LOGINTeriakan itu mengguncang gubuk.
Kevin langsung menoleh. Tangannya… ternyata masih saja berada di sana sejak tadi. Tanpa sadar, sejak bangun, ia belum benar-benar melepaskannya.
Ia buru-buru menarik tangan dengan wajah sedikit kikuk.
Annabella duduk tegak, menarik selimut tipis menutupi tubuhnya. Tatapannya kembali tajam.
“Kamu tahu siapa aku?” tanyanya dingin. “Terus kamu ini siapa berani-beraninya bicara soal tanggung jawab kepadaku?”
Kevin mengangkat bahu ringan.
“Aku bisa bertanggung jawab,” katanya santai. “Orangtuaku meninggalkan harta yang cukup besar sebelum meninggal. Guruku juga memberiku kartu hitam ini… katanya ada ribuan triliun di dalamnya. Tapi aku tak berniat memakainya. Aku ingin bangkit dengan kemampuanku sendiri.”
Annabella mendengus keras melihat kartu hitam lusuh di tangan Kevin.
“Pembual,” potongnya. “Mana ada pria lusuh dan mesum seperti dirimu punya kekayaan sebanyak itu?”
Ia menyilangkan tangan, menatap Kevin dari atas ke bawah.
“Keluarga Windsor... keluargaku merupakan salah satu keluarga terkaya di Winchester City. Bahkan kami tidak punya angka kekayaan sebesar yang kau sebut tadi.”
Kevin tetap tenang.
“Aku berkata jujur. Kau bisa cek sendiri rekeningnya atas namaku. Terkunci ketat. Aku bisa berikan kata sandi dan kode enkripsinya kalau kau mau.”
Annabella hanya tertawa sinis, jelas tidak percaya dengan ucapan Kevin yang dianggapnya bualan belaka.
“Sudahlah… berhenti membual. Aku tahu kau sudah menolongku.” suaranya sedikit melunak. “Aku hanya tidak suka caramu memanfaatkan keadaan.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.
“Tapi… tubuhku memang terasa lebih ringan. Lebih segar dan aku juga merasa lebih muda.”
Tatapannya beralih, tidak lagi sepenuhnya marah.
“Jadi kita lupakan saja kejadian semalam,” lanjutnya. “Tapi ingat... awas kalau kau berani membocorkannya ke siapa pun.”
Kevin mengangguk. Rasa lega mengalir di dadanya.
Masalah ini tidak berlanjut. Itu berarti ia bisa fokus pada tujuannya yang lain—amanat gurunya: menemui tunangannya di Winchester City. Ia hanya diberi alamat, tanpa nama, tanpa penjelasan.
“Apa aku bisa ikut denganmu ke Winchester City?” tanya Kevin tiba-tiba.
Annabella mengangkat alis.
“Apa mobil Porsche milikku masih utuh?” balasnya datar. Sindiran jelas terdengar. Dalam ingatannya yang samar, ia sempat melihat mobil itu terjun ke jurang sebelum pingsan.
Kevin tersenyum kaku.
“Ehm…”
Ia menggaruk belakang kepalanya.
“Kalau begitu… kita naik apa ke sana?” tanyanya lagi, wajahnya tetap cerah, seolah tidak menyadari bahwa wanita di depannya masih setengah kesal.
Annabella menatapnya lama. Baru kali ini ia bertemu pria yang membuatnya kesal, tapi juga menarik hatinya.
Di matanya, pria ini aneh. Lusuh. Tak tahu malu. Bicara seenaknya.
Tapi juga… orang yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
“Apa kamu punya i-Phone?” tanya Annabella sambil menatap Kevin, nadanya mulai kembali datar dan profesional.
Ponselnya hancur bersama Porsche yang terjun ke jurang. Tanpa perangkat itu, ia tak bisa menghubungi staf Grup Windsor untuk menjemputnya. Bagi seseorang seperti dirinya, itu sama saja seperti terputus dari dunia.
Kevin mengerjap bingung.
“Apa itu… i-Phone?”Nada suaranya benar-benar tulus, tanpa dibuat-buat.
Annabella menatapnya beberapa detik, mencoba memastikan apakah pria ini bercanda atau tidak. Tapi ekspresi Kevin polos... terlalu polos untuk seorang pria dewasa.
Ia menghela napas panjang.
“Baiklah… begini saja. Kamu punya uang receh untuk naik bus?”
Ia ingin segera kembali ke kota. Tubuhnya memang sudah pulih, tapi lelahnya masih terasa. Ia hanya ingin kasur empuk, kamar hangat, dan istirahat tanpa gangguan.
“Ada,” jawab Kevin cepat. “Guru memberiku beberapa koin yang katanya bisa dipakai di Winchester City.”
“Memangnya kamu tinggal di mana sebelumnya?” tanya Annabella, kini benar-benar penasaran. Orang yang bahkan tidak tahu i-Phone kemungkinan besar hidup di tempat yang terisolasi dari teknologi.
“Sussex City. Di wilayah Sussex Mountain,” jawab Kevin santai. “Kami biasa bertransaksi pakai koin emas dan batu roh… bukan logam tak berharga seperti ini.”
Ia membuka buntalan kain kecil di pinggangnya.
Tumpukan koin berkilau muncul tapi hanya berupa logam biasa, bukan koin emas dan perak yang biasa ia gunakan di Sussex City.
Kevin mengeluarkan lagi beberapa gepok uang kertas.
“Guru juga memberiku kertas tak berguna ini,” lanjutnya. “Katanya bisa dipakai untuk beli makanan… bahkan rumah di Winchester City.”
Annabella melongo.
Jumlah uang itu… tidak masuk akal. Bahkan bagi standar kota besar. Tapi yang penting sekarang, mereka hanya perlu uang receh untuk mesin tiket bus, sebagai pengganti kartu transportasi yang tidak mereka miliki.
Tatapan Annabella kemudian jatuh pada pakaian Kevin—lusuh, kusam, bahkan sebagian sudah sobek.
“Kamu benar-benar tidak bisa masuk kota dengan tampilan seperti itu,” gumamnya.
Kevin malah menoleh santai, lalu membuka tas kecilnya.
“Pakaianmu juga sudah tidak layak,” katanya. “Pakai saja ini.”
Ia mengeluarkan kaus dan celana jeans baru—lipatannya masih rapi.
“Guruku yang memberikannya. Katanya supaya aku tidak dipandang aneh di dunia fana. Tapi… aku tidak suka memakainya.”
Annabella menatap pakaian itu, lalu Kevin. Untuk pertama kalinya, ia merasa pria ini bukan sekadar aneh… tapi juga tulus dengan cara yang tidak biasa.
Hari menjelang siang saat bus tua yang mereka tumpangi memasuki Winchester City.
Gedung-gedung tinggi mulai terlihat, kaca-kaca memantulkan cahaya matahari, lalu lintas padat, suara klakson dan hiruk-pikuk manusia menggantikan sunyi pegunungan.
Kevin menatap keluar jendela seperti anak kecil yang baru melihat dunia.
Segalanya bergerak cepat.
Bus berhenti di halte pusat kota.
Annabella berdiri lebih dulu.
“Kita berpisah di sini,” katanya. Nadanya ringan namun tegas. “Anggap saja kita tidak pernah saling kenal.”
BOOOOOOM!Gelombang energi mengamuk di sepanjang jalan.Debu, pecahan aspal, dan serpihan logam beterbangan ke udara. Pohon-pohon di pinggir jalan berguncang keras, sementara kaca beberapa kendaraan yang terparkir jauh dari lokasi pertarungan bergetar hebat.Di tengah kepulan debu, tiga sosok masih bergerak.Kevin melesat ke depan.Ashley menyambutnya dengan kedua telapak tangan yang telah diselimuti es.DUAANG!Tinju dan telapak tangan bertabrakan. Dingin menusuk langsung sampai ke tulang.Kevin memutar tubuh, menghindari pukulan berikutnya, lalu menghantam perut Ashley.BUGH!Ashley terpental. Namun, sebelum Kevin mengejarnya...BRUUUK!Tanah di bawah kakinya mendadak terangkat. Sebuah tonjolan batu menghantam tubuh Kevin dari bawah.Kevin melompat.Christina sudah menunggu di udara. “Sekarang!” Tinju Christina menghantam.Kevin menyilangkan kedua lengannya.DUAAAAR!Tubuh Kevin terlempar dan menghantam permukaan jalan.Aspal retak membentuk cekungan.“Ugh…”Kevin bangkit sambil meng
Asap hitam masih bergulung di sepanjang jalan.Pecahan Land Cruiser berserakan seperti tulang-tulang logam. Api kecil menjilat aspal, mengeluarkan bau karet terbakar yang menusuk hidung.Kevin berdiri di tengah kehancuran itu.Di hadapannya, Ashley White dan Christina Moore telah mengambil posisi bertarung.Ashley mengepalkan kedua tangan. Lapisan es tipis langsung merayap dari telapak tangannya hingga ke siku. Udara di sekelilingnya berubah dingin.Christina justru menghentakkan kaki.Tanah di bawah sepatunya retak.Aura elemen bumi berputar mengelilingi tubuhnya.Kevin menyipitkan mata. “Dua lawan satu?”Ashley tersenyum tipis. “Memangnya kau takut?”“Takut?” Kevin menunjuk bangkai Land Cruiser. “Aku baru saja menghancurkan mobil orang. Menurutmu aku masih punya waktu untuk takut?”Dari kejauhan terdengar suara Amber. “Tuan Muda! Itu mobil mereka!”Kevin menoleh sekilas. “Bukan mobilku.”“Yang penting jangan hancurkan Hummer!” teriak Amber lagi.Kevin menghela napas. “Kenapa kalian s
Langit mulai berubah warna ketika Kansas City akhirnya terlihat di kejauhan.Garis cahaya keemasan perlahan menyibak kegelapan malam. Di balik kabut tipis, gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti hutan baja yang tak berujung. Sebagian bahkan begitu tinggi hingga puncaknya menghilang di balik gumpalan awan.Lampu-lampu kota masih menyala, berkelip seperti lautan bintang buatan manusia.Kevin menggenggam kemudi Hummer lebih erat.Sudah berjam-jam mereka menempuh perjalanan. Mesin kendaraan menggeram berat, sementara suara angin menyusup melalui celah bodi mobil yang rusak akibat pertempuran sebelumnya.Kevin justru tersenyum.“Akhirnya kita akan masuk ke Kansas City juga.”Matanya menatap lurus ke depan.Kemudian kakinya menekan pedal gas lebih dalam.Mesin Hummer meraung.“Lebih cepat kalau aku berlari saja!”Amber yang duduk di belakang langsung mengangkat kepala.“Jangan!”Kevin melirik melalui kaca spion.Amber menunjuk wajahnya sendiri.“Nanti orang-orang mengira Tuan Muda itu
“Kita ke Istana Presiden di Kansas City!”Keputusan Kevin membuat semua orang terdiam.Suara angin yang melewati pepohonan di sisi jalan tol seolah menjadi satu-satunya bunyi yang tersisa. Bahkan Amber yang biasanya paling cepat berkomentar hanya membuka mulut tanpa suara.Angelica menatap Kevin tidak percaya. “Kau mau ke Kansas City?”“Benar.” Jawaban Kevin singkat, tetapi tegas.Ia menatap cahaya merah yang masih terlihat samar di balik pegunungan. Dua ledakan telah mengguncang dua lokasi berbeda—Lembah Angin Hitam dan wilayah dekat Jurang Keabadian.Bagi orang lain, dua ledakan itu mungkin terlihat seperti tanda bahaya. Bagi Kevin, justru sebaliknya. Itu terlalu sempurna dan terlalu kebetulan.Amber mengerutkan kening. “Tuan Muda, kenapa kita tidak ke Jurang Keabadian atau Lembah Angin Hitam?”Ia menunjuk ke arah pegunungan. “Mikaela mungkin dalam bahaya.”Sasha langsung mengangguk. “Benar, Kev.”Tatapannya serius. “Kenapa kita tidak pergi ke Jurang Keabadian lebih dahulu? Aku bisa
Kevin menarik napas panjang. Udara malam yang dingin masuk ke paru-parunya, tetapi pikirannya justru terasa semakin panas.Mikaela masih hidup. Setidaknya sekarang ia memiliki sebuah petunjuk... Jurang Keabadian.Namun, sebelum Kevin sempat menyusun langkah berikutnya, Angelica kembali membuka mulut.“Ada satu hal lagi.”Kevin langsung menoleh. “Apa?”Wajah Angelica berubah serius. “Lilian Arkham.”Nama itu membuat suasana di sekitar mereka mendadak terasa berbeda. Angin yang sebelumnya hanya membawa aroma aspal panas dan dedaunan kini terasa menusuk kulit.“Dia berada di Lembah Angin Hitam.”Kevin mengerutkan kening. “Di mana tempat itu?”Angelica mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah pegunungan yang menjulang di kejauhan. “Wilayah terlarang di sebelah timur Sussex Mountain.”Kevin mengikuti arah telunjuknya. Di balik lapisan kabut, pegunungan hitam tampak seperti barisan raksasa yang berdiri dalam kegelapan.“Lembah itu selalu diterpa angin,” lanjut Angelica. “Tidak pernah berhen
Ledakan terakhir mengguncang jalan tol.BOOOOM!Api hitam kemerahan dan petir biru pecah menjadi gelombang energi yang menyapu pepohonan. Debu beterbangan, aspal retak, dan udara dipenuhi aroma hangus seperti logam terbakar.Kevin berdiri dengan napas berat. Pedang spiritual api masih berada di tangannya.Di hadapannya, Angelica Wilshire terdorong mundur beberapa meter. Sepatu botnya meninggalkan dua garis panjang di atas aspal sebelum akhirnya berhenti.Darah menetes dari sudut bibirnya.Namun, Angelica belum jatuh. Ia mengangkat wajah.“Luar biasa.”Kevin menyipitkan mata.Angelica mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan. “Jadi selama ini kau benar-benar menyembunyikan kemampuanmu.”“Aku tidak menyembunyikannya.” Kevin menarik napas. “Aku hanya belum punya alasan untuk menggunakannya.”Angelica tertawa pendek. “Jawaban yang sombong.”“Bukankah kau yang menyerangku lebih dulu?” sindir Kevin.Angelica terdiam.Kevin mengangkat satu alis. “Jadi siapa sebenarnya yang sombong?”
Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada ki
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Ta
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu kong
Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dip







