LOGINSejak kejadian di belakang sekolah, Delia mulai merasa sedikit lebih tenang.Untuk pertama kalinya, ia melihat bukti bahwa masa depan yang selama ini menghantuinya tidak harus terjadi dengan cara yang sama.Renata masih hidup.Tidak ada kecelakaan seperti yang ia ingat.Tidak ada kejadian yang membuat hidupnya berubah dalam satu hari.Mungkin kali ini semuanya benar-benar akan berbeda.Namun, Delia lupa satu hal.Masa lalu mungkin berubah, tetapi orang-orang di dalamnya tetap sama.Termasuk Renata.***Keesokan harinya, suasana kelas terasa seperti biasanya.Beberapa siswa sibuk mengobrol, sebagian lainnya masih menyelesaikan tugas sebelum guru datang.Delia duduk di bangkunya sambil membaca buku. Nina yang berada di sebelahnya beberapa kali melirik ke arah Delia.“Del.”“Hm?”“Semalam kamu dapat pesan aneh lagi?”Tangan Delia yang sedang membalik halaman langsung berhenti.Ia menoleh, “Kenapa kamu tanya begitu?”“Karena wajahmu kemarin kelihatan aneh setelah membaca sesuatu di ponsel
Sepanjang perjalanan kembali ke kelas, Delia lebih banyak diam.Pikirannya masih tertinggal di belakang sekolah.Pertemuan dengan Renata dan Tristan tadi berjalan jauh berbeda dari apa yang pernah dialaminya di kehidupan sebelumnya.Tidak ada pertengkaran besar.Tidak ada Renata yang mengejarnya.Tidak ada dirinya yang berlari dalam keadaan panik.Dan yang paling penting...tidak ada kecelakaan.Delia melirik ke arah Nina yang berjalan di sampingnya.Gadis itu terlihat jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Meskipun sesekali masih menghela napas panjang, setidaknya wajahnya tidak lagi sepucat tadi.“Del.”“Hm?”“Untung tadi kamu ikut.”Delia tersenyum tipis, “Kalau aku gak ikut, kamu mau pergi sendirian?”Nina menggeleng cepat.“Enggak mungkin.”“Makanya.”Nina tertawa kecil.Namun Delia hanya membalas dengan senyum tipis.Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.‘Apa yang sebenarnya terjadi?’Dalam kehidupan sebelumnya, hari itu menjadi aw
Bab 18 Part 2Bab 19Delia membaca situasi yang benar-benar berbeda dari kehidupan sebelumnya.Jika dahulu hanya ada dirinya dan Renata yang mengetahui hubungan terlarang antara Renata dan Tristan, mengapa di kehidupan keduanya justru muncul beberapa saksi baru?Ada Nina.Ada Bara.Bahkan sekarang, mereka semua berada di tempat yang sama.Entah apa yang akan terjadi?Delia menatap Renata yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Gadis itu terlihat tenang, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.Di sampingnya, Tristan juga berdiri dengan wajah yang sulit dibaca.Pemandangan itu membuat Delia kembali teringat pada kehidupan sebelumnya.Hari ketika semuanya bermula.Hari ketika ia memergoki keduanya.Hari ketika Renata mengejarnya.Dan hari ketika takdirnya berubah untuk selamanya.Namun sekarang...Situasinya tidak sama.Delia tidak sendirian.Ia memiliki Nina sebagai saksi. Bahkan Bara yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam kejadian tersebut di kehidupan sebelumnya juga b
Kali ini, dia tidak akan membiarkan siapa pun mati karena kesalahpahaman yang sama. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai di belakang sekolah. Tempat itu cukup jauh dari bangunan utama, bahkan hampir tidak pernah didatangi siswa ketika jam istirahat. Delia menghentikan langkahnya. Matanya menyapu sekitar. Tidak banyak yang berubah. Pohon besar di sisi lapangan masih berdiri kokoh. Bangku kayu yang dulu sering digunakan siswa untuk duduk juga masih berada di tempatnya. Bahkan tembok tua yang catnya mulai mengelupas masih terlihat sama. Semuanya terasa begitu familiar. Terlalu familiar. Delia menelan ludah. Dulu, ia pernah berdiri di tempat seperti ini dengan hati yang sama sekali berbeda. Ia datang sebagai seorang gadis yang tidak mengetahui apa pun. Tidak tahu bahwa satu kejadian kecil akan mengubah seluruh hidupnya. Tidak tahu bahwa setelah hari itu, dirinya akan kehilangan banyak hal. Keluarga. Ketenangan. Harga diri. Dan pada akhirnya, hidupnya sen
“Del?” Delia yang sedang menyalin soal ke dalam bukunya menoleh ketika mendengar panggilan Nina. “Ada apa?” Nina tidak menjawab. Ia justru menyerahkan ponselnya kepada Delia. Delia segera meletakkan pulpen yang berada di tangannya, lalu menerima ponsel milik Nina. Rupanya, Nina sedang menunjukkan sebuah pesan yang baru saja dikirim seseorang. Isinya berupa perintah agar Nina pergi ke belakang sekolah saat jam istirahat kedua. Meskipun tidak ada nama pengirim yang tertera, Delia langsung tahu siapa yang mengirim pesan tersebut. “Jangan datang sendiri. Nanti aku temani.” Nina mengernyit. “Memangnya kamu tahu siapa pengirim pesan ini, Del? Untuk apa dia memintaku datang ke sana?” Entah Nina yang terlalu polos atau memang belum menyadarinya. Namun, Delia tahu persis siapa pengirim pesan tersebut. ‘Renata.’ “Tahu. Pesan itu dari Renata.” Mulut Nina langsung terbuka sempurna. Gadis itu terlihat sangat terkejut mendengar pernyataan Delia. “Jangan takut. Nanti aku t
"Del buruan!" sergah Andrew. "Iya, sebentar," Delia berlari kecil sambil memakai dasi yang belum sempat ia kaitkan. Lalu ia duduk di jok belakang motor Andrew, "Udah." "Nanti kau kemana?" "Gak kemana-mana, di rumah aja. Kenapa memangnya?" "Mau gak ikut aku pergi sebentar," "Haa? Aku gak denger kau ngomong apa?" Maklum mereka berbincang di atas motor, suara angin lebih dominan. "Nanti ikut aku!" "Kemana sih Ndrew?" "Ngopi bentar sama Bara," "Bara?" Andrew tampak mengangguk. "Bara siapa?" Dalam hati Delia bertanya, apakah juga sepupunya tersebut dan Bara sudah kenal sejak lama? "Kau gak kenal? Padahal kalian satu sekolah," "Ah Bara, sekedar tau saja. Memangnya kau sudah lama mengenalnya?" Andrew mengangguk, "Dulu kami satu sekolah waktu smp." Ternyata banyak fakta yang dulu tidak Delia tau dan di kesempatan hidupnya yang kedua ini, dia mulai mengetahui satu persatu fakta yang ada di masa depannya. "Oh boleh deh nanti," putusnya. Setelah sampai d
Semalam Rafael tidak pulang ke rumah. Delia cukup merasa lega. Setidaknya, ia bisa sedikit lebih bebas. Pagi ini, ia juga berniat pergi ke kantor. Bertemu banyak orang mungkin bisa mengurangi beban pikiran yang ditanggungnya. Setelan kemeja berwarna coklat ia padukan dengan rok span selutut, bl
Setelah berhasil menenangkan diri, Delia sibuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Rafael dan Gladis selama satu setengah jam.Ia pun menghempaskan diri ke sofa sembari menyeka keringat yang turun di keningnya.Delia cukup lega menyelesaikan apa yang diperintah Rafael. Ia juga sudah memasak sesu
"Ugh!" Silau cahaya dan suara kendaraan membuat Delia terbangun. Ia melirik sekitar dan menemukan dirinya di kursi besi. "Ya Tuhan, jadi semalam aku tidur di sini?" Semalam, ia berbohong pada Andrew dan mengatakan bahwa Rafael memperlakukannya dengan baik. Tak mungkin bukan ia mengatakan bahwa ter
Delia Anastasya menghembuskan nafasnya pelan menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun putih panjang melekat di tubuh proporsionalnya membuat penampilannya malam ini begitu cantik. Hanya saja, semua terasa percuma karena Rafael Ardinata–calon suaminya–justru enggan menatap Delia. Bahkan sebelum aca







