Share

Perubahan Sikap Liora

Author: Tufa Hans
last update Huling Na-update: 2025-02-09 18:57:49

Satu Bulan Berlalu.

Liora memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Indonesia setelah kejadian di malam itu bersama Ronald. Ia ingin membuang kenangannya bersama Sean, Gala maupun seseorang yang telah merenggut kesuciannya.

Wanita itu fokus berkarir, dan tidak pernah berencana untuk menikah, sikapnya dingin pada semua pria membuat Adrian dan Raya ( Orang tua Liora ) khawatir pada sang putri, bahkan wanita itu selalu menolak setiap kali Adrian dan Raya mengatur perjodohan untuk putrinya tersebut.

Beberapa kali Raya mencoba menjodohkan Liora, namun berakhir kegagalan karena Liora selalu membuat pria yang dijodohkan dengannya ketakutan.

*

*

*

Pagi hari

Liora kini sarapan dengan keluarganya, wajah ceria yang biasa Liora tampakkan, kini menghilang entah kemana. Sejak pernikahan Sean dan Kematian Gala, sikap Liora berubah dingin hingga tidak ada sedikitpun senyuman di wajah wanita tersebut.

"Dek, apa kamu ingin berangkat bersamaku ke kantor?" tanya Marcell ( Kakak kandung Liora ) menatap adik perempuannya yang menyelesaikan sarapan lebih dulu.

"Aku berangkat sendiri saja, hari ini aku ada rapat penting di Hotel, Dolly yang akan menemaniku." Liora menatap Marcell dengan wajah datar.

"Lebih baik Kak Marcell antar aku ke kampus saja! Aku ada kelas pagi ini," ucap Gibran ( adik bungsu Liora ).

"Kamu sudah punya mobil sendiri, Marcell akan ikut aku ke lapangan untuk mengecek proyek pembangunan hotel yang ditangani Tuan putri kita. Aku ingin memastikan, apakah seorang Tuan putri bisa bekerja dengan baik?" Adrian menatap Liora dengan senyum yang terukir dari kedua sudut bibirnya.

"Ya pasti bisa lah, Sayang! Dia 'kan putriku?" Raya tersenyum dengan penuh rasa bangga.

"Dad, Mom! Aku berangkat dulu." Liora beranjak, lalu menyalimi kedua orang tuanya juga Marcell bergantian.

Gibran juga mengangkatnya tangannya, namun Liora hanya melayangkan tos dengan adiknya tersebut hingga membuat Gibran kesal. "Kak Yora!"

Tanpa perduli kekesalan sang adik, Liora melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan. Sementara Adrian menatap sang putri sendu, begitupun dengan Raya yang langsung menjatuhkan air matanya yang ia tahan dengan bersusah payah.

"Semua ini salahku, Dad! Seandainya aku tidak memintamu agar menjodohkan Liora dengan Gala, mungkin hati Liora tidak akan sehancur sekarang!" Raya memejamkan matanya dengan rasa sedih yang mendalam.

"Tidak, Mom! Mommy tidak salah. Mommy hanya menginginkan yang terbaik untuk Liora. Mungkin sudah takdir Liora yang seperti ini." Marcell tersenyum seraya menatap wanita yang telah melahirkannya tersebut dengan begitu teduh.

"Jika Mommy menyesal, maka hentikan semuanya, Mom! Jangan paksa Kak Liora lagi untuk menikah, beri Kak Liora waktu untuk memenangkan hatinya," ucap Gibran.

"Gibran!" Marcell menatap adik bungsunya tajam.

"Maafkan aku, Kak! Aku tidak ingin Mommy salah langkah lagi." Gibran beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah mendekati Adrian dan mengulurkan tangannya pada pria paruh baya tersebut.

Setelah itu, ia mengulurkan tangannya pada Raya. "Sekali lagi maafkan kelancangan Gibran, Mom! Gibran hanya ... "

"Kamu sudah dewasa, Nak! Terima kasih sudah mengingatkan mommy." Raya tersenyum begitupun dengan Adrian dan Marcell.

Wanita itu membelai rambut sang putra saat mencium punggung tangannya. Setelah itu, Gibran mendekati sang Kakak, lalu menyalimi Marcell dengan begitu lembut.

"Lain kali, jika kamu ingin mengingatkan Mommy, gunakan bahasa yang lebih halus. Jangan terlalu kasar! Kalau seperti tadi, kamu terdengar menyalahkan mommy," ucap Marcell seraya menatap sang adik teduh.

"Maaf, Kak! Aku terlalu mengkhawatirkan Kak Liora. Entah kenapa, aku merasa kehilangan kakak perempuanku setelah dia kembali dari luar negeri. Aku hanya ingin Kak Liora kembali ceria seperti dulu," ucap Gibran seraya menghembuskan nafasnya kasar.

"Sudah, kamu fokus kuliah saja! Tentang Liora, daddy yakin dia pasti akan kembali seperti dulu. Bukankah kamu sendiri tadi yang bilang kalau kakakmu hanya butuh waktu?" Adrian menatap anak bungsunya lekat.

"Iya, Dad! Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu!" ucap Gibran seraya menatap Adrian, Raya dan Marcell bergantian.

"Jangan ngebut!" ucap Marcell yang melihat adik bungsunya balik badan dan melangkah menjauh.

*

*

*

Liora yang sudah berada di parkiran, kini disambut oleh sekretarisnya. Dolly membukakan pintu belakang untuk sang atasan, lalu ia duduk di kursi kemudi setelah memastikan sang majikan duduk dengan nyaman di kursi penumpang.

Selama dalam perjalanan, suasana di mobil itu tampak sepi dengan Dolly yang melajukan mobilnya sesuai perintah sang atasan.

Sesampainya di Hotel, Liora melangkah menuju ruang rapat sambil sesekali menatap jam yang melingkar pergelangan tangannya.

"Maaf aku, terlambat!" ucap Liora tanpa menatap pria yang kini tengah menatapnya dengan wajah terkejut.

Liora duduk di kursi yang telah di sediakan untuknya, ia mengangkat kepala untuk memberikan kontrak kerjasamanya.

Namun, seketika ia terkejut saat menatap CEO dari Fernandes Corp. Karena sebelumnya ia hanya bertemu dengan sekretaris pria tersebut.

Meskipun Liora tahu, bahwa Fernandes Corp milik keluarga Gala–mantan tunangannya. Namun, ia tidak ingin mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, hingga ia menganggap tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Selain itu, ia tidak punya kenangan sama sekali dengan Gala di Indonesia, apalagi ia tahu bahwa Gala tidak pernah mau menjadi CEO di perusahaan tersebut.

"Kamu?" seketika Liora berdiri dan menatap pria itu tajam.

"Kanapa kamu bisa berada di sini?" tanya Liora angkuh.

Pria itu tersenyum dan menatap Liora dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Ternyata kamu masih sama. Aku yakin, wanita angkuh sepertimu sampai kapan pun tidak akan pernah menemukan kedamaian."

Mendengar ucapan pria itu seketika membuat amarah Liora semakin meledak hingga Liora mengangkat jari telunjuknya dan di arahkan pada wajah pria tersebut.

"Ronald Cullen! Jaga bicaramu! Kamu tidak tahu apa pun tentangku, jadi jangan coba-coba menilai aku semau kamu." Liora menatap Ronald tajam.

Ronald menghembus nafasnya kasar, lalu ia memutar bola matanya malas dengan bibir yang tertarik sebelah. "Sekarang katakan, apakah kerja sama kita akan di lanjutkan atau dibatalkan saja?"

"Memangnya kamu siapa yang berani bicara seperti itu!" Liora masih menatap Ronald tajam.

"Tentu saja aku CEO Fernandes Corp. Memangnya siapa lagi? Jika kamu ingin membatalkan kerja sama kita, maka ... "

"Kita tidak perlu sampai membatalkan kerja sama," ucap Liora. "Pekerjaan dan masalah pribadi adalah dua arah yang berbeda, aku ingin kita fokus saja pada tujuan kita, lupakan apa yang terjadi, anggap saja kita tidak pernah saling kenal sebelumnya," ucap Liora yang membuat pria itu mengangguk-anggukan kepalanya. "Ok!"

"Silakan duduk! Mari kita mulai meeting!" Ronald mengulurkan tangan pada wanita yang duduk di seberangnya.

Sementara Liora hanya patuh dan bersikap seolah-olah keduanya adalah orang asing yang tidak pernah saling kenal.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan Yang Tak Dirindukan    Bab 12

    Begitu sampai di kamarnya, Liora langsung menyerahkan sebuah kertas yang sudah ia disiapkan oleh sekretarisnya, Dolly."Cepat tanda tangani!" Liora memberikan kertas itu pada Ronald dengan posisi membelakangi sang suami.Ronald mengerutkan kening, namun ia tetap meraih kertas yang diberikan istrinya tersebut. Setelah itu, ia melangkah menuju sofa dan membaca semua isi perjanjian yang tertera dengan coretan hitam di atas kertas putih tersebut."Apakah kamu yakin bahwa kamu ingin bercerai dan akan memberikan hak asuh anak kita padaku?" tanya Ronald yang menatap punggung Liora dengan tatapan tidak percaya.Liora yang mendengar pertanyaan dari sang suami, ia balik badan. Lalu, ia tersenyum licik dan menatap Ronald dengan penuh kebencian."Bukankah kamu sudah tahu bahwa aku tidak menginginkan anak ini? Aku membencimu begitupun anak ini! Jika pun nantinya kamu juga tidak mau, kamu titipkan saja mereka ke panti asuhan," ucap Liora sambil menyilangkan kedua tangannya di dada."Liora!" sentak

  • Pernikahan Yang Tak Dirindukan    Bab 11

    "Selamat malam Dad, Mom!" Liora memasuki pintu utama dengan Ronald di sampingnya.Adrian yang sampai lebih dulu, ia sudah duduk di ruang keluarga bersama Raya dan kedua putranya."Kalian dari mana saja? Kenapa baru nyampe?" tanya Adrian seraya menatap anak dan menantunya bingung.Raya yang melihat sang putri datang bersama seorang pria, ia langsung mengembangkan senyum. "Kalian sudah saling kenal?" tanyanya dengan wajah sumringah.Liora yang melihat reaksi sang mommy, ia mengerutkan kening. Begitu pun dengan Adrian, Marcell dan Gibran yang menatap Raya dengan ekspresi yang sama."Seharusnya Liora yang tanya, Mom?""Mommy kenal sama suami Liora?"Jedduarrrrr...Seketika semua orang yang ada di ruangan tersebut terkejut mendengar ucapan Liora. Kecuali Adrian yang sudah mengetahuinya lebih dulu."Suami?" tanya Raya, Marcell dan Gibran bersamaan.Liora yang melihat reaksi keluarganya, ia menundukkan kepalanya sejenak, lalu menghempaskan nafasnya kasar."Maafkan Liora, Mom! Liora bikin kes

  • Pernikahan Yang Tak Dirindukan    Pernikahan

    Liora terus memberontak dan mencoba melepaskan diri dari Ronald. Namun, pria itu seakan tuli, ia kini membawa Liora masuk ke dalam mobil dengan Liora yang terus menatap pria itu tajam."Ronald, apa-apaan kamu? Lepaskan aku!" Liora tidak berhenti memberontak."Sudah diam! Aku tidak akan menyakitimu! Jadi, patuhlah! Aku hanya menginginkan yang terbaik," ucap Ronald."Terbaik?" Wajah Liora memerah penuh amarah."Terbaik dengan mengikatku seperti ini, hah?"Tanpa menjawab ucapan Liora, Ronald kini menghidupkan mesin mobilnya, lalu ia melajukan mobil perlahan dan meninggalkan rumah sakit tersebut."Turunkan aku, kamu mau membawaku ke ke mana?"Ronald tidak menjawab, ia hanya menghubungi sekretarisnya dan meminta sang sekretaris untuk menyiapkan sesuatu yang ia butuhkan."Apa maksudmu meminta sekretaris kamu untuk menyiapkan KK dan KTP segala?""Sudah diam!""Aku tidak mau ya kabur sama kamu!" Liora terus terus untuk melepaskan diri, namun ia tidak berhasil hingga beberapa saat kemudi mobil

  • Pernikahan Yang Tak Dirindukan    Mala Petaka

    Setelah meeting selesai, Liora membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja, dengan Ronald yang terus memandangi wajah wanita yang pernah ia tiduri. "Pantas saja kamu ingin membayar ku malam itu, ternyata kamu dari keluarga Aditama. Aku tidak menyangka kalau Tuan Adrian Aditama memiliki putri arogan dan suka mengambil keuntungan dari orang lain." Ronald menarik sebelah sudut bibirnya. Sementara Liora, ia langsung menghentikan gerakan tangannya mendengar ucapan Ronald, dan menatap pria itu dengan begitu tajam. "Apa maksudmu?" tanya Liora. "Aku tidak punya maksud apa-apa, hanya saja aku sadar bahwa kamu tidak mungkin sembarangan menikah dengan pria yatim piatu sepertiku." Ronald menatap Liora sinis. Sementara Liora hanya menghela nafas mendengar ucapan pria tersebut. "Asalkan kamu tahu, aku tidak pernah menilai seseorang dari segi kasta atau apapun itu yang bersangkutan dengan derajat. Tapi, aku sudah memutuskan untuk melajang seumur hidup, dan tidak ingin berurusan den

  • Pernikahan Yang Tak Dirindukan    Perubahan Sikap Liora

    Satu Bulan Berlalu.Liora memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Indonesia setelah kejadian di malam itu bersama Ronald. Ia ingin membuang kenangannya bersama Sean, Gala maupun seseorang yang telah merenggut kesuciannya.Wanita itu fokus berkarir, dan tidak pernah berencana untuk menikah, sikapnya dingin pada semua pria membuat Adrian dan Raya ( Orang tua Liora ) khawatir pada sang putri, bahkan wanita itu selalu menolak setiap kali Adrian dan Raya mengatur perjodohan untuk putrinya tersebut.Beberapa kali Raya mencoba menjodohkan Liora, namun berakhir kegagalan karena Liora selalu membuat pria yang dijodohkan dengannya ketakutan.***Pagi hariLiora kini sarapan dengan keluarganya, wajah ceria yang biasa Liora tampakkan, kini menghilang entah kemana. Sejak pernikahan Sean dan Kematian Gala, sikap Liora berubah dingin hingga tidak ada sedikitpun senyuman di wajah wanita tersebut."Dek, apa kamu ingin berangkat bersamaku ke kantor?" tanya Marcell ( Kakak kandung Liora ) me

  • Pernikahan Yang Tak Dirindukan    Bukan Gigolo

    Keesokan harinya.Liora menggeliat, lalu ia menguap dan mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan penglihatannya dengan keadaan sekitar.Wanita itu mengerutkan kening saat ia tidak sengaja menyentuh sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. "Tangan siapa ini?"Jantung Liora berdetak tak karuan, ia yang tidur memunggungi Ronald, kini perlahan membalik tubuhnya, hingga tanpa sengaja hidung wanita itu bersentuhan dengan hidung pria yang telah menghabiskan malam dengannya.Liora begitu terkejut saat melihat keberadaan Ronald, hingga tanpa sadar wanita itu langsung mendorong tubuh Ronald, yang membuat pria itu jatuh dari tempat tidur sampai berhasil membuat pria itu terbangun dari mimpinya."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Liora saat pria itu bangkit dari posisinya sambil mengucek-ngucek matanya untuk menyesuaikan penglihatannya."Duh, kenapa aku bisa jatuh dari tempat tidur sih, dan kenapa aku seperti mendengar orang yang sedang ngomel-ngomel?" Ronald masih setengah sadar.Li

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status