LOGINSabar ya ><
“Jaga bicaramu, Clarissa.” Netra biru Arnold memicing tajam. “Jangan bicara seolah-olah kita masih punya hubungan apa pun.”Clarissa tertawa renyah, sama sekali tidak menganggap serius ucapan Arnold. Perlahan ia bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya yang bergaung pelan di lantai marmer.“Tidak usah berpura-pura,” ucap Clarissa yang kini telah berdiri menghadap Arnold, menyandarkan bokongnya pada pinggiran meja panjang yang menjadi meja rapat mereka sebelumnya. Jemarinya terangkat, lalu perlahan meraih dasi pria itu dan melilitkannya dengan gerakan yang terlihat sensual. “Aku tahu … kamu masih punya perasaan padaku, Arnold.”Sayangnya, godaan wanita itu tidak menggetarkan Arnold sedikit pun. Arnold mendengus dingin. “Apa tidak ada yang bilang padamu? Terlalu percaya diri itu hanya membuatmu terlihat menjijikkan, Clarissa.”Wajah Clarissa langsung berubah nanar, tetapi dengan cepat ia menutupinya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia melepaskan li
“Be-benarkah?” Hailey terperangah. Seulas senyuman mengembang lebar di wajahnya, lalu ia segera menuntun Sherin untuk duduk sejenak di dalam kamar tersebut.Hailey bergegas mengambil sebotol air mineral yang tersedia di dalam kamar tersebut, lalu menyerahkannya kepada Sherin. “Minumlah dulu,” ujarnya setelah membukakan penutup botol mineral tersebut.“Terima kasih,” bisik Sherin lirih.Alih-alih segera meneguknya, ia justru menatap kosong ke arah botol di tangannya. Pikirannya masih tertinggal pada kilasan memori yang baru saja menghantamnya seperti ombak besar."Apa yang kamu ingat, Rin?" tanya Hailey pelan, mencoba menekan rasa penasaran sekaligus cemasnya. "Apa kejadiannya sama seperti yang suamimu ceritakan?”Sherin menarik napas panjang, berusaha menguasai dirinya yang masih gemetar. “Semua sama persis, Hailey,” lirihnya.Bahu Hailey merosot dengan penuh kelegaan. “Syukurlah kalau begitu. Tadi aku pikir kalau dia bohong, aku sendiri yang akan menghajarnya untukmu.”Alih-alih mena
“Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Sekarang ayo ke Hotel Sharon,” cetus Sherin seraya menyesap minuman latte-nya sebelum beranjak dari tempat duduknya.Siang ini, mereka memang berencana untuk pergi ke hotel di mana dua minggu lalu pernah menjadi lokasi acara J-Charity.Sherin masih merasa penasaran dengan insiden yang menimpanya malam itu. Meskipun Arnold sudah menceritakan bahwa Sherin kebetulan berada di lokasi itu sehingga ikut menjadi target penyerangan, tetapi Sherin tetap saja merasa ada sesuatu hal yang mengganjal di dalam benaknya.Ia masih merasa ada kepingan puzzle yang hilang di dalam ingatannya. Karena itu, ia memutuskan untuk pergi langsung ke lokasi untuk memastikan kehilangan yang dirasakannya itu.“Kamu yakin mau ke sana, Rin?” tanya Hailey dengan cemas.Sebelumnya Sherin telah menceritakan perihal insiden penyerangan yang terjadi pada Arnold dan bagaimana dirinya ikut terseret menjadi korban.“Bagaimana kalau para penjahat itu masih ada di sana?” lanjut Hailey ragu.
“Ka-kamu bilang apa?” Sherin tersenyum kikuk, masih tidak percaya dengan pernyataan yang baru saja diungkapkan oleh sahabatnya tersebut. “Kamu bercanda kan, Hailey? Mana mungkin Kak Leon─”“Aku serius, Rin,” potong Hailey, menatap Sherin dengan bersungguh-sungguh. “Dia sudah menyukaimu sejak lama. Jauh sebelum kamu bertunangan dengan Marco.”Sherin terdiam. Senyum di wajahnya perlahan memudar.Hailey pun menceritakan bagaimana ia dapat mengetahui perasaan kakak sepupunya tersebut. Ia juga menceritakan tentang alasan Leon memilih pergi ke luar negeri untuk melarikan diri dari perasaannya sendiri.“Selama ini dia selalu memendam perasaannya karena takut ditolak sama kamu, Rin,” lanjut Hailey dengan nada yang terdengar kesal sekaligus gemas. “Dia takut kamu menjauh kalau tahu perasaannya. Kadang aku sampai kesal sendiri dibuatnya.”Sherin masih membisu, tidak tahu harus bagaimana merespon kebenaran yang baru diketahuinya itu. Namun, ia menyadari bahwa kecemburuan yang pernah Arnold tunju
Alih-alih menjawab, Beatrice memberi isyarat kepada Gretta yang berdiri di belakangnya untuk menyerahkan sebuah tas bekal. “Ini …?” Sherin menatap tas itu dengan dahi berkerut. “Tadi pagi Arnold tidak sempat sarapan. Anak itu kalau sudah sibuk selalu lupa makan, jadi Mama khawatir,” gumam Beatrice sembari mengatur napasnya. “Gretta sudah menyiapkan porsi lebih. Jadi, nanti kamu sekalian saja makan siang bersama Arnold di kantor.” “Baiklah. Serahkan padaku, Ma,” sahut Sherin dengan penuh antusias. “Tadi Mama sudah mengirim pesan ke Arnold. Mama bilang kalau kamu akan datang membawa 'bekal cinta' buatanmu sendiri,” lanjut Beatrice dengan binar jenaka yang menggoda. “Be-bekal cinta?” Sherin melongo, lalu tersenyum kikuk sembari menatap tas bekal di tangan Gretta. “Tapi, Ma … ini bukan masakanku. Arnold─” “Sudah. Tidak usah terlalu dipikirkan. Anak itu kalau berani protes, kamu kasih tahu sama Mama. Biar Mama yang akan membereskannya,” sela Beatrice seraya mengerlingkan matanya. “K
“Sherin, jawab aku,” desak Gretta dengan suara yang bergetar hebat karena putrinya masih tidak memberikan tanggapan.Di tengah kepanikannya itu, tanpa sadar wanita paruh baya itu malah memanggilnya dengan sebutan nama langsung. Sikapnya ini jelas merupakan pelanggaran etika bagi seorang pelayan.“Gretta, tadi kamu ….” Sherin menatap wanita paruh baya itu dengan kening mengernyit.Gretta tersentak. Ia segera melepaskan tangan Sherin dan mundur satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan saya, Nyonya Muda. Saya … saya sungguh lancang. Tadi saya terlalu panik. Jadi saya …."Sherin menarik napas panjang. Ia bergegas menyeka air matanya dengan cepat, lalu memaksakan diri untuk tersenyum. “Tidak apa-apa, Gretta. Aku baik-baik saja kok.”“Benarkah?” Gretta masih meragukannya. Matanya yang berkaca-kaca menelusuri wajah Sherin, seolah mencari luka tersembunyi yang mungkin tidak tertangkap matanya.Sebagai seorang ibu yang melihat air mata putrinya, hati Gretta terasa jauh lebih pe







