مشاركة

Bab 9

مؤلف: Piemar
last update تاريخ النشر: 2026-07-23 23:22:05

Setelah makan malam yang cukup menegangkan di restoran Thamrin, Abimana buru-buru pamit karena harus mengantar ibunya pergi ke rumah kerabat mereka di kawasan Pulo Mas. 

Ia mendekati Jingga dengan perasaan bersalah. “Sayang, maaf banget ya. Aku gak bisa anterin kamu balik ke rumah sakit lagi. Tapi tenang aja, aku pesankan taxi ya.”

Jingga tertegun mendengar ucapan kekasihnya. Sebentar... masa iya Tante Wida akan pulang naik motor besar seperti itu?

Tatapannya tanpa sadar beralih ke rok yang dikenakan Wida. Naik motor sport dengan pakaian seperti itu jelas tidak akan mudah. Berbeda dengannya yang mengenakan celana jeans, sehingga bisa duduk dengan lebih leluasa.

Melihat Jingga yang terdiam cukup lama, membuat Abimana merasa bersalah. Ia berpikir kalau Jingga pasti sedih karena ia tidak mengantarnya kembali. “Jingga, my sweety, kamu marah ya?”

Jingga memaksakan senyum tipis. “Enggak, Bi. Tenang saja. Ibumu memang mau naik motor gitu—” 

“Enggak, aku cuman ngawal Mama aja. Mama naik taxi juga. Tapi dia minta ditemenin.” Tukas Abimana dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. 

Jingga hanya ber’oh’ ria saja. 

“Tenang saja, aku terbiasa kok bepergian sendiri. Santai aja,” imbuh Jingga terkekeh pelan. 

“Ya udah, nanti kabari kalau sudah nyampe rumah sakit ya?” Abimana mengusap pucuk kepala Jingga dengan lembut. 

“Oke,”

Tak lama kemudian, Jingga menaiki taxi menuju apartemen Arjuna. Sial, ia lupa jika ia sudah berstatus istri sah Raden Arjuna Widjayakusuma. 

Di dalam taxi, Jingga sempat menelepon sang ibu, mengabarinya bahwa dia akan menginap di kosan sahabatnya karena kemalaman dan harus kuliah keesokan harinya setelah libur semester panjang. 

Kelegaan mendengarkan suara ibunya kini berubah menjadi kecemasan. Ketika taxi berhenti tepat di pelataran megah The WK Grand Regency pukul sepuluh lewat sepuluh menit. 

Jingga berdiri kaku di depan pintu kaca otomatis lobi. Mendadak isi kepalanya kosong karena terlalu letih. 

“Aduh, aku belum punya kartu akses lift lantai atas.” Monolog Jingga dengan ke dua alisnya yang bertaut di tengah. Selain itu, Arjuna memang belum sempat menyerahkan kartu master permanen kepadanya. 

“Apa telepon Pak Es batu?” Dengusnya kasar. Jingga mengacak rambutnya frustrasi. “Kalau aku telepon, pasti dia ceramah lagi soal efisiensi. Ckck!”

Jingga berjalan bolak balik sembari sesekali menggerutu kesal di depan lobi. Hingga tiba-tiba suara seorang petugas security berseragam rapi dengan rambut klimis yang berjaga di meja resepsionis langsung mengenali sosok Jingga dan melangkah mendekat. 

“Selamat malam Bu Jingga,” sapa petugas tersebut sembari tersenyum ramah. 

“Jingga mengerjap kaget. “Eh, Pak ngagetin aja sih!” Sedetik kemudian, Jingga melanjutkan. “Bapak kenal saya?”

Pria paruh baya itu mendekat. “Pak Arjuna sudah menyimpan instruksi di sistem kami sejak sore tadi,” potong petugas itu ramah. Ia mengeluarkan sebuah kartu akses cadangan berstiker khusus dari laci. “Pak Arjuna berpesan jika Ibu pulang di atas jam delapan malam, kami diminta menyerahkan kartu cadangan ini dan mendampingi Ibu sampai lift khusus penthouse.”

Jingga terpaku, memegang kartu tebal berwarna hitam-emas di tangannya. 

Pak Es Batu rupanya sudah menyiapkan kunci cadangan lewat security?

Pria itu ternyata tak seburuk yang ia kira. 

Ting!

Pintu lift khusus lantai 40 terbuka pelan. Jingga melangkah cepat keluar menembus foyer penthouse yang temaram dan sunyi. 

Ketika ia membuka pintu, di ruang tamu yang luas, sosok pria tampan dan dingin sedang duduk di atas sofa kulit berwarna abu-abu pekat. Tak seperti biasanya, ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dengan bawahan celana tidur hitam dengan motif salur. Jauh dari kesan pertama saat Jingga bertemu dengannya. Dia berpenampilan ala eksekutif. 

Ketika mendengar suara langkah kaki berasal dari arah pintu, Arjuna menutup buku tebalnya dengan gerakan perlahan. Tatapan gelapnya mendadak mengunci sosok Jingga yang baru saja melangkah masuk.

“Pukul sepuluh lewat dua puluh menit,” ucap Arjuna. Suaranya rendah tetapi selalu berhasil membuat bulu roma Jingga meremang. 

Jingga berdiri canggung, menahan napas. “Maaf, Pak, tadi ada acara makan—-”

“Saya tidak butuh alasan apapun,” sela Arjuna santai, meletakkan bukunya di atas meja kaca. “Secara hukum dan kesepakatan, kamu tinggal di sini. Pulang larut malam tanpa memberi kabar sama saja kamu melanggar poin ke lima belas perjanjian kontrak kita.”

Deg!

Jingga menelan salivanya. Hari ini benar-benar menguras stamina dan mentalnya. Dimulai dari akad nikah dadakan, menjenguk ibunya pascaoperasi, lanjut makan malam penuh tekanan psikologis bersama calon ibu mertuanya, dan sekarang harus berhadapan dengan suami kontrak bermuka tembok ini.

Sabar, Jingga. Ini demi pelunasan utang dan pengobatan Ibu, batinnya mengelus dada.

Jingga meremat tali selempangnya. “Maaf, Pak Arjuna. Lain kali, saya akan mengabari lebih awal. Oh, ya, terima kasih juga untuk kartu cadangan tadi di bawah. Tanpa kartu itu saya mungkin dikira tunawisma yang mau tidur di lobi,”

Arjuna berdiri kaku, menghela napas pendek. “Jangan salah paham! Saya menaruh kartu itu di bawah agar saya tidak repot turun ke lobi cuma untuk membukakan pintu jam sepuluh malam. Itu tidak efisien,” balas Arjuna datar. 

Jingga menahan tawa dalam hati. Kiyaa! Jurus efisiensi keluar lagi.

“Saya mengerti, Pak. Segala harus selalu efisien dan transaksional,” sahut Jingga tidak ingin memperpanjang percakapan. Ia sudah cukup letih jiwa dan raga. Ia ingin segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang CEO. Ralat, ranjang milik kamar tamu sang CEO. 

Arjuna menghela napas pendek melihat respon istri kontraknya. Mimik wajahnya tetap datar. Tidak ada sorot kemarahan dan rasa tersinggung sama sekali.

Namun, sebelum Arjuna hendak membalas, tatapan matanya terkunci pada satu titik di tubuh Jingga yakni bagian leher. Pria dingin itu lantas melangkah dua tapak, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin lain terhidu oleh hidung mancungnya. 

“Pak Arjuna mau apa?” Jingga reflek melangkah mundur, merasakan aura yang tak sedap yang menguar dari tubuh Arjuna. Ke dua tangannya langsung menyilang di depan dadanya, ia sudah berprasangka buruk pada pria itu. Ia takut pria itu kini menuntut haknya sebagai seorang suami. 

Tanpa mengindahkan pertanyaannya, tangan panjang Arjuna terangkat. Jemari pipihnya bergerak cepat meraih sesuatu yang tersembunyi, sehelai benang rajut tebal yang melingkar di balik kerah kemeja Jingga lalu menariknya dalam satu sentakan keras. 

Sebuah syal pria kini berpindah ke tangan Arjuna. Netra gelapnya menyapu benda itu sejenak, lalu perlahan beralih menatap Jingga. Tatapannya begitu dingin hingga seolah mampu membekukan udara di seluruh ruang tamu. 

Mata Jingga melebar melihat betapa telitinya pria di depan matanya. Shit, ia lupa melepas syal milik Abimana!

“Syal pria,” gumam Arjuna lirih. Jemarinya mengangkat syal itu lebih tinggi sementara itu tatapannya masih tertuju pada wajah Jingga yang sudah memucat. 

“Kamu pulang terlambat ke apartemen ini dengan membawa aroma dan barang milik pria lain di lehermu, Jingga?”

Napas Jingga tercekat. 

Satu kesalahan kecil berubah menjadi ancaman besar.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 12

    Jingga mengembuskan napas pendek kemudian ia mengangguk lemah. “Karin, dia belum tahu.”Karina menepuk-nepuk punggung tangan Jingga. “Aku paham, Gia. Ini tidaklah mudah. Tapi … mungkin kamu sebaiknya segera membuat keputusan sebelum semua terlambat. Aku gak mau kamu terkena masalah. Apalagi, kita sekarang udah di tingkat akhir. Kita harus fokus untuk persiapan skripsi.”Jingga tersenyum pahit mendengar nasehat Karina yang sialnya benar adanya. Melihat raut wajah Jingga yang berubah sendu, Karina mencubit pipi Jingga gemas. “Jangan sedih! Aku gak bisa lihat sahabatku sedih. Jingga selalu ceria,” katanya sembari mengangkat kedua tangan Jingga ke udara, memberi semangat. Setelah melepas rindu, berbincang hangat dengan sahabatnya, Jingga memutuskan pergi menuju WK Gallery Space Art untuk melanjutkan proyeknya muralnya yang tertunda. Perlengkapan melukis mural masih berada di sana sehingga gadis itu tidak membawa barang banyak dari kampus. Hanya tas ransel berisi tablet, buku sketsa dan

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 11

    Seorang wanita muda berseragam housekeeping berwarna abu-abu charcoal dengan lis hitam membuka pintu dengan tenang. Name tag terpasang rapi di dada kirinya, sementara rambutnya disanggul tanpa sehelai pun yang terurai.Ketika pandangan mereka bertemu, baik Jingga maupun petugas housekeeping itu sama-sama terperanjat.“Anda siapa ya?” tanya wanita berseragam rapi tersebut membuka suara lebih dulu. “Pak Arjuna tidak pernah mengizinkan siapapun menginap di sini sebelumnya. Apalagi … perempuan,”Jingga membeku di tempat. Tangannya semakin mencengkram tali tas ranselnya. Ia dilanda bingung harus menjawab apa atau memperkenalkan dirinya sebagai siapa di sana. Masalahnya, ia dan Arjuna belum bicara serius perihal pernikahan mereka secara langsung. Pria dingin itu hanya memberikan salinan kontrak tanpa menjelaskan apakah pernikahan yang mereka jalani bersifat rahasia ataukah diketahui oleh keluarga dekat semacam itulah. Namun, sebelum Jingga membuka mulut untuk merangkai kembali karangan abs

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 10

    Suasana mendadak hening. Arjuna menatap syal berwarna gelap di tangannya. Tatapannya lantas beralih dari syal tersebut merambat naik ke wajah Jingga yang sudah memucat seperti maling yang tertangkap basah. “Kamu bawa barang lelaki lain ke apartemen ini?”Suara Arjuna terdengar datar, tidak ada emosi sama sekali. Namun, entah kenapa bagi Jingga yang mendengarnya, rasanya seperti ditegur oleh dosen killer yang bersungut-sungut. Gadis berwajah mungil itu dilanda bingung. Haruskah ia mengatakan dengan jujur kalau syal itu milik kekasihnya ataukah mencari alasan lain agar menghindari perdebatan di awal pernikahan mereka. Jika ia berterus terang, pasti pria kharismatik di depannya akan marah padanya. Ia juga tidak tahu bagaimana pria itu melampiaskan kemarahannya dalam bentuk apa. Jingga meneguk salivanya yang tiba-tiba terasa pahit. Ke dua bibir tipisnya hendak bergerak dan bersuara, tetapi suara deheman Arjuna membuatnya mengatupkan kembali bibirnya. Masih menggenggam syal gelap ters

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 9

    Setelah makan malam yang cukup menegangkan di restoran Thamrin, Abimana buru-buru pamit karena harus mengantar ibunya pergi ke rumah kerabat mereka di kawasan Pulo Mas. Ia mendekati Jingga dengan perasaan bersalah. “Sayang, maaf banget ya. Aku gak bisa anterin kamu balik ke rumah sakit lagi. Tapi tenang aja, aku pesankan taxi ya.”Jingga tertegun mendengar ucapan kekasihnya. Sebentar... masa iya Tante Wida akan pulang naik motor besar seperti itu?Tatapannya tanpa sadar beralih ke rok yang dikenakan Wida. Naik motor sport dengan pakaian seperti itu jelas tidak akan mudah. Berbeda dengannya yang mengenakan celana jeans, sehingga bisa duduk dengan lebih leluasa.Melihat Jingga yang terdiam cukup lama, membuat Abimana merasa bersalah. Ia berpikir kalau Jingga pasti sedih karena ia tidak mengantarnya kembali. “Jingga, my sweety, kamu marah ya?”Jingga memaksakan senyum tipis. “Enggak, Bi. Tenang saja. Ibumu memang mau naik motor gitu—” “Enggak, aku cuman ngawal Mama aja. Mama naik taxi

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 8

    “Jingga, kamu tidak apa-apa, kan?” Suara Abimana memecah lamunan Jingga. Ia mendongak, mendapati pria tampan itu tengah menatapnya dengan raut khawatir. “Eh, tidak apa-apa, Abi.” Sahut Jingga dengan cengiran tipis khasnya, berusaha menormalkan perasaan yang tengah kalang kabut. Ingatannya masih tertinggal di ruang perawatan pasca operasi. Teringat percakapan singkat dengan ibunya yang membahas soal pinjaman jangka panjang yang merupakan hasil karangan bebas miliknya. Sungguh, ia merasa bersalah karena telah berbohong pada ibunya. Demi menjaga rahasia pernikahan kontraknya dengan Arjuna, ia mengatakan pada ibunya bahwa biaya pengobatan ibunya termasuk bayar utang di Bank itu merupakan pinjaman jangka panjang. Jingga akan mencicilnya dengan penghasilannya sebagai seniman mural yang terlibat dalam proyek spesial di WK Art Space.“Kenapa malah melamun? Pakai helmmu!” seru Abimana sembari mengambil helm yang tergantung di kaca spion dan memasangkannya ke kepala kekasihnya. Namun, Abim

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 7

    Wajah Jingga memucat tatkala melihat buku kecil bersampul hijau dengan korps garuda emas jatuh tepat menimpa punggung kaki Abimana. Jantungnya nyaris copot. Namun, dengan gerakan kilat, ia berhasil membungkukkan badannya, menyambar buku tersebut lalu menyurukannya kembali ke dalam tas selempang miliknya.Srett!Resleting berhasil tertutup rapat. Aman! “Jingga,” ucap Abimana yang tak kalah panik melihat pergerakan Jingga. Ia mengira kalau Jingga memang sedang kurang fokus, hingga ia kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Naasnya, saat yang sama, kesialan masih belum beranjak pergi. Bertepatan Jingga menyambar buku nikah tadi, cincin pernikahannya yang sempat tersangkut di buku jarinya jatuh. Benda berkilau itu menggelinding dan berhenti tepat dua puluh centimeter di belakang tumit Abimana. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, Sayang,” ucap Abimana bernada lembut dan perhatian. Napas Jingga masih terengah. Matanya bergerak liar, ingin segera melangkah maju demi mengambil c

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status