LOGIN
Pagi itu, Delia datang ke sekolah dengan keputusan yang sudah bulat.Ia tidak bisa terus mengandalkan ingatannya.Selama ini, ia menganggap kehidupan pertamanya sebagai sebuah peta. Setiap kejadian yang ia ingat menjadi petunjuk untuk menentukan langkah berikutnya.Akan tetapi, peta itu perlahan berubah. Kejadian di belakang sekolah tidak berlangsung seperti yang ia ingat.Nina berhasil terhindar dari masalah. Hubungan Renata dan Tristan pun mulai menunjukkan arah yang berbeda.Bahkan ada orang baru yang muncul dalam kehidupan Renata, seseorang yang tidak pernah Delia ingat sebelumnya.Lalu ada Bara.Seseorang yang dalam kehidupan pertama baru ia kenal setelah dirinya menjadi istri Rafael. Sekarang, Bara sudah menjadi bagian dari hari-harinya.Semua itu membuat Delia sadar. Masa lalu sudah berubah. Maka masa depan yang ia ingat juga tidak bisa lagi dianggap sebagai sesuatu yang pasti.Delia membuka buku catatannya. Di halaman pertama terdapat daftar kejadian yang ia ingat dari kehidup
Hari-hari berlalu lebih cepat dari yang Delia inginkan.Semakin dekat dengan tanggal yang selama ini berusaha ia hindari, semakin sulit baginya untuk bersikap tenang.Tanggal itu.Tanggal yang masih tersimpan jelas dalam ingatannya.Tanggal ketika kehidupan Delina berubah untuk selamanya.Delia menatap kalender yang berada di atas meja belajarnya. Ujung jarinya perlahan menyentuh angka yang sudah ia lingkari beberapa hari lalu.Tinggal beberapa hari lagi.Ia menarik napas panjang.Dalam kehidupan pertama, Delia tahu persis bagaimana semuanya bermula.Ia tahu apa yang akan terjadi.Ia tahu siapa saja yang terlibat.Ia bahkan tahu akibat yang akan ditanggung Delina setelah kejadian tersebut.Karena itulah, sejak kembali ke masa lalu, Delia berjanji tidak akan membiarkan hal yang sama terulang. Tetapi sekarang ia mulai ragu.Kejadian Nina berubah. Hubungan Renata dan Tristan juga mulai berjalan di luar ingatannya. Bahkan orang-orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya mulai muncul dala
Pertanyaan Renata terus terngiang di kepala Delia bahkan setelah gadis itu pergi.“Kamu tahu sesuatu yang seharusnya tidak kamu tahu?”Delia berjalan menyusuri koridor dengan pikiran yang berantakan.Ia tidak tahu apakah Renata benar-benar mencurigainya atau hanya sengaja menakut-nakutinya.Satu hal yang Delia tahu pasti.Ia harus lebih berhati-hati.Sejak kembali ke masa lalu, Delia selalu berpikir bahwa dirinya memiliki keuntungan.Ia tahu apa yang akan terjadi.Ia tahu siapa yang akan menyakitinya.Ia tahu kesalahan apa yang seharusnya tidak ia ulangi.Ia bahkan tahu bagaimana hubungan beberapa orang akan berakhir.Tetapi sekarang Delia mulai memahami bahwa semua itu tidak sepenuhnya benar.Ia memang mengetahui masa depan.Hanya saja, masa depan yang ia ingat adalah masa depan sebelum semuanya berubah. Setiap keputusan yang ia ambil bisa menggeser kejadian berikutnya. Seperti saat ia menyelamatkan Nina. Kejadian yang seharusnya terjadi berubah. Hubungan Renata dan Tristan juga mul
Sejak melihat orang itu berbicara dengan Renata di belakang gedung sekolah, pikiran Delia tidak lagi tenang.Ia masih mengingat wajahnya dengan jelas.Seseorang yang seharusnya tidak ada dalam cerita yang ia ingat. Setidaknya, bukan dalam bagian yang pernah ia ketahui.Delia berjalan menuju kelas dengan langkah pelan. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.Siapa dia?Apa hubungannya dengan Renata?Dan yang paling membuat Delia gelisah, kenapa orang itu baru muncul sekarang?Sesampainya di kelas, Delia langsung duduk di bangkunya.Nina yang sedang membaca buku segera menoleh.“Kamu kenapa?”“Gak apa-apa.”“Kamu dari tadi kelihatan banyak pikiran.”Delia tersenyum tipis.“Aku cuma lagi mengingat sesuatu.”Nina tidak bertanya lebih jauh. Delia bersyukur untuk itu.Ia tidak mungkin menceritakan bahwa dirinya sedang berusaha mengingat kembali kehidupan yang pernah dijalaninya.Terlebih, semakin lama ia berada di masa lalu, semakin Delia sadar bahwa ingatannya ternyata tidak selengkap ya
Malam itu, Rafael masih memikirkan Delia. Kalimat gadis itu terus berputar di kepalanya.‘Memangnya kenapa?’Rafael tidak menemukan jawabannya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti memikirkannya. Setidaknya untuk malam ini.Sementara di tempat lain, Delia justru sedang memikirkan sesuatu yang jauh berbeda.Renata.Sejak kejadian di belakang sekolah, Delia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan seperti kehidupan pertamanya.Awalnya ia mengira perubahan itu hanya terjadi karena dirinya ikut campur.Ia menyelamatkan Nina.Ia mencegah kejadian yang seharusnya menjadi awal dari masalah besar.Akan tetapi, semakin hari, Delia mulai melihat perubahan lain. Hubungan Renata dan Tristan.Dulu, Delia mengetahui kedekatan mereka dari beberapa kejadian yang terjadi di sekolah.Ia masih mengingatnya dengan jelas. Renata sering mencari kesempatan untuk berada di dekat Tristan.Tristan juga beberapa kali terlihat membantunya.Kemudian ada sebuah kejadian yang membuat hubungan m
Sejak beberapa hari terakhir, Rafael mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.Delia benar-benar berubah.Bukan hanya dari caranya berbicara.Bukan hanya karena gadis itu tidak lagi sibuk menjelaskan dirinya setiap kali Rafael salah paham.Tetapi...Delia seolah benar-benar berhenti memperhatikannya.Pagi itu, Rafael baru saja memasuki gerbang sekolah ketika tanpa sadar pandangannya mencari sosok tertentu di antara kerumunan siswa.Beberapa detik kemudian, ia melihat Delia. Gadis itu sedang berdiri di dekat taman bersama Nina. Rafael sempat memperlambat langkah.Dulu, jika Delia melihatnya datang, gadis itu pasti akan langsung menoleh.Mungkin tersenyum.Atau bahkan mencari alasan untuk menghampirinya.Namun sekarang, Delia bahkan tidak melihat ke arahnya. Ia sedang berbicara dengan Nina sambil sesekali tertawa kecil.Rafael mengerutkan kening, ‘Dia benar-benar gak lihat aku?’Pikiran itu baru muncul sesaat sebelum Rafael menyadari betapa anehnya dirinya. Kenap
Semalam Rafael tidak pulang ke rumah. Delia cukup merasa lega. Setidaknya, ia bisa sedikit lebih bebas. Pagi ini, ia juga berniat pergi ke kantor. Bertemu banyak orang mungkin bisa mengurangi beban pikiran yang ditanggungnya. Setelan kemeja berwarna coklat ia padukan dengan rok span selutut, bl
Rafael yang menjamah tubuh Gladis seketika menghentikan aksinya, gara-gara Delia yang merusak momen bersama Gladis membuat Renata hadir dalam ingatannya. Ia menjambak kasar rambutnya kala mengingat kondisi Renata yang tergeletak berlumuran darah. "Sayang kau akan pergi ke mana? Apa kau tidak ingin
Delia kini tengah duduk di depan jendela kamar. Keadaannya jauh dari kata baik-baik saja.Jika tidak ada Bara–teman Andrew–, mungkin ia masih menangis seperti wanita gila di pinggir jalan.Kini ada satu lagi koleksi luka Delia, kali ini ia melakukannya hingga tiga kali.Tak ada lagi tangisan meraun
Rafael meleparkan sebuah kunci kepada Delia, "Itu kunci kamarmu!" "Jadi di mana kamarku?" "Kamar pembantu!" Delia hanya mengangguk lalu pergi dari hadapannya. Ia berjalan ke belakang dengan gontai. Seolah tidak ada tenaga untuk menjawab Rafael. Instingnya membawa perempuan tersebut ke sebuah ru







