Share

Harta Ribuan Triliun

Auteur: Zhu Phi
last update Dernière mise à jour: 2026-02-18 18:20:13

Teriakan itu mengguncang gubuk.

Kevin langsung menoleh. Tangannya… ternyata masih saja berada di sana sejak tadi. Tanpa sadar, sejak bangun, ia belum benar-benar melepaskannya.

Ia buru-buru menarik tangan dengan wajah sedikit kikuk.

Annabella duduk tegak, menarik selimut tipis menutupi tubuhnya. Tatapannya kembali tajam.

“Kamu tahu siapa aku?” tanyanya dingin. “Terus kamu ini siapa berani-beraninya bicara soal tanggung jawab kepadaku?”

Kevin mengangkat bahu ringan.                                               

“Aku bisa bertanggung jawab,” katanya santai. “Orangtuaku meninggalkan harta yang cukup besar sebelum meninggal. Guruku juga memberiku kartu hitam ini… katanya ada ribuan triliun di dalamnya. Tapi aku tak berniat memakainya. Aku ingin bangkit dengan kemampuanku sendiri.”

Annabella mendengus keras melihat kartu hitam lusuh di tangan Kevin.

“Pembual,” potongnya. “Mana ada pria lusuh dan mesum seperti dirimu punya kekayaan sebanyak itu?”

Ia menyilangkan tangan, menatap Kevin dari atas ke bawah.

“Keluarga Windsor... keluargaku merupakan salah satu keluarga terkaya di Winchester City. Bahkan kami tidak punya angka kekayaan sebesar yang kau sebut tadi.”

Kevin tetap tenang.

“Aku berkata jujur. Kau bisa cek sendiri rekeningnya atas namaku. Terkunci ketat. Aku bisa berikan kata sandi dan kode enkripsinya kalau kau mau.”

Annabella hanya tertawa sinis, jelas tidak percaya dengan ucapan Kevin yang dianggapnya bualan belaka.

“Sudahlah… berhenti membual. Aku tahu kau sudah menolongku.” suaranya sedikit melunak. “Aku hanya tidak suka caramu memanfaatkan keadaan.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.

“Tapi… tubuhku memang terasa lebih ringan. Lebih segar dan aku juga merasa lebih muda.”

Tatapannya beralih, tidak lagi sepenuhnya marah.

“Jadi kita lupakan saja kejadian semalam,” lanjutnya. “Tapi ingat... awas kalau kau berani membocorkannya ke siapa pun.”

Kevin mengangguk. Rasa lega mengalir di dadanya.

Masalah ini tidak berlanjut. Itu berarti ia bisa fokus pada tujuannya yang lain—amanat gurunya: menemui tunangannya di Winchester City. Ia hanya diberi alamat, tanpa nama, tanpa penjelasan.

“Apa aku bisa ikut denganmu ke Winchester City?” tanya Kevin tiba-tiba.

Annabella mengangkat alis.

“Apa mobil Porsche milikku masih utuh?” balasnya datar. Sindiran jelas terdengar. Dalam ingatannya yang samar, ia sempat melihat mobil itu terjun ke jurang sebelum pingsan.

Kevin tersenyum kaku.

“Ehm…”

Ia menggaruk belakang kepalanya.

“Kalau begitu… kita naik apa ke sana?” tanyanya lagi, wajahnya tetap cerah, seolah tidak menyadari bahwa wanita di depannya masih setengah kesal.

Annabella menatapnya lama. Baru kali ini ia bertemu pria yang membuatnya kesal, tapi juga menarik hatinya.

Di matanya, pria ini aneh. Lusuh. Tak tahu malu. Bicara seenaknya.

Tapi juga… orang yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

 “Apa kamu punya i-Phone?” tanya Annabella sambil menatap Kevin, nadanya mulai kembali datar dan profesional.

Ponselnya hancur bersama Porsche yang terjun ke jurang. Tanpa perangkat itu, ia tak bisa menghubungi staf Grup Windsor untuk menjemputnya. Bagi seseorang seperti dirinya, itu sama saja seperti terputus dari dunia.

Kevin mengerjap bingung.

“Apa itu… i-Phone?”

Nada suaranya benar-benar tulus, tanpa dibuat-buat.

Annabella menatapnya beberapa detik, mencoba memastikan apakah pria ini bercanda atau tidak. Tapi ekspresi Kevin polos... terlalu polos untuk seorang pria dewasa.

Ia menghela napas panjang.

“Baiklah… begini saja. Kamu punya uang receh untuk naik bus?”

Ia ingin segera kembali ke kota. Tubuhnya memang sudah pulih, tapi lelahnya masih terasa. Ia hanya ingin kasur empuk, kamar hangat, dan istirahat tanpa gangguan.

“Ada,” jawab Kevin cepat. “Guru memberiku beberapa koin yang katanya bisa dipakai di Winchester City.”

“Memangnya kamu tinggal di mana sebelumnya?” tanya Annabella, kini benar-benar penasaran. Orang yang bahkan tidak tahu i-Phone kemungkinan besar hidup di tempat yang terisolasi dari teknologi.

“Sussex City. Di wilayah Sussex Mountain,” jawab Kevin santai. “Kami biasa bertransaksi pakai koin emas dan batu roh… bukan logam tak berharga seperti ini.”

Ia membuka buntalan kain kecil di pinggangnya.

Tumpukan koin berkilau muncul tapi hanya berupa logam biasa, bukan koin emas dan perak yang biasa ia gunakan di Sussex City.

Kevin mengeluarkan lagi beberapa gepok uang kertas.

“Guru juga memberiku kertas tak berguna ini,” lanjutnya. “Katanya bisa dipakai untuk beli makanan… bahkan rumah di Winchester City.”

Annabella melongo.

Jumlah uang itu… tidak masuk akal. Bahkan bagi standar kota besar. Tapi yang penting sekarang, mereka hanya perlu uang receh untuk mesin tiket bus, sebagai pengganti kartu transportasi yang tidak mereka miliki.

Tatapan Annabella kemudian jatuh pada pakaian Kevin—lusuh, kusam, bahkan sebagian sudah sobek.

“Kamu benar-benar tidak bisa masuk kota dengan tampilan seperti itu,” gumamnya.

Kevin malah menoleh santai, lalu membuka tas kecilnya.

“Pakaianmu juga sudah tidak layak,” katanya. “Pakai saja ini.”

Ia mengeluarkan kaus dan celana jeans baru—lipatannya masih rapi.

“Guruku yang memberikannya. Katanya supaya aku tidak dipandang aneh di dunia fana. Tapi… aku tidak suka memakainya.”

Annabella menatap pakaian itu, lalu Kevin. Untuk pertama kalinya, ia merasa pria ini bukan sekadar aneh… tapi juga tulus dengan cara yang tidak biasa.

Hari menjelang siang saat bus tua yang mereka tumpangi memasuki Winchester City.

Gedung-gedung tinggi mulai terlihat, kaca-kaca memantulkan cahaya matahari, lalu lintas padat, suara klakson dan hiruk-pikuk manusia menggantikan sunyi pegunungan.

Kevin menatap keluar jendela seperti anak kecil yang baru melihat dunia.

Segalanya bergerak cepat.

Bus berhenti di halte pusat kota.

Annabella berdiri lebih dulu.

“Kita berpisah di sini,” katanya. Nadanya ringan namun tegas. “Anggap saja kita tidak pernah saling kenal.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Pemilik Serbuk Es Api

    Jarum kesembilan menusuk titik meridian di bawah tulang rusuk.Jarum kesepuluh... tepat di atas pusar.Aura keemasan mengalir semakin deras dari tubuh Kevin, menyusup melalui dua belas Jarum Naga Emas yang tertanam presisi di tubuh gadis itu.Luka hitam berbentuk kelopak mawar di dadanya bergetar liar.Asap hitam pekat mulai keluar, berputar di udara seperti makhluk hidup yang meraung tanpa suara.Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara di ruangan itu berubah dingin.Kevin membuka matanya.Tatapannya tajam.“Keluar,” bisiknya.Jarum kesebelas dan kedua belas masuk bersamaan.Cahaya emas meledak tipis.Kelopak mawar hitam itu mengkerut, retak—lalu hancur menjadi serpihan asap yang tersedot ke ujung jarum emas.Kevin memutar pergelangan tangannya.Asap hitam itu terjebak dalam pusaran energi emas… lalu lenyap.Luka di dada gadis itu perlahan memudar.Warna pucatnya masih ada, tapi aura kehidupannya mulai kembali menghangat.Napasnya yang tadi tersengal kini stabil.Racun Ibli

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Racun Iblis Darah dan Teknik 12 Naga Emas

    Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.Mata Kevin menyipit.Jantungnya berdetak lebih berat.Itu bukan sekadar luka.Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.Sesuatu yang ia kenal.Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.“Kau mengenalinya?”Kevin tidak langsung menjawab.Bayangan api

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Minta Bantuan

    Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.“Pasien?” tanyanya singkat.Cynthia mengangguk.“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matan

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Kakak Pertama

    Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”“Ayah... ingat kesehatan

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Hinaan Putri Windsor

    Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dipakaikan jas mahal. Apa benar dia tunanganku?”Kevin tidak bereaksi. Wajahnya tenang tanpa terpengaruh dengan hinaan Isabella..Claudia menambahkan dengan suara halus namun menusuk,“Aku menghormati hutang budimu kepada Dewi Medis… tapi perjodohan ini, bukankah terlalu terburu-buru?”Arthur menghela napas panjang.“Sebuah janji tetaplah janji.”Isabella mendengus keras.“Janji? Ayah ingin aku menikah dengan pria yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”Tatapannya semakin tajam.“Aku lebih percaya pengawal kita daripada dia.”Kevin akhirnya membuka suara. Nada ucapannya datar, tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun.“Jika Nona tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Aku datang hanya untuk menjala

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Menemui Tunangan

    Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.“Nona!” panggil Kevin.Annabella menoleh.Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhkannya untuk pulang.”Annabella menatap uang itu, lalu Kevin.Untuk sesaat… ia tidak berkata apa-apa.Hanya senyum kecil muncul di bibirnya.Tanpa balasan, tanpa ucapan terima kasih, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya mantap, rambutnya tertiup angin kota.Kevin hanya berdiri di sana, memperhatikannya sampai menghilang di antara kerumunan.Baru setelah itu ia teringat sesuatu.Janjinya kepada gurunya untuk menemui tunangannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi tulisan tangan gurunya.“Sunset Drive… nomor 21,” gumamnya pelan.Kevin mengangkat tangan, menyetop taksi.Perjalanan tidak lama.Taksi berhenti di depan gerbang besar berornamen besi hitam, tinggi menjula

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status