เข้าสู่ระบบWajah tampan lelaki berkepala empat itu terlihat tenang, tapi ada sedikit sorot mata cemas begitu matanya menangkap sosok Mentari yang duduk menyendiri di sudut ruangan.
"Mentari..." panggil Bramantyo pelan, suara dalam dan tegasnya dipenuhi rasa bersalah. Meski usianya sudah memasuki kepala empat, Bramantyo memiliki garis rahangnya tegas, wajahnya tampan, dan postur tubuhnya menyiratkan pria yang penuh wibawa. Mentari mendongak pelan, lalu buru-buru menundukkan kepalanya lagi, tak sanggup menatap mata lelaki itu. Mentari selalu gelisah setiap kali bertemu dengannya. Meski statusnya adalah ayah tirinya, ia baru mengenal Bramantyo lima tahun lalu. Ia tidak tumbuh di bawah didikannya, tidak pernah merasa sedekat itu sebagai keluarga. Malahan, Mentari hanya merasa tidak enak kepada pria itu karena selalu merepotkannya, padahal tidak ada hubungan apa-apa. Dosen pembimbing Mentari berdiri dan menjabat tangan Bramantyo. "Terima kasih sudah menyempatkan datang, Pak Bramantyo. Kami memanggil Anda karena ada perselisihan antara Natasha dan Mentari di kantin tadi siang. Laptop Mentari rusak terkena air teh yang disiramkan oleh putri Anda." Bramantyo menatap Mentari dengan pandangan mata yang iba. Pria itu menghela napas pelan melihat putri dari almarhumah istrinya terlihat ketakutan dan tak berdaya. "Mentari, kamu tidak apa-apa?" tanya Bramantyo sambil melangkah mendekati Mentari. Tangannya yang besar dan hangat terangkat, lalu mendarat perlahan untuk mengelus lembut puncak kepala Mentari. Sentuhan itu seketika membuat Mentari tersentak pelan. Jantungnya berdegup begitu kencang; rasa salah tingkah yang membuncah membuatnya reflex menarik kepalanya sedikit menjauh, berusaha menghindar dari telapak tangan Bramantyo. Mentari merasa canggung setiap kali pria yang baginya orang asing itu memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Bramantyo sempat mematung sejenak merasakan penolakan halus itu, tetapi ia segera menarik tangannya kembali dan berdeham pelan. "Baju kamu sampai basah begini. Saya minta maaf atas nama Natasha. Kamu tidak terluka, kan?" Mentari menggeleng pelan, tetap menunduk untuk menyembunyikan rasa canggung di wajahnya. Suaranya sangat kecil saat menjawab, "Sa-saya sudah memaafkan Natasha, Pak. Saya tidak apa-apa, hanya saja... Laptop saya mati..." Bramantyo mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kemarahan dan kekecewaan melingkupi dadanya. "Anak itu... Natasha benar-benar sudah lewat batas. Dia tidak punya sopan santun sama sekali." Bramantyo kemudian menoleh pada dosen di sampingnya. "Pak Dosen, saya minta maaf atas keributan yang ditimbulkan Natasha. Saya bertanggung jawab penuh atas anak-anak saya. Jika ada kerugian yang ditanggung pihak kampus karena hal ini, hubungi saya mengenai rinciannya." Suara tegas Bramantyo terdengar kembali, sampai membuat dosen tersebut sungkan. Bramantyo sudah terkenal sebagai donatur terbesar kampus ini. Kekuasaan pria itu sudah tidak perlu diragukan. Jika ada masalah, tentu ia langsung menawarkan dana sebagai solusi. Pria itu lalu menoleh ke arah Mentari. "Untuk laptopmu yang rusak, saya akan belikan yang baru." "Bapak tidak perlu repot-repot..." potong Mentari cepat. Suaranya sedikit bergetar, menahan gejolak emosi di dadanya. "Bapak tidak perlu membelikan saya laptop baru." Bramantyo tertegun, menatap Mentari dengan kening berkerut. "Kenapa, Mentari? Laptop kamu rusak karena perbuatan Natasha. Sudah kewajiban saya untuk menggantinya." "Saya... saya merasa tidak enak, Pak," jawab Mentari pelan. "Selama ini Bapak sudah sangat baik. Bapak sudah membiayai uang kuliah saya, memberi saya tempat tinggal setelah Ibu meninggal... Saya sudah sangat merepotkan Bapak. Saya tidak mau menambah beban Bapak lagi." "Mentari, kamu sama sekali bukan beban," tegas Bramantyo dengan suara melunak dan penuh penekanan. "Kamu putri dari almarhumah istri saya. Saya sudah berjanji di depan almarhumah ibumu untuk selalu menjaga dan memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu tidak boleh bicara seperti itu." Mentari semakin menunduk. Di dalam hatinya, rasa bersalah dan pergulatan batin makin menggerogoti dadanya. Mentari tahu betapa besar perhatian Bramantyo padanya. Namun di sisi lain, selain tidak merasa punya kedekatan dengan pria ini, Mentari sangat paham perasaan Natasha. Tidak ada anak di dunia ini yang suka melihat keluarganya hancur, dan tidak ada anak yang suka melihat ayahnya memberi perhatian besar pada anak dari wanita lain. Setiap rupiah yang diberikan Bramantyo padanya terasa seperti racun yang makin memperbesar rasa benci Natasha. Oleh karena itu, setelah ibunya meninggal, Mentari meminta sendiri kepada Bramantyo agar diizinkan hidup mandiri. "Terima kasih atas kebaikan Bapak," ujar Mentari pelan setelah suasana hening sejenak. "Tapi tolong biarkan saya menyelesaikan masalah laptop ini sendiri." Bramantyo tidak menjawab lagi. Ia tahu betul betapa keras kepalanya Mentari jika sudah menyangkut harga diri, sangat mirip dengan almarhumah ibunya. Sore harinya, setelah keluar dari area kampus, Mentari berjalan menuju sebuah warung kopi kecil di dekat stasiun. Di sana, Maya, teman seangkatannya yang bekerja paruh waktu, sedang merapikan meja. "Maya!" panggil Mentari. Maya menoleh dan kaget melihat raut wajah Mentari yang lelah. "Mentari? Ya ampun, aku dengar kabar soal kejadian di kantin tadi siang dari anak-anak. Kamu tidak apa-apa?" "Aku tidak apa-apa, Maya," sahut Mentari mencoba tersenyum. Ia duduk di salah satu kursi plastik. "Maya, aku mau minta tolong." "Minta tolong apa? Kalau soal catatan kuliah, nanti aku fotokopi punya aku buat kamu." "Bukan itu..." Mentari menatap Maya dengan tatapan memohon. "Kamu ada kenalan yang punya lowongan kerja paruh waktu tidak? Kerja apa saja, yang penting gajinya cepat turun. Aku butuh uang untuk betulin laptop atau beli laptop bekas." Maya mengernyitkan dahi. "Lho, bukannya kamu bisa minta sama ayah tirimu? Pak Bramantyo kan orang kaya raya, Mentari. Masa beli laptop saja kamu harus kerja keras begini?" Mentari menggeleng pelan. Sebenarnya, Bramantyo juga mengirimi Mentari uang setiap bulan untuk biaya hidup. Uangnya lebih dari cukup untuk membeli laptop baru. Tapi, Mentari sudah bertekad tidak mau memakai uang itu. Ia berencana mengembalikannya setelah lulus kuliah dan mendapat kerja. "Aku tidak mau terus-terusan bergantung sama Pak Bramantyo, Maya. Natasha makin benci sama aku karena hal itu. Aku paham perasaan Natasha... bagaimanapun juga, tempatku memang bukan di keluarga mereka. Aku harus bisa cari uang sendiri." Melihat kesungguhan di mata Mentari, Maya akhirnya mendesah pelan. "Sebenarnya... ada satu lowongan. Tapi aku tidak yakin kamu mau." "Kerja apa, Maya? Aku mau, asal bisa cepat menghasilkan uang," potong Mentari cepat. "Gantian sif sama sepupuku di klub malam Vanguard. Di sana butuh pelayan minuman untuk area lounge. Kerjanya cuma antar minuman ke meja tamu," jelas Maya ragu-ragu. "Gajinya lumayan besar, apalagi kalau dapat tips dari tamu kaya. Tapi ya begitu... tempatnya remang-remang dan banyak pria hidung belang." Mentari sempat terdiam sejenak. Ada rasa takut yang menyelinap di dadanya saat mendengar kata 'klub malam'. Hanya saja, ketika ia mengingat laptopnya yang rusak dan keinginannya untuk mandiri tanpa terus bergantung pada Bramantyo, keberaniannya kembali terkumpul. "Aku mau, Maya," kata Mentari mantap. "Tolong hubungi sepupumu. Aku bisa mulai kerja malam ini juga."Ponsel di dalam tas tangan Ajeng berdering saat wanita itu baru saja keluar dari area lobi kantor Bramantyo. Sambil berjalan menuju mobilnya di parkiran, ia merogoh tasnya dan melihat nama Eva tertera di layar.Tanpa buang waktu, Ajeng langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Halo, Eva?" sapa Ajeng dengan nada suara yang masih terdengar bersemangat.Di seberang sana, suara Eva langsung menyambut dengan tidak sabar. "Halo, Ajeng! Gimana? Kamu udah ketemu sama Bramantyo? Ada kemajuan nggak dari rencana kita?"Ajeng tersenyum lebar sambil membuka pintu mobilnya, lalu duduk di kursi pengemudi sebelum menjawab. "Eva, kamu nggak bakal percaya sama apa yang baru aja terjadi barusan.""Maksudnya apa? Jangan bikin aku penasaran, deh!" desak Eva di ujung telepon, suaranya terdengar tegang. "Bramantyo marah pas kamu datang ke kantornya? Atau dia ngusir kamu?""Bukan diusir, Ev. Malahan sebaliknya," jawab Ajeng santai sambil meletakkan tasnya di kursi penump
Suara tawa kecil yang terdengar dari dalam ruang kerja utama membuat Mentari yang sedang duduk di meja asisten langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdegup tidak karuan, seolah ada sesuatu yang tidak enak sedang merayap di dadanya.Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka lebar.Bramantyo keluar dari ruangannya dengan langkah santai, berjalan berdampingan bersama Ajeng. Wanita berpenampilan anggun itu tampak tersenyum lebar sambil merapikan tali tas tangannya. Di sisi lain, Bramantyo menatap wanita itu dengan sorot mata yang jauh lebih hangat. Pemandangan yang belum pernah Mentari lihat sebelumnya saat bosnya itu berinteraksi dengan rekan kerja yang lain."Makasih ya, Mas Bram, udah meluangkan waktu buat ngobrol lama tadi. Obrolan kita seru banget, bikin aku bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu," ucap Ajeng dengan nada suara yang terdengar begitu manis dan manja, memanggil pria di sampingnya dengan sebutan akrab sesuai rekues darinya.Bramantyo tersenyum ramah, menyambut ucapan it
Pintu ruangan terbuka perlahan. Resepsionis mengantar seorang wanita berpenampilan rapi, anggun, dan berbusana kerja modern masuk ke dalam ruangan. Wanita itu adalah Ajeng.Begitu melihat kedatangan Ajeng, senyuman lebar langsung terukir di wajah Bramantyo. Pria paruh baya itu berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah menyambut kedatangan tamu sekaligus sahabat lamanya itu dengan hangat."Ajeng! Wah, tumben banget kamu mampir ke kantorku siang-siang begini," sapa Bramantyo riang sambil menjabat tangan Ajeng dengan akrab.Ajeng tertawa renyah, membalas jabat tangan itu dengan senyuman manis yang membuat wajahnya terlihat semakin menarik. "Iya, Bram. Aku lagi ada urusan di sekitar sini, jadi aku pikir kenapa nggak mampir sekalian sekalian nyapa kamu. Kangen juga udah lama kita nggak ngobrol santai.""Bener banget. Duduk, yuk," ajak Bramantyo ramah, lalu mempersilakan Ajeng duduk di sofa tamu yang ada di sudut ruangan.Di ambang pintu, Mentari yang berdiri membawa nampan berisi dua cangk
Mentari berjalan cepat kembali ke gedung kantor setelah dari butik pakaian yang letaknya tepat berada di seberang jalan. Tangannya menenteng sebuah kantong belanjaan kertas berukuran sedang yang berisi setelan jas lengkap, kemeja putih baru, dan celana bahan kain untuk Bramantyo. Jantungnya masih berdegup kencang kalau mengingat kejadian cangkir kopi tumpah dan sentuhan tidak sengaja di area sensitif lelaki itu tadi. Wajahnya bahkan masih terasa panas setiap kali bayangan itu melintas di kepalanya."Duh, semoga Pak Bramantyo sudah lupa soal kejadian tadi," gumam Mentari pelan sambil merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin jalanan.Begitu sampai di lantai ruang kerja utama, Mentari langsung masuk dan melihat meja kerja Bramantyo kosong. Kopi yang tumpah di atas meja tadi sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan kantor. Mentari menduga Bramantyo pasti masih membersihkan diri di kamar mandi pribadi yang ada di dalam ruangan kerja tersebut.Mentari melangkah
Di balik meja kerjanya, Bramantyo sama sekali tidak bisa fokus pada tumpukan berkas laporan keuangan yang ada di hadapannya. Sejak pagi tadi, pikirannya terus melayang dan menolak diajak kompromi.Setiap kali ia mencoba membaca baris demi baris angka di dalam dokumen, bayangan malam tadi tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Visual saat Mentari berdiri di dapur dengan daster tidur tipis, kulit putih mulus, dan lekuk tubuh gadis itu terus menari-nari di ingatan Bramantyo. Hal itu membuatnya merasa tersiksa sendiri. Darahnya mendesir, dan napasnya mendadak terasa berat. Belum lagi dia harus merasakan miliknya yang memberontak di bawah sana. Bramantyo menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kerja, lalu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia benar-benar sedang diuji kali kni.'Sial... Kenapa bayangan itu nggak mau hilang dari kepalaku?' batin Bramantyo frustrasi.Merasa tenggorokannya kering dan kepalanya butuh sedikit kesegaran, Bramantyo menekan tombol interkom di atas mejanya u
Suara gemericik air di dalam kamar mandi masih terdengar, tetapi ternyata sama sekali tidak mampu mendinginkan gejolak panas yang membakar tubuh dan pikiran Bramantyo. Pria paruh baya itu masih berdiri di bawah guyuran air dingin, dengan kedua tangan menempel kuat pada dinding kamar mandi. Napasnya memburu tidak beraturan, sementara dadanya naik turun dengan cepat.Guyuran air itu ternyata tidak mampu meredakan gairahnya. Bayangan visual tentang Mentari yang berdiri di dapur sesaat tadi justru semakin jelas berkelebat di dalam kepalanya. Siluet tubuh gadis itu dalam balutan daster tipis, bahu mulus yang terekspos, serta kaki jenjangnya terus menghantui kesadaran Bramantyo tanpa ampun.Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menggertakkan giginya menahan gejolak gairah dan rasa bersalah yang berperang hebat di kepalanya. Otaknya terus meneriakkan peringatan keras bahwa gadis itu adalah anak dari almarhumah istrinya, anak tiri yang harus ia lindungi layaknya darah daging sendiri. Ta







