Siapa suruh Mama duluan yang meledek aku,” ujar Amelia tersenyum. “Aku juga tahu Mama baik ke Jonas demi aku. Semoga saja keluarga mertuaku juga baik sama aku karena kalian baik ke Jonas. Ma, kalaupun nanti aku ikut Jonas tinggal di Aldimo, Mama nggak perlu khawatir. Aku percaya Jonas bisa melindungi aku. Aku juga bisa melindungi diriku sendiri. Mama lupa aku ini siapa? Dari dulu nggak pernah ada yang berani menindas aku.” Yuna menggeser tangan Amelia dari bahu dan mencubit wajahnya. “Mama nggak khawatir sedikit pun kamu bakal kesusahan di sana. Keluarga Junaidi itu baik banget. Keluarga mereka harmonis dan reputasinya juga dikenal baik. Kamu beruntung bisa ketemu cowok sebaik Jonas.” Dengan bangga Amelia membalas, “Itu karena seleraku bagus. Cowok yang bisa bikin aku tertarik pasti punya latar belakang pribadi dan keluarga yang bagus.” “Iya, iya. Selera kamu memang yang terbaik.” Yuna mencubit lagi wajah Amelia sambil ters







