MasukDarlene tersenyum tipis, lalu bertanya pada Gianna, "Bu Gianna bayar berapa untuk sewa Pak Kenward jadi asisten? Dua ratus juga?"Kata "juga" itu membuat senyum di wajah Gianna sedikit membeku. Dia segera merangkul lengan Kenward, "Kenward, kok Darlene bilang begitu sih? Mana mungkin kamu semurah itu?""Pokoknya kalau dia jadi sopir pengganti, tarifnya 200 ribu," kata Darlene sengaja mengungkitnya.Melihat reaksi Gianna, jelas dia tidak tahu bahwa malam itu Kenward yang mengantar Darlene pulang.Darlene memang ingin bercerai dari Kenward. Namun, itu tidak menghalanginya untuk menikmati perasaan puas setelah membuat Gianna tidak nyaman.Tatapan Gianna ke arah Kenward jelas penuh rasa ingin tahu tentang apa sebenarnya yang dimaksud dari "dua ratus" antara Kenward dan Darlene. Sayangnya, pandangan Kenward sama sekali tidak beralih dari wajah Darlene."Bukan cuma jadi sopir pengganti 200 ribu," kata Kenward santai, "Temani tidur juga segitu."Ucapan itu keluar begitu saja dari Kenward. Kal
Saat itu, Gianna masih menjabat sebagai manajer di departemen desain perhiasan Grup Bramantyo.Di mata Swara, Gianna adalah sosok yang sangat berbakat. Selain itu, Gianna juga cantik. Swara merasa, pria mana pun yang normal tidak mungkin tidak menyukai perempuan yang cantik sekaligus berbakat seperti Gianna.Namun, perempuan seperti Gianna malah menganggap Darlene sebagai pesaingnya. Karena itu, Swara merasa Darlene seharusnya memang memiliki sesuatu yang luar biasa.Setelah sketsa itu selesai digambar, Darlene baru menyadari bahwa Swara berdiri di sampingnya sejak tadi."Ada perlu apa?" tanya Darlene.Swara tersentak kembali ke dunia nyata. Dia hendak menyerahkan kopi itu, tetapi begitu dilihat, kopinya sudah dingin."Nggak apa-apa ...."Dengan sedikit canggung, Swara meneguk kopi dingin itu sendiri, lalu berkata, "Aku lihat kamu menggambar dengan sangat serius, jadi nggak berani mengganggu. Tapi, tema final kali ini terlalu abstrak. Jadi kamu berencana mendesain robot? Tapi bukankah
"Sebentar lagi nggak."Darlene melepas sabuk pengamannya. Kenward juga ikut melepas sabuk pengamannya. Gerakan itu membuat tubuh Darlene yang sudah tegang sejak tadi menjadi semakin kaku."Kamu takut apa?"Kenward tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan tanpa peringatan, dengan satu tangan menopang pintu kursi penumpang. Darlene terkurung di antara sandaran kursi dan lengannya. Dia menahan napas."Kamu takut sama aku?"Senyuman Kenward memiliki daya tarik yang mematikan. Tatapannya yang terkunci pada mata Darlene berkilau bagaikan bintang-bintang terang di langit malam. Dada Darlene terasa semakin sesak."Kamu takut aku menyentuhmu, ya?"Melihat kepanikan di mata Darlene, Kenward malah tertawa pelan. Dia mundur, melepaskannya, lalu mengeluarkan ponsel. "Saka, sudah sampai?"Darlene samar-samar mendengar suara Saka dari seberang telepon, "Sudah, Pak. Mobil saya ada tepat di belakang mobil Bu Darlene.""Baik."Kenward menutup telepon, lalu menoleh ke arah Darlene. "Mana mungkin aku baw
Sampai di sana, Fredric tiba-tiba kembali menoleh ke arah Darlene yang duduk di seberangnya."Jangan-jangan kamu tertarik sama klienku ini?"Kenward tidak membantah maupun mengiakan, hanya balik bertanya dengan nada datar, "Kamu sudah terima kasusnya?""Belum ....""Kalau begitu dia bukan klienmu."Fredric membuka mulut, tetapi tidak menemukan celah untuk membantah.Suasana di meja makan seketika menjadi canggung. Namun, Kenward tetap tenang dan berkata dengan santai, "Jangan pedulikan aku. Kalian lanjutkan saja."Darlene dan Fredric terdiam. Ketiganya saling terdiam, sampai akhirnya Fredric menjawab ponselnya."Baik, baik ... saya segera ke sana."Setelah menutup telepon, Fredric menoleh ke Darlene, lalu ke Kenward."Ada sedikit urusan di pihak klienku. Aku pamit duluan. Biaya makan sudah kubayarkan, kalian berdua silakan lanjut mengobrol."Saat hendak pergi, dia membungkuk mendekat ke telinga Darlene dan berbisik pelan, "Nanti kita kontak lagi."Fredric pun pergi terlebih dulu. Namun
"Biasanya setelan kerja seperti ini 'kan dipadukan dengan rok pendek ketat, ya?"Sejak Fredric menatapnya dari atas ke bawah tadi, Darlene sudah merasa seluruh tubuhnya merinding. Namun dari luar, dia tetap terlihat tenang. "Aku sengaja ganti dengan celana khusus buat kamu. Gimana, terharu nggak?"Fredric langsung menangkap bahwa Darlene sedang menyindirnya soal kemesumannya. "Kenapa? Kamu pikir aku orang yang mesum?""Aku nggak bilang begitu."Fredric mengangkat bahu sambil tersenyum, lalu menarikkan kursi untuk Darlene dengan sikap sok gentleman. Darlene pun duduk.Pertemuan malam ini sebenarnya atas inisiatif Fredric sendiri. Dia yang menghubungi Darlene, katanya ingin membahas konsultasi soal gugatan perceraian.Darlene sangat paham bahwa niat Fredric tidak sesederhana itu. Namun, dia tetap ingin mendengar apa yang ingin disampaikan Fredric. Lagi pula, dia sendiri tidak yakin apakah setelah menang taruhan nanti, Kenward benar-benar akan menepati janjinya."Mesum itu naluri pria ...
Darlene bukanlah tipe orang yang terlalu menaruh hati pada desain. Karena sejak awal, desain memang bukan bidang yang dia sukai. Namun sekarang, karena dia sudah memutuskan untuk mencari nafkah dari dunia desain, dia tidak lagi punya kesempatan untuk bersikap setengah hati.Di dalam kantor, Swara meletakkan secangkir kopi panas di samping tangan Darlene.Pekerjaannya di sini cukup beragam. Sehari-hari, dia memang sering membantu Darlene menyajikan kopi atau teh. Karena itu, meskipun akhir-akhir ini dia terlihat sedikit lebih rajin, hal itu tidak sampai menimbulkan kecurigaan.Dalam pandangan Swara, Darlene sama sekali tidak pantas menjadi seorang desainer.Gambar rancangan buatan Darlene selalu dibuang begitu saja di mana-mana di kantor. Jangankan orang dengan niat tersembunyi sepertinya, bahkan pegawai bank yang diam-diam masuk untuk menawarkan pembukaan kartu kredit pun bisa melihatnya dengan mudah.Jika orang yang tidak menghormati desain seperti Darlene saja bisa menjadi desainer,







